Sastra

September 13, 2008

Jarum

Di negeri yang tampak mengalami sejenis kelumpuhan imjinasi dan kebuntuan daya tindak, sepotong cerita mungkin memang bisa berfungsi sebagai jarum akupunktur.

Konon, di tangan seorang yang piawai, jarum-jarum yang ditusukkan ke titik-titik tertentu pada tubuh manusia, dapat membawa akibat menakjubkan. Aliran energi yang tersendat dan keseimbangan tubuh yang terganggu, sampai batas tertentu bisa dibereskan oleh tusukan-tusukan itu, dan tubuh yang sakit bisa kembali memulihkan dirinya, sebagian atau seluruhnya.

Bagi sejumlah pembaca Putu Oka Sukanta, sastrawan yang juga seorang tabib akupunktur, beberapa bagian dari cerita yang terkumpul dalam buku ringkas mungil ini mungkin akan terasa seperti jarum, yang tusukannya dapat mengalirkan semangat yang membuat tangan kembali mengepal. Cerita “Bukan Kematian” yang dipilih menjadi judul kumpulan prosa pendek ini berkisah tentang suasana perkabungan seorang aktivis HIV/AIDS yang baru saja meninggal, antara lain karena dedikasi dan perjuangannya yang melebihi takaran normal — hal yang membangkitkan hormat yang tulus di antara kawan-kawannya. Cerita yang disusun dengan ingatan kepada Suzana Murni ini berupaya menyampaikan pesan bahwa tindakan-tindakan berani yang disertai pengorbanan, meskipun akan berujung pada maut, niscaya akan membebaskan orang dari kematian yang nista. Kematian yang tiba bahkan dianggap sebagai “perjalanan lebih lanjut ke dunia baru”.

Bagian yang bisa menusuk muncul juga pada cerita “Tiga Pasang Air Mata”. Cerita pendek ini menghadirkan tiga tokoh yang jadi korban dari malapetaka politik paling kelam dalam sejarah modern Indonesia. Kendati mereka tak terlibat dalam peristiwa yang “dipicu” oleh pembunuhan sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat, namun mereka terseret menerima akibat yang sangat berat dari peristiwa berdarah itu. Dengan cara mereka sendiri, ketiga orang itu berupaya menghadapi “hukuman” berat yang menistakan yang ditimpakan secara sewenang-wenang, dan dari sana berupaya menegakkan harga diri mereka.

Pada cerpen “Ia Menangis di Depan Televisi”, pembaca akan bertemu dengan seorang mantan anggota veteran yang ditolak oleh negaranya hanya karena sang pejuang tak sanggup menolak sebagian darah dagingnya: keponakannya. Akibat uluran bantuan yang diberikan kepada keponakan yang kebetulan jadi anggota PKI, si pejuang tua yang lihai berkisah dan tangkas menyindir itu, kelak mengalami banyak hal yang bahkan lebih pahit dari pencabutan keanggotaan veteran. Di usianya yang lewat sepuluh windu, di hari-hari tertentu di mana bendera merah putih kembali dikibarkan, Pak Tua itu masih berupaya mengenakan topi lusuh yang dikenakannya ketika bergerilya. Dengan susah payah, Pak Tua itu membaringkan tubuhnya yang melengkung seperti ladam, dan mungkin bermimpi tentang kematian: mungkin mimpi buruk tentang kematian kawan-kawan seperjuangannya yang terlibat PKI di mana ia ikut “memperlancar” eksekusinya; mungkin juga mimpi indah tentang kematian dirinya yang ia harapkan dapat segera tiba, dan membuatnya bisa bergabung kembali dengan orang-orang yang dicintainya, termasuk teman-teman seperjuangannya yang telah lebih dulu gugur dalam perang mempertahankan republik.

Sejumlah cerita di kumpulan ini memang bisa lebih menusuk andaikan saja diasah sungguh-sungguh dengan editing yang cermat, dengan kesadaran bahwa kata-kata yang diperlakukan dengan lebih hikmat, dapat memancarkan energi yang sanggup melumat. Kata-kata yang tampak sepele, bisa seperti sabun colek dan garam dapur, yang jika dengan hati-hati disenyawakan antara lain dengan asam nitrat, dapat menjadi bom nitrogliserin yang punya daya ledak menakutkan. Kalangan tertentu mungkin akan mengatakan bahwa kekurang-tajaman pada sejumlah cerita Putu Oka Sukanta adalah konsekwensi dari kebiasaan buruk menjadikan cerita sebagai juru bicara pandangan politik/ideologi yang disungkupkan dari luar — menjadikan kata sebagai sekedar instrumen pembawa pesan.

Mereka yang tak keberatan, bahkan cenderung tergugah, jika kata, jika cerita, bisa menjadi “wadah”, menjadi mitra, dari semangat filosofis atau pandangan dunia tertentu, mungkin akan melihat bahwa problem yang sesungguhnya berakar bukan pada niat penulis menjadikan cerita sebagai pernyataan pandangan politik atau filsafat yang diperjuangkannya. Problem yang sesungguhnya adalah bahwa bahkan ketika kata diperlakukan sebagai kuli, sebagai buruh yang disuruh mengangkut maupun membongkar gagasan-gagasan besar, penulis seringkali memandang remeh kekuatan kata. Kata-kata tak pernah sungguh-sungguh dipahami kekuatan tersembunyinya, sehingga untuk menyampaikan sebuah gagasan, penulis seperti ini bisa dengan lumayan boros menggunakan begitu banyak kata, dengan tata kalimat yang cenderung lalai. Tokoh cerita yang kerap juga bertindak sebagai narator, tampak tak berupaya menahan diri untuk tak menjadi “bising”. Dialog yang mestinya bisa mengatakan lebih banyak dari apa yang diucapkan, kadangkala jadi monolog mekanis dengan daya gugah minimal yang dituturkan sambung-menyambung oleh para tokoh.

Di sebuah negeri yang masih tak sanggup sepenuhnya membongkar habis masa silamnya yang kelam, yang masih saja mampu menyingkirkan warganya secara semena-mena ke kelas yang tak lagi pantas dihuni, cerita-cerita seperti yang disusun oleh Putu Oka Sukanta ini adalah cerita yang tentu punya nilainya sendiri. Yang menyenangkan adalah bahwa kini makin banyak penulis yang terus mengangkat soal-soal yang serupa, dan menatanya dengan ketajaman yang bisa memberi bekas yang dalam. Contoh terakhir dari cerita seperti ini, agaknya adalah cerita pendek Puthut EA, “Retakan Kisah”, yang muncul bulan lalu di Kompas, edisi 03/19/2006. Cerita-cerita semacam ini, baik yang disusun dengan kata maupun yang ditata dengan citra, memang bisa ikut membantu sebuah bangsa menembus berbagai kebuntuan radikal dari ingatan dan tindakan: kebuntuan yang membuat sebyah bangsa tampak tetap bekerja, namun tak bergerak maju bahkan tak jarang melangkah surut.

Di sampul belakang buku kumpulan cerpen yang disebarkan oleh Penerbit Ombak ini, tertera kalimat, “Menulis adalah perjuangan untuk hidup.” Di awal abad 21 ini, pernyataan seperti itu mungkin bisa sekilas terdengar bombastis, sensasional. Tanpa menulis pun, orang tetap saja bisa hidup, bahkan mungkin hidup dengan lebih gemerlap, lebih berkelimpahan. Tapi memang, dengan menulis, orang bisa menautkan diri dengan semangat yang juga telah melahirkan sastra modern — semangat membangun dan memperluas ruang di mana orang akhirnya sanggup mengulurkan maaf dan solidaritas bukan hanya kepada mereka yang berhak menerimanya, tapi juga pada mereka yang oleh sejarah dianggap tak pantas mendapatkannya. Agaknya ini mirip dengan semangat membangun dunia di mana Idul Fitri hadir secara permanen, dan sebab itu tak perlu lagi gema takbir yang bertalu-talu sepanjang waktu.

Selain kesadaran mendalam atas bahan, dan penjelajahan habis-habisan atas bentuk, yang membuat sastra modern menjadi modern memang adalah: dorongan untuk membangun ruang imajiner di mana — meminjam rumusan Milan Kundera — tak seorangpun memegang kebenaran yang mutlak (termasuk sang pengarang/pencipta sendiri), namun setiap orang punya hak untuk didengar dan dipahami. Dan mereka yang berhak dipahami itu tentu saja termasuk orang-orang yang selama ini dengan gigih dibela terus oleh para seniman dan pengarang seperti Puthut EA dan Putu Oka Sukanta.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di majalah Azzikra, edisi April 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: