Budaya

January 17, 2009

Modernitas

Perjumpaan kaum muslim dengan modernitas adalah tema literer yang dalam sekian dekade terakhir, tampak tumbuh subur bagai kurma di sisi oase. Tema ini banyak dijumpai dalam karya-karya sastra kontemporer para penulis yang berasal dari, atau yang dekat dengan, wilayah kultural Islam, yang umumnya mewarisi pengalaman kelam kolonialisme dan kepahitan pelapukan imperial.  Nada utama dalam banyak karya ini adalah  juga kegetiran, dan tak jarang kemarahan, dalam berbagai takarannya. Kegetiran itu mungkin mudah menyeret orang karam pada pandangan bahwa Islam dan Barat adalah dua entitas yang sulit, bahkan mustahil, berpadu. Jika kedua entitas ini bertemu di satu ruang, maka pilihan yang tersedia seakan-akan hanyalah variasi dari dua kutub besar: mengislamkan Barat — kalau bisa sampai Barat-nya hilang; atau membaratkan Islam — sampai Islamnya lenyap tak bertilas.

ziryab

Membaca karya-karya macam ini, kita bisa tercenung menginsyafi betapa gerak sejarah bukan saja telah membalik peta budaya dunia, tetapi juga membuat manusia lupa betapa peta dunia telah terbalik, dan masih bisa ditata ulang. Seribu tahun yang silam, ranah yang bisa dianggap modern justeru adalah yang berada di bawah pengaruh Islam. Adapun Eropa dianggap justeru sebagai kawasan yang membeku di Abad Kegelapan, dan karena itu tak cukup menarik untuk dikuasai seluruhnya. Hal ini diakui oleh banyak ahli di Eropa sendiri dan secara berkala muncul misalnya di film-film mereka. Tahun 2005 ini, setidaknya ada 2 film layar lebar yang beredar di Indonesia dengan latar pertemuan Islam dan Eropa sealaf yang lalu:  Kingdom of Heaven (Ridley Scott, 2005) dan George and the Dragon (Tom Reeve, 2004). Di film Reeve dengan tokoh utama seorang pangeran Inggris yang baru balik dari Perang Salib pertama itu, dibeberkan bagaimana kaum muslim mengajari Sang Pangeran yang kelak menjadi Santo George itu, makan secara beradab: dengan garpu dan sendok. Waktu itu raja-raja di Eropa memang makan dengan cara yang lumayan angker: dengan cagak trisula sebagai garpu, dan gayung bahkan sekop sebagai sendok.

Kaum muslimlah memang yang mendidik Eropa — termasuk mereka yang datang menyerbu lewat seruan Perang Salib — untuk bersantap dengan pisau mungil, bukannya dengan golok dan gergaji. Ketika para bangsawan dan ksatria Eropa makan dengan cara mirip hyena, yakni dengan tangan mencakar yang dilakukan secara keroyokan dan serabutan saja tanpa urutan, orang-orang muslim di Spanyol mendidik mereka bersantap dengan urutan yang beradab: mulai dengan sajian pembuka, masuk ke santapan utama, dan berakhir dengan hidangan penutup atau pencuci mulut. Bekas budak yang jadi penyair dan pemusik sekaligus sahabat dekat Khalifah ‘Abd al-Rahman II yang mashyur sebagai pelindung seni, yakni Abu al-Hasan Ali ibn Nafi’ alias Ziryab Si Burung Hitam — sebagaimana dicatat oleh sejarawan besar Arab Spanyol Ibnu Hayyan dalam karya akbarnya Al-Muqtabas — adalah tokoh serbabisa yang jadi pengilham utama revolusi budaya yang semula dicobakan di istana Bani Umayyah itu, dan kelak mempengaruhi seluruh dunia hingga hari ini.  Sintingnya, kini masih sangat banyak ummat  meyakini bahwa tata cara makan dengan urutan itu adalah budaya Eropa, sementara adat makan dengan dengan tangan dan dalam satu nampan besar, adalah cara bersantap yang Islami. Ada banyak hal memang yang diajarkan Islam kepada Eropa, bukan hanya table manner dan mode berbusana yang seiring perubahan musim; sebagaimana ada juga banyak hal yang dipelajari dan dikembangkan Islam dari Yunani dan Persia, dari India dan Tiongkok.

Selain tercenung memikirkan pembalikan tatanan dunia, para pembaca sastra dengan tema perjumpaan Islam dan Barat, bisa juga tercenung menyesali mereka yang sanggup menyerap Barat tanpa kehilangan keislaman, namun tak sempat menulis novel. Sungguh cukup banyak orang yang pikirannya begitu lapang sehingga bisa menampung Islam dan Barat sekaligus. Fisikawan muslim peraih hadiah Nobel, Abdus Salam, adalah contoh. Di Indonesia,  sosok serupa ada cukup banyak, antara lain adalah cendekiawan Soedjatmoko dan mantan presiden B. J. Habibie.  Kendati selera artistiknya tampak jadul konservatif, Habibie tentu bukan orang yang merasa rikuh dengan modernitas, dengan Eropa. Pakar aeronautika ini bahkan tampak begitu rapat dengan modernitas, memberi sumbangan besar pada salah satu unsurnya, sehingga ia antara lain dianugrahi Theodore Von Karman Award dari International Council of The Aeronautical Sciences (ICAS).

Begitu intim Habibie dengan sekian sisi modernitas sehingga justeru kalangan tertentu yang merasa risih dengan keintiman itu. Dari kaum pencuriga ini sempat terdengar suara yang menyangsikan keislaman Habibie. Keraguan itu tentu bisa diterima jika orang juga dapat merengkuh pengertian Islam yang telah dimiskinkan dan begitu melarat sehingga sudah tak senafas lagi dengan sukma Islam sebagai rahmatan lil alamin. Jika Habibie tak menjadi rahmat, tak memberi manfaat bagi sejumlah orang yang menjunjung pengetahuan modern, ia tentu tidak akan diterima jadi anggota kehormatan Gesselschaft für Luft- und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, atau The Royal Aeronautical Society Inggris. Ada belasan lembaga penerbangan di berbagai negara yang mencantumkan nama Habibie sebagai anggotanya. Pada Februari 1986, misalnya, ia diangkat sebagai anggota The US Academy of Engineering, konon penghargaan tertinggi yang pernah diterima warga Indonesia dalam bidang teknologi di Amerika Serikat. Asia ketika itu hanya diwakili oleh 3 negara, yaitu Jepang (10 orang), India (1 orang) dan Indonesia (1 orang). Jauh sebelumnya, Habibie sudah mendatangkan rahmat bagi stakeholder perusahaan besar Jerman Messerschmitt Boelkow-Blohm (MBB) Gmbh, sehingga pada 1974, ia sudah menduduki jabatan Wakil Presiden dan Direktur Teknologi MBB. Waktu itu, jabatan tersebut adalah yang tertinggi yang diduduki oleh seorang non-Jerman.

Orang-orang seperti Habibie, Soedjatmoko, atau Abdus Salam, adalah mereka yang dengan tandas menampik pengertian bahwa Islam dan modernitas adalah dua hal yang secara esensial mustahil bertaut. Namun agaknya, Islam dan modernitas jauh lebih mudah berpaut dalam diri individu, ketimbang dalam diri sebuah bangsa. Perpaduan kedua unsur itu juga meminta syarat, menuntut katalisator, agar bisa berlangsung baik. Pada kasus tertentu, perpaduan itu tak hanya menghasilkan senyawa baru, tetapi bahkan ledakan dan pancaran energi bintang sebagai mana yang terjadi dalam reaksi fusi.

Salah satu syarat yang mempercepat perpautan itu adalah adanya tarikan, betapa pun halusnya, dari kedua unsur itu untuk saling mendekat. Syarat inilah yang dimaksud oleh sastrawan kontemporer Turki yang kini paling masyhur, Orhan Pamuk, di bagian akhir tulisannya yang baru saja terbit di The New Yorker. Pamuk yang berkali-kali dicalonkan meraih Hadiah Nobel untuk sastra itu, kini menghadapi pengadilan politik dengan tuduhan menghina Negara Turki, menista jatidiri keturkian. Ia dituntut karena penyataannya yang dikutip sebuah majalah terbitan Swiss bahwa 30.000 rakyat Kurdi dan satu juta rakyat Armenia dibantai tentara Turki, dan tak seorang pun punya nyali untuk mengatakannya, kecuali Pamuk sendiri. Bagi Pamuk — dan mereka yang bersimpati padanya — tindakan patriotik pemerintah Turki yang memperkarakan dirinya itu, lebih parah ketimbang menepuk jelantah di wajan panas. Selain mempersulit upaya Turki masuk ke organisasi Uni Eropa, tindakan itu juga memamerkan ketaksiapan penguasa dan kalangan masyarakat tertentu Turki untuk menghormati sepenuhnya sukma demokrasi dan modernitas.

Persoalan Pamuk tak berhenti di sana, dan diperparah oleh dusta besar perang AS dan sekutunya di Irak, dan laporan-laporan tahanan rahasia CIA, yang menyebar ke seluruh dunia. Dusta dan laporan itu telah merusak kredibilitas Barat dan demokrasinya. Rejim yang berkuasa Turki dan para pengambil keputusan di negara-negara Barat yang tak gentar berbohong, telah bertindak sebagai penghambat, bukannya katalisator, bagi pemaduan demokrasi dan Turki: modernitas dan Islam. Standar ganda penguasa di Timur dan di Barat, adalah rintangan yang mempersulit upaya orang-orang seperti Pamuk merimbunkan moderitas dan demokrasi di tanah asal mereka.

Kesediaan untuk mengobras “mulut bocor” para sastrawan dan intelektual kritis yang dipamerkan oleh pemerintah sejumlah negara berpenduduk mayoritas muslim itu, membuat banyak pengamat memandang Indonesia dan menaruh harapan besar padanya. Buat mereka, Indonesia yang merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dan yang pemerintahnya relatif punya kesiapan menindak unsur-unsur fanatik yang sanggup meledakkan kekerasan, adalah harapan bagi pemaduan penuh ilham antara Islam dan modernitas. Ada orang yang bahkan melihat Indonesia, dengan pengalaman kultural yang dahsyat dan dukungan berbagai sumberdaya besar, sungguh merupakan solusi unik, setidaknya laboratorium menarik, bagi pengembangan peradaban global yang sedang tumbuh.

Indonesia, sedikit banyak, memang bisa jadi harapan bagi mereka yang berjuang menghadirkan Islam sebagai agama yang toleran, damai, dan progresif dengan dorongan besar pengembangan masa depan kemanusiaan. Kesuksesan Indonesia menjalani proses transformasi demokratis yang berwujud pemilihan umum langsung, kesiapan pemerintah mengikis terorisme dan perlahan-lahan memangkas korupsi, adalah petunjuk adanya sebentuk kesungguhan merengkuh demokrasi dan mengembangkan modernitas. Dengan kombinasi unik itu, yakni sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di bumi yang sejauh ini terus meyemaikan persilangan nilai-nilai peradaban Muslim dan Barat, Indonesia memang gampang dipandang sebagai negara yang tak bisa disepelekan dalam membentuk peta politik dan kultural dunia.

Bagi mereka yang cukup rapat mengikuti sejarah kontemporer indonesia, dan cukup peka menala infantilisme religius yang masih mendekam bagai bara campur ranjau dalam tumpukan sekam; bagi mereka yang sejauh ini belum melihat tekad keras dan program sistematis yang membimbing transformasi Indonesia, harapan tadi bisa mendatangkan senyum hambar. Bahkan mungkin sinisme — sejarah memang sering menjinakkan optimisme yang liar. Mereka ini bisa menunjukkan betapa Indonesia —  berbeda dengan Jepang atau Korea Selatan, misalnya — adalah negeri yang begitu piawai membuang kesempatan; sebuah negeri yang berkali-kali melewatkan peluang besar meletakkan diri secara kukuh di garis depan sejarah. Dan itu terjadi bukan hanya pada saat melonjaknya harga minyak di awal kekuasaan rezim Orde Baru yang hanya sukses melambungkan posisi ekonomi selapis penguasa dan gagal melontarkan kekuatan ekonomi sebuah bangsa.

Kisah pencampakan peluang itu memang cukup melimpah di tanahair, di negeri yang hari liburnya paling banyak di Bumi. Begitu meruahnya pencampakan itu, seakan-akan ia telah menjadi kegemaran nasional. Tapi itu tentu tak menumpas kemungkinan adanya sejumlah orang  yang menolak membiarkan tanahairnya kehilangan kemampuan belajar, menampik membiarkan bangsanya kembali menggerus kesempatan menyumbang pengukuhan modernitas peradaban global. Bagi mereka ini, perjuangan menghidupkan modernitas adalah pergulatan kembali ke akar — ke inti utama tradisi besar yang dulu telah mengangkat sebagian peradaban ke tingkat yang lebih bermartabat.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Versi awal dimuat di Majalah Azzikra, edisi Januari 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: