Seni Rupa

September 27, 2008

Bocah

Lembaran uang — firdaus dunia? — dan terutama sosok kanak-kanak — firdaus yang hilang? — mengisi banyak kanvas Yuswantoro Adi, pelukis yang mencuat dengan rentetan karya yang bergaya sangat figuratif.

Kesuntukan Yuswantoro pada sosok kanak-kanak itu agaknya mirip dengan kerja Charles Monroe Schulz yang tenar dengan komik strip Peanuts and Charlie Brown, Bahman Ghobadi yang menghasilkan film Turtles Can Fly dan A Time for Drunken Horses, atau Gunter Grass yang menelurkan novel penting The Tin Drum. Jika pandangan mata dan dunia kanak-kanak yang digarap Schulz mempertajam kepekaan kita pada hal-hal sepele yang membuat kita jadi manusia, Ghobadi dan Grass dengan kuat menyentak kita menerima hal-hal besar yang tak jarang hendak dilupakan dan dianggap sepele karena kehadirannya yang terang benderang akan terlalu mengguncang kemanusiaan kita. Kanak-kanak memang bisa menggelitik, bisa sungguh tak terduga memecah selubung kenyataan sekaligus menautkan hal-hal yang tampak cerai berai, dan dengan itu menyodorkan momen epistemik lewat cara yang subversif.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Seni Rupa

September 27, 2008

Cangkang

Tubuh dan “pembungkusnya” — terutama “pembungkusnya”— adalah pokok terpenting karya Mella Jaarsma.

Jika di satu kutub adalah kelomang payau yang nyaris segenap denyut jantungnya dihabiskan di bawah sungkup cangkangnya, dan di kutub lain adalah pertapa ugahari yang khusyuk merenungi segenap mineralisasi buah akal budi manusia, maka seluruh karya Jaarsma kurang lebih terletak di antara dua kutub itu. Kemungkinan penjelajahan yang terbentang di antara dua kutub ini, memang nyaris tak terhingga, dan artis kelahiran Belanda yang menetap di Yogya ini dengan setia menelusurinya.

Read the rest of this entry »

Fotografi

September 25, 2008

Susan Sontag, dll.:

Citra─Waktu

Jika seni rupa adalah adalah sastra, dan lukisan adalah puisi, maka fotografi adalah bahasa. Antara lain karena kemampuannya yang tanpa preseden dalam mengabadikan dan menggandakan semua citra, bukan hanya yang bisa langsung dicerap, fotografi memang tak lagi menjadi sekedar sebuah bentuk seni; ia lebih luas dari seni. “Fotografi adalah medium yang dengannya seni diciptakan.” Susan Sontag menggaritkan kalimat ini di buku On Photography (1977).[1] Pendapat yang menandaskan bahwa fotografi—dan tentu saja sinema—adalah bahasa, sudah muncul, misalnya, pada Andre Bazin.[2] Dengan memumpunkan perhatian pada fotografi dan menangguhkan pertautannya dengan sinema, pendirian itu diperkokoh dan digarap Sontag lebih lanjut. Di OP, kitab tipis yang menjadi salah satu “karya terpenting tentang fotografi”,[3] Sontag bahkan menyebut fotografi sebagai sebuah meta-seni: sebuah medium sekaligus cita-cita tertinggi seni. Di abad ke-19, Walter Pater menyebut bahwa semua seni bercita-cita menjadi seperti musik yang mampu melebur habis bentuk dan isi. Sontag, di abad ke-20, mengoreksi pendapat Pater dan menandaskan betapa semua seni justeru bercita-cita untuk menjadi seperti fotografi. Selain sanggup hidup seperti musik yang mengolah mediumnya sebagai isi itu sendiri, fotografi juga berwatak demokratis karena bisa dikerjakan oleh siapapun—serempak mengeram kekuatan revolusioner mendobrak diskriminasi antara seni buruk dan seni indah.

Read the rest of this entry »

Sastra

September 25, 2008

Dari 100 Suara Pinggir

“Kata, Waktu”

Tampaknya hanya diperlukan kedua belah tangan, untuk menghitung jumlah cendekiawan kontemporer Indonesia yang hampir tanpa interupsi, menulis dengan mutu relatif terjaga selama puluhan tahun. Ada dua yang sangat menonjol, setidaknya dari segi publisitas, dari kelompok minoritas ini: Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad. Pram, sastrawan Indonesia yang paling terkenal di dunia itu, kini hanya menerbitkan ulang karya-karya lamanya dan tak lagi menyentuh mesin tiknya. Dengan tingkat kesuburan yang menakjubkan bukan hanya untuk ukuran Indonesia, Goenawan masih terus menata kata dan kalimat. Konon sajak Goenawan yang pertama, tentang rembulan, ditulisnya di sekitar tahun 1952—entah seperti apa persisnya sajak yang dilahirkan di usia sebelas tahun itu. Dalam 25 tahun terakhir, tulisan-tulisannya nyaris setiap minggu datang menyapa, dalam bentuk Catatan Pinggir. Kolom yang kehadirannya pernah hampir mati dikubur oleh Rezim Soeharto, dan sempat muncul di majalah Suara Independen, memang merupakan kolom dengan karakter paling istimewa dalam khazanah intelektual Indonesia. Sedemikian istimewa sehingga orang bisa dimaafkan jika mengumumkan bahwa di Indonesia ada dua macam esai—pertama adalah esai, pada umumnya; kedua adalah Catatan Pinggir.

Read the rest of this entry »

Epistemologi

September 24, 2008

Waktu Imajiner,

Ruang Berdimensi 11, dll.

Tentang Pengetahuan-yang-fictive & Keyataan-yang-fictious

Ilmuwan yang berkutat dengan teori bukanlah orang yang patut jadi sumber iri. Karena alam … sungguh tak ramah padanya dan sering sinis atas karya-karyanya. Alam tak pernah bilang ‘Ya’ untuk sebuah teori. Paling banter ia berkata ‘Mungkin’, dan yang paling sering adalah menjawab ‘Tidak’.”

— Albert Einstein

Alam yang tak bisa dipahami, betapun mentah pemahaman itu, sungguh bukan alam yang bisa dihidupi. Lebih tua dari jaman yang telah hilang dari ingatan ummat manusia, hukum itu bahkan sudah mengatur evolusi dan kelangsungan makhluk hidup dalam interaksinya dengan alam yang sukar dan berubah tak menentu. Manusia pertama yang merenung, pasti tahu bahwa bahkan dalam keadaannya yang paling damai dan jinak pun, alam yang dahsyat membentangkan diri dengan banyak gejala dan watak yang amat rumit. Informasi pertama bagi pengalaman manusia sungguh berada dalam keadaan yang begitu kompleks, bahkan kacau-balau.

Read the rest of this entry »

Epistemologi

September 23, 2008

Mencari Agama Merengkuh Sains

Hampir 100 tahun yang silam, tepatnya 30 Juni 1905, Albert Einstein menyerahkan draft paper, bukan sebuah buku tebal, yang ia kerjakan di waktu senggang. Kepada penerbitnya, Einstein bercanda semoga draft itu layak diumumkan, jika pun memang ada ruang yang sisa. Paper berkepala Zur Elektrodynamik Bewegter Körper (Tentang Elekrodinamika Benda-benda Bergerak) itu muncul di jurnal Annalen der Physik 17:891, 1905. Isinya terutama adalah reaksi terhadap eksperimen Michelson-Morley yang menguji keberadaan “luminiferous ether” sebagai medium penjalaran cahaya, sekaligus perluasan ide transformasi Lorentz dan teori gelombang elektromagnetik Maxwell. Di sana disimpulkan bahwa ether tak perlu ada, dan bahwa kecepatan cahaya selalu sama, tak peduli sumber cahaya atau si pengamat bergerak saling menjauh atau mendekat. Ringkasnya, paper itu berisi pemikiran yang meleceh akal sehat:  pandangan tentang ruang waktu nisbi yang mendobrak persepsi ruang-waktu mutlak Newtonian yang sudah berkuasa lebih dari 3 abad.

Quadran Taqi Al-Din. Sumber: muslimheritage.com

Ketika Einstein menyerahkan paper itu, ia hanyalah seorang pegawai culun di kantor paten Swiss. Ia bukan seorang professor dengan riwayat akademik yang mengesankan, dengan setumpuk buku tebal yang terbit mencantumkan namanya. Dan meski paper itu secara sempurna menghina akal sehat, menampik pandangan ruang-waktu yang tengah berkuasa, tak ada berita tentang kelompok ilmuwan yang merasa tersinggung oleh paper itu. Kita pun tak mendengar bahwa forum ilmuwan Jerman, Perancis dan Inggeris, bersama pimpinan sejumlah ormas, partai politik dan universitas paling berpengaruh di Eropa, bersatu lalu mengeluarkan fatwa hukuman mati. Tak ada catatan adanya kehebohan yang membuat mertua Einstein atau profesor pembimbing disertasinya, menegur Einstein dan mencoba memperbaiki sikap keilmuwannya. Juga tak ada keluhan mengapa Einstein menerbitkan papernya di jurnal berbahasa Jerman, mengapa bukan di jurnal berbahasa Inggeris: bukankah paper itu merongrong persepsi ruang waktu Newton yang Inggeris itu?

Read the rest of this entry »

Budaya

September 23, 2008

“Autopoiesis” Takdir

Sutan Takdir Alisjahbana menarik karena segugus paham yang diperjuangkannya. Paham-paham tersebut menjadi memikat bukan hanya karena bergetar dalam diri STA, tetapi karena paham-paham tersebut ternyata sungguh punya dasar yang kukuh dan jangkauan yang jauh. Yang paling berharga dari pemikiran STA tampaknya adalah prinsip autopoiesis, penciptaan dan pelampauan diri entitas, yang diterapkan pada skala yang luas. Prinsip inilah agaknya yang tak ditangkap oleh para pengritik STA, termasuk Nirwan Dewanto (dalam pidatonya yang diliput banyak media besar di Kongres Kebudayaan 1991).

.

Sumber: alisjahbana.org

20 tahun yang silam Ignas Kleden dalam esai bertajuk ”S.T. Alisjahbana: Sebuah Perhitungan Budaya” telah menyatakan, ”Meringkaskan pribadi, pemikiran dan kegiatan S.T. Alisjahbana dalam beberapa halaman esei merupakan suatu proyek yang mustahil.” Meski demikian, pengantar Ignas untuk perkenalan dengan pemikiran STA itu cukup bagus meringkas paham-paham STA, merumuskan dengan tajam pendirian dan keyakinan filosofisnya. Dalam rumusan Ignas, ”dulu maupun sekarang S.T. Alisjahbana mempertahankan dan tetap hidup dari pendirian dan keyakinan filosofis yang sama: dalam pandangan dunia; idealistis (dalam artian Phaenomenologie des Geistes-nya Hegel), dalam pandangan sejarahnya telelologis (sejarah bergerak menuju ke sesuatu yang pasti), dalam etiknya: normatif, dalam paham keseniannya: heteronom (seni bukanlah dunia yang otonom melainkan tergantung pada tujuan pengabdiannya).”

Read the rest of this entry »