Budaya

September 23, 2008

“Autopoiesis” Takdir

Sutan Takdir Alisjahbana menarik karena segugus paham yang diperjuangkannya. Paham-paham tersebut menjadi memikat bukan hanya karena bergetar dalam diri STA, tetapi karena paham-paham tersebut ternyata sungguh punya dasar yang kukuh dan jangkauan yang jauh. Yang paling berharga dari pemikiran STA tampaknya adalah prinsip autopoiesis, penciptaan dan pelampauan diri entitas, yang diterapkan pada skala yang luas. Prinsip inilah agaknya yang tak ditangkap oleh para pengritik STA, termasuk Nirwan Dewanto (dalam pidatonya yang diliput banyak media besar di Kongres Kebudayaan 1991).

.

Sumber: alisjahbana.org

20 tahun yang silam Ignas Kleden dalam esai bertajuk ”S.T. Alisjahbana: Sebuah Perhitungan Budaya” telah menyatakan, ”Meringkaskan pribadi, pemikiran dan kegiatan S.T. Alisjahbana dalam beberapa halaman esei merupakan suatu proyek yang mustahil.” Meski demikian, pengantar Ignas untuk perkenalan dengan pemikiran STA itu cukup bagus meringkas paham-paham STA, merumuskan dengan tajam pendirian dan keyakinan filosofisnya. Dalam rumusan Ignas, ”dulu maupun sekarang S.T. Alisjahbana mempertahankan dan tetap hidup dari pendirian dan keyakinan filosofis yang sama: dalam pandangan dunia; idealistis (dalam artian Phaenomenologie des Geistes-nya Hegel), dalam pandangan sejarahnya telelologis (sejarah bergerak menuju ke sesuatu yang pasti), dalam etiknya: normatif, dalam paham keseniannya: heteronom (seni bukanlah dunia yang otonom melainkan tergantung pada tujuan pengabdiannya).”

Read the rest of this entry »

Nasionalisme

September 19, 2008

Tentang Bangsa dan Indonesia

Gelontoran berita tanpa henti, tentang kekerasan politik, bencana dan kerusuhan-kerusuhan berdarah yang sambung-menyambung di berbagai penjuru Tanahair, bisa membuat tubuh dan indranya berubah ganjil. Begitu ganjil sehingga ketika orang memejamkan mata, ia melihat Indonesia seperti kapal mewah  Titanic yang menabrak gunung es, dan segera tenggelam dasar lautan sejarah. Dengan telinga terkatup, ia mungkin mendengar kecamuk suara-suara; suara panik di dek bawah yang berusaha menutup kebocoran kapal, riuh rendah perdebatan di ruang kendali untuk mengganti nakhoda, dan gema di ruang tengah dari orang-orang yang memamerkan kekayaannya yang menggunung dengan selera artistik dan intelektualnya yang lumayan parah.

© 1680 Nicolaas Visscher

Bayangan tentang Indonesia sebagai Titanic adalah bayangan yang mungkin terlalu dramatis dan sentimentil. Sebuah bangsa bukanlah sebuah kapal yang dalam sekejap dapat tenggelam lenyap. Lagipula, kalaupun suatu saat Indonesia benar-benar tenggelam, dan hanya menyisakan dari bangkainya, puluhan sekoci (bangsa-bangsa kecil baru) beserta apungan mayat di antaranya, takkan berarti bahwa seluruh dunia akan kiamat. Bumi bukan hanya telah menyaksikan kerajaan-kerajaan besar dan peradaban-peradaban tinggi melenyap begitu saja. Bumi juga sudah mengalami kepunahan besar-besaran dinosaurus yang pernah menguasai planet selama jutaan tahun. Kaum ultransionalis boleh mengira bahwa bangsa adalah sesuatu yang kekal, tak terbatas dari segi waktu. Namun kehancuran sebuah bangsa, seperti halnya kemusnahan sebuah kerajaan, bukanlah hal yang  mustahil, dan kejadiannya adalah sesuatu yang kecil saja dalam rentang sejarah ras manusia, apalagi sejarah semesta.

Read the rest of this entry »