Ilmu dan Teknologi

September 19, 2008

Kanibalisme Negara dan Inspirasi

Menegaskan pentingnya ilmu dan teknologi bagi sebuah bangsa, kini bukan lagi sekedar tautologi. Di dekade awal abad ke-21 ini, hal itu bahkan bisa merosot jadi sejenis skandal intelektual. Mereka yang melakukan penegasan itu, beresiko jadi bahan tertawaan dunia.

muslimeritage.com

Memang pernah ada situasi dimana ilmu dan teknologi tampak mengancam kemanusiaan. Magnitud ancaman itu, di mata sejumlah pakar, bisa terlihat menggiriskan. Para pengecam ilmu dan teknologi kerap menjadikan Revolusi Industri yang bermula di Inggeris dan menyebar ke seluruh dunia sebagai landas pacu untuk meluncurkan kritik-kritik tajam. Alvin Toffler dalam trilogi The Future Shock, The Third Wave dan Powershift, menyebut jenis ilmu dan teknologi semacam ini, sebagai produk khas peradaban Gelombang Kedua. Trilogi klasik Toffler, atau karya-karya awal Fritjof Capra, hanyalah sekian dari banyak literatur yang mengurai sebab industri Gelombang Kedua ini, dengan paradigma Cartesian dan Newtoniannya, harus surut dari kancah sejarah. Orang pun tak mesti mendaras ulang Karl Marx dan santri-santrinya untuk melihat betapa teknologi Gelombang Kedua ini, dengan pabrik-pabrik dan cerobong asapnya yang menjulang, telah memperkokoh dominasi kelas kapitalis atas kelas pekerja.

Teknologi dan industri Gelombang Kedua memang bisa mereduksi manusia menjadikannya hanya sebagai instrumen, yang bukan saja kehilangan kontak langsung dan intim dengan alam, tapi juga kehilangan kontrol atas waktunya, atas apa yang dihasilkan oleh keringatnya. Manusia bahkan tak lagi pegang kendali atas preferensi artistik dan cita-cita tertingginya. Teknologi dan industri semacam ini tak berhenti hanya dengan menggerus manusia, tapi juga bergerak memperkosa keseimbangan ekosistem planet Bumi. Ada yang bahkan melihat bahwa teknologi dan industri ini sudah mereduksi kebesaran Ilahi, merangsek masuk dengan brutal ke wilayah yang dulu hanya jadi milik prerogatif Tuhan. Ilmu dan teknologi adalah karya gelap (black magic) dari kekuatan anti-Tuhan, yang hanya membawa berbagai petaka. Masyarakat yang berjuang menguasai ilmu dan teknologi adalah masyarakat yang harus rela menggadaikan sukmanya.

Barisan pengecam ilmu dan teknologi dari berbagai spektrum ideologis, seakan mendapat energi baru lewat ancaman perang nuklir yang jika meledak memang bisa melantak dunia berkali-kali. Yang tak banyak diuar adalah bahwa pengecam paling lantang dari pacuan senjata nuklir adalah para ilmuwan yang termasuk paling penting dalam sejarah modern. Mereka merasa bahwa karya dan niat baiknya untuk ikut memperbaiki dunia telah dibajak oleh para politisi yang tertular campak nasionalisme dan berbagai penyakit ideologis lain yang kekanak-kanakan.

Bahkan di periode puncak keperkasaan peradaban Gelombang Kedua, sejumlah hasil ilmu dan teknologi telah memekarkan sumbangan besar. Sebuah telaah yang sangat baik dari Rudolf Mrazek, Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in a Colony (2002), memaparkan bagaimana perkembangan ilmu dan teknologi telah ikut membentuk bangsa. Teknologi transportasi, optik, irigasi, arsitektur, komunikasi radio, dan banyak hal yang datang dari rasionalisme dan empirisme, telah menjadi faktor yang sangat penting bukan saja pada penyebaran cita-cita kebangsaan di sebuah negeri jajahan, tapi juga pada bagaimana manusia di abad ke-20 memandang diri dan kemerdekaannya. Pemanfaatan dan penguasaan iptek akhirnya memang akan selalu terkait dengan cita-cita sebuah masyarakat, sebuah bangsa, sebuah dunia, yang memiliki kehidupan yang lebih mulia. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah representasi yang paling akbar dari keharusan manusia untuk memuliakan dunia.

***

Ada memang yang menyedihkan jika kita membandingkan passi penguasaan ilmu dan teknologi di masa-masa awal pembentukan cita-cita politik dan kebudayaan Indonesia di paruh pertama abad 20, dengan apa yang sekarang terjadi di awal abad 21 ini. Setelah hampir enam dekade berdaulat memerintah diri sendiri, api penguasaan ilmu dan teknologi Indonesia justeru relatif meredup. Kaum tua yang berpendidikan rendah pun, dengan nada nostalgis, sering bilang bahwa Indonesia saat ini, tertinggal cukup jauh dari Indonesia ketika ia masih dijajah Belanda. Kalangan ini kadang menunjuk konstruksi transportasi dan irigasi yang dibangun di jaman kolonial, yang masih tegak dan berfungsi baik hingga kini justeru ketika banyak konstruksi serupa yang dibangun Orde Baru sudah berantakan dan harus disusun ulang.

Perbandingan di atas mungkin saja disanggah dan dituduh terlalu menyederhanakan banyak hal. Namun, terlepas dari politik diskriminasi dan eksploitasi kolonialnya yang memang harus dilawan, pemerintahan Belanda membangun sejumlah hal yang patut dikenang. Yang paling menonjol di antaranya adalah sistem administrasi yang rapi, perangkat peraturan perundang-undangan yang relatif lengkap, dan mutu pendidikan dasar dan menengah yang tak kalah dari standar Eropa. Perangkat perundang-undangan yang dibangun pun selalu disesuaikan dengan perkembangan jaman. Ketika teknologi modern mulai merambah Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-19, dimana kincir air dan angin digeser mesin uap, pemerintah juga menyesuaikan peraturannya. Bahkan ketika industri gula mulai dibangun pada masa Tanam Paksa, pemerintah kolonial telah mengantisipasi kemungkinan timbulnya bahaya dalam pabrik yang dapat mencelakai karyawan. (Bisuk Siahaan, Industrialisasi di Indonesia, 1996). Selain kebebasan mengekspresikan pikiran yang lebih longgar, sistem pengadilan pun relatif lebih mandiri sehingga seorang pembangkang politik masih bisa menang di pengadilan melawan pemerintah kolonial Belanda – sebuah hal yang mustahil terjadi di jaman Orde Baru. Revolusi Kemerdekaan dan retorika nasionalisme serta ilusi tentang keistimewaan bawaan Bangsa Indonesia telah mengikis hampir semua peninggalan Belanda, sekaligus mempersempit jalan untuk memperkaya segala produk akal budi yang datang dari segenap penjuru bumi.

Yang terang, Indonesia kini tertinggal dari negara-negara tetangga terdekatnya, Malaysia misalnya, yang beberapa dekade yang silam harus mendongak memandang Indonesia, dan dengan rendah hati belajar darinya. Korea Selatan yang setengah abad silam relatif sama — bahkan mungkin lebih — runyam dari Indonesia, yang kemudian dengan tegas merumuskan tujuan nasionalnya (satu-satunya tujuan yang ditopang oleh seluruh bangsa yakni untuk menandingi Jepang) kini berada lumayan jauh di atas pundak dan kepala Indonesia.

Mungkin karena berjiwa agung, Indonesia tampak tenang-tenang saja jadi babu bangsa-bangsa lain yang lebih kecil; ikhlas jadi warga bangsa-bangsa pemulung segala hasil riset dan inovasi bangsa-bangsa lain tanpa memberi kontribusi balik yang sepadan atas inovasi dan riset tersebut. Bangsa kita belum menjadi mata air yang secara sinambung mengalirkan sesuatu yang memberi manfaat luas bagi masyarakat dunia. Kalaupun ada yang bisa dimanfaatkan dunia dari Indonesia, maka itu pasti datang dari isi perut bumi Indonesia: dari kekayaan alamnya yang kian tipis, dan dari hasil pemikiran orang-orang yang sudah berkalang tanah. Bukan dari orang-orang yang kini masih bernafas. Dan jika ada kontribusi dari mereka yang masih hidup, kontribusi itu rasionya sangat mungil dibanding dengan apa yang sudah dipetik dan apa yang seharusnya dikembalikan. Kontribusi itu pun sering tak dirawat, kadang bahkan tak dihargai dengan pantas, oleh negara sendiri.

***

Banyak hal yang bisa ditunjuk sebagai penyebab ketersendatan penguasaan ilmu dan teknologi di tanahair kita. Yang paling gampang diseret ke meja hijau sejarah adalah kekeliruan pengelolaan negara, baik oleh rezim Orde Lama, terlebih lagi oleh rezim Orde Baru yang membiarkan diri dan prestasinya digerogoti oleh korupsi. Rezim yang tampak berpotensi mengantar – minimal menyiapkan – Indonesia menjadi anggota elit 10 negara terkaya dan terkuat di dunia ini, akhirnya cuma tercatat sebagai rezim yang penuh mukjizat menjerumuskan Indonesia ke lingkaran negara-negara paling korup di bumi. Rezim ini pernah bekerja menjadikan Indonesia masuk ke jajaran negara-negara Asia pertama yang memiliki sendiri satelitnya, sambil terus memperbanyak jumlah warga Indonesia yang menguasai ilmu-ilmu dan teknologi yang dikira paling maju di dunia. Tetapi di akhir hidupnya, rezim ini menelantarkan banyak ilmuwan dan teknolog berprestasi yang berdedikasi. Penelantaran itu, tampak berlangsung hingga kini. Rezim yang baunya masih tercium di tengah hidup kita kini, telah membangun Indonesia Raya menjadi kanibal besar yang memotong-motong dan memakan anggota tubuhnya sendiri, hanya untuk sekedar melakukan pembesaran parsial (“mak-erot-isasi”) anggota tubuh tertentu yang sangat diistimewakan. Anggota-anggota tubuh yang jadi korban itu ada yang dimakan mentah-mentah, ada juga yang dimasak dulu dengan undang-undang dan pendidikan.

Secara geografis, kanibalisme dan “mak-erot-isisme” Orde Baru terlihat pada kebijakan nasional penyedotan kekayaan daerah untuk kepentingan pusat. Secara anatomis, semua ini tergelar pada dimakannya sebagian besar otak terbaik bangsa Indonesia untuk membesarkan lambung, dan juga organ reproduksi ekonomi politik, mereka yang mengangkang di pusar kekuasaan. Kooptasi kaum cendekiawan bersama merosotnya jumlah dan mutu produksi artistik dan intelektual adalah sebagian dari kanibalisme otak ini. Walau sejumlah hal di dalamnya bisa didebat, buku Daniel Dakhidae, Cendekiawan dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru (2003) menyajikan banyak informasi menarik tentang kanibalisme ini, terutama yang berkaitan dengan otak-otak ilmu sosial.

Pengeratan dan pengunyahan otak ilmu-ilmu alam dan teknologi, yang berlangsung dalam berbagai laju itu, tak banyak beda dengan otak-otak ilmu sosial. Jejaknya menganga pada luasnya gejala dimana selapis manusia yang punya kekuasaan besar dan tampak begitu akrab dengan perkembangan ilmu dan teknologi, dipaksa dan dididik agar menjadi cukup berjarak dari rakyatnya. Mereka ini mungkin mengenal kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan teknologi kuatum dan rekayasa genetika misalnya, tetapi diseruput dan dibuat jadi saling asing dengan masyarakat luas. Mereka ini – tak jarang bahkan melamar dan menyodorkan diri untuk dikunyah – akhirnya ikut dalam proses penyedotan sumber daya daerah pinggiran dan masyarakat bawah.

Setelah dikunyah negara, intelegensi dari otak-otak tersebut di atas malah tereksitasi dan melompat naik. Jika Einstein hanya sanggup merumuskan Relativitas — yakni pemuaian waktu dan penyusutan ruang — dalam teori, mereka bahkan bisa mewujudkannya dalam praksis. Pembangunan infrastruktur transportasi, misalnya, yang harusnya rampung dalam 4 bulan, bisa memuai jadi 9 bulan. Taman kota yang mestinya terentang selebar 50 hektar, bisa dikerutkan jadi 20 hektar saja. Mereka bahkan sanggup menciptakan blackhole yang menelan habis bukan hanya materi proyek-proyek pembangunan, tapi juga cahaya berupa gagasan tentang kebersamaan sebagai bangsa yang bermartabat dan sanggup berbagi, dengan pemimpin yang pada dasarnya pantas dicinta dan dipercaya.

***

Memang ada juga kelompok elit masyarakat yang bisa sekaligus fasih ilmu dan teknologi dan peka pada denyut nadi dan bisikan hati rakyat luas. Tetapi, mereka ini dimutilasi dan dicegah memperoleh kesempatan dan dukungan seluas-luasnya untuk memimpin dan mengarahkan pembangunan ilmu dan teknologi di tanahairnya sendiri. Kalaupun kepingan-kepingan otak ini tidak langsung dikremus mentah-mentah oleh Orde Baru, mereka dipotong kecil-kecil dan disisihkan dari tubuh dan batin Indonesia. Otak-otak ini tak dapat disalahkan jika pada akhirnya berjuang melepaskan diri dari geraham negara yang kuning itu, lalu — dalam gejala yang dikenal sebagai “brain-drain” — memisahkan diri dari tubuh Indonesia dan kemudian mencari tubuh lain yang lebih cocok

Di sisi lain, ada juga kalangan yang begitu berpengaruh dan nyaris disembah oleh rakyat karena mereka tampak intim mengenali aspirasi terdalam masyarakatnya, tetapi begitu gagap ilmu dan teknologi hingga bahkan tak bisa mengoperasikan sendiri seperangkat komputer. Kalaupun mereka sedikit lebih akrab dengan ilmu dan teknologi, mereka cenderung memandangnya melulu sebagai alat saja yang tak terlalu perlu dihormati, paling banter hanya sebagai asesoris untuk gaya-gayaan, bukan ekspresi dari imajinasi dan kerja keras manusia yang di belakangnya mungkin mengandung banyak tetes keringat dan air mata.

Gagasan bahwa ilmu dan teknologi adalah kekayaan ummat manusia yang harus terus dikembangkan, bahwa dunia dan seluruh isinya adalah kenyataan yang harus dihormati dan dicintai sepenuh hati, adalah gagasan yang mungkin ganjil buat mereka. Mereka juga tak berniat untuk membangun kemampuan visioner yang berakar pada penguasaan atas ilmu dan teknologi dan kepekaan untuk menyiasati ilmu dan teknologi itu agar benar-benar bisa menjadi ekstensi yang wajar dari otot, indra, benak dan jantung masyarakat luas. Filsafat berjamur yang mereka tularkan bahwa dunia dan semesta isinya hanyalah ilusi, atau paling jauh hanya jembatan yang diatasnya orang tak perlu mendirikan dan merawat bangunan, adalah filsafat yang menyeret Indonesia terpuruk dari pentas dunia. Langsung atau tidak, mereka bertanggung jawab pada terganggunya pertumbuhan hutan ilmu dan teknologi dan tipisnya vegetasi artistik dan intelektual di tanahair. Mereka ini sesungguhnya adalah kumpulan berbagai penyakit saluran pernafasan dan paru-paru yang mencegah kontak maksimal antara teknosfir dunia dengan segenap butir darah dalam tubuh Indonesia.

***

Ilmu dan teknologi memang tak bisa serta-merta menjadi perluasan dari diri rakyat. Dituntut satu tingkat edukasi untuk membuat ilmu dan teknologi sebagai ektensi dari satu masyarakat. Tetapi begitu proses pertautan ini berjalan, maka daya jangkau masyarakat akan meluas dan meninggi menembus batas-batas cakrawala tradisional. Pengembangan strategis ilmu dan teknologi pada akhirnya tentu berarti pengembangan strategis pendidikan dan kebudayaan. Ilmu dan teknologi hanya bisa tumbuh subur jika terdapat praktisi dalam jumlah memadai yang membentuk suatu komunitas yang dapat bekerja dengan relatif tenang secara politik dan ekonomi. Mereka tentu perlu ditopang oleh infrastuktur riset dan eksperimen, didukung oleh literatur yang lengkap dan terus memperbaharui diri. Mereka juga perlu dilindungi oleh selapis atmosfir kultural yang memungkinkan mereka membangun kemampuan untuk saling memberi kritik secara terbuka, dan tak jarang: keras.

Para pemikir dan seniman yang diundang berkumpul dan berdebat di sekitar Khalifah Harun Al-Rasyid di Bagdag, menjadi penyumbang utama kebesaran peradaban Islam seribuan tahun yang silam. Di abad ke-17, pertukaran pemikiran dan pengalaman yang berlangsung intens di Eropa, tak selalu terjadi melalui balairung istana. Di Paris, Romo Mersenne, dengan surat-surat dan kunjungan langsung, selama dua dekade bertindak sebagai perantara para pemikir cemerlang seperti Galileo, Descartes, Pascal, Boyle, Huygens dan Torricelli. Pertukaran pemikiran, yang kadang berkobar sengit, juga terjadi di antara penduduk dan pendatang di kota kecil Edinburg, Scotlandia, yang kemudian melahirkan Royal Society Inggeris, pada 1660. Semua peristiwa ini, tercatat telah mengubah sejarah dunia. Kita kini perlu berterima kasih pada Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), dan berharap semoga kelompok yang telah membawa anak-anak muda Indonesia ini menunjukkan prestasinya di tingkat Asia dan Dunia, akhirnya memang bisa ikut mengubah sejarah perkembangan ilmu dan teknologi di tanahair.

Pengembangan ilmu dan teknologi memang menuntut agar jumlah ilmuwan dan teknolog yang dilatih, harus terus bertambah sebanyak mungkin, sampai minimal mencapai angka “massa kritis” agar bisa mencapai reaksi berantai seperti matahari dan bintang-bintang. Mereka ini tentu tak perlu dihambat – sebaiknya malah didukung – oleh negara untuk menggarap komunitas riset dan pengembangan dengan temuan-temuan mereka sendiri. Ilmuwan-ilmuwan yang berkecimpung di wilayah ilmu-ilmu murni, baik sebagai tenaga pendidik maupun sebagai rujukan bagi ilmuwan terapan dan ahli teknologi tinggi, tentu juga perlu diperbanyak jumlahnya dan tak dipersulit hidupnya. Negara juga harus membantu, setidaknya mempermudah, upaya para ilmuwan dan teknolog ini dalam menjaga hubungan internasional agar dapat memiliki standar sains dan teknologi yang terbaik. Mereka inilah, meski bukan satu-satunya, yang bisa ikut meletakkan Indonesia di tempat terhormat dalam peta dunia, di tengah pusaran yang bergolak untuk mengubah wajah bumi.

Di lain sisi, para ilmuwan dan teknolog ini mesti diberi jalan untuk menunjukkan bahwa ilmu terapan dan teknologi tinggi memang bisa jadi mesin pemutar uang. Kelonggaran birokrasi dan kreatifitas para ilmuwan dan teknolog sangat perlu untuk mengaitkan kegiatan ilmiah di lembaga-lembaga riset dengan kegiatan-kegiatan ekonomi berskala luas yang mungkin bisa melintasi batas-batas negara, dan bisa punya manfaat langsung bagi masyarakat. Efek ekonomi yang terlihat nyata yang berasal dari kegiatan ilmiah, tentu akan mempercepat dan memperluas proses penyerapan kultur ilmiah dan teknologi di masyarakat luas. Ilmu dan teknologi pun lebih mulus untuk diselami agar benar-benar menjadi bagian dari diri masyarakat.

***

Perluasan diri rakyat lewat ilmu dan teknologi sehingga bisa menjangkau sejauh-jauhnya tentu akan dipermudah dengan pembangunan berbagai macam infrastuktur, termasuk infrastukrur transportasi dan telekomunikasi yang murah, dan syukur-syukur bisa gratis. Transportasi dan terutama telekomunikasi yang menjangkau dunia, mestinya memang bisa diperjuangkan agar menjadi hak asasi warga. Secara teknis, teknologi internet nirkabel jelas menawarkan kemungkinan untuk mewujudkan hak dasar akses komunikasi dan informasi tanpa batas. Negara tentu akan banyak berperan sekaligus menanggung beban dalam pembangunan besar ini. Tapi seringkali negara tak harus menanggung seluruh tanggungjawab dan memborong seluruh peran. Dalam sejumlah kasus kehadiran negara bahkan bisa menganggu dan merugikan masyarakat luas.

Tak jarang memang segmen-segmen masyarakat di luar pemerintah, sanggup mengerjakan sesuatu yang belum tentu bisa dikerjakan sendiri dengan baik oleh pemerintah, yang kerap dibatasi oleh kekuasaan dan “kesemrawutan” birokrasinya sendiri. Birokrasi yang — bagi mereka yang masih bisa meradang — tak jarang berevolusi jadi pelacur (yang kadang bikin marah, tapi lebih sering bikin iba) dan tampak bermuslihat setengah mampus untuk tak jadi becus. Kehadiran perusahaan pemerintah dalam industri internet, misalnya, telah membuat rakyat hilang kesempatan mendapat akses internet yang lebih murah. Raibnya kesempatan rakyat ini – semoga hanya sementara – dijadikan harga bagi hidupnya sejumlah perusahaan manja yang tak sanggup bersaing bebas, karena konon diikat dan digantung oleh regulasi yang mencekik. Deregulasi yang progresif tentu perlu buat mendorong re-distribusi infrastruktur sosial ekonomi yang dibangun dan dimiliki rakyat lewat pencangkokan infrastruktur informasi yang merata. Kokohnya rasionalitas politik-ekonomi bangsa menuntut ratanya penyebaran informasi publik, dan terciptanya komunitas informasi yang sehat. Dengan akses yang terentang lebar, masyarakat di segala penjuru dapat terlibat mengikuti dan membentuk denyut ekonomi, politik dan kebudayaan bukan hanya di tanahair, tapi bahkan mungkin, kelak, di berbagai penjuru dunia.

Beberapa usulan di atas sungguh bukan hal baru. Sejumlah pihak sudah lebih dahulu mengajukannya, dengan paparan yang lebih rinci. Mantan Presiden RI BJ Habibie, misalnya, ketika mengajukan konsep “memulai dari akhir” (beginning from the end) jelas punya gambaran tentang transformasi penguasaan ilmu dan teknologi di Indonesia. Setidaknya begitulah yang diyakini oleh mereka yang pemikirannya dekat dengan pemikiran Habibie. Abdus Salam, fisikawan muslim pertama yang meraih Hadiah Nobel untuk Fisika, juga punya pemikiran transformasi dan pengembangan ilmu dan teknologi yang visioner yang bahkan mencakup wilayah antar benua, antar belahan bumi. Sayang bahwa sejumlah hal di dalam dan di luar negeri – terutama di dalam negeri – telah bekerja menyebabkan pemikiran-pemikiran cemerlang tak mendapat keleluasaan optimal untuk mengaktualkan potensi besar yang dikandung Indonesia, dan dunia. Tapi memang demikianlah kondisi umum kita: rintangan dan jebakan bertebaran di sepanjang jalan dan itulah yang justeru harus diatasi.

***

Tak ada satu solusi sederhana yang sekali jalan dan dalam jangka sangat pendek bisa langsung memecahkan semua soal di tanahair kita, termasuk soal yang berkait dengan penguasaan imu dan teknologi. Bahkan, dengan kecepatan perkembangannya yang revolusioner, ilmu dan teknologi bagi sejumlah pihak telah menjadi soal tersendiri. Pengaruh revolusioner dan nyaris tak terkendali dari perkembangan ilmu dan teknologi di paruh kedua abad ke-20 yang baru lewat, jauh lebih besar dibanding dengan pengaruh segenap perkembangan ilmu dan teknologi sejak jaman prasejarah hingga Revolusi Industri, bahkan dibandingkan dengan seluruh perkembangan hingga pada Akhir Perang Dunia II.

Ilmu dan teknologi di awal Alaf ke-3 ini memang telah mengikat sekaligus menghadapkan segenap ummat manusia pada aneka masalah rumit yang saling-kait. Ilmu dan teknologi sudah lama tak berkaitan dengan sesama pengetahuan rasional dan empirik belaka; ke dalam dirinya, ilmu dan teknologi mendekap dan mempengaruhi hubungan antar-negara, martabat bangsa-bangsa, kelestarian bumi dalam jangka panjang dan makna kehidupan di alam semesta. Gelombang masalah yang tak punya preseden itu datang bertumpang tindih, dan kadang membadai, tanpa henti (Lihat C. Verhaak dan R. Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 1995). Tetapi, apa boleh buat: ilmu dan teknologi memang telah menjadi sejenis atmosfir dari realitas jaman baru. Bangsa-bangsa yang tak tahan dengan teknosfir ini akan jadi makhluk anaerob: organisme renik yang hanya bisa bertahan hidup jika menyingkir ke pojok dunia yang paling terpencil dan tak terjangkau oksigen, atau menyelundup masuk ke dalam usus dan kotoran makhluk-makhluk hidup lain yang lebih besar.

Ilmu dan teknologi sendiri, yang terus melambung dahsyat bagai alam semesta itu, memang tak mungkin, dan juga tak harus, menjawab segala soal manusia. Yang pasti adalah bahwa ilmu dan teknologi, bersama kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan sendiri dan diikuti upaya untuk terus memperluas diri, niscaya dapat mengantar manusia memasuki hari depan yang lebih baik. Sementara itu, kebijakan spiritual dan religius, betapapun hebat dan mulianya, tanpa dukungan ilmu dan teknologi, seperti kata M.G.K Menon dalam World Science Report 1993, memang tak akan cukup tangguh untuk membimbing manusia memecahkan masalah sosial-ekonomi yang begitu berat yang dihadapi manusia saat ini di mana pun, termasuk di Indonesia. Dalam konteks inilah, usulan-usulan di atas dan usulan lain yang serupa, tetap bisa jadi bahan untuk suatu solusi sistematis dan logis atas soal-soal yang ada di depan mata.

Kalaupun ada “solusi tunggal” yang bisa membuka rentetan upaya besar memecahkan problem tanahair yang kompleks ini, maka solusi tunggal itu kini berada di tangan pemerintah yang baru terpilih. Wujudnya adalah: menjadi pemerintah yang sungguhan. Bagi mereka yang sudah capek dengan korupsi, kolusi dan nepotisme di negeri ini, solusi tunggal itu berarti bahwa pemerintah menumpas habis tradisi pendahulunya yang bekerja seperti preman yang memalak dan membunuh inisitif rakyatnya; rakyat yang terpaksa berevolusi jadi bentuk-bentuk kehidupan yang lebih rendah hanya agar bisa bertahan hidup. Menjadi pemerintah yang sungguhan adalah menjadi sumber inspirasi yang bisa dipercaya, yang tahu bahwa pemimpin yang buruk bukan hanya yang membuat keputusan salah tapi juga yang tak sanggup bikin keputusan tegas. Telah lama kita kehilangan pemerintah yang memancarkan ilham, yang kita tahu jelas apa yang ditolaknya dan kita dukung penuh apa yang dikejarnya.

Jika pemerintah bisa tegak bagai sebungkah besi semberani dengan medan magnit yang kuat, masyarakat dengan berbagai unsurnya akan menata diri di sekitarnya untuk bersama-sama mencapai tujuan yang lebih baik. “Bangsa” pun akan menjadi sekaligus alasan berbuat dan tujuan semua kerja besar. Dan Indonesia takkan jadi bagian dari belahan dunia yang gagal menjawab dedikasi SDM-nya yang tak kurang unggul dan kemungkinan-kemungkinan ilmu dan teknologi yang luar biasa, karena membangun tatanan sosial politik yang tak gentar memimpin arus. Di dasar tatanan sosial politik seperti ini, terhampar kebijakan untuk mengerti dan menghargai dengan adil segala kekeliruan dan pencapaian rezim-rezim yang sudah lewat.

Meski tak lagi melimpah, Indonesia memang masih punya peluang untuk menjadi bangsa yang sanggup memberi harga yang pantas dan tempat yang layak pada kreatifitas artistik dan intelektual para ilmuwan dan teknolognya, yang rakyatnya kembali yakin bahwa hal-hal yang mulia dan membanggakan masih bisa dihasilkan di tanahair ini. Dengan berbagai kekurangannya, rakyat Indonesia mampu menunjukkan kekuatan mencengangkan untuk terlibat dan mendukung proses politik pemilihan umum legislatif dan pemilihan umum presiden secara langsung. Kekuatan untuk melewati salah satu gelombang ujian menuju kehidupan demokrasi yang matang ini, bukan hanya menunjukkan harapan dan kemampuan untuk tetap menyatukan diri, dengan segala pahit getirnya, dalam tubuh besar bernama Indonesia — kekuatan dari sebuah bangsa yang masih sanggup menyembuhkan diri.

Kekuatan itu juga menggelar kemampuan besar rakyat Indonesia untuk menyatukan diri dengan masyarakat dunia yang rasional dan demoktaris. Indonesia sungguh punya rakyat yang — asal tak lagi diajak rusak oleh para pemimpinnya, ditindas bergotong-royong dalam orgi korupsi dan kanibalisme — bisa mengusung negeri ini menjadi bangsa yang tidak cuma jadi jongos dan pemulung dari berbagai sampah inovasi bangsa-bangsa lain, tapi juga aktor penting dari keluarga besar ummat manusia yang tengah membangun sebuah planet yang lebih bermartabat. ***

Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di: Eddy S Soepadmo dan Kelik M Nugroho (ed.), Pemimpi Perubahan (Jakarta: KotaKita Press, 2004)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: