Cave Art

November 28, 2014

Tale of Two Horses

lukisan-kuda-kobori1

Horse is the most influential animal on the development of history. If there are three things that ushered in the dawn of human civilization, certainly they are: the creation of the alphabet, the discovery of the wheel, and the domestication of the horse. As was emphasized by Alfred Weber, the spreading of horse domestication as a mounted animal, and for hauling carriages, was the catalyst for the blooming of what Karl Jaspers called the Axial Age (die Achsenzeit) from the 8th to the 2nd centuries BC.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Budaya

January 17, 2009

Modernitas

Perjumpaan kaum muslim dengan modernitas adalah tema literer yang dalam sekian dekade terakhir, tampak tumbuh subur bagai kurma di sisi oase. Tema ini banyak dijumpai dalam karya-karya sastra kontemporer para penulis yang berasal dari, atau yang dekat dengan, wilayah kultural Islam, yang umumnya mewarisi pengalaman kelam kolonialisme dan kepahitan pelapukan imperial.  Nada utama dalam banyak karya ini adalah  juga kegetiran, dan tak jarang kemarahan, dalam berbagai takarannya. Kegetiran itu mungkin mudah menyeret orang karam pada pandangan bahwa Islam dan Barat adalah dua entitas yang sulit, bahkan mustahil, berpadu. Jika kedua entitas ini bertemu di satu ruang, maka pilihan yang tersedia seakan-akan hanyalah variasi dari dua kutub besar: mengislamkan Barat — kalau bisa sampai Barat-nya hilang; atau membaratkan Islam — sampai Islamnya lenyap tak bertilas.

ziryab

Read the rest of this entry »

Equestrian

December 22, 2008

Ras el Fedowi

Senja itu saya sedang duduk menyusun kembali rasa purba Greek Coffee yang disajikan dalam demitasse mungil buatan Cina. Setahun sebelumnya, di Pulau Corfu, pramusaji ayu  yang tersenyum simpul melihat saya bolak balik memesan larutan oker pekat berbuih yang “keras” itu, memberi tahu bahwa kopi ini sesungguhnya adalah Kopi Turki.  Asal sebenarnya tentu lebih jauh lagi, di belukar prasejarah jantung Afrika. Kafe di lantai atas Museum Benaki itu dirancang mirip aquarium, memberi sajian tambahan buat pengunjung: pandangan terbuka ke cakrawala dan ke salah satu sudut penting Athena, yang saat itu tengah jadi tuan rumah Pesta Olimpiade Musim Panas 2004. Hampir semua kursi di kafe itu terisi. Saya sedang melamun, menyesap kafein dan kardamom, menyicip kue jahe dan coklat, ketika seorang pengunjung minta izin untuk ikut menikmati sajian pesanannya di meja saya.

The-Heron-Hunt-large

Read the rest of this entry »

Sastra

October 6, 2008

Tentang Sains dan Sastra

Keajaiban Nalar dan Imajinasi

Sains dan sastra adalah dua entitas yang luar biasa luas, yang beririsan setidaknya di dua ranah penting. Pertama adalah ranah ”metafisis”: sains dan sastra sama berupaya mengajukan model tentang kenyataan. Yang kedua adalah ranah formal: sains dan sastra sama bermain dengan manipulasi simbolik.

Model kenyataan yang diajukan sains tampak paling jelas pada kosmologi, mekanika kuatum dan biologi-evolusioner; manipulasi simbolik sains terlihat paling terang pada matematika murni.

Jika bahan dasar sastra adalah bunyi serta aksara yang membentuk dan menunjuk kata, bahan dasar matematika adalah angka atau notasi yang mengacu bilangan dan operasi matematika. Dengan bahan dasar yang tumbuh jadi beragam bentuk itu, matematika (sains formal) jadi bahasa transparan yang memungkinkan munculnya makna tunggal dan stabil; bahasa yang mampu merepresentasikan pikiran dan kenyataan empirik secara tegar.

Read the rest of this entry »

Epistemologi

September 22, 2008

Imajinasi Ilahi

Imajinasi jauh lebih penting dari Agama. Imagination is much more important than Religion. Saya bayangkan bertahun-tahun kelak, kalimat ini terpampang sebagai semboyan di pintu gerbang kampus-kampus berbasis agama, di rumah-rumah ibadah, atau di kamar-kamar belajar para cendekia yang berkerja memautkan ilmu pengetahuan dan aspirasi religius.

Mereka yang mengenal sejarah perkembangan ilmu pengetahuan modern, akan tahu bahwa semboyan itu diilhami oleh salah satu dari tiga pernyataan Albert Einstein yang paling banyak dikutip dunia. Yaitu bahwa imajinasi jauh lebih penting dari ilmu pengetahuan. Dua pernyataan yang lain adalah: “ilmu tanpa agama akan buta, agama tanpa ilmu akan lumpuh”; dan “yang paling tak terpahamkan tentang alam semesta ini adalah bahwa ia ternyata bisa dipahami”.

Read the rest of this entry »

Nasionalisme

September 19, 2008

Tentang Bangsa dan Indonesia

Gelontoran berita tanpa henti, tentang kekerasan politik, bencana dan kerusuhan-kerusuhan berdarah yang sambung-menyambung di berbagai penjuru Tanahair, bisa membuat tubuh dan indranya berubah ganjil. Begitu ganjil sehingga ketika orang memejamkan mata, ia melihat Indonesia seperti kapal mewah  Titanic yang menabrak gunung es, dan segera tenggelam dasar lautan sejarah. Dengan telinga terkatup, ia mungkin mendengar kecamuk suara-suara; suara panik di dek bawah yang berusaha menutup kebocoran kapal, riuh rendah perdebatan di ruang kendali untuk mengganti nakhoda, dan gema di ruang tengah dari orang-orang yang memamerkan kekayaannya yang menggunung dengan selera artistik dan intelektualnya yang lumayan parah.

© 1680 Nicolaas Visscher

Bayangan tentang Indonesia sebagai Titanic adalah bayangan yang mungkin terlalu dramatis dan sentimentil. Sebuah bangsa bukanlah sebuah kapal yang dalam sekejap dapat tenggelam lenyap. Lagipula, kalaupun suatu saat Indonesia benar-benar tenggelam, dan hanya menyisakan dari bangkainya, puluhan sekoci (bangsa-bangsa kecil baru) beserta apungan mayat di antaranya, takkan berarti bahwa seluruh dunia akan kiamat. Bumi bukan hanya telah menyaksikan kerajaan-kerajaan besar dan peradaban-peradaban tinggi melenyap begitu saja. Bumi juga sudah mengalami kepunahan besar-besaran dinosaurus yang pernah menguasai planet selama jutaan tahun. Kaum ultransionalis boleh mengira bahwa bangsa adalah sesuatu yang kekal, tak terbatas dari segi waktu. Namun kehancuran sebuah bangsa, seperti halnya kemusnahan sebuah kerajaan, bukanlah hal yang  mustahil, dan kejadiannya adalah sesuatu yang kecil saja dalam rentang sejarah ras manusia, apalagi sejarah semesta.

Read the rest of this entry »

Film

September 15, 2008

Sensor dan Kebebasan

Indonesia masih memerlukan sensor! Karena budaya masyarakat yang sangat beragam dan tingkat pendidikannya yang masih rendah, lembaga sensor masih perlu dipertahankan, bahkan sampai beberapa puluh tahun ke depan. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengeluarkan pernyataan ini dalam sidang pengujian Undang-undang Perfilman yang diajukan oleh Masyarakat Film Indonesia (MFI) di Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu lalu (9/1/2008).

Pernyataan Menteri Jero Wacik itu ditimpali oleh penegasan para ketua LSF (Lembaga Sensor Film), PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) dan PARSI (Persatuan Artis Sinetron Indonesia). Mereka umumnya beranggapan bahwa tanpa sensor, bangsa Indonesia akan hancur berantakan, digerogoti oleh budaya asing. Banyak memang yang agaknya lupa bahwa media film dan sinetron, seperti halnya gagasan tentang republik dan mahkamah konstitusi, adalah produk budaya asing—setidaknya, dirumuskan dan dikembangkan lebih awal oleh budaya asing itu. Sebelumnya, Lukman Hakim Syaefuddin, kuasa hukum DPR, menyatakan bahwa sensor adalah bentuk perlindungan negara pada masyarakat.

Read the rest of this entry »