Arsitektur

September 14, 2008

Simetri

Di tahun 1829 itu, musim semi sedang membentangkan diri di Semenanjung Iberia. Bersama seorang pangeran Rusia yang bertugas di Kekaisaran Persia, dan kebetulan sedang berada di kedutaan Rusia di Madrid, penulis Washington Irving bertamasya ke kawasan berbukit Spanyol Selatan. Mereka berdua memuaskan indra menyerap segala hal yang terbentang di antara Seville dan Granada, di sebagian wilayah yang secara umum disebut Andalusia — kata yang berasal dari Bahasa Arab yang konon berarti “menghijau di penghujung Musim Panas”. Tak akan mengherankan jika tamasya itu menyeret mereka terbawa ke sisa peninggalan peradaban muslim yang pernah tegak di semenanjung itu selama tujuh abad.

Sketsa tesselasi Alhambra Maurice C Escher

Peninggalan fisik paling memukau dari peradaban itu tentu saja adalah kompleks bangunan Istana Alhambra, yang tak lagi utuh dihantam sejarah dan gempa. Napoleon pernah ingin meledakkan istana yang juga berfungsi sebagai benteng itu. Namun, perwira yang diberi perintah peledakan, pada saat terakhir menolak melaksanakan perintah itu. Sang perwira agaknya melihat bangunan itu bukan ancaman, tapi berkah yang harus dilindungi dengan segala taruhan.

Restorasi Istana Alhambra mulai dilaksanakan pada 1828 oleh arsitek Jose Contreras, dan kelak diteruskan oleh anak dan cucunya. Di tengah proses awal restorasi tiga generasi itulah, Washington Irving melangkahkan kaki memasuki kompleks istana yang tampak merana. Yang ditemukan Irving di balik tembok merah Alhambra, ternyata bukanlah sekedar bongkahan disain dan arsitektur monumental yang dibangun enam abad sebelumnya. Yang terbentang di sana adalah sebuah kosmos yang tersisa dari jaman yang lain: jaman ketika wilayah itu menjadi kawasan paling menakjubkan dan paling tercerahkan di seluruh permukaan Bumi. Empat tahun setelah Irving memasuki Alhambra, pada 1832, terbit naskah yang kemudian ikut mengukuhkan kemasyhuran Irving dalam sejarah sastra Amerika: Tales of the Alhambra.

Seratus tahun kemudian, pada 1926, seorang seniman Belanda mengunjungi Alhambra dan takjub berhari-hari, bahkan bertahun-tahun, melihat tesselasi arabesk di dinding, jendela dan hamparan lantai. Seniman itu, Maurits Cornelis Escher, dengan suntuk membuat sejumlah sketsa, yang kelak menjadi benih dari karya-karya grafis yang paling mencengangkan di Abad ke-20. Karya-karya Escher yang berdasar pada pola-pola matematis dan tumbuhan yang berulang, dan disain a la Arab yang rumit, itu tak cuma melambungkan nama seorang pegrafis raksasa. Jika Istana Alhambra adalah gerbang sejarah bagi Irving untuk memasuki mikrokosmos masa silam, maka bagi Escher, istana itu adalah gerbang yang menyedotnya habis-habisan menjelajahi imajinasinya sendiri, mengeksplorasi simetri dan ketakterhinggaan.

Penjelajahan intens Escher itulah yang kemudian membuatnya sanggup melahirkan sejumlah karya yang menghadirkan “obyek-obyek mustahil” yang memiliki bentuk dan logika ruangnya sendiri. Ide visual Escher terbentang dahsyat pada bidang gambar yang terisi bentuk-bentuk yang — seperti arabesk — terpola secara sistematis, serba terukur, dan saling sambung, dengan pencitraan perspektif yang sarat “ilusi optik.” Karya-karya tersebut diakui memamerkan pencapaian imajinasi artistik yang dalam beberapa hal mendahului imajinasi ilmiah. Perjalanan Escher ke Istana Alhambra dan arsitektur peninggalan Islam lainnya di Andalusia, membuatnya menciptakan karya yang bergerak memasuki kawasan pengetahuan baru, yang sampai kini masih menantang pikiran para pengembang matematika visual, geometri non-Euclidean, kristalografi dan topologi.

Perwira Perancis yang menampik perintah Napoleon, dan Jose Contreras yang memulai restorasi Alhambra, tentu tak pernah membayangkan bahwa tindakan mereka telah memungkinkan lahirnya sejumlah karya literer dan artistik yang menakjubkan. Namun, yang lebih tak terbayangkan buat mereka adalah fakta bahwa hampir dua ratus tahun kemudian, bangunan-bangunan indah dan bersejarah tetap bisa ditelantarkan, bahkan diledakkan, oleh manusia. Apapun alasan yang berdiri di belakangnya, peledakan Masjib berkubah emas Al-Askari di Kota Samarra, seperti halnya peledakan patung raksasa Budha yang dipahat pada tebing karang Lembah Bamiyan, adalah vandalisme besar yang meremukkan hati mereka yang peduli merawat kebudayaan dan peradaban. Vandalisme terjadi bukan hanya di wilayah yang bergolak. Sebagian besar perusakan bangunan bersejarah terjadi secara diam-diam dan dalam masa damai, dan perusakan terbesar agaknya memang terjadi dalam wilayah kaum muslim.

Pakar arsitektur Islam Sami Angawi, menurut CNSNews, menyebutkan bahwa paling tidak 300 bangunan penting dalam sejarah Islam telah diratakan di Mekkah dan Madinah dalam lima puluh tahun terakhir. Di antara bangunan bersejarah yang dihancurkan itu adalah rumah tempat Aminah melahirkan putranya yang kelak menjadi Rasulullah SAW. Sebuah rumah lain, yang menjadi tempat tinggal Muhammad sampai ia berusia 29 tahun, menurut rencana juga akan dilenyapkan. Penghancuran itu jangan-jangan sudah terwujud.

Yang pasti, bagunan-bangunan bersejarah yang “Alhamdulillah” sudah sukses diremukkan antara lain adalah rumah pertama dalam sejarah Islam, yakni rumah yang menjadi tempat Rasul melaksanakan pertemuan rahasia dengan para lapis pertama ummat Islam. Rumah ini diratakan di dekade 1980-an. Beberapa rumah Rasul di Madina yang menjadi hunian Rasul selama tahun terakhir hidupnya, juga sudah berhasil dienyahkan. Masjid Al-Fadik di Madina yang dibangun dalam masa hidup Rasul, dihancurkan pada Juli 2003. Masjid Ali Al-Oraidi di Madinah yang sudah berusia 12 abad, diremukkan pada 2004.

Barangkali bangunan-bangunan ini tak punya nilai artistik dan kultural yang sekaya Istana Alhambra. Namun jelas bangunan-bangunan itu punya nilai sejarah yang sangat penting. Dari bangunan-bangunan itulah terbentuk gerakan yang memberi martabat pada manusia, bukan hanya pada kaum Arab yang tertindas — gerakan yang kelak ikut mengubah wajah dunia. Namun, paham tertentu yang berkembang dalam Islam, bekerja sama dengan kapitalisme kasar para pengembang properti, telah melibas bangunan-bangunan itu.

Kaum Wahabi melihat pelibasan bangunan-bangunan bersejarah itu akan mencegah ummat Islam menjadi kaum musyrik yang memuliakan tempat-tempat dan bangunan, sementara kaum pengembang properti melihat peluluhlantakan bangunan-bangunan tua itu sebagai awal pembangunan hotel-hotel dan apartemen yang  secara material jauh lebih menguntungkan. Kedua kaum ini, bersama kaum lain yang tak keberatan pada peremukan bangunan-bangunan bersejarah, agaknya memang tak sanggup membayangkan betapa penghancuran itu tak hanya menghilangkan sejumlah bangunan yang mungkin sudah melapuk secara fisik. Penghancuran itu juga melenyapkan banyak sumber ilham yang kelak sanggup menyumbang perbendaharaan pengetahuan dan peradaban manusia.

Yang terbentang dari peluluhan tempat-tempat bersejarah di wilayah kaum muslimin adalah sebuah simetri yang ironis: sebuah khazanah yang luar biasa kaya, yang ditelantarkan bahkan dimusnahkan oleh orang-orang muslim sendiri, tapi yang justeru diselamatkan dan dimuliakan oleh sejumlah seniman dan ilmuwan bule yang kerap dianggap kafir dan terkutuk.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di Majalah Azzikra, edisi Mei 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: