Memoar

May 10, 2009

Kisah “Besar” Keluarga Toer

Sebagai karangan yang banyak bertumpu pada ingatan, memoar adalah ragam karya yang bergerak di antara dua kutub: sejarah dan sastra. Jika ingatan itu ditopang sekaligus dijaga ketat oleh catatan kejadian nyata, disusun mengikuti arus waktu yang bergerak kronologis, karangan itu akan menjadi (auto)-biografi penting. Jika ingatan tak harus tunduk sepenuhnya pada catatan ketat peristiwa sejarah, dan narasi disusun tak harus mengikuti alur waktu yang lurus, tak jarang bahkan membiarkan diri terseret oleh arus kesadaran yang berkelak-kelok, karangan itu bisa menjadi novel besar.

Bersama Mas Pram Cover-1

Memoar setebal 500 halaman ini memang disusun mengikuti arus waktu yang linier, tapi terasa ia agak menjauh dari “riwayat hidup” Pramoedya Ananta Toer, yang “seharusnya” menjadi pusat penceritaan dari awal hingga akhir. Pram memang tampil juga dalam karangan ini, tapi cukup sering ia hadir agak jauh di latar belakang. Kita harus menempuh sekitar 100 halaman untuk sampai pada momen-momen penting yang bisa mengoreksi, setidaknya memperkaya pemahaman, kita tentang Bung Pram.

Momen-momen penting itu antara lain adalah pertemuan Pram dengan Ayahandanya yang sekarat, tekadnya untuk membangun kembali rumah warisan yang terlantar, pilhannya pada keris pusaka ayahandanya saat terjadi pembagian pembagian warisan. Buat saya, kisah kecil ini makin mengubah kesan tentang Pram yang pendendam, yang tak bisa melupakan pelakuan ayahnya yang menyakitkan yang menganggapnya dungu dan harus mengulang sekolah. Kesan pendendam ini mencuat dalam prosa awal Pram sendiri, yang kemudian banyak dikutip dan disebarkan oleh sejumlah pengkaji Pram.

Kisah kecil lainnya seperti tekad Pram untuk menyekolahkan adik-adiknya dan merawat yang sakit, kegundahan Pram menumpang sementara di rumah adik ipar yang kurang ia suka, menunjukkan bahwa Bung Pram, meski punya cita-cita kebangsaan yang besar, memang hanya manusia biasa saja yang tak perlu ditakuti. Memang ada yang luar biasa ganjil jika pemerintah resmi dari sebuah negara besar yang punya angkatan bersenjata paling kuat di Asia Tenggara begitu takut pada seseorang, sehingga ia harus dicurigai dan diawasi terus, dan seluruh karyanya digolongkan sebagai karya terlarang.

Cerita tentang Pram yang sempat membawa pisau lipat ke tempat kerja, prinsip dia untuk harus selalu menang dalam perdebatan, dan bahwa kepentingan bangsa lebih tinggi dari kepentingan keluarga dan anak, semua ini mempertegas apa yang dengan mudah kita temui pada karya sastranya, yakni ketangguhan yang tak tertandingi dalam memperjuangkan sesuatu yang dianggapnya berharga, dan kesediaan menanggung seluruh akibat dari perjuangan tersebut.

Membaca memoar dua adik Pram ini dan mengingat apa saja yang telah Pram berikan pada bangsanya, kita memang bisa kecut melihat ketimpangan yang menyolok mata itu. Pram telah mempersembahkan begitu banyak buat bangsanya, dan begitu sedikit yang diperolehnya. Dari Pram kita memperoleh karya yang bisa membangunkan pembaca menyadari sisi kelam masyarakat, sembari menghamparkan wawasan sejarah dan dunia rasional buat bangsa belia yang tengah menjadi. Jika Raja Ali Haji dengan karya sastranya, misalnya, bisa diperjuangkan menjadi pahlawan nasional, maka Pram dengan anak-anak rohaninya jelas sangat layak (kalau bukannya lebih) untuk juga dihormati sebagai putra terbaik bangsa.

Poster Pram1000 Hari_ralat2

Sambil menunggu berubahnya sikap resmi pemerintah pada Pram, saya membayangkan ada penulis yang bekerja mengolah lagi dengan sungguh-sungguh memoar setabal 500 halaman ini. Bahan-bahan yang disajikan memoar ini, buat saya, bisa tumbuh jadi novel bagus, di mana Blora bisa jadi sejajar dengan Combray (Marcel Proust), Yoknapatawpha (William Faulkner) atau Macondo (Gabriel Garcia Maequez). Bedanya adalah Combray, Yoknapatawpha atau Macondo adalah tempat-tempat fiktif meski mengambil ilham dari tempat-tempat nyata, sementara Blora sepenuhnya adalah tempat yang benar-benar nyata.

Mastoer Imam Badjoeri, ayahanda Pram bersaudara, buat saya, menduduki posisi yang agak mirip dengan Jose Arcadio Buendia dalam Seratus Tahun Kesunyian. Tentu saja Jose Arcadio Buendia yang lahir dari tangan seorang tukang cerita piawai pemenang Hadiah Nobel akan terasa lebih mencengangkan dibanding Mastoer, tapi ada pola yang mirip antara kedua kepala keluarga ini. Memang, Mastoer tak membangun sebuah pemukiman baru surgawi, yang ia namakan dengan kata yang tak pernah ia dengar sebelumnya, yang tak punya arti sama sekali, sebuah gema adikodrati dari mimpinya. Tapi Mastoer juga adalah seorang patriark yang melalui masa mudanya sebagai seorang yang penuh semangat, pekerja keras yang setia pada impiannya — membangun pendidikan dan menyebar pengetahuan ilmiah di kalangan pribumi yang tertinggal dan tertindas. Jika Jose Arcadio Buendia menjalani masa tuanya sebagai patriark yang linglung dan bertahun-tahun terikat pada pohon chestnut raksasa di halaman, Mastoer menghabiskan masa-masa akhir hidupnya sebagai kepala sekolah yang kecewa, penjudi yang tangguh sebelum akhirnya terpacak di tempat tidur dengan paru-paru yang remuk dimakan TBC.

Kisah Mastoer dan sejumlah tokoh kecil dalam memoar ini membuat saya sadar bahwa cara baca yang suntuk mencari Pram, ternyata keliru. Pembacaan yang terpaku pada Pram, yang diarahkan oleh judul memoar ini, mencegah saya untuk larut sepenuhnya sejak dari halaman pertama. Buku ini harusnya dibaca tanpa perhatian yang memusat pada satu tokoh. Ia mesti dibaca dengan keterbukaan yang setara pada semua karakter yang muncul. Pram memang tokoh yang menarik, tapi buku ini menghidangkan sesuatu yang lebih kaya ketimbang ingatan pada seorang sosok istimewa.

Pada akhirnya, buku tebal ini adalah cerita tentang sebuah keluarga dengan para anggota yang bergerak untuk mencapai impian masing-masing, menanggapi jaman yang kadang bergejolak di luar kendali, dan tak jarang berselisih karena sejumlah hal yang mungkin penting mungkin sepele. Mereka menempuh berbagai gerak turun dan naik dari jaman yang berlalu, dari era kolonial Belanda hingga sekarang. Terbawa oleh arus waktu yang tak menentu, keluarga dengan patriark yang begitu peduli pada pendidikan bangsanya itu, dihantam oleh prasangka umum dan gejolak politik: hampir separuh anak sang patriark dituduh sebagai Musuh Negara. Tapi, keluarga yang guncang dan terburai oleh terjangan sejarah ini, pelan-pelan kemudian berusaha menyembuhkan diri sembari membela dan meraih kembali martabatnya yang terampas.

Kisah keluarga Blora dengan segenap warnanya yang tak semuanya amat memikat ini adalah juga kisah orang-orang Indonesia — kisah yang mirip dengan yang dialami oleh ribuan keluarga di Tanahair. Setidaknya, kisah dengan pola seperti ini mungkin terjadi pada keluarga yang beberapa anggotanya punya nalar yang bermimpi kelewat aktif, mimpi tentang revolusi yang dapat mengubah nasib bangsanya dengan cepat. Sayangnya mimpi itu tertabrak oleh berbagai mimpi lain yang mungkin saja tak kalah aktifnya, tapi telah diracuni oleh berbagai prasangka dan kepicikan kolektif.***

Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer. Oleh Koesalah Soebagyo Toer, dilengkapi  Soesilo Toer. (Jakarta: KPG, 2009) 505 hlm.

— Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di KOMPAS Minggu, 10 Mei 2009

Advertisements

7 Responses to “Memoar”

  1. agam Says:

    salut kawan, tulisan yg mantap. Tapi menurut saya levelmu sudah hrs berbeda… Met berkreasi ya…

  2. tia Says:

    Lumayan menggigit. Mr. Arsuka selalu membukakan kemungkinan-kemungkinan baru dari setiap teks yang dibacanya. Ketika menelaah Goenawan misalnya, dia membayangkan lahirnya epos besar dari esai-esai gm tentang wayang. Dan kini, dari memoarnya Pram,dia membayangkan lahirnya karya sekelas Seratus Tahun Kesunyian. Benar-benar tantangan yang tak mudah.

    Hmm,
    Kemarin aku hadir diacara diskusi Pram di Asia Tenggara bersama Max lane, penerjemah Pram dan guru besar NUS. Ada satu hal menarik dari yang dikatakan Lane. Konon, di Singapura Pram sangat digemari. Di setiap pojok toko buku tersedia karya-karya Pram, di ruang-ruang perpus orang-orang khusuk baca Pram. Aneh, padahal negara yang diarsitek Pak Lee itu justru tepat disebut rumah kaca. tapi barangkali itu menunjukkan “mistisime” karya Pram, yang menerobos tirai ideologis, dsb. Meski, seperti kata Lane, orang-orang Singapura bertanya:”Pram itu bukan komunis kan?…”

    Di Malaysia, tak ada pengarang sekaliber Pram…

    Tapi,Lane keliru ketika menghitung jumlah pembaca Pram dari buku-buku yang diterbitkan. Pada hematku,pembaca Pram jauh lebih banyak dari itu. Misal kecil saja, semua teman di pondokanku membaca Pram, tapi hampir semua foto copyan (Pak Pram marah ga ya). Kebanyakan Anak-anak muda Yogya lebih bangga baca foto copyan ketimbang aslinya. Mungkin terasa lebih heroik. haha.

    Sayangnya, berbeda dengan Tetralogi, Arus Balik belum mendapat tempat semestinya, dalam sastra Indonesia maupun sastra dunia.


  3. mari kita baca sejarah tanpa prasangka


  4. Mohon ijin untuk membagi tulisan anda ini ke pembaca yang lain di http://www.penerbitkpg.com/resensi. Terima kasih.

    Salam.
    Admin http://www.penerbitkpg.com

  5. Annisa Ilma Says:

    ijin re-post , ya.. terima kasih :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: