Fisika Partikel

September 16, 2008

Abdus Salam:

Harga Diri Seorang Muslim

Abdus Salam adalah contoh terbaik bagaimana seorang keturunan pengungsi kembali ke tanah muasal, meraih keberhasilan tertinggi di tanah leluhur itu, tapi yang gagal diterima kembali sepenuh hati oleh sesama keturunan pengungsi yang tetap berdiam di tanah pengasingan. Ajakannya kepada sesama keturunan pengungsi untuk kembali hidup di tanah leluhur, cintanya yang tak pernah lekang pada tanah air dan rakyatnya, berhadapan dengan penolakan yang terus-menerus dari apa yang dicintainya itu. Para pengungsi itu tidak lagi merasa diri sebagai pengungsi. Tanah muasal yang teramat berharga, yang seribuan tahun silam telah memberi kegemilangan dan kepemimpinan dunia, malah dianggap sebagai tanah asing tempat bercokolnya setan dan bajingan perusak dunia.

Salam dikucilkan, setidaknya diabaikan, oleh tanah airnya sendiri, hanya karena ia pengikut Ahmadiyah, sebuah sekte yang ditakfirkan oleh mayoritas ummat islam. Prestasi internasionalnya yang demikian luar biasa — Salam yang menganggap fisika sebagai sebuah bentuk ibadah, adalah ilmuwan alam muslim terbesar dalam delapanratusan tahun belakangan ini — tetap tidak berguna dalam menawarkan pengucilan itu. Bagi sejumlah orang di Indonesia, nasib Salam bisa mengingatkannya pada Pramoedya Ananta Toer. Tentu, tidak terlalu tepat menyandingkan kedua orang ini. Tapi dalam hal kemasyhuran internasional, dan pengucilan di tanah kelahiran, keduanya memang mirip. Bedanya hanyalah bahwa Pram ditakfirkan oleh state, Salam dikafirkan oleh society. Memang, umumnya sesama ilmuwan sangat menghormati Salam. Ia teramat dihormati oleh kaum cerdik cendekia di belahan dunia manapun: di Timur dan Barat, di Utara dan Selatan. Tapi, para pemimpin politik Pakistan cenderung melihat Salam dengan kaitan naik turunnya popularitas si pemimpin di mata massa. Dan massa yang paling militan menolak Salam justeru adalah sejumlah ulama berjanggut dan anak-anak muda radikal yang bergabung dalam barisan hiruk pikuk partai politik berbasis agama.

Ilmu Pengetahuan dan akal budi memang merupakan tanah muasal agama-agama, khususnya Islam — agama yang menyatakan dirinya tak lain dari penggenap agama-agama sebelumnya. Kaum muslim yang menganggap agama tidak berkaitan bahkan berseberangan dengan ilmu dan akal, adalah kaum yang mengidap amnesia. Mereka lupa pada tanah muasal agama dan peradaban mereka. Mereka sudah merasa puas hidup di pulau-pulau kognitif sempit yang mereka temukan, mereka ciptakan, sepanjang gelombang besar peminggiran dan pengasingan diri. Tapi Salam tidak pernah kapok mengajak sesamanya, membawa mereka kembali ke wilayah kognitif yang selama duaratusan tahun terakhir telah tumbuh menjadi kekuatan terdahsyat pembentuk kenyataan semesta.

Mereka yang mengidap amnesia mungkin hanya bisa disembuhkan dengan kasih yang tak tahu diri. Barangkali pikiran yang seperti inilah yang membuat Salam, di tengah penolakan dari kaumnya dan gelombang pasang kehendak membangkitkan kembali kegemilangan dunia islam, pernah berkata di Faiz Memorial Lecture di Lahore, “Jika anda menganggap saya sebagai seorang non-muslim, well… itu urusan anda. Perlakukan saja saya sebagai si tukang batu non-muslim, jika dengan itu anda bisa lebih lega, tapi mohon biarkanlah saya meletakkan beberapa potong bata untuk bangunan mesjid yang ingin anda tegakkan.”

Dan terlihat, setidaknya sampai tulisan ini dibuat, kontribusi yang dimobilisir oleh Abdus Salam seorang untuk kemajuan ilmu dan teknologi ummat manusia pada umumnya dan dunia ketiga serta ummat islam pada khususnya, jauh lebih besar ketimbang sumbangan yang diberikan oleh seluruh dunia muslim bergabung jadi satu.

***

Salam lahir dari keluarga menengah bawah, di sebuah kelurahan kecil Santok Das, distrik Sahiwal, dan bukan di Jhang seperti yang banyak diberitakan sebelumnya. Jhang College adalah perguruan tinggi yang ia masuki ketika salam masih seorang ABG berusia 12. Di kampus yang mayoritas mahasiswanya Hindu itu, Salam menghabiskan waktunya selama 4 tahun. Setelah setahun belajar, pada usia 13, Abdus Salam mulai menunjukkan diri sebagai sosok istimewa. Yang dilakukannya pada waktu itu adalah merontokkan mitos supremasi Hindu dan Sikh dalam ilmu yang selama puluhan tahun meyelubungi anak benua India.

Pada saat itu, ujian matrikulasi merupakan arena pertarungan sengit yang bergengsi. Jagoan dari berbagai penjuru berdatangan untuk memperlihatkan kepiawaian mereka di arena ujian. Para siswa dari Hindu Sanatam Dharam dan Arya’s School selama bertahun-tahun dianggap tak terkalahkan. Kaum hindu memang sudah lama diakui dan dihormati sebagai pecinta sekaligus pelindung pendidikan dan pengetahuan. Dan kemudian Salam datang. Dengan merebut nilai tertinggi dalam sejarah kompetisi nilai ujian matrikulasi itu, ia menjalarkan sebuah sensasi nasional.

Ada dua hal yang sangat membekas di sukma Salam berkaitan dengan kemenangan spektakulernya itu, kenangnya dalam artikel Poor As A Nation. Pertama adalah kegembiraan dan kebanggaan ayahnya, Mohammad Hussain, yang menurut Salam sangat berperan dalam pembentukan masa depannya. Kedua adalah barisan pedagang Hindu. Berita kemenangan Salam rupanya telah menyebar di seluruh negeri. Salam yang saat itu tengah berada di luar Jhang, dengan santai tengah mengayuh sepeda engkolnya menuju rumah. Di sepanjang jalan yang selama ini selalu dilalui Salam, para pedagang Hindu yang biasanya sudah menutup tokonya karena terik matahari selepas siang, sekali ini pada berdiri berjajar di depan toko masing-masing. Mereka membungkuk atau melambaikan tangan, memberikan penghormatan pada si remaja tanggung. Bahkan para pedagang Hindu pun, setidaknya yang ditemui Salam waktu itu, sudah sangat menjunjung tinggi prestasi pendidikan, sekalipun itu datang dari orang non-Hindu. Penghormatan orang-orang Hindu itu, perhatian besar mereka pada dunia pendidikan, meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam kehidupan Salam.

Dari Jhang, Salam kemudian berpindah ke Government College, Lahore. Di sini, ia sempat menjadi ketua persatuan mahasiswa dan menjadi editor majalah kampus bertajuk “Ravi”. Pada 1946, Salam meninggalkan anak benua India menuju Cambridge, Inggeris. Salam bisa sampai ke salah satu pusat pengetahuan alam di Eropa itu karena sebuah “kecelakaan”. Ketika Perang Dunia II mengacak-acak separuh permukaan bumi, sejumlah politisi India bersekongkol mengupayakan bantuan bagi Inggeris. Sebagai penjajah besar yang lagi merosot dan kepepet, Inggeris berjanji untuk memberikan kemerdekaan pada anak benua itu jika kaum Hindu-Muslim membantu Inggeris memenangkan perang. Salah seorang di antara mereka berhasil mendapatkan dana sebanyak 15.000 pound. Tapi sebelum duit itu terpakai, Jerman dan Jepang keburu takluk. Si politisi kemudian memutuskan, dana itu akan disalurkan sebagai beasiswa pendidikan luar negeri bagi lima calon yang paling cemerlang.

Bersama empat orang lain yang terpilih, Salam kemudian mengurus pendaftarannya di Cambridge—dengan lebih cermat. Salam menerima beasiswa itu pada 3 September 1946. Pada hari yang sama, ia mendapat kabar peluang masuk St John’s College, padahal biasanya pendaftaran sudah lama ditutup beberapa bulan sebelumnya. Salam lalu berangkat ke Cambridge, sementara empat rekannya yang lain ternyata kemudian gagal memperoleh beasiswa yang ditawarkan. Politisi dermawan itu meninggal tahun itu juga, sementara penerusnya membatalkan pemberian beasiswa berikutnya.

“Pada akhirnya, seluruh upaya mengumpulkan dana perang, untuk membeli amunisi, berakhir hanya pada satu hal: memasukkan saya ke Cambridge!”, kata Salam tertawa dalam wawancaranya dengan The New Scientist 20 tahun lalu. “Kini orang mungkin saja menyebut itu serangkaian kebetulan, tapi ayah tak percaya. Ia yakin, peristiwa itu adalah jawaban atas kekhusukan do’anya, dan saya kira itu betul”. Salam jelas merasa sangat beruntung karena tanpa beasiswa hasil do’a dan PD II itu, secara finansial nyaris mustahil baginya melanjutkan studi di Cambridge. “Kesempatan studi di Dunia Ketiga”, demikian Salam, ”begitu sporadisnya sehingga mereka yang benar-benar paling brilyan mungkin saja tak pernah memperoleh kesempatan sama sekali.”

Cambridge menawan hati Salam, teristimewa taman-taman kampus St. John. Hanya karena alasan keindahan, Salam menampik tawaran beasiswa ke Trinity College, college terbaik di Inggeris Raya—tempat Isaac Newton merenungkan kalkulus dan hukum gravitasi universal. Panorama di Trinity tidak secantik di St. John. Di tengah lansekap St. John’s College yang permai, Salam belajar Matematika dan Fisika. Jika di Punjab ia meruntuhkan mitos supremasi Hindu, di Cambridge ini ia melibas legenda supremasi kulit putih. Di kedua mata pelajaran prestisius tadi, Salam kembali menggondol nilai tertinggi. Tanpa banyak kesulitan, disabetnya Wrangler Prize, gelar tradisional Cambridge untuk sarjana matematika kelas puncak.

Prestasi Salam yang sangat menonjol, menarik perhatian Fred Hoyle — kosmolog besar Inggeris, penganjur pandangan kosmos steady state, tapi juga yang mempopulerkan ejekan “Big Bang”. Secara khusus Hoyle menyarankan Salam mengambil course Fisika Lanjut. “Tanpa itu”, kata Hoyle, “Anda tak mungkin dapat terlibat langsung dengan fisika eksperimental”. Salam bukan saja mengambil course, ia bahkan menjadi mahasiswa riset fisika eksperimental di Laboratorium Cavendish yang termasyhur itu. Di bangunan lab inilah J.J. Thomson menemukan elektron, Ernst Rutherford menelaah struktur atom, dan Stephen Hawking kelak dikukuhkan sebagai mahaguru Lukasian bidang matematika.

Tradisi di Cambridge mengharuskan orang yang menggondol predikat tertinggi untuk melakukan eksperimen, sedangkan yang nomor dua dan tiga menggarap teori. “Tetapi, untuk berhasil di pekerjaan eksperimental, anda perlu kualitas yang kebetulan tak saya miliki—ketekunan dan kesanggupan bekerja menurut prosedur. Saya sadar, mustahil bisa melakukan kerja eksperimental. Saya tidak punya cukup kesabaran.”

Salam lalu berhadapan dengan soal-soal elektrodinamika kuantum, yang pada saat itu sedang dalam masa persalinan yang paling menentukan (kini telah tumbuh menjadi teori yang paling akurat dalam sejarah). “Ada beberapa persoalan yang masih tersisa”, kata pembimbingnya, “Tapi semuanya sudah dibereskan oleh Matthews.” (Paul Matthews, Professor di Imperial College yang lalu menjadi wakil rektor Universitas Bath. Waktu itu ia baru merampungkan tugas penelitian di Cambridge.)

“Saya pun mendatangi Matthews dan bertanya: Apa masih ada “remah-remah” yang tertinggal?” Rupanya Matthews menyodori Salam dengan sebuah problem penting, dan harus beres dalam tiga bulan. Jika Salam tak sanggup menyelesaikannya dalam jangka waktu itu, Matthew akan mengambilnya kembali. Pekerjaan yang harus dibereskannya ini adalah suatu operasi pembersihan vital membuang absurditas ketakterhinggaan dari teori meson.

Menurut teori sebelumnya, tak ada yang dapat mencegah sebuah elektron untuk memiliki massa yang tak terhingga dan muatan listerik yang juga tak terhingga. Dengan wawasan intuitif yang hebat, fisikawan Julian Schwinger, Richard Feynman dan Freeman Dyson telah mengisyaratkan bagaimana kengawuran di atas bisa diatasi. Tetapi, pembuktian matematisnya yang sempurna belum tersedia. Salamlah yang kemudian menyediakan pembuktian itu.

Pembuktian matematis Salam, terang berhasil mengatasi problem yang disodorkan Matthew. Pembuktian yang sukses menormalisasi (melenyapkan ketakterhinggaan dari) teori-teori meson ini, membutuhkan waktu lima bulan. Dan itulah PhD-nya. Untuk upayanya “menggarap remah-remah yang disisakan Matthews” yang juga telah memusingkan para fisikawan besar senior dari seluruh benua, Cambrigde memberkati Salam dengan Smith’s Prize: penghargaan untuk “kontribusi pra-doktoral terpenting dalam bidang Fisika”. Smith’s Prize diraih Salam pada 1950, ketika usianya masih 24.

Pada 1951, dengan gelar PhD dan sebuntalan hadiah prestisius dari salah satu universitas paling terpandang di dunia, dengan pengalaman riset yang luas termasuk di Institute foAdvanced Study Princeton, AS, Salam kembali ke tanah airnya. Tiga tahun sebelumnya, tepatnya tengah malam antara 14-15 Agustus 1947, Mahathma Gandhi gagal mencegah India terbelah dua. Di bawah pimpinan Muhammad Ali Jinnah, tanah air Salam memproklamirkan diri menjadi Pakistan, berpisah dengan India yang dibimbing Jawaharlal Nehru. Tahun ketika Salam menginjakkan kaki kembali di Pakistan adalah juga tahun Liaquat Ali Khan—Sang Perdana Menteri pertama, Bapak Bangsa Pakistan bersama Iqbal dan Ali Jinnah—mati dibunuh, menyusul kepergian Ali Jinnah (dan penembakan Gandhi) 3 tahun sebelumnya. Pembunuhan Ali Khan menunjukkan ke arah mana bangsa belia ini tengah bergerak.

Dalam kondisi politik yang ruwet, pemerintah Pakistan mengangkat Salam sebagai Professor di Government College, Lahore. Bersamaan dengan itu, pemuda dari keluarga menengah bawah ini juga diangkat sebagai Kepala Departemen Matematika Universitas Punjab. Namun, di negeri kelahirannya itu, Salam tidak menemukan tradisi kerja dan riset post-graduate. Tak ada jurnal, tak ada kesempatan untuk menghadiri konferensi. Fisikawan terdekat dari tempatnya bekerja, ada di Bombay, dan itu adalah negara musuh akibat persengketaan menyangkut Kashmir. Sudah begitu, gajipun sangat pas-pasan.

Kepala institusi tempat Salam bekerja, meski tahu bahwa Salam sudah mengerjakan sejumlah riset penting, menganjurkan pada sang Bintang Cambridge untuk melupakannya saja. Si Bapak kepala kemudian menawari professor muda itu tiga pilihan pekerjaan tambahan: bendaharawan, pengurus rumah tangga asrama kampus atau lurah klub sepak bola. Salam memilih yang terakhir. Barangkali pengaruh Inggeris sebagai tanah kelahiran sepak bola ikut mempengaruhi pilihan Salam, tapi yang pasti, dengan pilihan itu ia pikir ia bisa punya waktu luang meneruskan kajian bidang yang ia minati.

Setelah bertahan di Lahore selama 3 tahun, Salam terpaksa mengakui: segenap situasi umum masyarakat Pakistan waktu itu sangat tidak mendukung kemungkinan keberlanjutan riset-riset fisika. Perhatian utama yang paling menguras energi pakistan bukanlah pengembangan sains dan teknologi, tapi adalah perebutan kekuasaan dan percekcokan pemurnian Identitas. Sains diabaikan bukan saja oleh para cendekiawan pemimpin bangsa belia itu, tapi juga oleh para sarjana yang paling cemerlang. Salam benar-benar merasa kesepian secara Intelektual. Ia pernah berupaya menghidupkan kajian kosmologi dan teori superkonduktor, tapi hasilnya bikin kecewa karena tiadanya dukungan. Salam akhirnya tersudut pada satu dilema tragis: Fisika atau Pakistan.

Mulanya Salam menghadapi pilihan itu seperti buah Simalakama. Namun setelah ia merasakan dirinya makin sunyi dan secara intelektual terus merosot, Salam akhirnya bertanya, jika dirinya kian tak berguna secara intelektual, lantas apa artinya lagi dirinya buat Pakistan? Lewat dunia ilmulah ia bisa berbakti pada tanah airnya itu. Pada 1954, Salam balik ke Cambridge, menjemput tawaran mengajar dan riset yang sudah lama diberikan. Ia terpaksa menggabungkan diri dengan barisan otak-otak cemerlang Asia dan Amerika Latin yang sudah lama mencari atmosfir lebih baik di Barat.

Di Cambridge dan kemudian juga di Imperial College, London, dengan tetap meyimpan tekad berbuat sesuatu untuk Pakistan, Salam meneruskan percintaannya yang sempat terputus dengan riset dan fisika teori. Tiga tahun kemudian, pada 1957, ia diangkat menjadi professor dan diberi tugas mendirikan jurusan Fisika Teori. Inaugrasi sebagai professor dan pengangkatan sebagai ketua departemen fisika teori Imperial College Science and Technology, dibalas Salam dengan—dalam waktu singkat—menjadikan departemennya pusat riset fisika partikel yang berwibawa.

Selama periode di mana Salam mulai aktif kembali di fisika teori, sejak akhir dekade 40-an, para fisikawan dunia telah mencincang materi ke dalam serpihan-serpihan yang semakin kecil. Di semua kemajuan besar pencapaian dinamika kuantum ini, Salam selalu terlibat. Ketiga kontribusinya berikut ini, nilainya luar biasa penting dan dapat menggambarkan pemburuan Salam pada tatanan kosmik.

Foto Hulton Getty

Yang pertama adalah soal Paritas—suatu teori fisika yang berhubungan dengan kesimetrian sebuah peristiwa dengan bayangan pencerminannya. Ketika atom radioaktif melepaskan sebuah elektron, atom itu juga memancarkan neutrino—sebuah partikel yang nyaris tak bermassa, tak bermuatan dan tak punya sifat elektromagnetik. Pada saat terlepas, kedua partikel ini berputar. Asumsi yang umum dan wajar adalah menganggap bahwa partikel-partikel ini dapat berputar ke kiri, seperti juga ke kanan. Pada sebuah konferensi fisika internasional di Seattle, Washington, di 1956, fisikawan Amerika kelahiran Cina Chen Ning Yang dan Tsung Dao Lee menyarankan dalam papernya bahwa paritas kiri dan kanan itu tidak terjadi sebagaimana diasumsikan.

Usulan yang mengejutkan itu, yang menentang sebuah hukum fisika berusia 30 tahun mengenai kekekalan paritas, menjadi pemikiran Salam pada penerbangan balik dari Seattle ke Cambridge. Jika gagasan ganjil dan tampak jelek dari “paritas non-kekekalan” ini bisa diterima, mestinya ada penjelasan indah untuknya. Salam ingat bahwa tak seorang pun yang telah memberi penjelasan memuaskan mengapa neutrino tidak punya massa. Setiap partikel cenderung berinteraksi dalam medannya sendiri dan dengan demikian menahan akselerasi yang itu disebut massa. Salam melihat bahwa alam dapat menerima ketiadaan massa neutrino, hanya jika neutino berputar semata dengan satu arah—dengan kata lain, hukum paritas itu dilanggar. Lebih tepatnya lagi, pelanggaran paritas harus menyetarai pengekalan paritas. Elektron-elektron yang memancar bersamaan dengan neutrino dari atom radioaktif Cobalt-60 misalnya, rata-rata 3 elektron berputar berlawanan arah terhadap satu elektron.

Begitu pesawatnya mendarat, Salam sudah dapat menjelaskan keruwetan pelanggaran hukum partias itu. Salam ingin menerbitkan penjelasan itu, yang ia masukkan ke dalam Teori Dua Komponen Neutrino. Tetapi, Wolfgang Pauli — pemenang Nobel kelahiran Austria untuk kontribusinya dalam pemahaman struktur elektron yang mengitari atom(Prinsip Eksklusi Pauli) — justeru menyarankan pada Salam untuk menunda dulu penerbitan teori itu. Bagi Pauli, pelanggaran hukum paritas sama menggelikannya dengan citra Tuhan yang bertangan kidal. Salam yang belakangan mulai terlibat dengan permainan lain yang lebih menggairahkan, memang lantas batal menerbitkan teorinya itu. Akibatnya, setahun kemudian ketika Salam diangkat sebagai Professor Cambridge, pada 1957, Chien Siung Wu dari Universitas Columbia, New York City, mendemonstrasikan sebuah eksperimen yang kemudian sangat terkenal, eksperimen Cobalt-60 yang membuktikan pelanggaran hukum paritas: untuk setiap 3 elektron yang berputar ke kiri, satu berputar ke kanan, persis seperti diramalkan Salam.

Tahun 1957 itu juga, Chen Ning Yang dan Tsung Dao Lee secara bersamaan memenangkan Hadiah Nobel. Andai Pauli tidak mencegah Salam menerbitkan teorinya itu, dan andai Salam tidak membuat sedikit kesalahan penilaian (termasuk atas pendapat Pauli itu), Salam pasti akan dikenang sebagai salah seorang fisikawan yang menggondol minimal dua medali Nobel. Ia sangat mungkin berbagi hadiah Nobel dengan kedua rekan Asianya itu. Saat itu usia Salam baru 30. Pauli kemudian hanya bisa mengumumkan penyesalannya, yang ia ucapkan di sebuah pidato penutup ceramah yang disampaikan Salam di Rutherford laboratory, tempat Pauli sendiri kebetulan duduk sebagai pimpinan.

Salam sendiri waktu itu sudah tenggelam dengan pertanyaan teoritis yang lebih besar: Mungkinkah jenis-jenis partikel temuan yang amat membingungkan waktu itu, benar-benar merupakan partikel elementer? Apakah beberapa di antara partikel itu lebih elemter ketimbang yang lainnya? Pemecahan terbaik adalah dengan mencari pengelompokan-pengelompokan keluarga partikel yang memungkinkan orang menyatakan bahwa jika satu partikel muncul, maka partikel lain akan nongol dengan sifat-sifat yang berkerabat—serupa tapi tak identik.

Dalam penggarapan pertanyaan keluarga partikel elementer itu, dengan seluruh prestasi intelektual lain yang lumayan menyolok, pada 1959, kerajaan Inggeris mengangkat Salam menjadi Anggota Royal Society. Dengan usianya yang baru 32, Salam merupakan anggota termuda Royal Society.

Terobosan signifikan dalam fisika partikel kembali muncul pada 1960. Yushio Ohnuki dari Universitas Nagoya, Jepang, memperkenalkan gagasan “unitary symmetry” yang mungkin ada di antara partikel-partikel. Gagasan dasarnya adalah bahwa hampir semua partikel terbuat dari tiga satuan yang masing-masing saling berhubungan. Dari sinilah munculnya nama SU(3) singkatan dari “Special Unitary Group” Threefold. Barangkali juga sebagai suatu simpati bagi pemikiran teoritik dari Timur, Salam merupakan fisikawan non-Jepang pertama yang menerima gagasan Ohnuki. Imperial College di mana Salam menjadi professor dan kepala departemen fisika, dijadikan Salam sebagai pusat riset “unitary symmetry” di Eropa.

Pada April 1961, bersama John Ward, ilmuwan tamu Imperial College, Salam menggunakan SU(3) untuk memprediksi keberadaan suatu keluarga Delapan-lipat partikel-partikel baru yang memiliki spin dua kali lebih besar dari spin elektron. Enam bulan kemudian, prediksi Salam-Ward terbukti. Seorang mahasiswa riset yang bekerja sama dengan Salam, Yuval Ne’eman dari Israel, kemudian menunjukkan bahwa partikel-partikel berat utama seperti proton dan neutron, juga terdiri dari keluarga 8-lipat. Pada saat nyaris bersamaan, Murray Gell-Mann dari Institut Teknologi California tiba pada kesimpulan yang sama. Gell-Mann menggunakan konsep simetri untuk meramalkan kehadiran suatu partikel sangat aneh—hiperon Omega Minus. Gell-Mann sebelumnya mengusulkan bahwa semua hadron merupakan kombinasi dari partikel yang lebih fundamental, yang membentuk tri-rangkap SU(3). Gell-Mann, yang kelak pada 1969 memenangkan Nobel untuk kontribusi klasifikasi partikel elementer dan interaksi-interaksinya, menamakan partikel ini kuark. Atas sumbangan Salam, Ne’eman, Gell-Mann dan fisikawan lainnya, menjelang 1964, ide unitary symmetry telah memperoleh validitas kebenarannya yang tak terbantahkan.

Seorang teoritikus Amerika mencoba memperluas gagasan unitary symmetry untuk mempertautkan keluarga-keluarga partikel berat yang saling terpisah ke dalam suatu keluarga besar 56 partikel. Tapi teori ini belum memasukkan teori relativitas Enstein yang sangat penting itu. Salam-lah yang kembali membereskan masalah ini. Bekerjasama dengan Robert Delbourgo dan John Strathdee, Salam mengajukan Empat Dimensi Einstein (1 dimensi waktu, 3 dimensi ruang) untuk sampai pada suatu pola alam yang lebih tinggi. Teori ajuan Salam ini, dengan beberapa masalah yang sedikit tertinggal, berhasil menampilkan tingkat tertinggi pengaturan pola-pola partikel fisis.

Ketertundaan Salam merebut Nobel fisika 1957, akhirnya tertebus 22 tahun kemudian, pada 1979. Sebuah tim riset di CERN yang dipimpin oleh Carlo Rubbia, dengan menggunakan fasilitas Superprotosynchrotron, berhasil memverifikasi teori penyatuan gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah, yang secara terpisah dibangun oleh Salam dan Steven Weinberg. Bersama Simon van der Meer, Carlo Rubbia menggondol Nobel Fisika 1984 untuk kerja besar mereka menemukan partikel medan W dan Z, komunikator dari interaksi lemah.

Dalam karya teoretik Gauge yang dibangun pada dekade 60-an, Salam dan Weinberg menunjukkan bahwa pada tingkat primitif, kedua gaya elektromagnetik dan nuklir lemah merupakan manifestasi dari interaksi tunggal yang perantaranya adalah empat boson tak bermassa. Melalui proses halus yang dinamakan Pematahan Simetri Spontan, tiga boson menerima massa dan masing-masing menjadi partikel W+, W- dan Zo, dengan konsekwensi terjadinya reduksi pada jangkauan gayanya, sehingga muncul sebagai bagian lemah dari interaksi total. Salah satu cara untuk melihat situasi ini adalah dengan menganggap massa boson W dan Z bukanlah bersifat intrinsik melainkan fungsi dari sifat keadaan yang ditempatinya. Boson ke empat, foton tetap tak bermassa, dan jangkauan bagian elektromagnetik dari interaksi total tetap tak berhingga.

Penyatuan gaya elektromagnetik dan nuklir lemah merupakan langkah besar dalam sejarah perkembangan ilmu Fisika. Penyatuan itu, kini sudah mencapai status touchstone dan disebut sebagai Model Standar fisika partikel. Model standar itu telah diuji oleh puluhan eksperimen yang rumit dan cerdik, dan selalu lolos dengan gemilang. Sampai saat ini, pemburuan partikel “Higgs” yang diprediksikan oleh Salam, telah dianggap sebagai prioritas terpenting dalam dunia Fisika. Milyaran dolar terus dibelanjakan untuk membangun akselerator berenergi tinggi untuk menghasilkan partikel yang amat sulit ditangkap tapi sangat menetukan bagi pemahaman manusia atas alam semesta.

Pemahaman ilmiah pamungkas atas alam raya, tetap dikejar Salam sampai di ujung hidupnya, di sela-sela interupsi kegiatan kemanusiaan dan pembangunan Dunia Selatan yang kian banyak menyerap waktunya. Ia menggabungkan diri dengan barisan fisikawan terhebat dunia seperti John Schwarz, Joel Scherk, Ed Witten, Morava atau Hawking, dalam pemburuan Teori Semesta (Theory of Everything) — teori yang akan menggabungkan semesta gaya-gaya alam dan mampu menjelaskan segenap hal mengenai alam raya seisinya. Di usia senjanya, bersama murid-muridnya, Salam mengusulkan satu versi Teori Semesta dengan ruang waktu kosmos berdimensi 11 (1 dimensi waktu dan selebihnya dimensi ruang). Pemikir kosmos yang lain mengajukan usulan berbeda dengan kosmos yang berdimensi 10 sampai 25.

Dalam kosmos dimensi 11 versi Salam, empat dimensi yang pertama adalah Dimensi Einstein yang telah sangat dikenal oleh indra dan pengalaman manusia, yang selama ratusan ribu tahun telah mengkonstitusikan cara manusia memandang dan menghidupi alam semesta. 7 dimensi lainnya, pada awal kelahiran semesta raya, telah menggulung ke dalam dirinya sendiri dengan jari-jari yang bukan main kecilnya, 10 exp (-33) cm.

Dalam eseinya Faith And Science, Salam menjelaskan bahwa usulan semesta raya berdimensi 11, dapat diuji keilmiahannya antara lain lewat prinsip self-consistency. Salam dan teamnya “menciptakan” suatu medan gaya yang dirancang untuk membuat agar konfigurasi sistem dinamis tadi dapat diuji keberadaannya. Dari hipotesis ini, akan muncul konsekwensi-konsekwensi fisis yang subtil, misalnya adalah radiasi tiga tingkat, yang dipercaya sebagai sisa-sisa dari era rekombinasi sesudah Dentuman Besar. Jika radiasi tiga tingkat itu ditemukan, maka konsep alam semesta berdimensi 11 akan memperoleh status benar ilmiahnya. Bila tidak ditemukan, konsep itu dengan sendirinya batal.

Bagi Salam, keasyikan menggeluti ide semesta berdimensi 11, seperti juga ketenggelaman menguji kebenaran gagasan penciptaan kosmos dari ketiadaan dan jagat raya antropik yang disiapkan bagi kecerdasan dan kesadaran manusia, semua ini tidak banyak beda dengan kesuntukan pergulatan metafisik dan kontemplasi mistik dari para pemikir besar dan orang-orang suci di masa silam. Tapi sepanjang menyangkut ilmu pengetahuan rasional, senantiasa harus diingat watak sementara dari setiap arsitektur konseptual ilmiah, keharusan pengujian empirik pada setiap langkah, dan keniscayaan self-consistency dalam keseluruhan bangunan konstruksi koginitif itu.

Pengejaran Salam dan para fisikawan terkemuka dunia pada Teori Semesta, memang telah membawa manusia menelusuri waktu kosmos sampai ke saat-saat kelahiran alam semesta. Mereka mencari jejak-jejak sejarah kosmos dengan menadah limpahan gelombang langit, dengan menyusup masuk ke kenyataan terdalam partikel. Dan jika jejak-jejak sejarah kosmis sungguh-sungguh tergores dalam setiap cuilan materi, dalam partikel-partikel paling elementer, dalam penyusun sel-sel tubuh manusia, tentu, seperti diutarakan Timothy Ferris, sangatlah menarik memikirkan cakrawala ekstensi di mana sejarah kosmik bakal tertenun lewat akal budi manusia.

Pemburuan terhadap masa silam kosmos, membuat pergumulan intelektual Abdus Salam dan para genius lainnya itu tampak sebagai versi yang jauh lebih kolosal dari pergulatan artistik Marcel Proust. Terisolir di sepotong ruang yang penuh asap disinfektan, Proust menulis prosa panjang menghadirkan kembali masa silam ke dalam salah satu novel paling kompleks di dunia sastera: Remembrance of Things Past. Impian teori tunggal pamungkas, teori maha semesta, tampaknya memang adalah suatu bentuk nostalgia kosmologis, dan sains ummat manusia adalah salah satu alat yang dengannya alam semesta merenungkan masa silamnya.

***

Di persimpangan millenium ini, para ilmuwan sejati muslim khususnya dan Dunia Ketiga umumnya, diringkus oleh sebuah “nasib buruk”. Mereka tidak dapat hanya mewakili diri mereka sendiri. Mereka tidak dapat semata memikirkan riset dan pergulatan teoritis. Di depan mereka mungkin terpampang lambaian misteri kosmos yang dengan sangat menggairahkan menghimbau agar diungkap. Tapi, dibelakang mereka, berhamparan ketertinggalan dan amnesia ummatnya—ummat yang terdiri dari sekitar 75% penduduk dunia yang digilas dan diacak-acak serentak oleh kemelaratan dan ketimpangan struktural, pertentangan politik dan resesi ekonomi, kehancuran warisan budaya dan kemerosotan mutu lingkungan, kemiskinan infrastruktur pendidikan dan ketertinggalan kualitas sumber daya manusia. Dan ummat yang seringkali masih harus berjuang mengatasi malnutrisi dan iliterasi, untuk sanitasi dan higeni yang layak buat makhluk abad 20 itu, tidak jarang yang justeru memandang sebelah mata para cendekiawannya, atau bahkan dengan tatapan menghina, dan—dalam kasus Abdus Salam—sering-sering dengan sedikit keinginan untuk memancung.

Abdus Salam sesungguhnya sangat bisa bertindak sebagai seorang sufi, yang setelah naik ke langit tertinggi dan bersatu dengan Sang Cinta, terus tinggal di sana tanpa hasrat untuk balik turun. Bagi Salam jelas: Fisika adalah cintanya yang pertama, dan kerajaan inggeris telah memberinya segala yang ia perlukan untuk menikmati dan menghasilkan buah dari percintaan itu. Lagi pula, kerja mental Salam di menara gading fisika teori Eropa itu, langsung atau tidak, pelan tapi pasti akan dinikmati oleh seluruh ummat manusia.

Tapi, seperti Sang Nabi, Salam sadar bahwa soalnya bukanlah hanya bergumul dengan Sang Cinta. Yang tak kalah penting adalah: turun kembali ke dunia dan mengubahnya, agar semua manusia bisa juga bergumul langsung dengan misteri dan keindahan kosmos. Salam akhirnya memang turun, “menyeleweng” membagi waktu dengan upaya besar membangun jalan selebar-lebarnya menuju langit tertinggi sains dan teknologi. Ia, meminjam kalimat Mohammad Iqbal, menyisipkan diri ke kancah jaman, membentuk dan memimpin kehendak yang kian meluas dari Dunia Ketiga untuk ikut berada di garis terdepan perkembangan ilmu pengetahuan.

Terpanggang oleh ketakbahagiaannya meninggalkan negerinya, Salam selalu mencari jalan agar orang-orang seperti dirinya yang berasal dari dunia ketiga, dapat terus bekerja di negerinya masing-masing, namun tetap berpeluang lebar untuk menjadi ilmuwan peringkat puncak. Salam sangat yakin, seperti halnya negara-negara maju, negeri-negeri berkembang pun butuh ilmuwan yang bagus, yang tentunya tertata dalam sistem universitas.

Sejak lama Abdus Salam menginginkan adanya tempat di mana para fisikawan dunia ketiga dapat terlibat dalam pengulatan sains mutakhir, tanpa harus meninggalkan negerinya sendiri, seperti yang dengan pahit terpaksa harus dialami oleh Salam sendiri. Untuk mewujudkan keinginannya itu, Salam kemudian bertindak sebagai zoon politicon. Lewat bantuan PBB, khususnya Badan Tenaga Atom Internasional, pada 1964 berdirilah ICPT (International Centre for Theoretical Physics) di Trieste, Italia. Pakistan sebenarnya juga berpeluang memperoleh kehormatan itu, tapi tampaknya tidak tertarik. Italia memang menginginkannya, dan bersedia mengeluarkan sejumlah uang. Di negara yang merupakan salah satu tempat terpenting dalam sejarah dan kesadaran katholik itu, Abdus Salam yang Islam mendirikan dan memimpin sebuah bentangan kompleks bangunan yang secara reguler telah dikunjungi oleh puluhan ribu ilmuwan yang terlibat riset dari 150-an negara berkembang.

Munir Ahmed Khan, seorang rekan kuliah Salam di Jhang College, yang pada 1958 kemudian duduk di Badan Tenaga Atom International (IAEA, International Atomic Energy Agency) mengenang jerih payah Salam mewujudkan ICTP. Suatu pagi di bulan September, tulis Munir dalam obituari Salam Passes Into History, Salam berkunjung menemui di kantornya di Wina. Ia bilang, ia punya gagasan bagus untuk membangun sebuah pusat riset fisika teoritis di bawah naungan PBB, khususnya IAEA. Biayanya sangat murah—hanya batangan pinsil dan kertas, dan mungkin sebuah ruang pertemuan bagi para ilmuwan dari Barat dan Timur. Dengan modal yang murah ini, dapat diperoleh hasil besar: retasnya isolasi para saintis negeri-negeri berkembang yang kehilangan persentuhan dengan dunia mutakhir sains.

Munir lalu mencoba mengatur pertemuan antara Salam dan Prof. Seligman yang waktu itu menjabat Kepala Departemen Riset IAEA. Tapi, Prof. Seligman dengan dingin bertanya, “Siapa itu Professor Salam?” Ketika diberitahu bahwa Salam adalah anggota termuda Royal Society, nada suaranya kontan agak berubah. Kelak Salam dan Seligman menjalin persahabatan yang akrab.

Pada konferensi umum IAEA yang dilaksanakan setelah pertemuannya dengan Seligman, sebagai delegasi Pakistan Salam secara resmi mengajukan proposal pendirian ICTP. Gagasan itu mendapat hambatan lumayan sengit dari negara-negara maju. Dewan Penasehat Keilmuan IAEA yang di antaranya termasuk pemenang Nobel kelahiran Austria-Hungary Isidor Isaac Rabi dan ilmuwan besar India Homi Jehangir Bhaba, dengan suara bulat menolak proposal Salam. Secara pribadi, Bhaba sebenarnya setuju setuju saja dengan ide Salam, asalkan ICTP itu dibangun di Bombay. Bhaba bahkan menawari Salam bergabung dengannya. Salam menolak. Salam lantas membuat move menggalang dukungan para fisikawan teoritis terkemuka dari seluruh dunia, termasuk kosmolog besar dan pemenang Nobel Hans Albrecht Bethe, yang kesemuanya menghormati Salam. Dengan reputasi yang mulai membubung, Salam mendesak kolega-kolega Eropa dan Amerikanya untuk mendukung pendirian lembaga yang diimpikannya itu.

Akhirnya, setelah beberapa tahun Salam berupaya, majelis pemegang keputusan tertinggi IAEA menampik usul dewan penasehat keilmuannya. Proposal Salam disetujui. Salam menghendaki agar ICTP dibangun di Pakistan. Sebagai Kepala Penasehat Keilmuan Ayub Khan, ia meminta sang Presiden memberi initial grant sebesar satu juta dollar untuk biaya bangunan dan fasilitas pendukung lainnya. Pemerintahan Ayub Khan menampik ide Salam. Dengan rasa berat, Salam akhirnya menerima tawaran dari Italia, orang kere-nya Eropa itu, yang bersedia memberi Salam kompleks bangunan ICTP di kawasan peristirahatan Pantai Miramare. Namun Salam tidak pernah menyerah berupaya mendirikan sebuah cabang ICTP di Islamabad. Ia selalu berkeinginan pulang dan membimbing para fisikawan muda.

Keinginan sederhana Salam yang sulit ini — dan jadi mustahil sejak pentakfiran resmi Ahmadiyah pada 1974 — kelak membuatnya bertindak “kurang adil”. Salam memang cuma manusia biasa, bukan malaikat. Kompensasi atas keinginannya di atas, tulis kolega yuniornya Hoodbhoy, menghasilkan sikap dan kebijakan pilih kasih. Di ICTP, semua orang Pakistan — termasuk para penghojat kukuh Ahmadiyah — memperoleh pengistimewaan dan kemudahan akses menemui sang Direktur. Tak jarang para pengunjung dari negeri lain tampak merutuk-rutuki gejala “mafia Pakistan” itu, menggunjingi diskriminasi dan dendam rindu “Sang Godfather”.

Dalam posisinya sebagai pendiri dan direktur, Salam membawa anaknya si ICTP itu tumbuh jauh melampaui bidang fisika teori. Setahun setelah pendirian ICTP, pada 1965, Salam mengatur sebuah sesi brainstorming berjangka waktu setahun. Di tengah suasana Perang Dingin yang masih mencekam dunia, acara ini diarahkan Salam buat menjinakkan bom thermonuklir H untuk menghasilkan energi dari gas panas Hidrogen berat. Hasil dari acara yang dipimpin oleh Marshal Rosenbluth si Amerika dan Raoul Sagdeev yang berdarah Rusia, muncul menjadi suatu kebijakan internasional kerjasama eksperimental yang ditujukan bagi pemberian akses pada ummat manusia ke suatu sumber energi yang tak terbatas. Jauh sebelum usainya Perang Dingin, Salam telah membuat ICTP merangkum juga ilmu-ilmu komputer, elektronika, kimia, energi, lingkungan, bioteknologi dan rekayasa genetik.

Keinginan Salam untuk membawa Dunia Ketiga pada penguasaan sains dan teknologi, tidak hanya berhenti di ICTP. Pada 1983, Salam memimpin sekelompok saintis terkemuka Dunia Selatan, mendirikan sekaligus menjadi presiden pertama The Third World Academy of Sciences (TWAS). Sains dan teknologi memang hanya dapat berkembang subur di Dunia Ketiga jika terdapat sejumlah praktisi yang cukup banyak, suatu komunitas ilmiah yang dapat bekerja dengan tenang, didukung oleh dana atau pasar dan infrastruktur eksperimental serta pustaka yang lengkap. Itupun masih harus ditambah dengan atmosfir kebebasan dan forum untuk saling memberi kritik secara terbuka kepada masing-masing bidang.

Keanggotaan TWAS terbagi dua: fellows dan associate fellows, semuanya merupakan ilmuwan yang terpandang. Fellows dipilih dari para warga Dunia Selatan, dan associate fellows merupakan warga Dunia Utara yang asal-usulnya berakar di Selatan atau telah memberi sumbangan nyata bagi pengembangan Iptek di Bumi Selatan. Kini TWAS telah memiliki 410 anggota, 329 fellows dari 58 negara di Selatan dan 81 associate fellows dari 12 negara Utara. Dengan dana sebagian besar disediakan oleh pemerintah Italia, setiap tahun, TWAS menganugerahkan penghargaan dan hadiah bagi para ilmuwan dunia ketiga yang paling menonjol. TWAS juga menyediakan dana untuk proyek penelitian yang memenuhi syarat di bidang biologi, kimia, matematika, fisika dan kedokteran.

Setelah menghimpun ilmuwan terbaik dari Selatan, Salam dan kolega-koleganya mencoba menyatukan segenap organisasi keilmuan di semua negeri berkembang. Pada 1988, TWAS membantu mendirikan The Third World Network of Scientific Organizations (TWNSO). Organisasi Non Pemerintah ini antara lain bertujuan membangun kepemimpinan ilmiah dan politik Selatan dalam pembangunan ekonomi berbasis sains, mempromosikan pembangunan berkelanjutan dunia melalui kerjasama Selatan-Selatan dan Selatan-Utara dalam sains dan teknologi. Dengan suara bulat, Abdus Salam ditunjuk sebagai presiden pertama jaringan organisasi keilmuan yang bisa jadi terbesar di dunia saat ini. Anggota TWNSO kini berjumlah 147 organisasi, termasuk 36 perguruan tinggi dan kementrian sains teknologi, 40 akademi ilmu pengetahuan, 42 badan riset dan 29 organisasi jenis lain dari 73 negara di Selatan.

Meski ICTP telah melatih para ilmuwan muda dalam ilmu-ilmu murni dan terapan, negeri-negeri berkembang jelah lebih butuh jenis pelatihan lain agar bisa ikut terlibat lebih jauh dalam revolusi teknologi. Teknologi, terutama yang kandungan ilmunya tinggi seperti teknologi komunikasi, laser, farmasi dan materi industri baru, merupakan sumber kesejahteraan bagi negara yang menguasainya. Lembaga riset lain mesti diciptakan. Bersamaan dengan pembidanan TWNSO, pada 1988, Salam mengajukan rencana pembangunan The International Centre for Science and High Technology (ICSHT). Kajian pendirian ICSHT dilakukan bersama sejumlah ilmuwan terkemuka negeri-negeri berkembang dan beberapa pemenang Nobel — K.A. Muller dari Swiss, K.M. Siegbahn dari Swedia dan K. von Klitzing dari Jerman. Dukungan utama datang dari pemerintah Italia dan sejumlah negara industri besar.

Sejak 1990, ICSHT telah membentuk tiga institut pendukung. Institut Internasional untuk Kimia Murni dan Terapan menggarap wilayah riset yang berkaitan dengan reaktivitas dan makromolekul. Institut Internasional untuk Teknologi Tinggi dan Material Baru mengelola empat kelompok riset: photonics, material komposit, superkonduktor dan semikonduktor. Institut Internasional untuk Iptek Bumi, Lingkungan dan Kelautan memfokuskan diri pada riset iklim dan perubahan global, interaksi ekologis, eksplorasi geofisika, iptek kelautan dan manajemen wilayah pantai.

Pada awal dekade 90-an, peran penting kembali dimainkan Salam dan TWAS-nya, dalam pendirian The Third World Organization for Wowan in Science (TWOWS). Sejak diresmikan di Kairo, 1933, TWOWS telah menghimpun anggota 1500 perempuan ilmuwan dari 80 negara berkembang. Tujuan utama TWOWS adalah mendorong kepemimpinan perempuan Selatan dalam sains dan teknologi melaui penguatan partisipasi efektif dalam proses pembuatan kebijakan dan pembangunan berbasis sains. TWOWS antara lain sudah berhasil membuat inventori terkomputerisasi berisi daftar ilmuwan dan teknolog perempuan aktif Dunia Ketiga dan organisasi-organisasi yang punya misi memajukan peran perempuan dalam sains dan teknologi. Sekretariat TWOWS, seperti juga sekretariat TWNSO dan TWAS, semuanya ngendon di lingkungan ICTP, memperkokoh kontribusi Salam menjadika Trieste Kota Ilmu Pengetahuan.

Sekian tahun lalu, Salam lewat TWAS dan TWNSO ikut membidani kelahiran COMSATS (The Comission on Science and Technology for Sustainable Development in South). Dengan anggota yang terdiri dari para kepala negara atau kepala pemerintahan Dunia Ketiga, COMSATS memanggul tugas memarakkan kesadaran rakyat negeri-negeri berkembang akan peran besar ilmu dan teknologi dalam pembangunan global. COMSATS juga bertugas mendorong prakarsa-prakarsa besar mengangkat kapasitas penduduk asli Selatan dalam sains dan teknologi yang jelas sangat menentukan pembangunan berkelanjutan planet Bumi.

COMSATS antara lain telah bekerjasama dengan TWNSO mewujudkan sebuah proyek ambisius: membuat sejumlah institusi ilmu pengetahuan yang kompeten di Selatan menjadi pusat-pusat keunggulan internasional. Pusat-pusat ini juga akan menyediakan pelatihan tingkat lanjut dan peluang riset bagi ilmuwan-ilmuwan muda dunia berkembang. Titik-titik simpul atau terminal-terminal generasi pertama jaringan pusat keunggulan ini telah dibangun di Bolivia, Brazil, Cina, Ghana, Jamaika, Nigeria, Syria, Tanzania, Turki, dan puji tuhan, Pakistan.

Kiprah kemanusiaan Salam untuk Dunia Ketiga, lewat ICTP, TWAS, ICSHT dan TWNSO khususnya, telah membuatnya jadi satu model istimewa cendekiawan dunia. Ia memang bukan cendekiawan yang memproduksi simbol-simbol kultural-spiritual, atau yang menjelaskan dunia dengan cahaya teori ekonomi politik baru. Tetapi, kiprah kecendekiawanan Salam, dalam hal tertentu telah membuatnya tampil mengatasi sekaligus memperkaya warisan para intelektual Dunia Ketiga lainnya seperti rohaniawan Benua Hitam Desmond Tutu—uskup Anglikan Afrika Selatan peraih Nobel Perdamaian untuk penentangannya pada politik apartheid; penyair Amerika Latin Octavio Paz yang mencari tempat benuanya di tengah kemelut sejarah dan gagasan-gagasan besar dunia; atau mistikus-intelektual Asia Soedjatmoko yang disebut-sebut orang sebagai pewakil kearifan dan hati nurani Dunia Ketiga.

***

Islami-kah itu, jika Salam mejadi korban intoleransi fundamenatalisme ummat dan oportunisme para pemimpin politik, di Republik Islam Pakistan, hanya karena ia ikut dalam sekte Ahmadiyah, keikutsertaan yang ia warisi dari kasih sayang orang tuanya? Bagi pemegang berbagai bintang perghargaan dari seluruh dunia ini, pertanyaan tadi mungkin adalah pertanyaan kekanak-kanakan, yang tidak secara jernih dan bijak memahami seluruh persoalan. Pertanyaan itu khas pengidap amnesia, meski dengan tingkat keparahan yang lunak.

Memang, ketika Pakistan berada di bawah Ayub Khan, Tulis Pervez Hoodbhoy dalam kesaksiannya yang menyentuh “Abdus Salam—Past and Present”, Salam memperoleh pengaruh dan penghargaan yang lumayan pantas. Sebagai kepala penasehat ilmu pengetahuan Presiden, ia berada pada posisi yang tepat untuk mendorong program besar pelatihan ilmuwan. Di posisi itu, ia juga membentuk PINSTECH (Pakistan Institue of Science and Technology), dan menciptakan badan antariksa SUPARCO (Space and Upper Atmosphere Committee). Pengaruhnya berlanjut, meski daya jangkaunya lebih kecil, dalam masa-masa pemerintahan Agha Mohammed Yahya Khan dan Zulfikar Ali Bhutto.

1974 merupakan titik balik dari kehidupan Salam di Pakistan. Dengan sebuah keputusan Dewan Nasional, Ahmadiyah ditakfirkan dari Islam. Massa mengecam Salam dan dengan aksi protes menuntutnya mundur dari posisi resminya sebagai kepala penasehat ilmu pengetahuan. Atas permintaan Bhutto, Salam setuju untuk membantu, secara informal. Tapi sejak itu, keterlibatan Salam dalam pemerintahan Bhutto lebih bersifat simbolik ketimbang substansial. Agak Paradoksal bahwa Salam mendapatkan tempat yang lebih baik justeru pada masa kekuasaan Zia ul-Haq yang retorika islamnya lebih keras. Zia menerima Salam sebagai tamu negara dan menganugerahinya dengan bintang Nishan-i-Imtiaz di tahun yang sama ketika Salam menerima Nobel. Tapi betapapun juga, secara seksama Salam dijauhkan dari kegiatan-kegiatan keilmuwan di dalam negeri. Dalam masa jabatan pertamanya sebagai perdana menteri, Benazir Bhutto tidak merasa perlu mengabulkan permohonan Salam untuk beraudiensi dengannya. Dan Nawaz Sharif memuncaki semua ‘keajaiban’ ini ketika ia membuat daftar alumni istimewa Government College dan sama sekali tidak mencantumkan di situ nama Abdus Salam, alumni yang paling gemilang di antara semuanya.

Pernah sekali waktu, Salam mengunjungi Islamabad sebagai tamu Jenderal Zia. Salam yang selama ini diam-diam mengirimkan uang hadiah dan penghargaan yang diterimanya ke Pakistan untuk mebiayai para ilmuwan muda dan membangun institusi ilmiah, saat itu baru saja diumumkan memenangkan Nobel. Kesempatan itu hendak dimanfaatkan oleh warga Departemen Fisika Universitas Quaid-I-Azam: mengundang Salam memberikan ceramah ilmiah. Tapi, sayap mahasiswa dari suatu partai religio-politik mengancam akan menggunakan kekerasan jika Salam sampai menginjakkan kaki kampus itu. Rencana ceramah ilmiah itu akhirnya dibatalkan. Ancaman pada Salam ini, tidak membuat Salam jera untuk terus mengirimkan uang hadiah Nobelnya ke Pakistan. Beberapa tahun setelah kejadian di Universitas Quaid-i-Azam, sebuah coverstory mingguan TAKBIR menulis sesuatu tentang Salam yang lalu menyulut histeria nasional. Jika dulu sebelum kemerdekaan, Salam mengobarkan histeria nasional untuk prestasinya yang memecahkan rekor sejarah pendidikan Anak Benua India, kini, sesudah kemerdekaan, Salam membangkitkan histeria untuk tuduhan menjual rahasia nuklir Pakistan. Tampaknya iklim seperti ini pula yang memaksa Fazlur Rahman, pemikir muslim modernis terkemuka yang dihormati komunitas akademik internasional, harus hijrah ke Chicago dan tak pernah kembali.

Segenap kejadian yang buat orang lain bisa bikin mutung, patah arang itu, dihadapi salam dengan kepala batu. Kecintaan Salam pada ummat Islam Pakistan, pada ummat Islam sedunia, memang tak pernah pupus. Bahkan iman Salam pada islam, tidak kalah “buta dan mutlaknya” dibanding para pemboikotnya itu. Salam bukan saja menganggap islam sebagai inspirasi utama mencari hakekat terdalam kosmos fisik. Ia bahkan sekali waktu menganggap bahwa sains dan teknologi, dengan metode eksperimentalnya, bisa hadir di bumi semata-mata karena peradaban islam.

Salam memang agak sedikit berlebihan. Ia seperti sengaja ikut memandang sebelah mata pada metode eksperimental yang antara lain telah dirintis Aristoteles di Yunani. Dalam salah satu tulisannya “The Golden Age of Science in Islam: The Experimental Methode” Salam mengutip Robert Briffault yang ekspresionisme sejarah dan pandangan dunianya dengan jelas mengabaikan sumbangan peradaban Cina, India, Roma, Mesir Kuno dan peradaban-peradaban besar lain yang telah ikut menyusui sains dan teknologi. Kata-kata Briffault yang setengah meremehkan prestasi intelektual para pemikir Yunani, misalnya: “Orang-orang Yunani membuat sistematisasi, menggeneralisasi dan menyusun teori. Tapi cara-cara investigasi yang tekun, penumpukan pengetahuan positif, pencatatan metode sains, pengamatan panjang dan rinci, dan penyelidikan eksperimental, semua itu merupakan hal yang benar-benar asing bagi tempramen Yunani.”

Tapi mungkin Salam dapat dimaafkan—Ia bukan sejarawan, dan ia hanya mengutip orang lain. Lagipula, bisa saja penilaiannya yang agak selfish dan kurang seimbang itu, adalah satu cara untuk memprovokasi kesadaran ummat islam atas ketakterpisahan kemajuan peradaban Islam dan ummat manusia keseluruhan dengan penguasaaan sains dan teknologi. Obsesi terbesar Salam yang terus menghantuinya sepanjang hayat adalah penguasaan sains dan penciptaan pengetahuan ilmiah di dunia muslim.

Memang, ketika Eropa masih terlelap berkubang dalam jaman yang oleh Voltaire dihina sebagai Era Kegelapan, dunia islam selama tujuh abad berada di puncak tertinggi bangunan pengetahuan ummat manusia. Di bawah kekhalifahan Umayyah, Cordova di Spanyol dibangun sebagai kota ilmu yang menjadi kebanggaan bagi dunia beradab. Di Bagdag, Al-Makmun mendirikan Baitul Hikmah yang menjadi tempat bermuara dan bertarungnya seluruh pemikiran paling kreatif dari segenap penjuru dunia. Di bawah perlindungan para penguasa yang tercerahkan dan cinta ilmu, di tengah suasana merdeka dan liberal yang melepas bebas seluruh imajinasi dan argumentasi, para ilmuwan muslim dan non-muslim, arab dan terutama non-arab, bekerja menghasilkan pemikiran-pemikiran yang paling menentukan dunia pada saat itu, dan tetap meninggalkan pengaruh besar sampai sekian abad sesudahnya.

Di tengah suasana yang seperti itulah, diselang-selingi oleh gelombang kebangkitan ortodoksi dan formalisme yang tidak jarang merupakan mimpi buruk bagi para pemikir bebas dan pencari kebenaran, para ilmuwan Islam meletakkan dasar bagi revolusi besar kemanusiaan. Jamshid al Khasani menemukan teorema binomial dan dengan demikian mengantisipasi pekerjaan kalkulus Newton 700 tahun sebelumnya, terjemahan bahasa Latin Kitab Al-Syifa’ Ibn Sina diajarkan selama berabad-abad di universitas-universitas Eropa dan Ibn Rusyd diangkat menjadi salah satu filosof pertama Jaman Reformasi. Untuk mengokohkan kekuatan karya intelektual mereka, Al-Kindi, Jabir Ibn Hayyan, Alhazen atau Al-Biruni, menghidupkan metoda eksperimental. Metode kerja ilmu ini memang telah dikenal oleh Aristoteles, tapi tidak pernah menjadi metode kerja utama para pemikir besar Yunani baik sebelum maupun sesudah Aristoteles.

Metode yang kemudian menjadi dasar pembangunan sains modern ini, telah membawa dunia Islam pada puncak kegemilangan peradabannya. Beberapa ratus tahun kemudian, Roger Bacon yang dalam literatur sejarah ilmu pengetahuan modern disebut-sebut sebagai perumus metode kerja ilmiah, tanpa kenal bosan terus mengumandangkan bahwa pengetahuan tentang peradaban Arab (tepatnya Islam) dan tentang pengetahuan Islam, adalah jalan satu-satunya menuju pengetahuan sejati. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa sains modern sekarang ini, yang telah dikembangkan jauh oleh Barat, tak lain adalah sebuah benih warisan ummat manusia dengan porsi sumbangan terbesar datang dari Greko-Islam. Sains modern, pengetahuan rasional dan metode eksperimental, memang merupakan kontribusi paling monumental dari Peradaban Islam.

Tetapi kini, tak diragukan lagi bahwa dari seluruh peradaban di planet ini, sains menepati posisi yang paling lemah di dunia muslim. Ini memang merisaukan Salam, dan siapapun yang betul-betul peduli pada nasib ummat. Kelemahan ini berbahaya karena kelangsungan hidup suatu masyarakat pada jaman ini secara langsung tergantung pada penguasaannya atas sains dan teknologi. Tapi bukan hanya karena makin signifikannya sains dan teknologi, yang membuat Salam tanpa bosan mendorong penguasaan iptek. Juga bukan hanya karena perintah Tuhan dan Rasul-rasul-Nya kepada ummat manusia untuk Tahu. Yang paling menggangu Abdus Salam rupanya adalah rasa harga diri sebaga anggota dari komunitas internasional: Orang-orang islam harus menunaikan tanggung jawab dan membayar utang-utangnya atas manfaat yang telah diambil dari stok riset dan pengetahuan ilmiah yang telah dibangun Barat selama ratusan tahun terakhir.

Salam senantiasa teringat pada pertanyaan seorang pemenang Nobel fisika dari Eropa: “Salam, benarkah kamu berpikir bahwa kami di Barat, punya kewajiban untuk menolong, menyumbang, memberi makan dan menjaga kelangsungan hidup negara-negara yang tidak pernah ikut menciptakan atau sekedar menyumbang sejumput pun pada perbendaharaan pengetahuan kontemporer?”

Bagi Salam, sekalipun si Nobelis tidak pernah bertanya macam begitu, rasa harga dirinya tetap teriris-iris kala ia memasuki sebuah rumah sakit dan merenungkan betapa nyaris setiap obat mutakhir penyambung hidup, sejak dari pinislin sampai ke teknologi pembedahan otak, telah diciptakan dan dibangun tanpa andil ataupun input dari dunia muslim.

Jika dulu, sains berutang pada peradaban islam, maka kini ummat islamlah yang berutang pada sains mutakhir. Harga diri ummat Islam mengharuskannya untuk melunasi utang-utang itu. Lewat karyanya, Salam memang sudah menunjukkan, bahwa orang Islam masih sanggup membayar utang itu. Lagi pula, sudah ada sejumlah penguasa dan pemilik kekayaan dari negeri-negeri islam yang tergerak memberi perhatian lebih seksama terhadap pengembangan sains dan teknologi. Tapi sumbangan Salam dan perhatian para penguasa itu masih teramat belum memadai bila dibandingkan dengan besarnya utang-utang itu.

Salam sudah berangkat menuju Yang Esa di usia menjelang 71. Kita yang ditinggalkannya kini, hanya dapat bertanya, benarkah kita juga punya rasa harga diri religius, seperti rasa harga diri yang menggerakkan tokoh yang teramat dihormati oleh komunitas sains internasional ini? Yang pasti, penerima 40 lebih gelar Doktor Sains Honoris Causa dari 39 universitas/lembaga ilmiah dari 28 negara di seluruh dunia ini, telah menyatakan dengan tegas: harga diri suatu ummat kini tergantung pada penciptaan prestasi ilmiah dan teknologis. Harga diri itu, seperti yang telah dibuktikan oleh Salam sendiri bukan saja dapat mengangkat suatu ummat sejajar dengan ummat lain. Gerakan dan keikut-sertaan mencipta sains teknologi akan memberi kontribusi pada peningkatan harkat seluruh ummat manusia, tanpa melihat agama dan asal-usul kebangsaannya. Itulah rahmatan lil’ alamin..

***

Setengah bulan sesudah pemakaman Abdus Salam, di Jakarta pada 7-8 Desember 1996 lalu, berlangsung konferensi antar-bangsa dari International Islamic Forum For Science, Technology And Human Resources Development (IIFTIHAR). Acara besar dan langka ini dihadiri oleh 400 peserta dari 102 negara, melahirkan Deklarasi Jakarta dan Rencana Aksi. Di acara penutupan, didahului oleh seruan takbir dan penggebukan gong, BJ Habibie sebagai ketua pertama IITIHAR, disusul oleh Anwar Ibrahim — “birokrat ajaib” Malaysia yang mengutip Jose Ortega Y Gasset — menandatangani deklarasi. Lalu menyusul Presiden Islamic Development Bank Dr Ahmad Muhammad Ali, Sekjen Rabithah Alam Islami Abdullah bin Salem bin Obeid, Sekjen Lembaga Mukjijat Alquran dan Assunnah dalam Iptek Abdullah Musleh, Presiden Federasi Pendidikan Islam Internasional Dr Tawfik Al-Shawi, Presiden Lembaga Internasional untuk Pemikiran Islam Dr Ahmad Totonji, dan para peserta konferensi sebagai individu dan saksi.

Sehari sebelum deklarasi itu ditandatangani, berbagai percik pemikiran yang menarik bergentayangan di ruang-ruang diskusi komisi. Misalnya adalah ajakan untuk mewujudkan apa yang oleh penggagasnya seorang arab berjenggot merah disebutnya Islamic City Of Sciences. Kota ilmu ini, kata si Arab, bisa saja terletak di benua Eropa atau Amerika Utara, yang infrastukturnya lebih memadai. Kota ini merupakan pilot project bagi pembentukan kota-kota dan masyarakat yang menghidupkan sekaligus dihidupi oleh, kita sebut saja, islamosfir. Sebagai perwujudan dari islamosfir, ia terbuka bagi siapapun, muslim atau non-muslim: kota yang akan memberi arti nyata dan kreatif pada kata rahmatan lil’alamin.

Seorang utusan dari Malaysia mengajukan usulan lain. Setiap tahun, katanya, ada jutaan ummat islam dari seluruh penjuru bumi berkumpul di kota Mekah. Alangkah bagusnya membuat bazaar teknologidi kota suci itu, sehingga kaum muslimin sepulang dari sana tidak hanya membawa sajadah atau siwak, tapi terutama sekali adalah pemahaman akan ilmu-ilmu dan teknologi yang diperlukan di tanah airnya.

Kota Ilmu dan Bazaar teknologi di Mekah, hanyalah beberapa di antara gagasan cemerlang yang terlontar di forum IIFTIHAR. Meski tidak benar-benar revolusioner dan mencekam, tidak tersusun dalam sebuah bangunan rencana besar yang orisinal, ide-ide itu sangat menarik, apalagi bila diletakkan dalam situasi ummat islam seabad belakangan ini. Saya yang menyusup sebagai peninjau spontan, tiba-tiba merasa, andai saja Salam masih hidup, tentu ia kan tersenyum senang melihat hingar bingar itu. Saya bayangkan ia sejenak dapat mengatasi penyakit Parkinson yang merajam tubuhnya di usia senjanya. Apalagi kalau ia sempat memperhatikan betapa keberhasilan acara dunia muslim itu ternyata sangat ditopang oleh perempuan-perempuan muda yang pontang-pantimg di lapangan. Agak aneh—sebenarnya tidak juga—bahwa nama Abdus Salam sekalipun enggak pernah disebut-sebut di forum internasional itu. Bahkan kaum terpilih negeri-negeri muslim, juga bisa punya cakrawala ingatan lumayan pendek.

Tapi andai Salam hadir, sekalipun ia akan sangat antusias dengan acara besar dan langka ini, ia pasti akan sangat berhati-hati dengan retorika sejumlah peserta tentang proyek besar islamisasi sains. Ada sejumlah peserta memang yang tetap cukup terpukau dengan proyek besar itu, dan ikut menyeru pada ‘Sains Islam’ yang dimotivasi atas nama agama, dan bukan secara kultural-antropologis, apa pun maknanya. Bagi Salam, proyek besar itu, perlu dikaji secara lebih jernih. Itu proyek yang salah alamat, berlebihan dan bisa berbahaya. Mungkin saja proyek ini dilandasi niat luhur, tapi pemahamannya yang distortif terhadap hakekat, dinamika dan keterbatasan ilmu pengetahuan, dapat memarjinalisir ummat islam dari hiruk-pikuk pembangunan dan penciptaan sains. Tidak ada itu yang namanya sains Islam—sebagaimana tidak ada pula sains Hindu, sains Yahudi, sains Khong Hu Cu, serta sains Kristen—setidaknya secara epistemologis ilmiah Popperian. Hanya ada satu sains, dan itu adalah realisasi diri ummat manusia. Ia senantiasa tumbuh mekar dari problem dunia, bukan dari wishful thinking. Sains itu universal — tulis Salam dalam Pengantar buku menarik Pervez Hoodbhoy Science and Islam — fakta dan persoalannya mendunia.

Dengan segala ukuran yang diterima oleh dunia saat ini, rasanya adalah Abdus Salam yang paling tepat memimpin IIFTIHAR — forum Islam antar bangsa yang secara resmi menyatakan diri akan bekerja sama, mereformasi, dan mengembangkan Iptek dan sumber daya manusia untuk pembangunan serta kemajuan Muslim maupun seluruh manusia di dunia.. Dan jika itu terjadi, duet Salam-Habibie, ditopang oleh Anwar, Totonji, Obeid, dan segenap kekuatan dunia muslim, dapatlah kita berharap: dunia muslim, dalam waktu yang tidak terlalu lama, benar-benar bisa menjadi rahmatan lil’alamin. Tapi duet Salam-Habibie tentu mustahil. Dan benarlah apa yang pernah dikatakan oleh majalah terkemuka Scientist 20 tahun yang silam itu bahwa, dunia merugi karena Salam hanya dapat hidup sekali.

Alangkah baiknya, sebagai salah satu langkah mewujudkan cita-cita IIFTIHAR, selain mengembangkan warisan Salam seperti pranata-pranata keilmuan Dunia Ketiga, diciptakan institusi Abdus Salam Prize. Hadiah Salam, di samping Grant Salam, diberikan tiap jangka waktu, bisa tiap tahun bisa juga tiap lima tahun. Kategori hadiah itu bisa bermacam-macam, disesuaikan dengan realitas dunia dan tuntutan jaman baru. Sederhananya, hadiah-hadiah itu terbagi dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama berupa hadiah-hadiah buat yang paling berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan demi untuk ilmu pengetahuan itu sendiri. Kelompok kedua adalah hadiah-hadiah buat mereka yang paling berjasa bagi pengembangan dan penguasaan sains dan teknologi di dunia berkembang.

Tentang prestasi intelektual murni, posisi Salam sangat kokoh dalam sejarah pertumbuhan pengetahuan dunia. Salam berdiri sejajar dengan para raksasa dunia seperti ilmuwan Inggeris Newton yang menemukan hukum gravitasi universal pada 1687, ilmuwan Perancis Couloumb yang menemukan hukum muatan listerik pada 1770, fisikawan Skotlandia James Clerk Maxwell yang menyatukan gaya elektrik dan gaya magnetik pada 1870-an, fisikawan Jepang Hideki Yukawa yang memergoki hukum yang mengatur gaya nuklir kuat pada 1935, dan dengan ilmuwan kelahiran Italia yang juga Bapak reaktor nuklir Enrico Fermi penemu gaya nuklir lemah dan peraih Nobel Fisika 1938.

Sejak munculnya sains dan teknologi sebagai kekuatan terbesar pengubah sejarah, tak ada seorang cendekiawan pun—yang secara sadar dan metodis telah bekerja mati-matian menjadikan sains dan teknologi dapat dikuasai oleh sebanyak-banyaknya ummat manusia—yang bisa menandingi Salam. Di bidang yang paling menetukan masa depan ummat manusia, yang paling mempengaruhi keadilan dan kelangsungan kehidupan bersama ini, kontribusi Abdus Salam tak tertandingi oleh genius mana pun, tidak oleh Albert Einstein, apalagi oleh Stephen Hawking.

Cat minyak, Anthony Morris

Cat minyak, Anthony Morris

Kiprah Abdus Salam yang sekali waktu pernah menyebut dirinya hanya sebagai penerus para ilmuwan muslim seribu tahun yang silam—pernyataan ini salah: dalam diri Salam, di samping muncul sosok ilmuwan agung seperti Avicenna atau Albattani, juga tampil figur kenegarawanan Nizamul Mulk, pencipta dan penyebar luas institusi madrasah yang telah ikut memberi peradaban islam kekuatan yang tak tertandingi di masa kegemilangannya—memang dapat menyambungkan kembali semesta kognitif dunia muslim ke masa silam yang sangat jauh. Dan itu bukan saja ke masa ketika ketika peradaban leluhurnya memimpin dunia di jaman keemasannya, tapi juga ke masa-masa kelahiran dan pertumbuhan alam semesta fisik. Tetapi, lebih dari penyambungan ke akar masa silam itu, karya Salam telah memberi pada ummat manusia, bukan hanya kaum muslim, sehimpun perbuatan, serentetan institusi, sebentang wawasan akbar dan bekal yang luar biasa untuk merayakan, memenangkan dan mensyukuri masa depan yang terentang sangat jauh. Dan itu bukan hanya untuk masa abad-abad awal millenium ketiga yang tengah dijelang dunia.***

1996-1997

Nirwan Ahmad Arsuka

Versi awal nan ringkas tulisan ini  terbit di KOMPAS, Jumat  29 November 1996

Bahan Bacaan:

Internet site, Dr. Abdus Salam http://www.alislam.org/pakistan/salam.html.

Abdus Salam, Cooperation for Development dalam World Science Report 1993, UNESCO Publishing.

Arthur Beiser, Konsep Fisika Modern, terj: The How Liong (Jakarta: Erlangga, 1983)

Nigel Calder, Man of Science — Abdus Salam, dalam Timothy Ferris (ed.), The World Treasury of Physics, Astronomy and Mathematics (USA: Little, Brown & Company, 1991)

One Response to “Fisika Partikel”

  1. ihyal Says:

    Makasih atas blognya, kalau bisa ilmuwan fisika muslim yang lainnya juga ditag


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: