Fiksi Tanggung

September 21, 2009

Labirin Berujung Tunggal

Kelak ketika ia sepenuhnya sadar, bahwa nanti akan lahir seorang manusia dari tubuhnya, ia tercekam lagi oleh sebuah rasa longsor yang menggigilkan, yang diperparah oleh penalaran dan dibikin kekal oleh ingatan.

Terakhir kali rasa longsor itu menyeretnya, adalah saat ia melalui puncak dari percintaannya yang sudah berlangsung bertahun-tahun dengan hujan; hujan yang dengan lembut mengunjungi senja dan mengubahnya dari merah lembayung menjadi kelabu, dan akhirnya melulur batas antara langit dan bumi. Gerimis yang gugur bersama angin yang mendengkur, adalah ketulusan langit pada hijau daratan dan biru lautan. Ia ingat rasa sakit itu bermula sebagai rasa cinta diam-diam, dan tumbuh dengan kerinduan langit yang memeluk seluruh bintang; rasa sakit yang konon mencintai mereka yang banyak tidur dan bermimpi.

Spies Iseh im Morgenlicht (1938)

Read the rest of this entry »

Advertisements