Budaya

January 17, 2009

Modernitas

Perjumpaan kaum muslim dengan modernitas adalah tema literer yang dalam sekian dekade terakhir, tampak tumbuh subur bagai kurma di sisi oase. Tema ini banyak dijumpai dalam karya-karya sastra kontemporer para penulis yang berasal dari, atau yang dekat dengan, wilayah kultural Islam, yang umumnya mewarisi pengalaman kelam kolonialisme dan kepahitan pelapukan imperial.  Nada utama dalam banyak karya ini adalah  juga kegetiran, dan tak jarang kemarahan, dalam berbagai takarannya. Kegetiran itu mungkin mudah menyeret orang karam pada pandangan bahwa Islam dan Barat adalah dua entitas yang sulit, bahkan mustahil, berpadu. Jika kedua entitas ini bertemu di satu ruang, maka pilihan yang tersedia seakan-akan hanyalah variasi dari dua kutub besar: mengislamkan Barat — kalau bisa sampai Barat-nya hilang; atau membaratkan Islam — sampai Islamnya lenyap tak bertilas.

ziryab

Read the rest of this entry »

Ilmu dan Teknologi

September 19, 2008

Kanibalisme Negara dan Inspirasi

Menegaskan pentingnya ilmu dan teknologi bagi sebuah bangsa, kini bukan lagi sekedar tautologi. Di dekade awal abad ke-21 ini, hal itu bahkan bisa merosot jadi sejenis skandal intelektual. Mereka yang melakukan penegasan itu, beresiko jadi bahan tertawaan dunia.

muslimeritage.com

Memang pernah ada situasi dimana ilmu dan teknologi tampak mengancam kemanusiaan. Magnitud ancaman itu, di mata sejumlah pakar, bisa terlihat menggiriskan. Para pengecam ilmu dan teknologi kerap menjadikan Revolusi Industri yang bermula di Inggeris dan menyebar ke seluruh dunia sebagai landas pacu untuk meluncurkan kritik-kritik tajam. Alvin Toffler dalam trilogi The Future Shock, The Third Wave dan Powershift, menyebut jenis ilmu dan teknologi semacam ini, sebagai produk khas peradaban Gelombang Kedua. Trilogi klasik Toffler, atau karya-karya awal Fritjof Capra, hanyalah sekian dari banyak literatur yang mengurai sebab industri Gelombang Kedua ini, dengan paradigma Cartesian dan Newtoniannya, harus surut dari kancah sejarah. Orang pun tak mesti mendaras ulang Karl Marx dan santri-santrinya untuk melihat betapa teknologi Gelombang Kedua ini, dengan pabrik-pabrik dan cerobong asapnya yang menjulang, telah memperkokoh dominasi kelas kapitalis atas kelas pekerja.

Read the rest of this entry »

Fisika Partikel

September 16, 2008

Abdus Salam:

Harga Diri Seorang Muslim

Abdus Salam adalah contoh terbaik bagaimana seorang keturunan pengungsi kembali ke tanah muasal, meraih keberhasilan tertinggi di tanah leluhur itu, tapi yang gagal diterima kembali sepenuh hati oleh sesama keturunan pengungsi yang tetap berdiam di tanah pengasingan. Ajakannya kepada sesama keturunan pengungsi untuk kembali hidup di tanah leluhur, cintanya yang tak pernah lekang pada tanah air dan rakyatnya, berhadapan dengan penolakan yang terus-menerus dari apa yang dicintainya itu. Para pengungsi itu tidak lagi merasa diri sebagai pengungsi. Tanah muasal yang teramat berharga, yang seribuan tahun silam telah memberi kegemilangan dan kepemimpinan dunia, malah dianggap sebagai tanah asing tempat bercokolnya setan dan bajingan perusak dunia.

Salam dikucilkan, setidaknya diabaikan, oleh tanah airnya sendiri, hanya karena ia pengikut Ahmadiyah, sebuah sekte yang ditakfirkan oleh mayoritas ummat islam. Prestasi internasionalnya yang demikian luar biasa — Salam yang menganggap fisika sebagai sebuah bentuk ibadah, adalah ilmuwan alam muslim terbesar dalam delapanratusan tahun belakangan ini — tetap tidak berguna dalam menawarkan pengucilan itu. Bagi sejumlah orang di Indonesia, nasib Salam bisa mengingatkannya pada Pramoedya Ananta Toer. Tentu, tidak terlalu tepat menyandingkan kedua orang ini. Tapi dalam hal kemasyhuran internasional, dan pengucilan di tanah kelahiran, keduanya memang mirip. Bedanya hanyalah bahwa Pram ditakfirkan oleh state, Salam dikafirkan oleh society. Memang, umumnya sesama ilmuwan sangat menghormati Salam. Ia teramat dihormati oleh kaum cerdik cendekia di belahan dunia manapun: di Timur dan Barat, di Utara dan Selatan. Tapi, para pemimpin politik Pakistan cenderung melihat Salam dengan kaitan naik turunnya popularitas si pemimpin di mata massa. Dan massa yang paling militan menolak Salam justeru adalah sejumlah ulama berjanggut dan anak-anak muda radikal yang bergabung dalam barisan hiruk pikuk partai politik berbasis agama.

Read the rest of this entry »