Matematika

August 13, 2014

Catatan Kecil tentang Burung

The essence of Mathematics resides in its freedom
— George Cantor

Hubungan antara matematika dan puisi agaknya memang lebih erat dibanding hubungan antara manusia dengan benak di tengkoraknya. Para penyair ternama yang sudah wafat seperti John Keats ketika menulis Lamia, atau Edgar Allan Poe saat menggarap Sonnet—To Science, atau Walt Withman ketika mengarang When I heard the learn’d astronomer, tampaknya belum mampu melihat hubungan erat itu. Begitu juga mereka yang masih hidup dan mengira matematika dan puisi sebagai dua hal yang tumbuh di kutub yang bertentangan, dan karena itu saling meniadakan. Pandangan yang sedikit lebih baik, meski tetap dangkal juga, akan mengatakan bahwa matematika dan puisi, atau sastra, memang tak bermusuhan, tapi dua hal itu betapa pun tak setara, dan sastra sungguh lebih unggul, lebih menakjubkan, dari matematika. Pandangan kedua ini terasa juga dalam karya tebal novelis Jepang yang paling menonjol di dunia saat ini, Haruki Murakami.

1Q84 Murakami

Di paruh pertama novel IQ84 yang peluncurannya disambut gegap gempita di Eropa dan Amerika itu, Murakami menulis begini tentang matematika dan sastra:

Where mathematics was a magnificent imaginary building, the world of story as represented by Dickens was like a deep, magical forest for Tengo. When mathematics stretched infinitely upward toward the heavens, the forest spread out beneath his gaze in silence, its dark, sturdy roots stretching deep into the earth. In the forest there were no maps, no numbered doorways…. Tengo began deliberately to put some distance between himself and the world of mathematics, and instead the forest of story began to exert a stronger pull on his heart… Someday he might be able to decipher the spell. That possibility would gently warm his heart from within.

Read the rest of this entry »

Advertisements