Memoar

May 10, 2009

Kisah “Besar” Keluarga Toer

Sebagai karangan yang banyak bertumpu pada ingatan, memoar adalah ragam karya yang bergerak di antara dua kutub: sejarah dan sastra. Jika ingatan itu ditopang sekaligus dijaga ketat oleh catatan kejadian nyata, disusun mengikuti arus waktu yang bergerak kronologis, karangan itu akan menjadi (auto)-biografi penting. Jika ingatan tak harus tunduk sepenuhnya pada catatan ketat peristiwa sejarah, dan narasi disusun tak harus mengikuti alur waktu yang lurus, tak jarang bahkan membiarkan diri terseret oleh arus kesadaran yang berkelak-kelok, karangan itu bisa menjadi novel besar.

Bersama Mas Pram Cover-1

Read the rest of this entry »

Advertisements

Transhumanism

January 11, 2009

This Universe of Mankind?

Human–Made Universe!

In every “real” encounter with science and technology, one will always experience a kind of revolution. In Indonesian literary history, very few writers are well versed in exposing the dramatics of the encounter, and the impact that leads to the birth of a new awareness: an era unimaginable before. Among the few is Pramoedya Ananta Toer, a victim of the New Order regime and the most famous Indonesian prose writer in the 20th Century. In the second page of This Earth of Mankind, the first book of ‘Buru Quartet,’ Pramoedya presents Minke’s confession, the protagonist, that, “I was still very young, just the age of a corn plant, yet I had already experienced modern learning and science: They had bestowed upon me a blessing whose beauty was beyond description.”[1]

Detail terbalik "Penciptaan Adam" Michelangelo

Read the rest of this entry »

Sastra

September 25, 2008

Dari 100 Suara Pinggir

“Kata, Waktu”

Tampaknya hanya diperlukan kedua belah tangan, untuk menghitung jumlah cendekiawan kontemporer Indonesia yang hampir tanpa interupsi, menulis dengan mutu relatif terjaga selama puluhan tahun. Ada dua yang sangat menonjol, setidaknya dari segi publisitas, dari kelompok minoritas ini: Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad. Pram, sastrawan Indonesia yang paling terkenal di dunia itu, kini hanya menerbitkan ulang karya-karya lamanya dan tak lagi menyentuh mesin tiknya. Dengan tingkat kesuburan yang menakjubkan bukan hanya untuk ukuran Indonesia, Goenawan masih terus menata kata dan kalimat. Konon sajak Goenawan yang pertama, tentang rembulan, ditulisnya di sekitar tahun 1952—entah seperti apa persisnya sajak yang dilahirkan di usia sebelas tahun itu. Dalam 25 tahun terakhir, tulisan-tulisannya nyaris setiap minggu datang menyapa, dalam bentuk Catatan Pinggir. Kolom yang kehadirannya pernah hampir mati dikubur oleh Rezim Soeharto, dan sempat muncul di majalah Suara Independen, memang merupakan kolom dengan karakter paling istimewa dalam khazanah intelektual Indonesia. Sedemikian istimewa sehingga orang bisa dimaafkan jika mengumumkan bahwa di Indonesia ada dua macam esai—pertama adalah esai, pada umumnya; kedua adalah Catatan Pinggir.

Read the rest of this entry »

Transhumanisme

September 19, 2008

Semesta Manusia

Setiap perjumpaan sejati dengan ilmu dan teknologi, selalu saja berarti perjumpaan dengan revolusi. Dalam sejarah sastra Indonesia, sangat sedikit penulis yang cukup bagus membabar dramatik perjumpaan itu, dan akibat-akibatnya bagi kelahiran sebuah kesadaran baru, sebuah era yang tak terbayangkan sebelumnya. Di antara yang segelintir itu, adalah Pramoedya Ananta Toer. Di lembar awal tetralogi Roman Pulau Buru, sastrawan-setengah-padas itu menghadirkan pengakuan Minke betapa, “Dalam hidupku, baru seumur jagung, sudah dapat kurasai: ilmu pengetahuan telah memberikan padaku suatu restu yang tiada terhingga indahnya ” (Bumi Manusia, hal.2)


Detail terbalik "Penciptaan Adam" Michelangelo

Adam Mencipta. Detail terbalik "Penciptaan Adam" © 1511 Michelangelo

Dengan ilmu yang didapat dari sekolah dan ia saksikan sendiri pernyataannya dalam hidup, Minke mengalami persentuhan yang membikin pribadinya jadi lain dari kaum sebangsanya. Dari pencapaian-pencapaian besar nalar yang datang dari Eropa itu, Minke menyerap satu kata ajaib; satu kata yang menggelumbang dan membiak diri seperti bakteria; satu kata yang tak saja mengubah cakrawala dan jalan hidup Minke, tapi juga mengubah benua dan apa saja yang dilewatinya: Modern!

Read the rest of this entry »

Sastra

September 17, 2008

Priyayi: Kerja dan Sejarah

Jika Teologi Ortodoks ingin mengubah manusia untuk mengubah dunia, dan Teologi Pembebasan ingin mengubah dunia untuk mengubah manusia, maka Teologi Priyayi nerimo mengubah manusia untuk tidak mengubah dunia. Tentang Teologi Ortodoks dan Teologi Pembebasan, defenisinya datang tentu dari intelektual Peru berdarah Indian: Gustavo Guiterrez. Pembedaan yang kuat itu pernah menjadi salah satu ilham utama pelahiran kembali Amerika Latin, benua yang digenangi tradisi religius yang berkelindan dengan gelora perlawanan dan sejarah penindasan ratusan tahun. Tentang “Teologi Priyayi”, batasannya datang dari pembacaan saya — yang mungkin saja salah — atas novel mutakhir Umar Kayam: Jalan Menikung — Para Priyayi 2.

©2000 Ipong Purnama Sidhi

Memang, tentang Teologi Priyayi, catatan harus segera diberikan. Sejauh ini tampaknya tak ada itu yang bisa dengan tegas didefenisikan sebagai Teologi Priyayi. Clifford Geertz betul telah menulis Agama Jawa, dan Frans Magnis-Suseno membabar Etika Jawa, tapi di kedua buku menarik itu Teologi Priyayi hadir bagai suar redup di balik kabut. Namun, jika teologi dipahami sebagai pelaksanaan dari iman dan pengalaman religius yang berkaitan dengan Yang Maha Luhur dan Dunia, maka hal-hal demikian memang bisa ditemui di dua novel priyayi Umar Kayam.

Read the rest of this entry »

Literatur

September 15, 2008

Pramoedya Ananta Toer

“Der größte Schriftsteller Indonesiens im 20. Jahrhunderts”

Pramoedya Ananta Toer war wohl wie kaum ein anderer Schriftsteller mit seinen Idealen und seinem Schmerz mit der Nation Indonesien verbunden. Er gehörte zu jenen Literaten, die eine Ideal-Vorstellung von diesem Land mit größter Entschlossenheit vertraten, der jedoch auch am meisten unter der Kluft zwischen dem Indonesien seiner Vorstellung und dem Indonesien der Wirklichkeit litt.

Listening to "history"

Indonesien, so wie es sich Pram vorstellte, war eine Nation frei von jeder Form des Kolonialismus und der Ungerechtigkeit, eine Nation, die sämtliche Strukturen des Feudalismus begraben und gleichzeitig einen fruchtbaren Boden für die Moderne mit ihren wissenschaftlichen und technologischen Errungenschaften bereiten kann. Pram bleibt unübertroffen, wenn er mit großer Leidenschaft über die Bedeutung der Worte „modern“ und „Mensch sein“ auf Indonesisch schrieb, in jener Sprache, die er übernahm und sich aktiv an Bestrebungen beteiligte, sie zu einer modernen Sprache zu entwickeln.

Read the rest of this entry »

History

September 14, 2008

Engineers of Nation

Some experts call Walter Benjamin’s 1000-plus page magnum opus The Arcades Project (Cambridge: Belknap/Harvard, 1999) quite simply one of the greatest 20th century efforts to comprehend “History”. Some even call this thick tome the greatest endeavour of all studies into one of the most fundamental perceptions in 2500 years of world development: a perception arising from awareness of the way the relationship between limited humanity and unlimited time dictates human life. This perception has become extremely influential in shaping world reality over the past three centuries.

Inspired by various sources, particularly Marcel Proust and Martin Heidegger, Rudolf Mrázek does something similar to Benjamin. Mrázek, an expert on modern Southeast Asian history who was born in the Czech Republic and later moved to America, achieves this in his latest book, currently being translated into Indonesian, Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in a Colony (Princeton: Princeton University Press, 2002).

Read the rest of this entry »