Humaniora

April 19, 2010

Pengantar

“Menjadi Bangsa Terdidik”

Soedjatmoko

Membaca kembali berbagai karangan Soedjatmoko adalah mengalami lagi terpaan arus semangat yang dengan perlahan sanggup membawa kita meniti cakrawala merengkuh soal-soal besar dan luhur berupa pembebasan manusia dan hari depan dunia.

Soedjatmoko. Foto: Kompas/KR

Dari anyaman prosanya yang berpilin menjelujur serba merangkum dan tak selalu literer itu, terasa hadirnya cakupan kepedulian yang berevolusi dan bisa menyeret pembacanya mengukuhkan kembali rasa terpaut pada sebuah bangsa dengan berbagai masalah yang merundungnya, dan meresapkan lagi persamaan fundamental antar ummat manusia yang kian saling terkait di tataran global.

Semangat dan kepedulian yang bertaut tak terpisahkan dengan jalan hidup sebagai intelektual publik itu berdetak di semua karangan Soedjatmoko, termasuk di bunga rampai bertajuk “Menjadi Bangsa Terdidik” ini. Penataan bunga rampai ini cukup bagus menegaskan ketakterpisahan antara pengembangan pengetahuan, kecendekiawanan, dan pergumulan mendorong pembebasan manusia dan perbaikan hari depannya.

Mereka yang berpengetahuan tapi tak merawat kepedulian pada perbaikan hidup sebanyak mungkin manusia yang bisa dijangkaunya, memang tak dapat dikategorikan sebagai cendekiawan; perbaikan hidup ummat manusia akan lebih mudah dicapai jika khazanah pengetahuan yang dibangun, dituntun oleh semangat kecendekiawanan yang melintasi batas-batas; dan kaum yang punya kepedulian pada makna hidup manusia hanya bisa efektif memperjuangkan hidup dan martabat sesamanya jika mereka menopang dirinya dengan pengetahuan yang tangguh.

Pengetahuan yang tangguh itu, yang menjadi asset paling strategis dalam upaya-upaya pembangunan, bagi Soedjatmo, tak lain adalah pengetahuan modern, yakni pengetahuan- berbasis-sains tentang manusia, masyarakat, dan alam semesta, beserta segala konsep, teori, metafor, dan pandangan dunia yang didasarkan pada pengetahuan ilmiah itu. Pengetahuan modern itu memang dapat dihimpun tanpa harus menuntaskan seluruh jenjang pendidikan formal, seperti yang ditunjukkan sendiri dengan gemilang oleh Soedjatmoko. Tapi sebuah sistem pendidikan formal yang baik, antara lain karena kemampuannya menghimpun dan mengembangkan pengetahuan secara sistematik, menjadi sangat penting dalam mendidik sebuah bangsa yang sanggup membantu bangsa tersebut merumuskan dan mengatasi berbagai masalahnya.

Karena tuntutan keadaan, Soedjatmoko agak lebih banyak berbicara tentang pendidikan tinggi, kendati ia juga menaruh perhatian pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, termasuk pendidikan di dunia pesantren dan dunia kanak-kanak. Perhatiannya pada pendidikan tinggi digerakkan oleh harapan untuk membuat dunia pendidikan, seperti halnya bahasa, bisa jadi instrumen pembebas bangsa, dan mencegah dunia penghasil kaum terdidik itu merosot jadi pelayan yang mengukuhkan ketimpangan yang sudah ada. Ia juga ikut mengupayakan tumbuhnya dunia pendidikan tinggi yang berakar pada budaya tertentu dan relevan bagi kebutuhan negara-negara berkembang. Gagasannya tentang pendidikan tinggi untuk mengokohkan perdamaian dunia, yang mampu menangani masalah-masalah global sembari mempersiapkan orang untuk hidup dengan berbagai perubahan global yang melanda, jelas mempengaruhi Universitas PBB, Tokyo, yang sempat ia pimpin sebagai rektornya yang kedua dari 1980 hingga 1987.

Kepedulian dan gagasan progresif Soedjatmoko tentu membangkitkan ilham bukan saja bagi mereka yang pernah berinteraksi langsung dengannya. Kepedulian yang melintas batas dan tak pernah surut itu membuat karangannya, jika dilihat secara menyeluruh, tampak jadi sejenis kumpulan surat cinta terselubung pada sebuah generasi, sebuah bangsa, sebuah dunia, sebuah ranah kehidupan. Mereka yang membaca sungguh-sungguh karangan itu, terutama yang dibuahkan di dekade terakhir hidup Soedjatmoko, akan kian mampu jadi warga dunia yang punya akar di tanahair, dengan semangat humanitarianisme dan imajinasi moral yang terus mengembang untuk menatahkan martabat pada hidup dan dunia yang menopangnya. ***

Menjadi Bangsa Terdidik Menurut Soedjatmoko (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010). Editor:  Andre Hero Triman

Advertisements

One Response to “Humaniora”

  1. daus Says:

    terimah kasih atas catatanya,,,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: