Ilmu dan Teknologi

September 19, 2008

Kanibalisme Negara dan Inspirasi

Menegaskan pentingnya ilmu dan teknologi bagi sebuah bangsa, kini bukan lagi sekedar tautologi. Di dekade awal abad ke-21 ini, hal itu bahkan bisa merosot jadi sejenis skandal intelektual. Mereka yang melakukan penegasan itu, beresiko jadi bahan tertawaan dunia.

muslimeritage.com

Memang pernah ada situasi dimana ilmu dan teknologi tampak mengancam kemanusiaan. Magnitud ancaman itu, di mata sejumlah pakar, bisa terlihat menggiriskan. Para pengecam ilmu dan teknologi kerap menjadikan Revolusi Industri yang bermula di Inggeris dan menyebar ke seluruh dunia sebagai landas pacu untuk meluncurkan kritik-kritik tajam. Alvin Toffler dalam trilogi The Future Shock, The Third Wave dan Powershift, menyebut jenis ilmu dan teknologi semacam ini, sebagai produk khas peradaban Gelombang Kedua. Trilogi klasik Toffler, atau karya-karya awal Fritjof Capra, hanyalah sekian dari banyak literatur yang mengurai sebab industri Gelombang Kedua ini, dengan paradigma Cartesian dan Newtoniannya, harus surut dari kancah sejarah. Orang pun tak mesti mendaras ulang Karl Marx dan santri-santrinya untuk melihat betapa teknologi Gelombang Kedua ini, dengan pabrik-pabrik dan cerobong asapnya yang menjulang, telah memperkokoh dominasi kelas kapitalis atas kelas pekerja.

Read the rest of this entry »

Advertisements

History

September 14, 2008

Engineers of Nation

Some experts call Walter Benjamin’s 1000-plus page magnum opus The Arcades Project (Cambridge: Belknap/Harvard, 1999) quite simply one of the greatest 20th century efforts to comprehend “History”. Some even call this thick tome the greatest endeavour of all studies into one of the most fundamental perceptions in 2500 years of world development: a perception arising from awareness of the way the relationship between limited humanity and unlimited time dictates human life. This perception has become extremely influential in shaping world reality over the past three centuries.

Inspired by various sources, particularly Marcel Proust and Martin Heidegger, Rudolf Mrázek does something similar to Benjamin. Mrázek, an expert on modern Southeast Asian history who was born in the Czech Republic and later moved to America, achieves this in his latest book, currently being translated into Indonesian, Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in a Colony (Princeton: Princeton University Press, 2002).

Read the rest of this entry »