Math

October 3, 2014

A Brief Note on Birds

The essence of Mathematics resides in its freedom
— George Cantor

There seems to be a tighter bond between math and poetry than between man and the mind in his head. Well known poets who have long since dead such as John Keats when he wrote Lamia, or Edgar Allan Poe when he worked on Sonnet — To Science, or Walt Whitman when crafting When I heard the learn’d astronomer, do not seem to have recognized this tight bond. The same goes for those who are living and think that math and poetry are two things that have developed at opposite poles, and because of this cancel each other out. A slightly better view, even though it is still shallow, will say that math and poetry, or literature, are not enemies, but these two things are not on the same level, and it is literature that is superior to, that is more amazing than, math. This second view can also be felt in the fat thick novel of the most famous Japanese contemporary writer, Haruki Murakami.

 1Q84 1

In the first part of his novel IQ84 whose launch was greeted with much fanfare in Europe and America, Murakami wrote the following on mathematics and literature:

Where mathematics was a magnificent imaginary building, the world of story as represented by Dickens was like a deep, magical forest for Tengo. When mathematics stretched infinitely upward toward the heavens, the forest spread out beneath his gaze in silence, its dark, sturdy roots stretching deep into the earth. In the forest there were no maps, no numbered doorways…. Tengo began deliberately to put some distance between himself and the world of mathematics, and instead the forest of story began to exert a stronger pull on his heart… Someday he might be able to decipher the spell. That possibility would gently warm his heart from within.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Matematika

August 13, 2014

Catatan Kecil tentang Burung

The essence of Mathematics resides in its freedom
— George Cantor

Hubungan antara matematika dan puisi agaknya memang lebih erat dibanding hubungan antara manusia dengan benak di tengkoraknya. Para penyair ternama yang sudah wafat seperti John Keats ketika menulis Lamia, atau Edgar Allan Poe saat menggarap Sonnet—To Science, atau Walt Withman ketika mengarang When I heard the learn’d astronomer, tampaknya belum mampu melihat hubungan erat itu. Begitu juga mereka yang masih hidup dan mengira matematika dan puisi sebagai dua hal yang tumbuh di kutub yang bertentangan, dan karena itu saling meniadakan. Pandangan yang sedikit lebih baik, meski tetap dangkal juga, akan mengatakan bahwa matematika dan puisi, atau sastra, memang tak bermusuhan, tapi dua hal itu betapa pun tak setara, dan sastra sungguh lebih unggul, lebih menakjubkan, dari matematika. Pandangan kedua ini terasa juga dalam karya tebal novelis Jepang yang paling menonjol di dunia saat ini, Haruki Murakami.

1Q84 Murakami

Di paruh pertama novel IQ84 yang peluncurannya disambut gegap gempita di Eropa dan Amerika itu, Murakami menulis begini tentang matematika dan sastra:

Where mathematics was a magnificent imaginary building, the world of story as represented by Dickens was like a deep, magical forest for Tengo. When mathematics stretched infinitely upward toward the heavens, the forest spread out beneath his gaze in silence, its dark, sturdy roots stretching deep into the earth. In the forest there were no maps, no numbered doorways…. Tengo began deliberately to put some distance between himself and the world of mathematics, and instead the forest of story began to exert a stronger pull on his heart… Someday he might be able to decipher the spell. That possibility would gently warm his heart from within.

Read the rest of this entry »

Seni Rupa

July 30, 2009

Konser Imaji

Dari luar, gedung Museum Nasional Jogja di Gampingan itu tampak sungguh tak istimewa. Selain selembar poster lebar tentang pameran tunggal Agus Suwage (Still Crazy After All These Years: 05 – 31 July 2009) dengan kurator Enin Supriyanto yang membentang di dinding pojok depan, gedung itu seperti tak bergairah untuk menawarkan sesuatu yang layak kenang.Tapi setelah berada sekian menit di dalam, ruang-ruang gedung itu terasa memuai dan saya seakan melangkah perlahan di tempat lain yang kebetulan pernah saya datangi: Tate Modern Gallery dan Mori Art Museum.

After-Marina-Abramovic-a

Read the rest of this entry »

Sastra

September 25, 2008

Dari 100 Suara Pinggir

“Kata, Waktu”

Tampaknya hanya diperlukan kedua belah tangan, untuk menghitung jumlah cendekiawan kontemporer Indonesia yang hampir tanpa interupsi, menulis dengan mutu relatif terjaga selama puluhan tahun. Ada dua yang sangat menonjol, setidaknya dari segi publisitas, dari kelompok minoritas ini: Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad. Pram, sastrawan Indonesia yang paling terkenal di dunia itu, kini hanya menerbitkan ulang karya-karya lamanya dan tak lagi menyentuh mesin tiknya. Dengan tingkat kesuburan yang menakjubkan bukan hanya untuk ukuran Indonesia, Goenawan masih terus menata kata dan kalimat. Konon sajak Goenawan yang pertama, tentang rembulan, ditulisnya di sekitar tahun 1952—entah seperti apa persisnya sajak yang dilahirkan di usia sebelas tahun itu. Dalam 25 tahun terakhir, tulisan-tulisannya nyaris setiap minggu datang menyapa, dalam bentuk Catatan Pinggir. Kolom yang kehadirannya pernah hampir mati dikubur oleh Rezim Soeharto, dan sempat muncul di majalah Suara Independen, memang merupakan kolom dengan karakter paling istimewa dalam khazanah intelektual Indonesia. Sedemikian istimewa sehingga orang bisa dimaafkan jika mengumumkan bahwa di Indonesia ada dua macam esai—pertama adalah esai, pada umumnya; kedua adalah Catatan Pinggir.

Read the rest of this entry »

Sastra

September 23, 2008

La Galigo, Odisei, Trah Buendia

Sawerigading dalam epik Bugis ‘karya’ I  La Galigo dan Odiseus dalam epik Yunani ‘karya’ Homerus — kedua tokoh ini tidak sekedar meniti ombak menyusur dunia. Mereka berdua membangun semesta, yang ditata pada skala pemahaman manusia.

Naskah La Galigo. Foto: Nurhayati Rahman

Tersusun dari sekitar 300.000 larik sajak dalam bahasa tinggi arkaik dengan berbagai cerita berangkai, Sureq (serat) Galigo adalah salah satu karya sastra terbesar dunia. Dan yang pasti, bersama  epik besar Kyrgizstan yang berusia seribu tahun, Manas; dan novel terbesar Cina berjumlah 120 jilid, Impian Kamar Merah (Hung Lou Meng) ‘karya’ Cao Xueqin dan Gao E yang ditulis di Era Dinasti Manchu di pertengahan abad 18, Sureq Galigo termasuk naskah klasik terpanjang yang dihasilkan manusia.

Dari segi jumlah larik sajak saja, Sureq Galigo sudah melampaui epos terbesar Anak Benua India yang kerap dianggap terpanjang di dunia: Mahabharata. Tapi panjang larik sajak, kecuali mungkin memamerkan stamina penyusunnya, tak dengan sendirinya mencerminkan kekuatan sebuah karya.

Read the rest of this entry »

Sastra

September 23, 2008

La Galigo dan Kanon Sastra Dunia:

Penciptaan dan “Penemuan” Manusia

Canons, which negate the distinction between knowledge and opinion, which are instruments of survival built to be time-proof, not reason-proof, are of course deconstructable; if people think there should not be such things, they may very well find the means to destroy them.

Sir Frank Kermode

Naskah La Galigo. Foto: Nurhayati Rahman

Kanon, kita tahu, adalah kumpulan naskah yang dikukuhkan sebagai “ukuran”, norma, pegangan yang berwibawa, sukma bagi kehidupan komunitas yang memegangnya. Kanon adalah standar yang menjadi sumber ilham bagi kehidupan penciptaan generasi berikutnya. Menurut Harold Bloom, pemikir dan kritikus sastra yang sangat berpengaruh dari Universitas Yale, sebuah teks menjadi kanon sastra karena kemampuannya membuat kita merasa asing di tengah lingkungan sendiri (feel strange at home). Atau sebaliknya, membuat kita merasa betah dan akrab di tengah dunia yang asing (at home out of doors, foreign, abroad).

Read the rest of this entry »

Film

September 20, 2008

Pedang dan Dunia

“HERO” Episode 2

ADA film yang, seperti adikarya seni lain, selalu saja membuat kita bisa lupa pada dunia ini, untuk kemudian menemukannya kembali dengan cahaya yang baru. Tiap kali kita mengajinya lagi, film-film ini bergerak menghamparkan diri dengan sejumlah kilau manikam baru, yang dulu masih sembunyi dalam lipatan-lipatannya. Hero (2002) Zhang Yimou adalah film jenis ini, dan kita menghela napas—dan mengambang—hampir di tiap scene yang hadir bagai untaian batu mulia seni rupa yang memukau. Film ini membentangkan tumpukan lapis panorama yang spektakuler, dan shot-shot lanskap bersudut lebar, di mana penonton tak diajak untuk melenyapkan diri menyatu dengan alam, tetapi justru menyesap alam menyatu dalam diri.

Hero adalah kaligrafi di mana “profundity depends on perception.” Ia juga danau yang menampung langit, yang bisa ditepuk dengan beragam tangan dan pedang, dan menggemakan beragam bunyi dan pesan. Ketika pertama kali menyimaknya, saya pikir bahwa film dengan struktur dan puisi yang berlapis-lapis ini, yang membongkar mitos, sejarah, dan legenda, tak tuntas menggali pengertian arketipe tentang pahlawan dalam psike Timur. Film ini mentok jadi propaganda bagi kediktatoran dan aneksasi, bagi faham legalisme yang mempromosikan kuatnya negara di depan masyarakat, yang dengan sistematis dilemahkan.

Read the rest of this entry »