Fiksi Tanggung

September 21, 2009

Labirin Berujung Tunggal

Kelak ketika ia sepenuhnya sadar, bahwa nanti akan lahir seorang manusia dari tubuhnya, ia tercekam lagi oleh sebuah rasa longsor yang menggigilkan, yang diperparah oleh penalaran dan dibikin kekal oleh ingatan.

Terakhir kali rasa longsor itu menyeretnya, adalah saat ia melalui puncak dari percintaannya yang sudah berlangsung bertahun-tahun dengan hujan; hujan yang dengan lembut mengunjungi senja dan mengubahnya dari merah lembayung menjadi kelabu, dan akhirnya melulur batas antara langit dan bumi. Gerimis yang gugur bersama angin yang mendengkur, adalah ketulusan langit pada hijau daratan dan biru lautan. Ia ingat rasa sakit itu bermula sebagai rasa cinta diam-diam, dan tumbuh dengan kerinduan langit yang memeluk seluruh bintang; rasa sakit yang konon mencintai mereka yang banyak tidur dan bermimpi.

Spies Iseh im Morgenlicht (1938)

Read the rest of this entry »

Advertisements

Fotografi

September 25, 2008

Susan Sontag, dll.:

Citra─Waktu

Jika seni rupa adalah adalah sastra, dan lukisan adalah puisi, maka fotografi adalah bahasa. Antara lain karena kemampuannya yang tanpa preseden dalam mengabadikan dan menggandakan semua citra, bukan hanya yang bisa langsung dicerap, fotografi memang tak lagi menjadi sekedar sebuah bentuk seni; ia lebih luas dari seni. “Fotografi adalah medium yang dengannya seni diciptakan.” Susan Sontag menggaritkan kalimat ini di buku On Photography (1977).[1] Pendapat yang menandaskan bahwa fotografi—dan tentu saja sinema—adalah bahasa, sudah muncul, misalnya, pada Andre Bazin.[2] Dengan memumpunkan perhatian pada fotografi dan menangguhkan pertautannya dengan sinema, pendirian itu diperkokoh dan digarap Sontag lebih lanjut. Di OP, kitab tipis yang menjadi salah satu “karya terpenting tentang fotografi”,[3] Sontag bahkan menyebut fotografi sebagai sebuah meta-seni: sebuah medium sekaligus cita-cita tertinggi seni. Di abad ke-19, Walter Pater menyebut bahwa semua seni bercita-cita menjadi seperti musik yang mampu melebur habis bentuk dan isi. Sontag, di abad ke-20, mengoreksi pendapat Pater dan menandaskan betapa semua seni justeru bercita-cita untuk menjadi seperti fotografi. Selain sanggup hidup seperti musik yang mengolah mediumnya sebagai isi itu sendiri, fotografi juga berwatak demokratis karena bisa dikerjakan oleh siapapun—serempak mengeram kekuatan revolusioner mendobrak diskriminasi antara seni buruk dan seni indah.

Read the rest of this entry »

Epistemologi

September 24, 2008

Waktu Imajiner,

Ruang Berdimensi 11, dll.

Tentang Pengetahuan-yang-fictive & Keyataan-yang-fictious

Ilmuwan yang berkutat dengan teori bukanlah orang yang patut jadi sumber iri. Karena alam … sungguh tak ramah padanya dan sering sinis atas karya-karyanya. Alam tak pernah bilang ‘Ya’ untuk sebuah teori. Paling banter ia berkata ‘Mungkin’, dan yang paling sering adalah menjawab ‘Tidak’.”

— Albert Einstein

Alam yang tak bisa dipahami, betapun mentah pemahaman itu, sungguh bukan alam yang bisa dihidupi. Lebih tua dari jaman yang telah hilang dari ingatan ummat manusia, hukum itu bahkan sudah mengatur evolusi dan kelangsungan makhluk hidup dalam interaksinya dengan alam yang sukar dan berubah tak menentu. Manusia pertama yang merenung, pasti tahu bahwa bahkan dalam keadaannya yang paling damai dan jinak pun, alam yang dahsyat membentangkan diri dengan banyak gejala dan watak yang amat rumit. Informasi pertama bagi pengalaman manusia sungguh berada dalam keadaan yang begitu kompleks, bahkan kacau-balau.

Read the rest of this entry »

Epistemologi

September 23, 2008

Mencari Agama Merengkuh Sains

Hampir 100 tahun yang silam, tepatnya 30 Juni 1905, Albert Einstein menyerahkan draft paper, bukan sebuah buku tebal, yang ia kerjakan di waktu senggang. Kepada penerbitnya, Einstein bercanda semoga draft itu layak diumumkan, jika pun memang ada ruang yang sisa. Paper berkepala Zur Elektrodynamik Bewegter Körper (Tentang Elekrodinamika Benda-benda Bergerak) itu muncul di jurnal Annalen der Physik 17:891, 1905. Isinya terutama adalah reaksi terhadap eksperimen Michelson-Morley yang menguji keberadaan “luminiferous ether” sebagai medium penjalaran cahaya, sekaligus perluasan ide transformasi Lorentz dan teori gelombang elektromagnetik Maxwell. Di sana disimpulkan bahwa ether tak perlu ada, dan bahwa kecepatan cahaya selalu sama, tak peduli sumber cahaya atau si pengamat bergerak saling menjauh atau mendekat. Ringkasnya, paper itu berisi pemikiran yang meleceh akal sehat:  pandangan tentang ruang waktu nisbi yang mendobrak persepsi ruang-waktu mutlak Newtonian yang sudah berkuasa lebih dari 3 abad.

Quadran Taqi Al-Din. Sumber: muslimheritage.com

Ketika Einstein menyerahkan paper itu, ia hanyalah seorang pegawai culun di kantor paten Swiss. Ia bukan seorang professor dengan riwayat akademik yang mengesankan, dengan setumpuk buku tebal yang terbit mencantumkan namanya. Dan meski paper itu secara sempurna menghina akal sehat, menampik pandangan ruang-waktu yang tengah berkuasa, tak ada berita tentang kelompok ilmuwan yang merasa tersinggung oleh paper itu. Kita pun tak mendengar bahwa forum ilmuwan Jerman, Perancis dan Inggeris, bersama pimpinan sejumlah ormas, partai politik dan universitas paling berpengaruh di Eropa, bersatu lalu mengeluarkan fatwa hukuman mati. Tak ada catatan adanya kehebohan yang membuat mertua Einstein atau profesor pembimbing disertasinya, menegur Einstein dan mencoba memperbaiki sikap keilmuwannya. Juga tak ada keluhan mengapa Einstein menerbitkan papernya di jurnal berbahasa Jerman, mengapa bukan di jurnal berbahasa Inggeris: bukankah paper itu merongrong persepsi ruang waktu Newton yang Inggeris itu?

Read the rest of this entry »

Budaya

September 23, 2008

“Autopoiesis” Takdir

Sutan Takdir Alisjahbana menarik karena segugus paham yang diperjuangkannya. Paham-paham tersebut menjadi memikat bukan hanya karena bergetar dalam diri STA, tetapi karena paham-paham tersebut ternyata sungguh punya dasar yang kukuh dan jangkauan yang jauh. Yang paling berharga dari pemikiran STA tampaknya adalah prinsip autopoiesis, penciptaan dan pelampauan diri entitas, yang diterapkan pada skala yang luas. Prinsip inilah agaknya yang tak ditangkap oleh para pengritik STA, termasuk Nirwan Dewanto (dalam pidatonya yang diliput banyak media besar di Kongres Kebudayaan 1991).

.

Sumber: alisjahbana.org

20 tahun yang silam Ignas Kleden dalam esai bertajuk ”S.T. Alisjahbana: Sebuah Perhitungan Budaya” telah menyatakan, ”Meringkaskan pribadi, pemikiran dan kegiatan S.T. Alisjahbana dalam beberapa halaman esei merupakan suatu proyek yang mustahil.” Meski demikian, pengantar Ignas untuk perkenalan dengan pemikiran STA itu cukup bagus meringkas paham-paham STA, merumuskan dengan tajam pendirian dan keyakinan filosofisnya. Dalam rumusan Ignas, ”dulu maupun sekarang S.T. Alisjahbana mempertahankan dan tetap hidup dari pendirian dan keyakinan filosofis yang sama: dalam pandangan dunia; idealistis (dalam artian Phaenomenologie des Geistes-nya Hegel), dalam pandangan sejarahnya telelologis (sejarah bergerak menuju ke sesuatu yang pasti), dalam etiknya: normatif, dalam paham keseniannya: heteronom (seni bukanlah dunia yang otonom melainkan tergantung pada tujuan pengabdiannya).”

Read the rest of this entry »

Kognisi

September 19, 2008

Kehidupan Kedua

Tentang Nalar dan Horizonnya


Few of them made it into thirty.

Old age was the previlege of rocks and trees.

One had to hurry, to get on with life

before the sun went down

before the first snow

Thirteen-year-olds bearing children,

four-year-olds stalking birds’ nests in the rushes,

leading the hunt at twenty—

they aren’t yet, then they are gone.

Infinity’s ends fused quickly.

Witches chewed charms

with all the teeth of youth intact.

A son grew to manhood beneath his father’s eye.

Beneath the grandfather’s blank sockets the grandson was born.

Life, however long, will always be short.

Too short for anything to be added.


— Wislawa Szymborska

Our Ancestor’s Short Lives

Read the rest of this entry »

Transhumanisme

September 19, 2008

Semesta Manusia

Setiap perjumpaan sejati dengan ilmu dan teknologi, selalu saja berarti perjumpaan dengan revolusi. Dalam sejarah sastra Indonesia, sangat sedikit penulis yang cukup bagus membabar dramatik perjumpaan itu, dan akibat-akibatnya bagi kelahiran sebuah kesadaran baru, sebuah era yang tak terbayangkan sebelumnya. Di antara yang segelintir itu, adalah Pramoedya Ananta Toer. Di lembar awal tetralogi Roman Pulau Buru, sastrawan-setengah-padas itu menghadirkan pengakuan Minke betapa, “Dalam hidupku, baru seumur jagung, sudah dapat kurasai: ilmu pengetahuan telah memberikan padaku suatu restu yang tiada terhingga indahnya ” (Bumi Manusia, hal.2)


Detail terbalik "Penciptaan Adam" Michelangelo

Adam Mencipta. Detail terbalik "Penciptaan Adam" © 1511 Michelangelo

Dengan ilmu yang didapat dari sekolah dan ia saksikan sendiri pernyataannya dalam hidup, Minke mengalami persentuhan yang membikin pribadinya jadi lain dari kaum sebangsanya. Dari pencapaian-pencapaian besar nalar yang datang dari Eropa itu, Minke menyerap satu kata ajaib; satu kata yang menggelumbang dan membiak diri seperti bakteria; satu kata yang tak saja mengubah cakrawala dan jalan hidup Minke, tapi juga mengubah benua dan apa saja yang dilewatinya: Modern!

Read the rest of this entry »