Nasionalisme

September 19, 2008

Tentang Bangsa dan Indonesia

Gelontoran berita tanpa henti, tentang kekerasan politik, bencana dan kerusuhan-kerusuhan berdarah yang sambung-menyambung di berbagai penjuru Tanahair, bisa membuat tubuh dan indranya berubah ganjil. Begitu ganjil sehingga ketika orang memejamkan mata, ia melihat Indonesia seperti kapal mewah  Titanic yang menabrak gunung es, dan segera tenggelam dasar lautan sejarah. Dengan telinga terkatup, ia mungkin mendengar kecamuk suara-suara; suara panik di dek bawah yang berusaha menutup kebocoran kapal, riuh rendah perdebatan di ruang kendali untuk mengganti nakhoda, dan gema di ruang tengah dari orang-orang yang memamerkan kekayaannya yang menggunung dengan selera artistik dan intelektualnya yang lumayan parah.

© 1680 Nicolaas Visscher

Bayangan tentang Indonesia sebagai Titanic adalah bayangan yang mungkin terlalu dramatis dan sentimentil. Sebuah bangsa bukanlah sebuah kapal yang dalam sekejap dapat tenggelam lenyap. Lagipula, kalaupun suatu saat Indonesia benar-benar tenggelam, dan hanya menyisakan dari bangkainya, puluhan sekoci (bangsa-bangsa kecil baru) beserta apungan mayat di antaranya, takkan berarti bahwa seluruh dunia akan kiamat. Bumi bukan hanya telah menyaksikan kerajaan-kerajaan besar dan peradaban-peradaban tinggi melenyap begitu saja. Bumi juga sudah mengalami kepunahan besar-besaran dinosaurus yang pernah menguasai planet selama jutaan tahun. Kaum ultransionalis boleh mengira bahwa bangsa adalah sesuatu yang kekal, tak terbatas dari segi waktu. Namun kehancuran sebuah bangsa, seperti halnya kemusnahan sebuah kerajaan, bukanlah hal yang  mustahil, dan kejadiannya adalah sesuatu yang kecil saja dalam rentang sejarah ras manusia, apalagi sejarah semesta.

Imajinasi manusia memang mungkin merangkum semesta raya seisinya sekaligus berjarak darinya, dan merasa cukup dengan pergumulan melampaui segala yang dulu dikira abadi dan tak terhingga. Namun, tubuhnya yang terikat dan tumbuh pada satu ruang dan waktu tertentu, seringkali membuat pikirannya, dirinya, membangun komitmen dan devosi pada suatu negeri, suatu sejarah, suatu bentuk kehidupan. Dengan lain kata, sebuah komitmen terhadap sesuatu yang mungkin terbatas tapi kongkret, seperti kongkretnya rasa tersayat melihat potret kepala-kepala manusia sebangsa, yang dipenggal dengan penuh nafsu dan di arak dengan penuh semangat bersama Merahputih. Seperti konkretnya fakta bahwa disintegrasi sebuah bangsa selalu berkait dengan rontoknya salah satu penemuan paling bernilai dalam evolusi: pengertian tentang kemanusiaan.

***

Dulu pernah kuanggap politik kegiatan kelas dua. Tujuh anak tersesat di hutan. Di jantung rimba mereka menemu sebelas butir durian. Politik adalah memutuskan bagaimana cara membagi kesebelas durian itu, dan siapa yang akan membaginya. Gunanya agar ketujuh bocah itu bisa sama-sama menikmatinya, dan mereka dapat keluar bersama dari hutan.

Apa susahnya membagi durian yang jumlahnya lebih itu, sebagaimana kekayaan alam persada ini, misalnya? Itulah sebabnya kuanggap politik kegiatan kelas dua. Orang nyaris tak perlu sekolah untuk menyelesaikannya, bukan? Masalahnya timbul ketika satu dua anak mulai tak puas dengan bagiannya, dan dengan berbagai cara, meletakkan tangan di atas milik saudaranya. Dan politik riel di Indonesia, terutama di masa jaya Orde Baru, berputar bukan pada bagaimana tangan-tangan kemaruk itu dipotong-potong sampai pergi; tapi pada bagaimana peraupan itu dilembagakan, dan mereka yang kehilangan bisa menerimanya, setidaknya melupakannya. Politik riel yang dirancang dengan penuh perhitungan, dan dilaksanakan kadang dengan sembrono, itu ditopang oleh ideologi yang tampak ilmiah dan luhur: kalau si kuat dan kroninya mendapatkan sebanyak mungkin durian, mereka akan kian bertenaga dan cerdas untuk memimpin yang lain ke luar dari belantara.

Mungkin memang perlu waktu untuk sadar bahwa keputusan siapa mendapat apa, hanyalah kulit luar politik; sedang isinya, sukmanya, adalah pada bagaimana kita memandang sesama manusia, memandang diri dan orang lain: mengagungkan atau meremehkannya. Di bagian terpenting risalahnya yang berpengaruh tentang nation, Ernest Renan menyebut “sukma” bagi pembentukan satuan politik terbesar, yang paling mengharu biru sejarah ummat manusia di abad-abad terakhir millenium kedua: pembentukan bangsa. Bagi Renan, bangsa tidaklah dibentuk cukup oleh ras, bahasa, kepentingan material, afinitas religius, geografi dan keperluan militer. Bangsa adalah sebuah sukma, sebuah prinsip spiritual, yang terdiri oleh dua hal. Yang pertama adalah perasaan ikut berbagi sebuah peninggalan yang kaya, suatu kenangan kolektif. Yang kedua adalah kesepakatan hari ini, tekad untuk hidup bersama, meneruskan nilai dari sebuah warisan agung yang diterima dengan utuh.

Risalah Renan menyorot pembentukan bangsa-bangsa di Eropa yang secara politik setara, yang kehadirannya menjadi penjamin bagi adanya kebebasan. Lewat keanekaragamanya, dan seringkali lewat kekuasaannya yang saling berhadapan, bangsa-bangsa itu ikut dalam kerja bersama peradaban; setiap bangsa menyuarakan satu nada dalam konser akbar kemanusiaan, yang kata Renan adalah kenyataan ideal tertinggi yang dapat dicapai manusia.

Indonesia sebagai bangsa dibentuk tidak dalam latar kesetaraan. Memang, dua unsur yang membentuk prinsip spiritual yang disebut Renan, dapat juga ditemukan di Indonesia. Kesepakatan hari ini, tekad untuk hidup bersama, dinyatakan antara lain dalam kongres paling penting dalam sejarah pergerakan kebangsaan: Kongres Pemuda yang melahirkan tiga sumpah Indonesia itu.

Persaaan ikut berbagi peninggalan yang kaya, selain tampil pada karya sejarah Yamin, juga tampak antara lain pada pidato Syahrir di depan Dewan Keamanan PBB di Lake Success. Syahrir hadir di sana untuk membela Republik Indonesia yang baru lahir, yang hendak dibunuh oleh aksi milter Belanda. Pidato pembelaan hak Indonesia untuk merdeka itu, dimulai dengan kisah suatu bangsa dan suatu kawasan dunia yang mempunyai sejarah tertulis sejak lebih dari seribu tahun, yang terbentang luas dengan zaman-zaman emasnya yang menjulang. Dalam pasang surutnya sejarah yang tidak dapat dirumuskan, ekspansi politik dan ekonomi negara-negara Barat terjadi pada masa kemunduran kerajaan-kerajaan yang tadinya kaya dan berkuasa itu. “Dalam proses itu,” demikian Syahrir, “negeri saya kehilangan kemerdekaannya, … dan jatuh dari tempatnya yang megah dahulu menjadi tanah jajahan yang lemah dan hina.”

Soekarno jelas juga mengenang kebesaran masa silam Nusantara. Dalam salah satu pembelaan paling bersejarah di depan pengadilan kolonial Belanda yang diucapkan Soekarno 70 tahun yang silam, di sana disebut juga Sriwijaya dan Majapahit. Tapi, kedua kerajaan besar itu diangkat dalam satu tarikan nafas dengan nafsu imperium Romawi, Spanyol dan Jepang. Bagi Soekarno, Sriwijaya dan Majapahit adalah contoh dari suatu sistem menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain: imperialisme, yang justeru ditentang oleh Soekarno dan kawan-kawan.

Bagian pidato Soekarno yang dikenal sebagai Indonesia Menggugat! itu cukup bagus menunjukkan bahwa dalam hal Indonesia, bangsa terbentuk terutama karena hasrat menolak masa silam, hasrat untuk tidak meneruskan banyak hal yang telah terjadi di Tanahair ini. Di Eropa, manusia membentuk bangsa untuk meneruskan sesuatu yang sudah ada, warisan agung yang ditumbuhkan selama berabad-abad berupa kesadaran akan hak-hak individu. Di Indonesia, di Dunia Ketiga, manusia membentuk bangsa terutama untuk menciptakan apa yang belum ada: sebuah negeri yang diisi oleh manusia. Bukan sebuah negeri yang diisi oleh penjajah dan bangsawan lokal keturunan dewa, yang memperlakukan rakyat luas sebagai anjing dan kerbau, yang tak punya hak untuk jadi individu merdeka.

Sebuah bangsa memang tak terbentuk melulu dari impian subyektif sekelompok kecil putera-puteri terbaiknya. Di buku Menjadi Indonesia, Parakitri T. Simbolon menunjukkan bagaimana serangkaian kejadian sejarah di aras dunia dan lokal, timbul dan lambat laun, dalam rentang waktu 50 tahun, berfungsi meletakkan tiga prasayarat kebangsaan Indonesia. Tiga prasyarat itu memang dikerjakan oleh pemerintah kolonial. Tetapi, lambat-laun masyarakat Nusantara akhirnya menuntut bubarnya kekuasaan negara jajahan itu sebagai syarat keseimbangan atau kebangsaannya. Dicerahkan oleh tindakan segelintir kaum mudanya, masyarakat Nusantara berjuang ke arah terbentuknya kekuasaan negara yang sama sekali baru berdasarkan kekuatan dan kemampuan sendiri.

Ide tentang bangsa dengan negara yang berpemerintahan sendiri beserta cara-cara mewujudkannya, adalah ide pokok buku Menuju Republik Indonesia Tan Malaka, tokoh yang tampaknya bisa jadi memang pemikir politik dan kebudayaan terbesar Indonesia abad ke-20. Dengan hadirnya taufan revolusioner Republik Indonesia, demikian Malaka di naskah yang diselesaikan di Tiongkok itu, akan lampau adanya abad-abad kelaparan dan penderitaan, perbudakan dan ke-paria-an yang gelap… Akan lampau adanya pemerasan satu bangsa oleh bangsa lainnya, dan satu manusia oleh manusia lainnya. Malaka bahkan membayangkan rakyat Indonesia ikut membentuk kemerdekaan, kebudayaan dan kebahagiaan bagi semua rakyat di dunia.

***

Jika aku pemimpin tertinggi negeri ini, aku akan lebih irit mengatakan seluruh pikiranku, dan lebih banyak memikirkan seluruh kata-kataku. Tugas utama seorang presiden mempertahankan Indonesia sebagai sebuah negeri yang bersatu, sebuah republik yang mewujudkan keadilan dan martabat manusia, sungguh tugas berat yang nyaris mustahil jika dilihat dari seluruh sejarah Indonesia sendiri. Watak kesatuan nasional Indonesia jelas sangat tak biasa: dasar kesatuan itu sebagian terletak pada keterlanjuran sejarah. Bangsa Indonesia, seperti bangsa-bangsa lain, mengandung unsur arbitrer dalam pembentukannya. Dan menimbang betapa besar perbedaan kelompok etnik dan budaya yang ditampungnya, betapa terserak rakyatnya di rentangan kepulauan yang tersebar di tiga zona waktu itu, dan betapa luas ketimpangan yang terjadi di berbagai lapisan, memang menakjubkan bahwa Indonesia, dengan berbagai guncangan, tetap bisa bersatu sebagai sebuah bangsa. Itu terjadi terutama karena impian agung tentang Indonesia rupanya belum padam; dan masih ada orang yang merasakan, kadang redup kadang berkobar-kobar, bahwa Indonesia – Tanahair yang memang besar ini – sungguh bagian nyata dari hidup mati mereka.

Jika aku pejabat tertinggi republik, akan aku umumkan bahwa aku duduk di puncak bukan karena keunggulan-keunggulanku, tapi karena kekurangan saingan-sainganku, dan terutama karena kelemahan yang terkandung dalam konstitusi. Di Indonesia, kita tahu, presiden tidaklah dipilih langsung oleh rakyat. Ada ruang bagi sebuah koalisi partai-partai di MPR untuk memilih presiden yang bukan calon dari partai pengumpul suara terbanyak. Seperti dibilang Takashi Siraishi di The Jakarta Post (20/11/2000), ini memang bukan hal yang bisa dihindari dalam sistem politik Indonesia hari ini. Meski kemungkinan mengakali si pemenang adalah sesuatu yang dilegitimasi oleh konstitusi, namun sungguh terasa ada sesuatu yang kurang adil dan agak memalukan di situ. Karena kekuasaan diberikan oleh MPR, dan sebab itu absah untuk mendepak presiden setiap saat, sementara presiden secara legal tak boleh mengontrol MPR dan DPR, maka politik Indonesia memang ditakdirkan secara konstitusional tidak stabil.

Yang paling problematis dengan Indonesia kini adalah bahwa ia sekaligus mengidap komplikasi berbagai krisis, bukan hanya ekonomi dan politik. Meski demikian, Indonesia tampaknya belum akan mati besok. Kecuali jika pemerintah membuktikan bahwa tak ada lagi alasan kuat untuk mempertahankan hidup Indonesia, tak ada lagi inspirasi yang memanggil orang berkorban untuknya. Sebuah bangsa memanglah sebuah solidaritas berskala besar, dibentuk oleh perasaan akan pengorbanan yang telah diberikan di masa silam, dan yang sedang disiapkan di masa depan. Renan benar ketika ia berkata bahwa menyangkut memori nasional, rasa sakit lebih bernilai ketimbang kemenangan. Rasa sakit memanggil tugas, menuntut usaha bersama. Bukan kebahagiaan bersama, tapi terutama perasaan menderita bersama itulah yang menjadi perekat terkuat keutuhan sebuah bangsa.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Versi awal dimuat di Edisi Khusus KOMPAS Juni 2001

100 Tahun Bung Karno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: