Sastra

September 13, 2008

Raoul dan Puisi

Auditorium GoetheHause, Jakarta, malam 28 September 2006 itu mendadak terasa lebih luas ketika aktor Arswendy Nasution mulai membacakan cuplikan terjemahan novel Raoul Schrott, Gurun Lop Nor. Citra-citra pantai dan bukit, kota tua dan pelabuhan, gurun pasir yang mengeluh dan kuil keramat yang dipahat di tebing, muncul menari-nari dari pembacaan itu, membuyarkan tembok ruang auditorium yang setengah gelap, dan menautkannya dengan dunia luar yang jauh lebih luas.

Tiga jam sebelumnya, sensasi yang mirip berlangsung di ruang pameran yang bersisian dengan auditorium, yang saat itu dijadikan tempat diskusi terbatas. Dikitari oleh sekitar 20an perserta diskusi, Raoul memaparkan pandangan dia tentang hakekat puisi, tentang asal-usul rima, tentang daya pukau kata dalam menghadirkan citra yang menggiring tindakan manusia. Selain menyentuh problem alih bahasa karya sastra, Raoul juga menyinggung problem bahasa yang melingkupi fisika modern. Pemaparan Raoul itu seakan sebuah tamasya yang menerobos tembok waktu, dan membuat peserta diskusi kembali menengok fajar kelahiran puisi 4000 tahun yang silam, hingga ke pergulatan mutakhir puisi yang meletakkannya pada satu tataran yang sama dengan mekanika kuantum.

Raoul Schrott jelaslah sastrawan cemerlang yang hidup dan karyanya adalah kisah tentang pelintasan batas, yang tak canggung berada di tengah bangsa, bahasa dan budaya yang beraneka. Penyair berusia 42 ini dilahirkan di Brasil, dibesarkan di Tunisia dan menetap di Pulau yang melahirkan sejumlah sastrawan puncak abad 20: Irlandia. Dianggap sebagai salah seorang sastrawan berbahasa Jerman terpenting saat ini, Raoul menggemparkan negeri yang tak cuma memiliki Goethe, Schiller dan Holderlin itu dengan kompendium “Die Erfindung der Poesie / Gedichte der ersten viertausend Jahre” (The Invention of Poetry / Poems from the First Four Thousand Years). Kerja Raoul mencari dan menerjemahkan puisi dari berbagai penjuru Bumi yang dihasilkan selama kurun waktu empat milenium itu tentu saja merupakan kerja yang besar. Kerja itu ikut menyelamatkan sebagian masa kanak-kanak peradaban, masa pertumbuhan dan pergulatan kebudayaan manusia.

Selain sebagai novelis dan penerjemah yang berwibawa, Raoul yang sudah mengunjungi Indonesia 3 tahun yang silam itu, disegani juga sebagai ilmuwan, penyair, esais dan penerbit. Setelah antara lain menerjemahkan karya Derek Walcott dan mengadaptasi epik tertua yang dikenal manusia, Gilgamesh, Raoul kini tengah menerjemahkan ulang Homeros. Doktor filsafat yang menguasai sejumlah bahasa yang sekarang terdengar antik itu, memang punya kedudukan istimewa dalam melihat puisi dan bahasa. Dalam kerja Raoul, kita bisa lebih takzim menyambut puisi yang hidup di dalam bahasa, tetapi sekaligus lebih tua dari bahasa-bahasa manusia: hal yang membuat penerjemahan menjadi sesuatu yang mungkin, meski tak selalu mudah. Menerjemahkan adalah membuat puisi meniti, menari, dari satu bahasa ke bahasa yang lain, bukan mengerangkeng puisi itu dengan aturan bahasa yang kaku. Puisi besar agaknya memang bukan sesuatu yang manusia (bisa) datang kepadanya seenaknya. Puisi besar itulah yang mendatangi manusia, yang akan menjadi sahabat yang awet jika manusia lebih dahulu menyambutnya dengan hamparan permadani penguasaan bahasa yang gemilang.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Terbit juga di situs Goethe-Institut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: