Humaniora

April 19, 2010

Pengantar

“Menjadi Bangsa Terdidik”

Soedjatmoko

Membaca kembali berbagai karangan Soedjatmoko adalah mengalami lagi terpaan arus semangat yang dengan perlahan sanggup membawa kita meniti cakrawala merengkuh soal-soal besar dan luhur berupa pembebasan manusia dan hari depan dunia.

Soedjatmoko. Foto: Kompas/KR

Dari anyaman prosanya yang berpilin menjelujur serba merangkum dan tak selalu literer itu, terasa hadirnya cakupan kepedulian yang berevolusi dan bisa menyeret pembacanya mengukuhkan kembali rasa terpaut pada sebuah bangsa dengan berbagai masalah yang merundungnya, dan meresapkan lagi persamaan fundamental antar ummat manusia yang kian saling terkait di tataran global.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Budaya

January 17, 2009

Modernitas

Perjumpaan kaum muslim dengan modernitas adalah tema literer yang dalam sekian dekade terakhir, tampak tumbuh subur bagai kurma di sisi oase. Tema ini banyak dijumpai dalam karya-karya sastra kontemporer para penulis yang berasal dari, atau yang dekat dengan, wilayah kultural Islam, yang umumnya mewarisi pengalaman kelam kolonialisme dan kepahitan pelapukan imperial.  Nada utama dalam banyak karya ini adalah  juga kegetiran, dan tak jarang kemarahan, dalam berbagai takarannya. Kegetiran itu mungkin mudah menyeret orang karam pada pandangan bahwa Islam dan Barat adalah dua entitas yang sulit, bahkan mustahil, berpadu. Jika kedua entitas ini bertemu di satu ruang, maka pilihan yang tersedia seakan-akan hanyalah variasi dari dua kutub besar: mengislamkan Barat — kalau bisa sampai Barat-nya hilang; atau membaratkan Islam — sampai Islamnya lenyap tak bertilas.

ziryab

Read the rest of this entry »

Ekonomi

September 16, 2008

Sen, Ilmu Yang Muram, Manusia

Ekonomi jadi ilmu yang muram antara lain karena: barang-barang yang langka dan sumber-sumber yang kian terbatas, berhadapan dengan begitu banyak kebutuhan manusia yang saling bertentangan dan terus berbiak dengan laju yang bikin giris. Dan seperti ditunjuk Paradoks Arrow, tak ada satu cara yang adil dan rasional untuk mengharmoniskan pilihan individual yang serba berbeda, menjadi pilihan kolektif yang memuaskan semua orang. Amartya Kumar Sen menegakkan reputasinya dalam barisan ekonom dunia, antara lain lewat terobosannya mengatasi Paradoks Arrow. Dari sana ia membangun sebuah riwayat intelektual yang menjadikan dirinya salah satu “Penyambung Lidah Kaum Lapar Dunia”, dan terus mencari jalan membuat pembangunan identik dengan kebebasan. Dan ia mengutip penyair Inggris abad ke-18 William Cowper, pada baris:

Freedom has a thousand charms to show,

That slaves howe’er contented, never know.

Dalam khazanah pemikiran di Indonesia, pandangan yang mengaitkan pembangunan dan kebebasan, dan upaya mempersembahkan pemikiran ekonomi bagi kesejahteraan kelompok paling miskin di masyarakat, tentu bukan hal baru. Bung Hatta, yang oleh situasi jaman bisa disebut sebagai ekonom terbesar Indonesia sebelum perang, sudah melakukannya. Usaha Hatta yang dibimbing oleh ide kemerdekaan dan kedaulatan rakyat itu, sudah terlihat sejak karya awalnya tentang posisi Indonesia dalam “tata” ekonomi dunia, sampai ke karya-karyanya tentang ekonomi rakyat, tentang koperasi, nasib buruh, ordonansi sewa lahan, hingga ke hak tanah dan tempat kediaman rakyat.

Read the rest of this entry »