Film

September 22, 2008

Aborsi Kultural

Perempuan tampaknya memang punya sensibilitas tertentu yang nyaris mustahil dimiliki pria. Terutama jika berkaitan dengan kehidupan manusia yang tersisih, khususnya  ketersisihan perempuan, kanak-kanak dan kaum lanjut usia. Marziyeh Meshkini, perempuan asal Iran yang menjadi sutradara, menegaskan hal ini, dengan sangat bagus, dalam film The Day I Became a Woman.

Film yang dirilis pada 2001 ini berisi tiga cerita yang tampak saling lepas, tetapi disatukan oleh jenis kelamin tokoh-tokoh utama dan tempat berlangsungnya kisah. Cerita pertama berpusar pada Hava, gadis kecil yang namanya mengingatkan orang pada sosok yang dianggap sebagai ibu semua manusia, dan pada kata eve yang berarti fajar. Dalam waktu satu setengah jam, Hava akan memasuki usia sembilan. Di banyak tempat di Iran, usia sembilan adalah usia di mana seorang gadis kecil menjadi perempuan. Dan menjadi perempuan berarti memperoleh sejumlah kewajiban-kewajiban baru sekaligus kehilangan banyak hal-hal berharga. Begitu berharganya hal-hal itu — setidaknya bagi Hava — ia merengek dan ngotot memanfaatkan waktunya yang tersisa sebagai kanak-kanak, waktu 90 menit yang terus menipis itu, untuk mengalami lagi hal-hal berharga itu terakhir kalinya. Adapun hal-hal yang berharga itu, tak lain adalah main di jalanan bersama anak laki-laki, sambil dengan sangat asyik dan hangat berbagi permen dan asinan.

Cerita kedua adalah tentang Ahoo, perempuan muda yang penuh tekad, yang ikut dalam kompetisi balap sepeda. Kakinya baru saja cidera, tetapi ia tetap mengayuh pedal sepedanya, dengan cadar hitam yang tak pernah dibiarkan lepas dari kepala dan tubuhnya. Masalahnya adalah bahwa selama ia mengerahkan jantung dan kakinya, seorang lelaki yang ternyata adalah suaminya, terus mengejarnya dari atas punggung kuda, memaksanya untuk menggugurkan diri dari kompetisi. Sang suami bahkan mengancam akan menceraikan Ahoo, jika ia terus saja mengayuh sepeda sportnya yang bermerek Olympia itu. Tak cukup dengan mengancam cerai, sang suami kemudian menghilang untuk kemudian muncul dengan segerombolan lelaki, semuanya berkuda. Mereka adalah ulama setempat dan ayah serta saudara-saudara Ahoo sendiri. Semuanya mengancam dan mengecam Ahoo yang sudah berada sendirian di barisan paling depan, meninggalkan saingan-saingannya di belakang. Para lelaki itu akhirnya merampas sepeda Ahoo, benda yang oleh sang ulama disebut sebagai hasta karya setan.

Jika pada cerita pertama dan kedua, tokoh utamanya adalah anak-anak dan seorang perempuan muda, cerita ketiga bertutur tentang kisah seorang nenek. Teknologi transportasi yang menjadi latar cerita juga berubah dari teknologi paling primitif yakni kaki di cerita pertama, lalu sepeda di cerita kedua, dan akhirnya kapal terbang di cerita terakhir ini. Sang nenek, juga seorang yang bertekad besar, turun dari pesawat berbekal setumpuk uang yang ia warisi. Ia berniat membelanjakan uang tersebut untuk mendapatkan segala hal yang belum pernah ia punya di masa mudanya, di masa ia masih miskin. Ketika segala barang modern perangkat rumah tangga itu sudah terbeli, sang nenek bernama Hoora itu lupa pada satu jenis barang. Daya ingatnya yang melemah, menggagalkan cita-citanya untuk memiliki barang lengkap. Dan bukan hanya ingatan yang melemah yang menggagalkannya mewujudkan segala keinginan terakhirnya — termasuk keinginan untuk punya anak yang bisa ia banggakan. Sang nenek akhirnya pergi dengan barang-barang yang dimuatkan pada drum-drum minyak (lambang kekayaan alam Iran) yang dijadikan rakit dengan kain cadar (lambang warisan kultural Iran) sebagai layarnya. Sebuah peradaban tua yang telah menampik dunia  mutakhir karena terlalu kukuh pada nilai-nilai tradisionalnya akan menghilang di cakrawala membawa harapan dan kekecewaanya sendiri.

Seperti halnya perkebunan dan pertamanan, kebudayaan (kultur) manusia adalah cerita tentang pengendalian, agar buah dan bunga bisa tumbuh seindah mungkin. Adapun hal-hal yang tak bisa dikontrol, termasuk buah dan bunga yang mungkin saja bisa sangat indah tetapi belum dikenali dengan baik, akan dilemparkan sejauh mungkin dari petak kebudayaan. Dalam masyarakat patriarkis, keputusan tentang buah dan bunga yang dirawat ditentukan oleh kekuasaan lelaki. Bunga dan buah yang dianggap tidak menguntungkan lelaki akan segera digugurkan dan dibuang sejauh-jauhnya. Tak jarang kekuasaan lelaki ini begitu kuat dan begitu halus sehingga diterima sebagai kebenaran bukan hanya oleh kaum lelaki tetapi juga oleh kaum perempuan. Akibatnya, kaum perempuan bisa jadi malah lebih patriarkis dari kaum lelaki sendiri.

Melihat kisah Hava, saya teringat pada sebuah filem lain dengan tokoh utama seorang gadis kecil, Flay Away Home (1996). Film dengan sutradara Caroll Ballard ini, berkisah tentang Amy yang berusia 12, yang dengan pesawat ultralight memimpin serombongan angsa liar bermigrasi melintasi jarak 1000 km dari Ontario, Kanada ke Pantai Valhalla, Carolina Utara, Amerika Serikat. Kisah Amy memang rekaan, tetapi film itu berangkat dari sebuah peristiwa nyata bernama Migration Operation. Operasi ini telah berhasil memimpin serombongan burung berpindah mengikuti jalur yang telah ada sejak jutaan tahun yang silam. Ringkasnya, di Kanada seorang gadis kecil sungguh punya peluang untuk melakukan hal-hal besar, dan hambatan yang menghadangnya hanyalah hambatan yang fisik yang masih mungkin diatasi. Di negeri-negeri muslim seperti Iran, setidaknya dalam film Meshkini, kemungkinan seorang gadis kecil melakukan hal-hal besar sudah mengalami aborsi sejak lama, sejak ribuan tahun, dan hambatan yang dihadapinya adalah hambatan metafisik yang mustahil dilampaui.

Aborsi itu diperlihatkan Meshkini lebih telanjang pada cerita tentang Ahoo — nama ini berarti Gazelle, binatang yang terkenal sangat lincah kakinya, tetapi yang selalu menjadi buruan rombongan hewan buas, bukan hanya singa dan hyena.  Dalam kasus Ahoo, yang terjadi sesungguhnya bukan lagi tentang kebudayaan yang melakukan aborsi. Yang terjadi di sana adalah pembunuhan dari sebuah kesempatan yang sudah mewujud. Dikejar oleh rombongan lelaki berkuda —sebagian bertelanjang dada dengan kepala kotor yang penuh misai dan surai Ahoo dengan mengharukan jadi alegori tentang hidup muda yang dimangsa para predator.

Aborsi kultural, pengguguran kesempatan-kesempatan besar yang dilakukan atas nama kebudayan, agama dan peradaban, terjadi bukan hanya di Iran, tentu. Aborsi yang dilakukan karena pengetahuan yang cacat itu, selain membunuh banyak kesempatan ketika masih dikandung, juga bisa membuat banyak orang tetap tak sanggup mewujudkan harapan-harapannya sekalipun kesempatan itu sudah tiba. Itulah yang terjadi pada nenek tua yang mendadak kaya raya di cerita ketiga.

Patriarki memang bisa bekerja begitu kuat dan dahsyat sehingga upaya mengangkat derajat perempuan bukan lagi sekedar perjuangan yang menghadapkan perempuan dengan lelaki, tetapi juga antara perempuan dengan perempuan lainnya. Konflik antar perempuan ini, seperti ditunjuk oleh Meshkini, terjadi sebagai sebuah konflik antargenerasi. Jelasnya, konflik antara generasi perempuan yang sudah terlalu jauh tercengkram patriarki sehingga sudah menganggapnya sebagai sebuah keniscayaan, dengan kaum perempuan yang lebih muda yang sudah lebih terdidik. Menghadapi kenyataan seperti ini, Meshkini menawarkan jalan keluar yang simpatik: biarkan generasi yang lebih tua berlalu dengan segenap martabatnya, dan siapkan generasi baru dengan segala kemungkinannya. Dalam menyiapkan generasi baru itu, warisan tradisi negeri sendiri adalah bahan yang sangat berharga, tetapi yang mesti diolah dulu sebagaimana orang mengolah lumpur minyak mentah.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Versi awal dimuat di Majalah Azzikra, edisi Mei 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: