Fiksi Tanggung

September 21, 2009

Labirin Berujung Tunggal

Kelak ketika ia sepenuhnya sadar, bahwa nanti akan lahir seorang manusia dari tubuhnya, ia tercekam lagi oleh sebuah rasa longsor yang menggigilkan, yang diperparah oleh penalaran dan dibikin kekal oleh ingatan.

Terakhir kali rasa longsor itu menyeretnya, adalah saat ia melalui puncak dari percintaannya yang sudah berlangsung bertahun-tahun dengan hujan; hujan yang dengan lembut mengunjungi senja dan mengubahnya dari merah lembayung menjadi kelabu, dan akhirnya melulur batas antara langit dan bumi. Gerimis yang gugur bersama angin yang mendengkur, adalah ketulusan langit pada hijau daratan dan biru lautan. Ia ingat rasa sakit itu bermula sebagai rasa cinta diam-diam, dan tumbuh dengan kerinduan langit yang memeluk seluruh bintang; rasa sakit yang konon mencintai mereka yang banyak tidur dan bermimpi.

Spies Iseh im Morgenlicht (1938)

Dulu selalu ia kira gerimis adalah anugerah yang elemental, tak mengandung apa-apa kecuali kebahagiaan, mungkin lebih tepat: kehidupan. Ia merasakannya di antara rinai yang turun saat ia beristirahat dari alat tenun warisan neneknya, saat ia berjalan menyusuri jalan aspal kecil yang melewati kecamatan tempat kelahirannya,  dengan pokok-pokok lontar agak di kejauhan yang menjulang ke langit. Sebagian besar kenangan masa kanaknya, berkait dengan hujan, atau dengan perwujudannya yang lain: ricik air kali, awan yang berarak, uap tanah yang mekar naik meliput seluruh cakrawala.  Koor katak yang bersahut-sahutan di malam musim hujan adalah gelombang yang selalu mendebur di kesadarannya.

Itu adalah kurun ketika ia masih asyik pada dirinya sendiri, seperti siput kecil yang damai dalam cangkang berulirnya sendiri. Percintaan itu terus ia bawa sampai ia pindah ke ibu kota. Ia pun kian tenggelam mengaji jantung materi, rasi bintang, dan berbagai hal tentang alam.  Sampai pada suatu hari, ia sadar bahwa percintaan indahnya dengan hujan adalah pengalaman standar yang ditemui di semua tukang lamun. Kau tanyakan pada mereka apa arti hujan, dan mereka akan memberimu puisi yang berlarat-larat. Ia pun merasa dirinya mulai tercabik. Sebentuk penghianatan dan ketaksetiaan kekasih yang membagi-bagi cintanya ke milyaran kebun, seolah membokongnya, tentu saja dari belakang. Setelah puas menyumpahi seluruh hujan ― seluruh salju dan bintang jatuh yang pernah terlihat di Bumi juga ikut kena ― ia  kembali meraih kejernihannya. Dan ia mengejek dirinya, mencemooh ketamakannya memonopoli kekasih yang bisa membahagiakan serempak begitu banyak manusia.

Yang pasti, sejak saat itu, tiap kali gerimis turun, dan waktu serasa melambat, dan rona ungu menjalar tumbuh di jutaan hati manusia, ia mulai bertanya untuk apa ini semua. Mungkin memang agar manusia kian menghargai kehidupan, dan cinta mereka pada sesama, pada kedegilan dan ketakterdugaan mereka, pulih kembali. Dan kehidupan pun bisa terus berlangsung, selama mungkin. Tapi untuk apa? Agar hujan, dan langit, dan jagat raya bisa terus menerus memamerkan ketulusan dan kebesarannya? Hujan ternyata bukanlah ketulusan, tapi semacam muslihat yang dirancang sangat baik untuk membuat manusia meneruskan hidupnya, sebagai bidak, dan budak, yang setelah melamunkan hujan, akan seterusnya melamunkan langit, menyelidiki alam semesta dan segala rahasianya. Kian dahsyat lamunan dan penyelidikan itu, akan kian bagus bagi hujan dan langit, sebab itu memberi mereka pentas yang kian luas untuk membentangkan diri. Sejak itu, seakan sebusur halilintar meledak di kepalnya, ia melihat kehidupan di Bumi dengan lain.

Tiap kali lamunan dahsyat terbit, tiap kali pemikiran brillian mekar, tiap kali masterpiece lahir, maka pada saat itu, satu bola cahaya terlontar ke luar dari Bumi. Sebagian besar  di antara bola cahaya imajinasi dan pemikiran itu, karena terlalu membumi dan terlalu memanusia, terlempar lalu membentuk busur dan  dengan terhuyung-hunyung balik lagi menabrak paras Bumi. Tapi banyak juga di antara bola cahaya itu yang mengorbit, menempuh lingkar imajiner dan menarik jarak dengan gravitasi Bumi, dengan “sejarah” umat manusia. Sementara sejumlah yang lain, meluncur keluar dan memancar ke segala arah, menerobos masuk jauh ke kedalaman langit, dan mungkin muncul di ruang waktu yang lain. Imajinasi dan pemikiran yang sangat kuat melambung dan sanggup melepaskan diri dari ikatan primordial dengan Bumi dan manusia ini, biasanya lahir dari orang-orang yang tak begitu dipedulikan oleh sesamanya makhluk. Seperti matahari, Bumi juga punya blank spot: kawasan yang penghuninya mengidap kelumpuhan imajinasi ― penduduk yang bercinta seperti manusia dan berhayal seperti kadal. Sebagian besar cahaya imajinasi manusia itu sungguh berkelap-kelip redup. Tapi mereka yang redup ini memberi latar pada sejumlah cahaya yang sangat mencorong dan bertahan melintasi abad demi abad.

Dilihat dengan sensor panas imajinasi, maka yang tampak bercahaya di Tatasurya ini bukan Matahari, tapi Bumi. Di seluruh Bimasakti, hanya ada satu titik yang selama sekian ribu tahun terakhir mulai bersinar, dan dengan belahan yang tertentu jadi lebih terang ketika hujan dan malam mulai turun. Cahaya-cahaya itu adalah buah dari “algoritme” yang dikonstitusikan dalam kode genetik manusia untuk merealisasi diri setinggi-tingginya lewat alam, dan lewat realisasi diri manusia itu, alam justeru menghamparkan kebesarannya. Dengan cahaya-cahaya itu, semesta raya ― teks maha besar itu ― akan menuliskan dirinya sendiri. Ia pun melihat busur-busur cahaya pemikiran itu seperti materi pembawa informasi genetik yang meluncur ke angkasa. Ia melihat Bumi, bongkahan planet yang dulu disebut Ibu Pertiwi atau Dewi Gaia, tak lain dari testikel tunggal yang akan terus menembakkan milyaran sperma ke dalam keluasan rahim alam semesta. Sperma-sperma itu, masterpiece-masterpiece itu, saling memperkuat dan saling dorong, untuk membuahi semesta dan membuatnya melahirkan diri sendiri.

***

Lewat otaknya yang diberikan alam, manusia  menumpuk pengetahuan ilmiah yang luar biasa. Tetapi penumpukan yang dahsyat itu, senantiasa dihantui rasa gamang akan kebenaran, konsistensi dan kelengkapan pengetahuan itu sendiri.  Bersama dengan penegasannya bahwa semesta dunia Platonik matematika tak dapat direduksi menjadi suatu aksara berhingga simbol-simbol, dan satu gugusan terbatas aksioma dan kaidah-kaidah inferensi, teorema Gödel menunjukkan bahwa pengetahuan yang konsisten tak lengkap, dan pengetahuan yang lengkap tak konsisten.

Bagaimana pula manusia yakin pada pengetahuannya yang ia timbun tentang kelahiran alam semesta, padahal jarak ruang dan waktu yang luar biasa besarnya membuatnya mustahil menyaksikan jagat raya dilahirkan? Mana mungkin manusia bisa menuntaskan pengetahuannya tentang alam semesta dan segenap isinya, padahal ia tahu mustahil mengetahui sesuatu jika ia terperangkap dalam obyek itu, sementara manusia takkan mungkin berada di luar alam semesta yang dihidupinya ini? Dan kalaupun kelak benar-benar ditemukan sebuah Teori Mahasemesta tentang genealogi jagat raya dan semua hal yang terjadi di dalamnya, yang dengan segala macam abstraksi matematis dan eksperimen imajiner maharumit disimpulkan punya kemampuan pengorganisasian data, penjelasan gejala dan peramalan kebolehjadian peristiwa yang benar-benar hebat dan belum pernah dimiliki dunia, teori seperti ini toh tetap bukan apa-apa: ia hanya sebuah teori.

Dan andaipun revolusi ilmu dan teknologi memberi manusia instrumen dengan kecerdasan mengerikan yang bisa mensimulasi alam semesta seisinya, menjadi semacam artificial universe, itu juga tetap bukan apa-apa kecuali hanya simulakrum yang diturunkan dari rasio dan prasangka manusia, bukan semesta pada dirinya sendiri. Dan kenyataan yang fiksius ― belum cukupkah peringatan yang diuarkan sejarah ilmu, untuk curiga betapa kenyataan semesta dengan segenap watak fantastik dan surealistiknya, bisa saja selama ini mengecoh manusia yang dibikin sangat terbatas itu, dengan memberinya sejumput revelasi semu agar manusia berpikir bahwa mereka mengerti kenyataan padahal tak?

Cara paling logis menyelesaikan kontradiksi pengetahuan tentatif manusia tentang semesta seisinya dengan watak fantastik realitas kosmos hanyalah sebuah “tindak ilahiah”: mencipta sendiri alam semesta.

***

Bayangan tentang kemungkinan hari depan manusia dan pengetahuannya, sering melintas bersama bayangan tentang masa silamnya. Ia pun ingat  kalimat Stephen Jay Gould bahwa manusia bukanlah hasil akhir dari sebuah proses evolisioner yang bergerak maju dan dapat diramalkan, tapi lebih merupakan sebuah aftertthought kosmik yang kebetulan saja, sebuah ranting halus mungil dari belukar kehidupan yang menjelujur sangat panjang, yang jika ditanam ulang dari benihnya, hampir bisa dipastikan tak akan menumbuhkan lagi ranting kemanusiaan tersebut.

Dulu ketika ia diberitahu oleh biologi evolusioner bahwa ia, sebagai manusia, punya akar yang meski jelas namun sangat rapuh, dalam riwayat alam semesta, ia juga dilanda rasa longsor. Ia memang sulit membantah para ilmuwan jujur yang datang dengan sebuah penjelasan bagus dan sejenis statistik. Mereka bilang, hidup ini cuma aksiden (dan barangkali memang cukup untuk sekedar mampir minum, sukur-sukur sempat mabuk). Kemungkinan munculnya kehidupan cerdas di bumi ini sungguh bukan main kecil, nyaris nol besar. Atau setidaknya, sangat tidak istimewa: sama sepelenya dengan gerak hujan dan comberan yang, tanpa diintervensi, selalu mencari tempat yang lebih rendah. Tapi bahkan sejak tahun-tahun yang sudah lama lewat, di hati kecilnya ia sudah bilang, hidup ini bukanlah hal yang tak berharga.

Fakta statistik kecilnya kemungkinan manusia muncul di Tatasurya, dengan kepiawaian seorang pengacara atau politisi tangguh, ia pelintir jadi penopang betapa kehadiran manusia itu memang bukan kebetulan. Karena kalau hanya kebolehjadian statistik yang diandalkan, mustahil sungguh manusia muncul. Dengan kalimat lain, ada sesuatu yang sedang bekerja di alam semesta ini yang betul merencanakan munculnya kecerdasan. Di hati kecilnya ia akui, ia memang lebih suka jika ia ada dalam sebuah rencana besar (kelak, preferensi subyektif ini ia murnikan dengan nalar ilmiah). Bahwa manusia adalah ranting yang begitu rapuh dan sepele dalam belukar rambat evolusi, tapi sekaligus bisa jadi perantara bagi reproduksi kosmos, membuat ia berpikir bahwa jika “Manusia berpikir, Tuhan deg-degan”: mungkinkah makhluk yang begitu rapuh, rentan dan suka merusak diri sendiri ini, akan cukup kuat jadi perantara reproduksi kosmos?

Kelak ia tahu, bahwa kebetulan atau tidak, semua itu tak lagi penting bagi kehidupan manusia, dan ia pun sadar bahwa perdebatan antara kaum kreasionis dan kaum evolusionis adalah perdebatan paling tak berguna yang pernah ditemukan ummat manusia. Makna kehidupan sungguh tak ditentukan oleh masa silamnya, tapi oleh masa kini dan masa depannya. Kendati ranting kecil kemanusiaan itu muncul dengan kebetulan, yang jelas adalah bahwa untuk membuat kehidupan itu bisa ditanggungkan, manusia harus membuatnya jadi bermakna. Itu artinya, memuaskan rasa ingin tahu dan menuntaskan hasrat untuk mengendalikan lingkungan, yang ujung-ujungnya adalah membangun kebudayaan dan peradaban, menguji terus pengetahuan tentang alam semesta, dan pada akhirnya berkongsi dalam pelahiran diri kosmos.

Pemahaman ini memberinya sejenis rasa riang yang baru.  Ia pun membayangkan hubungan dirinya dengan alam semesta, serupa hubungan sebuah titik dengan geometri. Dan dalam proses menjadi geometri itu, ia rasakan dirinya seolah-olah berada di antara berjuta-juta burung putih yang terbang membubung dalam sebuah elevasi ke puncak langit.  Tapi ia sadar, rasa riang itu mirip rasa melambung seorang anggota siaga mungil yang ikut dalam sebuah jambore besar: perasaan lugu dan mungkin naif dari seorang bocah yang gambaran dunianya sangat terbatas. Seperti siaga culun dalam jambore tadi, ia hanya unsur sepele dalam perhelatan besar ini, dan ia bisa diganti oleh siapapun dan dilupakan begitu saja.

Dalam riwayat alam semesta, seluruh tokoh besar sejarah juga tak penting. Einstein juga hanya bidak. Jika tak ada Einstein, akan ada orang lain yang akan merumuskan Teori Relativitas. Jika tak ada Newton yang menemukan kalkulus, Leibniz toh akan menuntaskan kerja itu. Jika tak ada Darwin, ada Wallace. Adapun Beethoven, Picasso, seniman-seniman besar itu – mereka itu bisa saja memberi sentuhan individual dalam karya-karyanya. Tanpa Beethoven, takkan manusia mengenal Simfoni Kesembilan. Tanpa Picasso, tak akan ada Guernica; tanpa Chairil Anwar, pembaca di tanah airnya tak akan menemukan sajak tentang senja dan kematian dengan lirik yang begitu menyentuh. Mereka ini memang tak tergantikan dalam sejarah seni manusia.

Tapi, dilihat dengan skala yang lebih besar, para seniman akbar itu juga tetap bidak, yang setiap saat bisa diganti. Tanpa mereka, akan ada orang lain yang terus berkarya dan mencipta, membuka lukanya sendiri untuk menutup luka sesama manusia. Khazanah dan keanekaragaman kegilaan, ketakterdugaan dan penderitaan ummat manusia adalah sedemikian kaya, dan belum akan punah di Bumi, sehingga akan sangat mengherankan jika karya seni agung tak akan pernah lahir lagi lahir di dunia. Dengan menggali endapan menyejarah penderitaan manusia, para seniman besar, seperti juga para nabi agung, mengabdikan hidupnya untuk kelangsungan hidup dunia, yang tak lain adalah kelangsungan hidup semesta.

Semua manusia, segala bentuk kehidupan dan kecerdasan, sejak awal sudah berada dalam sebuah labirin besar yang dibangun dengan lorong-lorong yang sangat rumit, dengan ujung yang hanya satu: realisasi diri kosmos. Ada kemungkinan bahwa di tempat lain di ruang kosmos raya ini, sedang ditandur mangsa lain, kecerdasan lain, yang juga untuk pembiakan diri kosmos. Alam semesta adalah organisme maha besar yang butuhkan banyak sumber nutrisi, bukan hanya ranting kecil manusia Bumi yang rapuh dan gampang punah itu.

Perasaan bahwa ia di-fait-accompli dalam sebuah permainan yang telah ditentukan akhirnya, bahwa sejenis determinisme kosmis sedang mengerangkengnya dalam sebuah jalur yang tak terseberangi, semua ini menimbulkan sejenis pemberontakan rahasia. Bagai kecambah yang tumbuh di tempat gelap, rasa marah itu berkembang cepat jadi tekad untuk melancarkan perongrongan bahkan penghancuran atas permainan agung kosmos yang sudah berlangsung milyaran tahun.  Lagi pula, hidup yang terhampar di dunia ini, yang dijalani oleh sebagian besar manusia, tampak lebih berupa laknat ketimbang rahmat. Hidup yang rekah dari rancangan agung dan determinisme kosmis seperti ini, bukanlah hidup yang layak diteruskan. Yang tak kalah penting adalah, upaya pembongkaran labirin kosmos tak menguras isi saku, salah satu soal kronis dalam hidupnya.

Sejak awal, bunuh diri atau mogok makan untuk berkata “tidak!” pada permainan besar itu, sudah ia anggap sebagai opsi yang memalukan. Ia ingat, sejak itu ia mulai memanjangkan lagi rambutnya sembari melamunkan cara yang lebih pantas baginya. Ia memang tak terlalu tertarik lagi pada kerja yang hanya cocok untuk para jenius raksasa dan nabi-nabi agung, yang sebagian besar berkelamin lelaki itu. Para jenius raksasa menghabiskan hidupnya untuk mencari tahu bagaimana jalannya permainan, bagaimana rincian prosesnya, dan hukum-hukum apa yang mendasarinya. Adapun para nabi dan wali besar berjuang dan berkorban untuk menunjukkan bahwa walau manusia ini mungkin cuma debu, tapi mereka bisa jadi wadah bagi penyelenggaraan langit. Orang-orang suci ini sungguh menerima beban dosa dan luka dunia, menjadi “pertolongan agung” dan penghibur ummatnya. Keberadaan mereka memang menghina para penindas, kematiannya menggetarkan hati para penghukumnya, dan pengukuhannya jadi makhluk kudus merupakan kejayaan iman, cinta dan harapan. Orang-orang suci ini hadir untuk menunjukkan bahwa permainan di dunia ini layak dipertahankan, menjadikan manusia wahana replikasi kosmos yang tulus dan patuh.

Terdorong oleh kecenderungan malasnya, ia ingin menerobos jalan pintas, yang sekali ditempuh akan menghancurkan seluruh permainan. Tadinya ia punya niat menulis ulang seluruh kitab suci dan kanon sekuler yang mengatur hidup manusia. Tapi ia tahu, kerja ini akan benar-benar jadi kerja raksasa yang sangat menyita waktu, dan karena itu tak lagi ia pertimbangkan serius. Lagi pula, ketimbang menulis ulang seluruh kitab suci yang menjadi jiwa peradaban itu, jauh lebih mudah menuliskan yang baru. Tapi ini pun ia kesampingkan, karena menulis sebuah kanon baru yang mengoreksi, memperkaya dan melampaui seluruh kanon yang pernah ada ― ini adalah juga kerjaan seumur hidup, dan belum tentu rampung.

Misal pun kanon baru itu tuntas, dan dipercaya mengandung kekuatan besar untuk memberi arah baru pada sejarah, untuk membuat kaum tertindas tampil sebagai pemimpin dunia, untuk mengilhami kehidupan dan membentuk riwayat semesta peradaban di Bumi. Semua ini tetap saja memungkinkan orang-orang yang lahir belakangan, dengan selera humor yang buruk, memiuh dan membelokkan kanon tersebut, dan kemudian baku ejek, bahkan baku tumpas selama berabad-abad, atas nama kemurnian dan kebebasan tafsir. Lebih buruk lagi, kanon itu tak akan cukup kuat mencegah manusia jadi mangsa di taring semesta.

Ia sudah punya beberapa rencana lain untuk meluluh-lantak permainan itu, tapi ia urungkan juga. Bukan karena ia insyat, ia belum sampai pada kemampuan itu, tapi karena ia memergoki sejumlah hal yang bisa bikin risih. Tadinya Ia ingin membangun sebuah peradaban, lebih tepatnya kehidupan, yang sama sekali tidak berkaitan dengan kenyataan kosmos yang dibentangkan oleh ilmu pengetahuan. Makhluk cerdasnya mungkin bernafas dengan Helium, dan sejak lahir sudah menganggap bahwa dunia lahiriah hanyalah suatu bangunan yang dibentuk oleh intelek. Dan bahwa ada tingkat-tingkat lain dari pengalaman intelligent yang dapat diatur oleh susunan-susunan lain ruang dan waktu, yakni tingkat-tingkat di mana konsepsi analisis tidak memainkan peranan yang sama seperti yang dipunya oleh makhluk cerdas yang berkembang di Bumi.

Tapi  sebagaimana laiknya serumpun dendrobium butuh hutannya sendiri, dan sekelompok paus pembunuh butuh samuderanya sendiri, sebuah kehidupan cerdas pun menuntut kosmosnya sendiri, untuk hidup lestari dan berkembang optimal. Akhirnya ia berencana menciptakan sendiri semesta raya, sebuah semesta tandingan yang bahkan lebih baik dari yang sudah ada. Rencana ini juga ia batalkan di tengah jalan, karena persoalan etik: meski ia berhasil menciptakan alam semesta, pencapaian itu hanya membuatnya jadi seorang epigon. Lebih buruk lagi, aib kotor epigon itu malah membuat permainan berjalan seperti yang dirancang dari awal. Bagai Oedipus si raja pincang yang hendak lari dari takdirnya, perlawanan itu bukannya mengelakkan takdir, tapi justeru menjemputnya.

***

Dengan apa alam semesta buatan akan dibenihkan? Mungkin betul dengan kehampaan. Dengan fluktuasi kuantum, atau jika kita melihat semesta raya sebagai makhluk hidup, mungkin ia bisa diklon, direkayasa, dari struktur dasarnya yang terkecil yang kita tahu menyimpan segenap sejarah semesta. Memang, dari benih semesta ini masih ada sejumlah masalah antara lain inflasi kosmik pascapenciptaan yang tumbuh melampaui cahaya. Tetapi, selama waktu dan imajinasi bersetubuh, penciptaan akan menemukan jalannya. Penciptaan ― pelahiran diri ― semesta adalah hal yang tak terelakkan, wajar, mungkin sudah terjadi ― akibat  ketakpastian dan keacakan yang meraja di struktur dasar materi ― dan  selalu akan menjadi tiap kali hidup dan kognisi berdenyut, tiap kali metafor mekar dan teori rekah, tiap kali pengetahuan kembali sadar diri dan berkata ‘tidak’ terhadap pengidentikan dengan kenyataan.

… Kecerdasan tampaknya takkan berhenti pada tingkat peradaban kosmik yang memungkinkan mereka menguak dan merentang lubang cacing mikroskopik yang menghubungkan berbagai alam semesta, dan dengan itu memungkinkan mereka bermigrasi dari satu semesta ke semesta yang lain. Peradaban tipe IV seperti ini (mengembangkan klasifikasi Nikolai Kardashev dan Freeman Dyson) mungkin saja sanggup membangun jalan ke semesta lain, dan lari meninggalkan alam semesta kelahiran yang tengah sekarat menuju kiamat. Tapi mereka takkan sanggup lari dari penderitaan ilmiah berupa mustahilnya memperoleh pengetahuan lengkap tentang multi-kosmos dan seisinya selama mereka tetap berada dalam multi kosmos tersebut.

Pada saat keturunan intelektual manusia berhasil mencipta megasemesta, kenyataan fiksius yang melatari megasemesta itu niscaya akan kembali menghamparkan berkahnya dengan menampakkan jejak sebagai sesuatu yang kedahsyatannya meledak di luar jangkauan imajinasi paling liar para pencipta itu. Karenanya, alangkah menakjubkan bahwa penciptaan megasemesta raya seisinya, betapapun tampak agung dan akbarnya, bukanlah keharusan terakhir dalam sejarah makhluk berakal.

****

Untuk apa sebenarnya desain berupa labirin rumit yang ujungnya hanya satu itu diciptakan? Ia pernah membayangkan Pencipta labirin ini adalah sosok sangat cerdas, tapi yang begitu kesepian dan terasing, sehingga ketika ia mencari jalan untuk meringankan kesepian dan keterasingannya, ia menciptakan kehidupan. Terikat oleh diri-Nya sendiri, dirancangnya kosmos dan kehidupan begitu indah dan penuh kejutan sehingga permenungan atas keindahan itu senantiasa memanggil-manggil bagai sebuah pembebasan. Entah kesepian dan luka macam apa yang Dia ditanggung sehingga Dia begitu ingin berbagi dengan manusia nikmat penciptaan, khususnya penciptaan alam semesta seisinya. Jika ada yang disebut sebagai Jalan Keselamatan, maka jalan itu pasti terletak dalam kegiatan mencipta, dan mencinta ― mencipta sepenuh cinta. Penciptaan itulah yang akan membuat manusia tak lagi perlu Jalan Keselamatan, karena mereka sudah mendapatkannya di sana, dan dengan itu mereka sanggup menanggung luka dan duka dunia seberat apapun. Penciptaan itu bahkan membuat manusia tak lagi “butuh” Tuhan, karena sudah “menjadi”, atau karena Tuhan sudah “menumpahkan” diri ke dalam mereka. Dengan Tuhan, mereka tentu tak setara, tapi sejajar: sesama pencipta; sama-sama menumpahkan diri untuk sesuatu yang, paling tidak untuk para manusia pencipta, lebih besar dari kehidupannya sendiri.

Tapi ia tahu, spekulasi ini hanyalah refleksi dari dirinya sendiri. Seperti sebuah keadaan kuantum, Pencipta seperti itu sungguh hanya representasi dari pengetahuan si pengamat, dan akan berubah jika posisinya berganti. Dan mengingat betapa sedikitnya apa yang manusia baru tahu, dengan damai ia terima bahwa Kawan yang pernah hendak ia “psikoanalisa” itu, memang akan selalu lebih lebih dahsyat dari apa yang bisa ia bayangkan, dan ia menertawai dirinya. (Pernah ia, dengan blo’on, menduga bahwa luka abadi yang membuat-Nya begitu ingin berbagi nikmat penciptaan, adalah karena Dia juga sebenarnya ciptaan. Dengan melahirkan kecerdasan yang akan berkembang lebih hebat dari yang menciptakan-Nya, Dia sekaligus menyembuhkan diri-Nya dan memberkahi manusia. Hipotesis  ini sepintas lalu tampak terlalu “manusiawi” untuk dikembangkan). Alangkah menakjubkan bahwa di awal alaf ketiga ini, teologi belum juga sepenuhnya susut jadi ranting kecil dari, atau bahkan lebur ke dalam, sastra atau ilmu “jiwa” manusia.

Ia hanya ingin tak diseret dalam sebuah permainan yang akhirnya sudah ditentukan. Seperti para pendahulu yang dihormatinya, yang mencoba mengubah dunia untuk membebaskan manusia, ia pun ingin, jika perlu, merombak desain maha besar itu, agar kelak ketika ia memilih untuk melahirkan keturunan, ia tahu, mereka semua tak jadi budak di alam semesta. Hasrat itu muncul berpilin-pilin dengan kesadaran bahwa keinginan itu adalah juga bagian dari desain besar: dorongan dasar yang telah ditanam evolusi ― yang tak terbantah ― sejak  jaman yang sudah hilang dari ingatan manusia, bahkan mungkin dari ingatan bintang-bintang.

Tindasan pikiran akan keterjebakan dalam permainan besar itu, hanya akan bisa ia hadapi jika ia bisa melupakannya, membelokkan pikirannya ke hal lain yang lebih menarik. Tapi apakah yang lebih menarik dari memikirkan alam semesta, lalu menciptakan karakter yang lebih cerdas dan lebih ajaib dari pencipta si pencipta si pencipta alam semesta?

Mungkin ia bisa menyelamatkan pikirannya jika ia mengubah kandungan kimiawi otak dan tubuhnya. Ia bisa meneggelamkan dirinya dalam hidup yang dipacu adrenalin, hidup yang tak punya masa silam dan masa depan, bertahan hidup dari momen ke momen seperti para rafter yang terseret arus deras yang harus selalu merespon kejutan permanen setiap detik jika ia tidak ingin cacat atau bahkan tewas.

Ia bisa menyelamatkan pikirannya jika ia berhasil menemukan cinta sejatinya, belahan jiwanya, cinta yang lebih berhaga dari apa pun yang ada di dunia ini. Cinta yang bisa membuatnya menyerahkan penuh jiwa raganya.

Tapi ia tahu, semua ini tak akan melepaskannya dari jerat permainan besar itu. Apa pun yang dijalaninya, bertahan hidup dari momen ke momen yang memompakan adrenalin, atau bertaut dengan cinta yang lebih berharga dari seluruh dunia, semuanya tetap akan berujung sama: melanjutkan hidup dan meneruskan keturunan. Buah cinta yang lahir dari dirnya kelak akan terlibat juga, langsung atau tidak, dalam pelahiran alam semesta.

Kemarin ia tiba di kampung halamannya, yang telah ditinggalkannya selama bertahun-tahun. Inilah pertama kali ia pulang kampung memanfaatkan masa libur kampusnya. Sore itu ia punya janji bertemu dengan lelaki kawan masa kecilnya dulu yang juga sedang berlibur, satu-satunya remaja yang pernah menciumnya dan membuatnya jantungnya dulu berdebar-debar tak keruan. Sampai sekarang pun kadang ia masih gemetar dan tak dapat tidur nyenyak jika mengingat kelakuan bocah bengal itu. Sambil berjalan menuju halaman sekolah masa kanak-kanak tempat mereka berjanji untuk berjumpa, dengan perasaan yang membadai dan bisu, ia dan dirinya, melihat lagi di antara kabut waktu yang mengambang, milyaran benang cahaya kunang-kunang yang saling tenun dan bertarung untuk terbang menelan matahari, lalu menelan jagat raya dan menelurkan berbagai semesta dalam jumlah tak terhingga.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Versi awal dimuat di Bentara–Kompas, September 2002

Advertisements

3 Responses to “Fiksi Tanggung”

  1. reefberry Says:

    Indah sekali… :)


  2. Thanks sudah berbagi. Salam. IR


  3. thanks … sudah menginspirasi gan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: