Nalar dan Iman

September 9, 2008

“Dialog Dua Anak Haram”

Pengantar

Galileo Galilei adalah nama yang tegak menjulang dalam dalam sejarah ilmu pengetahuan. Albert Einstein menyebutnya sebagai Bapak Fisika Modern, bahkan Sains Modern, sebagaimana yang kita kenal sekarang. Begitu menjulang nama ini, sejak 18 Oktober 1989 ia melambung melewati atmosfir bumi dan masuk ke keluasan antariksa, menjadi nama yang setingkat dewa-dewa Yunani Purba yang menguasai kosmos: nama Galileo menempel pada pesawat angkasa luar milik NASA yang menjadi penyelidik langsung Planet Yupiter dan satelit-satelitnya.

Potret Galileo oleh Justus Sustermans

Hampir 400 tahun yang lalu, Galileo Galilei adalah nama yang miring, bagaikan Menara Pisa. Paling tidak, demikianlah yang terlihat di mata sejumlah pejabat tinggi pada Dinas Suci Inkuisisi Gereja Katolik. Otoritas tertinggi Gereja Katolik bahkan ingin meruntuhkan nama yang miring itu, menghapuskannya dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Semua ini terjadi karena ilmuwan yang juga menulis puisi dan kritik sastra ini menyuarakan sebuah pandangan yang waktu itu dianggap sebagai sebuah kekafiran besar yang akan merusak aqidah ummat: pandangan bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta, dan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, dan bukan sebaliknya.

Pandangan kosmologis “kafir” yang dikenal juga sebagai sistem heliosentris itu, sudah dipikirkan orang lebih dari dua ribu tahun yang silam dan diajukan antara lain oleh Aristarchus dari Samos (kl 310-230 SM). Karena sejumlah hal, khususnya ajaran Aristoteles dan Kitab Suci yang mengunggulkan sistem Geosentris yang dirumuskan Ptolemeus dalam buku terkenalnya, Almagest, sistem heliosentris ini hilang dari dunia pengetahuan manusia. Sistem kosmos yang berpusat surya ini, kita tahu, muncul kembali di Eropa Renaisans lewat pemikiran biarawan Nikolaus Kopernikus (1473-1543). Sistem ini ia sajikan dalam kitab yang ia persembahkan untuk Paus Paulus III, De Revolutionibus Orbium Coelestium (“On the Revolutions of the Celestial Orbs”), yang terbit di Nuremberg pada tahun terakhir kehidupan Copernicus, 1543. Kelak pandangan ini dikukuhkan oleh Johannes Kepler (1571-1630) yang mengajukan sejumlah Hukum Gerak dan Orbit Benda-benda Langit. Galileo mencoba menandaskan kebenaran sistem heliosentris dengan menggunakan teorinya sendiri yang ia anggap lebih kokoh.

Dalam sepucuk surat bertanggal 4 April 1597, Galileo mengaku bahwa sejak beberapa tahun silam ia sudah tahu betapa bumi bergerak mengitari matahari, bahwa sistem Kopernikan “lebih mendekati kenyataan daripada pandangan lain yang dikemukakan Aristoteles dan Ptolomeus.” Teori Heliosentris Kopernikus memberi penjelasan sederhana sekaligus anggun atas gerak-gerak planet yang selama itu membingungkan kaum cerdik cendekia. Sambil menata ulang susunan planet-planet yang sudah dikenal saat itu, sistem heliosentris menawarkan diri sebagai sistem yang lebih masuk akal dibanding dengan sistem tradisional geosentris. Meski demikian, ada beberapa hal yang membuat Kopernikus dan para pendukung teori Heliosentris seperti Galileo menangguhkan opini mereka.

***

Selain menggugat pandangan religius klasik atas posisi manusia di alam semesta yang menganggap bahwa bumi adalah pusat jagat raya, dan Vatikan adalah pusat dunia, sistem heliosentris tampak absurd dilihat dari sudut pandang pengetahuan fisika yang dominan waktu itu. Sistem ini juga menentang pengalaman indrawi manusia yang dengan mata telanjang melihat matahari mengedari bumi dengan terbit di timur dan surut di barat.

Sampai pada persimpangan abad 16 dan 17, para pemikir tumbuh dan terdidik dalam pemikiran Aristotelian, yang dengan tegas membagi ranah langit dan bumi, ranah surgawi dan duniawi. Sejajar dengan pembagian kosmis itu—oposisi biner dimana satu anasir lebih mulia dari anasir lainnya—bertaut dan berkelindanlah oposisi langit dan bumi, surgawi dan duniawi itu, dengan oposisi perfeksi dan korupsi, Kenaikan dan Kejatuhan. Keempat oposisi biner ini secara organis bersatu membentuk sebuah kerangka kosmo-antropologis yang bisa menampung aspirasi religius. Dalam paham fisika Aristoteles juga, benda-benda selalu bergerak menuju tempat mereka yang alami. Batu jatuh karena tempat alami benda-benda berbobot adalah pada pusat alam semesta. Itu pula sebabnya maka bumi yang berat ini ada di tempatnya, yakni di pusat alam semesta itu.

Pandangan dunia fisika Aristotelian ini dengan jelas memberi sebuah bangunan kognitif yang kukuh dan, yang paling penting: sangat mudah dicerna. Selain menautkan ranah langit dan bumi, menyatukan kegiatan ilahiah dan kehidupan manusiawi, bangunan kognitif ini juga memberi tempat yang istimewa dan mantap bagi para penganutnya, sekaligus menyingkirkan kaum yang asing, kaum anti-Vatikan misalnya, dari pusat dunia. Ringkasnya, bangunan kognitif ini tampak berhasil mengorganisasikan banyak kenyataan yang tampak tak berhubungan sekaligus memberi perasaan menyenangkan bagi para penganut dan pendukungnya. Menerima sistem Kopernikan bukan saja berarti menampik fisika Aristoteles dan membuang sistem geosentris Ptolomeus. Itu juga berarti meruntuhkan rasa mantap dan nyaman yang selama ini ada, sekaligus membantah Kitab Suci yang dengan tegas menyebutkan bahwa bumi dipasak di tempatnya. Oh, Tuhanku, Kau-lah yang Maha Besar… Kau pancangkan bumi pada fondasinya, tiada bergerak untuk selamanya. (Mazmur 103: 1,5).

***

Jaman ketika sistem heliosentris mulai menunjukkan kekuatannya adalah jaman ketika Gereja Katolik sedang dirongrong oleh gelombang Reformasi Protestan yang menggugat hak-hak istimewa Gereja yang sangat besar. Selain dilanda oleh Perang 30 Tahun yang merupakan puncak perlawanan kaum Protestan, Eropa juga tengah diharubiru oleh Wabah Hitam, yang konon datang untuk menghukum manusia yang aqidahnya sudah rusak. Wabah ini muncul di abad ke-14, dipicu oleh perubahan iklim yang disebut Jaman Es Kecil. Bermula sebagai sampar yang meletup di Daratan Cina, wabah ini meyebar lewat tikus-tikus yang terbawa kapal-kapal dagang sampai ke Eropa, dan menumpas hampir sepertiga penduduk Eropa hanya dalam waktu 25 tahun.

Sejak ratusan tahun yang silam, ada saja orang-orang yang sangat berkuasa dalam struktur Gereja Katolik yang yakin bahwa karena tanggung jawab mereka sangat besar dalam melindungi dan membimbing ummat, maka mereka harus punya kekuasaan dan hak-hak istimewa yang tak kalah besarnya, yang selalu harus dipertahankan, apapun akibatnya. Kekuasaan mereka yang sangat besar bukan saja terentang dalam upaya untuk mewujudkan Kerajaan Tuhan di Bumi. Kekuasaan itu juga diperlukan dalam menyelamatkan iman manusia yang—menurut sebuah naskah drama yang terkenal di abad 20—mendapatkan kekuatan dari penampilan pohon-pohon yang menghijau yang menjadi baru setiap tahun, dari paras tanah yang tak ramah dan tak pernah puas, dari gereja kecil dan teks Injil yang mereka dengar di sana di setiap hari minggu.

Pandangan yang menyakini bahwa bumi hanyalah seonggok batu yang terus-menerus berputar dalam ruang hampa, mengitari sebuah bintang mungil kelas dua, memang adalah pandangan yang membuat hidup akan terasa ciut. Kitab Suci akan tampak salah, dan kepastian yang selama ini bisa menopang kehidupan ummat akan luluh lantak dan mereka akan tercerai-berai ketakutan. Pandangan ini bukan saja dianggap akan merongrong dasar keyakinan gereja Katolik dan merampok kebahagiaan iman orang-orang awam yang sederhana itu. Pandangan ini juga diimani akan mendatangkan berbagai bencana kiriman langit yang antara lain terwujud dalam Wabah Hitam yang mengerikan itu.

Setiap ajaran yang menganggu iman manusia dan bisa mendatangkan bencana, tentu harus dihapuskan demi kebaikan manusia sendiri. Mereka yang tidak mau bertobat, harus dibantu dengan disucikan lewat api agar mereka tak lagi menerima siksa neraka.

3 tahun setelah Galileo menuliskan suratnya yang bertanggal 4 April 1597 itu, Giordano Bruno, seorang pastor Ordo Dominikan, dibakar di Roma antara lain karena bersikeras meyakini bahwa bumi bergerak mengitari matahari, bukan diam di tempatnya sebagai pusat semesta, dan bahwa ada banyak planet seperti bumi ini yang bertebaran di alam semesta. Masing-masing pandangan itu ia sampaikan dalam dua buku Cena de le Ceneri (“The Ash Wednesday Supper”) and De l’Infinito, Universo e Mondi (“On the Infinite Universe and Worlds”), keduanya terbit pada 1584.

Penyucian Bruno di atas api unggun yang mengerikan itu, kalaupun punya pengaruh pada Galileo,  menjadi aus dalam kikisan waktu. Pada 1616 ia menulis untuk Kardinal Alessadro Orsini tentang gerak pasang surut pantai yang ia anggap akan membuktikan pergerakan Bumi dan posisi sentral Matahari. Risalah itu membuat Galileo mendapat teguran. Setelah merasa menemukan sejumlah bukti dan teori pendukung yang lebih kokoh, pada 1632, Galileo menerbitkan sebuah buku berjudul Dialogo sopra i due Massimi Sistemi del Mondo (“Dialogue Concerning the Two Chief Systems of the World — Ptolemaic and Copernican”). Buku yang juga bisa disebut novel ide dengan struktur formal yang sangat sederhana itu menghadirkan percakapan antara Salviati yang membela kosmologi Kopernikan, dan Simplicio—seorang filsuf Aristotelian yang mengusung kosmologi Ptolemeian. Klimaks dialog ini adalah pemaparan Salviati bahwa Bumi bergerak mengitari matahari. Pemaparan itu didasarkan teori gerak pasang surut yang sudah ditata Galileo sejak usia 30.

***

Teori pasang surut yang dikira Galileo akan menjadi penopang paling kokoh dari sistem Heliosentrisme, adalah teori yang mengidap sejumlah kesalahan. Penjelasan yang kelak terbukti benar tentang peristiwa pasang surut ini, sebenarnya telah diajukan oleh Kepler pada 1609. Artinya, Dinas Suci Gereja Katolik sesungguhnya punya peluang lebar menyanggah Galileo dengan mengguncang teori pasang surut yang diajukan sendiri oleh penulis Dialog itu. Tetapi, yang dilakukan oleh Dinas Suci yang ngotot dengan makna literal Injil itu, bukanlah dengan tekun dan tabah menggunakan kejernihan nalar, tetapi langsung melompat memakai klaim kekuatan otoritas suci yang tak boleh dibantah. Niat baik Dinas Suci untuk melindungi iman ummat, seperti halnya banyak sekali niat baik dalam sejarah yang dengan tulus hendak membela kepentingan banyak manusia, telah mendorong gereja melakukan kesalahan yang patut disesalkan. Kesalahan yang berusia ratusan tahun itu, memang ditebus kembali oleh Gereja Katolik pada 1992, tiga dekade setelah Konsili Vatikan II, saat lembaga raksasa ini berada di bawah pimpinan Paus Johanes Paulus II.

Yang jelas, sejarah mencatat bahwa pada hari Rabu 22 Juni 1633, vonis terhadap Galileo dijatuhkan Dinas Suci di depan khalayak umum. Galileo dihukum sebagai penjahat. Ilmuwan besar ini dipaksa mengaku pikirannya salah dan lemah, yakni pikiran tentang sistem Kopernikan, yang sesungguhnya benar itu, dan tentu saja bukan pikiran tentang teori pasang surut yang hendak membuktikan peredaran bumi mengitari matahari, yang kelak terbukti salah itu.

Keputusan Dinas Suci yang dibacakan dengan hikmad dan khusuk itu, yang dihadirkan Dava Sobel di buku Galileo’s Daughter, menandaskan:

Kami menyampaikan, menjatuhkan vonis, dan menyatakan bahwa Anda, Galileo, karena berbagai persoalan yang telah panjang lebar terurai dalam pemeriksaan pengadilan, dan yang Anda telah mengakuinya pula, sehingga Anda menyerahkan diri Anda kepada penghakiman Dinas Suci ini atas dakwaan pembangkangan, yaitu Anda telah memegang dan meyakini doktrin yang salah dan bertentangan dengan Kitab Suci Tuhan, yaitu doktrin tentang Matahari sebagai pusat semesta dan tidak bergerak dari timur ke barat, dan bahwa Bumi bergerak serta bukan pusat semesta; dan seseorang boleh saja tetap memegang dan mempertahankan pendapat itu bahkan setelah dinyatakan dan ditegaskan bertentangan dengan Kitab Suci. Sebagai akibatnya, Anda memperoleh segala celaan dan hukuman yang dijatuhkan dan diumumkan secara resmi oleh Kanon Suci serta semua hukum umum dan istimewa untuk melawan para pelanggar seperti Anda. Kami bersedia membebaskan Anda dari semua ini jika dengan hati yang tulus dan Iman yang tidak dibuat-buat, dalam kehadiran kami, Anda bersungguh-sungguh meninggalkan, mengutuk dan membenci kesalahan-kesalahan serta bid’ah-bid’ah yang bertentangan dengan Katolik dan Gereja tersebut dengan cara dan bentuk yang akan kami tentukan sendiri untuk Anda.

Selanjutnya, pelanggaran dan kesalahan Anda yang memilukan dan merusak ini tidak akan berlalu begitu saja tanpa hukuman, sehingga Anda akan lebih berhati-hati di masa depan, dan menjadi teladan bagi yang lainnya agar menjauhkan diri dari pelanggaran semacam ini, Kami perintahkan supaya buku Dialog oleh Galileo Galilei dilarang lewat keputusan umum.

Kami menghukum Anda secara resmi dengan hukuman penjara dalam Dinas Suci ini sesuka kami. Sebagai penebusan dosa, kami menuntut Anda membacakan tujuh mazmur dengan penuh penyesalan sekali dalam seminggu selama tiga tahun ke depan. Dan kami berhak menggunakan kuasa kami untuk melunakkan, memperingan, atau mencabut, seluruh atau sebagian dari hukuman atau penebusan dosa tersebut. Dengan ini kami menyampaikan, menjatuhkan, menyatakan, memerintahkan dan berhak dengan cara ini atau bentuk atau lainnya yang lebih baik yang dapat dan mungkin kami pikirkan. Kami yang bertanda tangan di bawah ini Para Kardinal yang menyatakan.

Sobel juga menghadirkan “pengakuan bersalah” Sang terdakwa, yang diucapkan sambil berlutut dengan takzim, dalam balutan jubah putih sebagai tanda penyesalan:

Saya, Galileo, putra dari almarhum Vincenzio Galilei, orang Florentina, berusia 70 tahun, menghadap langsung di muka pengadilan ini, dan berlutut di hadapan Anda, para Yang Mulia Paduka Tuan Kardinal, para Jenderal-Inkuisitor yang melawan keburukan bid’ah di seluruh persemakmuran ummat Kristiani, dengan Kitab Injil Suci di hadapan mata saya, yang saya sentuh dengan tangan saya, saya bersumpah bahwasanya saya sudah senantiasa yakin, saat ini pun saya yakin, dan dengan pertolongan Tuhan niscaya di masa depan saya akan tetap yakin pada segala yang dipegang, disebarkan, dan diajarkan oleh Gereja Apostolik dan Katolik yang Kudus. Namun demikian – setelah diperingatkan oleh Dinas Suci ini supaya melepaskan pemikiran yang salah yang menyatakan bahwa Matahari merupakan pusat dunia dan tidak bergerak, dan bahwa Bumi bukan pusat dunia dan bergerak, serta telah diperingatkan agar saya tidak memegang, mempertahankan, ataupun mengajarkan dengan cara apapun, baik secara lisan maupun tertulis, doktrin yang salah tersebut, dan telah pula diberitahukan kepada saya bahwa doktrin tersebut bertentangan dengan Kitab Suci – saya tetap saja menulis dan menyebabkan sebuah buku dicetak yang di dalamnya saya menyajikan doktrin terlarang itu, dan mengemukakan argumen-argumen dengan gaya yang kuat untuk mendukungnya, namun tanpa pernah sampai kesimpulan apapun: Saya diadili, dengan sungguh-sungguh dianggap bid’ah, yaitu telah memegang dan meyakini bahwa Matahari adalah pusat dunia dan tidak bergerak, serta Bumi bukanlah pusat dunia dan bergerak.

Dengan harapan untuk menghilangkan dari pikiran Yang Mulia serta seluruh umat Kristiani yang beriman, segala kecurigaan kecurigaan berat yang dengan adil ditimpakan pada saya, saya dengan ketulusan hati dan kesungguhan iman, tunduk, mengutuk dan membenci kesalahan-kesalahan serta bid’ah-bid’ah tersebut, serta semua dan setiap kesalahan, juga sekte yang bertentangan dengan Gereja Katolik Suci. Dan saya bersumpah demi masa mendatang, saya tidak akan pernah lagi menyatakan dalam pembicaraan atau tulisan, hal-hal semacam itu yang dapat membawa saya pada sangkaan yang sama. Apabila saya tahu ada bid’ah atau orang yang dicurigai sebagai bid’ah, saya akan melaporkannya ke Dinas Suci ini, atau pada Inkuisitor atau gereja tempat manapun saya berada. Saya juga bersumpah dan berjanji untuk menyetujui dan menjalankan seluruh penebusan dosa yang telah atau djatuhkan oleh Dinas Suci. Jika saya melanggar apa saja yang sudah saya janjikan ini, jika saya memprotes atau mengumpatnya (Tuhan melarang keras!), saya akan menyerahkan diri saya pada segenap hukuman dan rasa sakit yang ditimpakan dan ditetapkan oleh Kanon Suci dan Dekrit-Dekrit lainnya, yang umum maupun yang khusus, terhadap pelanggaran-pelanggaran tersebut. Tuhan tolonglah saya dan Ajaran-Ajaran Suci-Mu ini, yang kusentuh dengan tanganku sendiri.

Saya, tersebut Galileo Galilei, bersungguh-sungguh mengangkat sumpah, berjanji, dan membatasi diri sebagaimana hal di atas, dan dalam kesaksian kebenaran, dengan tanganku sendiri menaati dokumen kesungguhan saya saat ini, dan telah membacakan kata demi kata di Roma, di Biara Minerva, pada 22 Juni 1633.

Saya, Galileo Galilei, telah mengangkat sumpah dengan sungguh-sungguh sebagaimana di atas, dengan tangan saya sendiri menyentuh Kitab Suci.

Tidak semua pejabat penting Gereja Katolik setuju dengan hukuman dan penghinaan yang ditimpakan ke Galileo. Namun demikian, seperti ditunjukkan oleh Sobel, penghinaan dan penistaan resmi terhadap Galileo itu kemudian menyebar keluar dari Roma secepat kuda membawa berita itu. Dengan diantar genderang dan perintah Paus, isi dari hukuman terhadap Galileo yang memalukan itu diposkan dan dibacakan lantang oleh para inkuisitor di seantero Italia, sampai ke Perancis, Flander dan Swiss. Hal itu tentu dimaksudkan sebagai pendisiplinan Foucauldian: penjeraan, dan pendidikan moral bagi profesor filsafat dan matematika manapun agar tak nekad berpikir dan bekerja seperti Galileo.

***

Kendati dihinakan dan meninggal sebagai tahanan rumah, pembelaan atas Galileo terus tumbuh. Pembelaan terakhir adalah buku Dava Sobel ini—buku yang dalam satu hal bisa juga disebut sebagai sebuah dialog: dialog antara dua anak haram. Anak haram yang pertama adalah sains modern yang lahir dari pemikiran reigius akan keberadaan Pencipta dan aspek linier ruang dan waktu, yang oleh Galileo dikawinkan dengan eksperimen dan observasi, khususnya observasi benda-benda langit yang bercahaya. Anak haram ini dipersonifikasikan dengan baik pada diri Galileo.

Anak haram yang kedua adalah Virginia, gadis pintar yang lahir dari hubungan tanpa nikah antara Galileo dengan sesosok bintang yang lain: si cantik Marina Gamba dari Venesia, satu-satunya perempuan yang pernah dicintai Galileo. Virginia lahir di musim panas sebuah abad baru, 13 Agustus 1600—tahun yang sama ketika Giordano Bruno dibakar di Roma karena hendak dimurnikan jiwanya. Untuk mengenang keterpesonaan ayahnya pada bintang-bintang, Virginia mengambil nama Maria Celeste saat ia dibaptis jadi seorang biarawati.

“Dialog Dua Anak Haram” ini dibangun Sobel dari 124 pucuk surat Suster Maria Celeste ke ayahandanya, surat-surat yang selamat dari pemusnahan yang mungkin disemburkan oleh Gereja. Sayang sekali bahwa surat-surat Galileo ke anak haramnya itu tak selembar pun selamat. Ketakutan orang pada Dinas Suci yang menghukum Galileo, membuat surat-surat Galileo hilang ditelan sejarah. Andaikan surat-surat Galieo itu selamat, maka kita pasti akan memperoleh dialog yang benar-benar luar biasa.

Meskipun dialog dua anak haram ini disusun dari surat-surat satu pihak saja (karena itu Sobel menyebutnya monolog), tetapi di tangan Sobel ia menjadi dialog yang luar biasa. Ditopang dengan riset yang luas dan dalam, Sobel bukan saja berhasil menghadirkan satu genre penulisan narrative science history. Yang tersaji di sana bukanlah sekedar kisah tentang seorang genius putra ahli musik yang membangun karir sebagai seorang mahaguru yang menandaskan pentingnya bahasa matematika dalam memahami kenyataan alam; seorang yang kekuatan nalarnya membuat setiap filsuf di Eropa mengaitkan namanya dengan serangkaian penemuan astonomi yang paling mengejutkan yang pernah dilakukan secara sendirian oleh seorang individu. Juga bukan semata kisah seorang anak perempuan berotak cemerlang yang sangat baik dan begitu dekat dengan ayahnya, yang menjadi penghibur ketika sang ayah memasuki masa penistaan yang paling berat; seorang anak haram yang begitu berharga sehingga ketika ayahnya akan meninggal maka keinginan satu-satunya adalah agar jasadnya disatukan sedekat mungkin dengan jasad sang anak.

Sobel memang penulis dan sejarawan ilmu pengetahuan yang baik. Hal ini sudah dibuktikan pada bukunya Longitude, yang dengan memikat berkisah tentang intrik, kompetisi dan konflik kepentingan yang mengaduk-aduk hidup John Harrison, tukang jam yang menyendiri, yang memecahkan problem teknis terbesar di jamannya, problem yang bahkan tokoh sekaliber Newton pun tak sanggup membereskannya.

Dalam buku Puteri Sang Galileo ini, Sobel kembali menunjukkan kemampuannya, dan terggelarlah sebuah buku yang tidak sekedar menghadirkan sebuah drama tentang ilmu, iman dan cinta. Storytelling Sobel berhasil dengan menyentuh menghadirkan sebuah periode yang sangat penting dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan modern, sekaligus membongkar mitos yang berusia ratusan tahun tentang pertentangan sains dan agama; mitos yang menjadikan Galileo sebagai tokoh utama pertentangan itu.

Mitos itu tetap saja muncul sampai pada 1992, 350 tahun sejak meninggalnya Galileo. Pada momen peringatan Galileo tahun itu, Paus Johanes Paulus II menyayangkan betapa “ketidak-pahaman timbal balik yang tragis antara kedua belah pihak telah ditafsirkan sebagai cerminan dari pertentangan mendasar antara ilmu dan iman.” Galileo yang hadir dalam surat-surat Suster Maria Celeste tak mengenal pemisahan semacam ini. Ia memang tetaplah seorang Katolik taat yang yakin pada kekuatan doa dan menyelaraskan tugas keilmuanya dengan takdir jiwanya.

***

Pandangan yang lebih sengit terhadap Galileo di abad 20 datang misalnya dari salah seorang sutradara dan penulis lakon terpenting di abad itu: Bertolt Brecht. Brecht yang Marxis, penggagas teater epik dan Verfremdungseffekt itu, menulis lakon Lebens das Galileo yang sejumput isinya sudah dikutip di bagian awal tulisan ini. Lakon itu ditulis dalam tiga versi yang terentang selama 19 tahun. Versi pertama dengan judul awal “Bumi Bergerak” ditulis di Denmark pada 1938-39. Di versi ini Brecht menampilkan Galileo sebagai sosok cendekia yang kecemerlangan nalarnya melampaui kaum otoritarian reaksioner Gereja. Versi kedua ditulis dalam pelariannya di Amerika ketika dunia baru saja melihat bom atom meluluhlantak Hiroshima dan Nagasaki.

Pada versi kedua ini, penghormatan Brecht pada Galileo telah hilang, dan Galileo tampil sebagai si Rakus, intelektual yang hanya mengabdi pada kepentingan diri sendiri dan menghianati kepentingan ummat manusia. Bom atom yang meledak, dalam pandangan Brecht, adalah hasil dari penggunaan nalar Galileo, dan telah membuat hubungan antara sains dan masyarakat menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup ummat manusia. Si jenius yang ikut melahirkan sains modern itu, disebut sebagai “penjahat masyarakat, bajingan paripurna”.

Di versi ketiga yang ditulis Brecht sekembalinya ke Eropa, Galileo disebut sebagai “pelacur intelektual” yang didorong oleh nafsu pemanjaan hedonistik kenikmatan duniawi, dan kegirangan yang berlebihan dalam penemuan dan eksperimen ilmiah, yang tak peduli pada apapun termasuk pada manfaat sosial dari karya-karya ilmiahnya.

Lagi-lagi, Galileo yang hadir dalam ini surat-surat Suster Maria Celeste tak dekat dengan apa yang dibayangkan Brecht dalam lakonnya, khususnya versi kedua dan ketiga. Sobel menunjukkan bahwa Galileo, yang lidahnya lumayan tajam dan yang dengan waras tetap merawat kesukaannya pada anggur dan kenikmatan indrawi lainnya, adalah orang yang menganggap bahwa hidup manusia, seperti apapun jalannya, adalah anugerah terindah dari tangan Tuhan; dan bahwa manusia “mesti menerima nasib buruk bukan hanya dengan terimakasih, tapi juga dengan rasa syukur yang tak terbatas pada Yang Maha Pemberi, yang memberi penderitaan itu agar kita terhindar dari cinta berlebihan terhadap hal-hal duniawi dan meninggikan pikiran kita menuju hal-hal yang ilahiah.”

Jika ada yang paling berharga dari Buku yang seakan menghadirkan kembali Eropa di simpang abad 16 dan 17 dengan berbagai dinamikanya yang begitu manusiawi, maka itu memang adalah upaya literer intelektual yang dengan kuat membawa semangat demitologisasi dan revelasi itu. Seperti halnya pengertian tentang “anak haram” atau “kafir” merupakan konstruksi sosial yang dibangun untuk memperjuangkan kepentingan satu pihak dengan akibat mengabaikan kepentingan pihak lain, maka pengertian tentang adanya “pertarungan antara sains dan agama” jelas memang lebih merupakan dongeng yang dibentuk, mitos yang ditumbuhkan, baik oleh mereka yang mengidap saintisme, maupun oleh mereka yang terganggu dengan kerja nalar yang dianggap angkuh dan meleceh keagungan Tuhan.

***

Inkuisisi terhadap kebebasan berpikir memang bukan hanya bisa ditikamkan atas nama agama atau ideologi, tapi juga bisa atas nama ilmu. Salah satu contoh inkuisisi yang dilakukan para pemeluk teguh saintisme adalah kasus Immanuel Velikovsky, yang diadili oleh American Academy for the Advancement of Science. Teman sejawat Albert Einstein ini menyajikan 26 hipotesis dalam buku bestseller Worlds in Collision. Pikiran-pikiran itu memang berada di luar arus utama sains dan memanfaatkan banyak bahan dari mitos dan religi. Sejumlah ilmuwan bukan saja mengolok-olok hipotesis Velikovsky, mereka bahkan memboikot buku itu dan mengancam penerbitnya. Tak semua pikiran Velikovsky benar, seperti halnya tak semua pikiran Galileo, Newton atau Einstein, seluruhnya benar. Tetapi beberapa hipotesis Velikovsky terbukti betul, seperti misalnya emisi gelombang radio dari Yupiter. Beberapa ilmuwan yang dulu menyebut Velikovsky si gila, belakangan menggunakan beberapa pikiran dia tanpa menyebut-nyebut nama Velikovsky sendiri.

Sebab utama ketaksukaan para ilmuwan pada Velikovsky adalah masuknya unsur-unsur mito-religius dan berbagai hal yang diaggap tahyul dalam hipotesisnya. Mereka ini menganggap bahwa antara sains dan mitologi (agama), terdapat pertentangan yang mustahil didamaikan. Meski tampak berseberangan, mereka ini sungguh satu kubu dengan kaum yang menganggap agama punya akses ke Kebenaran yang jauh lebih baik daripada yang disediakan ilmu pengetahuan rasional, dan karena itu agama jauh lebih superior dari ilmu pengetahuan.

Dalam diri Galileo, tokoh yang selalu diseret ke tengah kancah wacana pertentangan sains dan agama itu, pertentangan itu adalah hal yang asing. Setidaknya dalam diri Galileo sendiri, iman dan nalar bisa bersatu; nalar bahkan bisa mengabdi sangat baik pada iman.

Bagaikan Maria Celeste yang adalah anak haram yang amat berbakti pada ayahandanya, sains modern juga adalah anak haram yang paling mampu membawa misi agama yang tertuang dalam ekspresi positif pembebasan manusia. Kekuatan pengetahuan ilmiah dalam mewujudkan cita-cita pembebasan manusia yang dibawa agama-agama besar itu, tampaknya bahkan lebih besar ketimbang kekuatan doktrin dan institusi agama itu sendiri.

Sampai di masa-masa yang akan datang, barangkali tak akan ada monumen atau prasasti yang ditegakkan kaum agamawan sebagai pengakuan akan peran sains dalam menopang peran mulia agama. Tetapi seperti jasad Maria Celeste yang juga terbaring di sisi ayahnya yang ia muliakan, sekalipun tidak ada catatan pada monumen Galileo di Santa Croce yang mencantumkan keberadaan perempuan cerdas itu, semangat Sains juga terus mendampingi sukma Agama dalam membebaskan manusia. Diberkati atau tidak.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Tulisan ini adalah Pengantar edisi Indonesia Galileo’s Daughter.  Diterbitkan oleh Mizan, 2004, “Putri Sang Galileo: Kisah Sejati tentang Pergulatan Agama, Sains, dan Cinta”

Versi awal tulisan ini terbit di Bentara—KOMPAS, Rabu 3 Maret 2004

One Response to “Nalar dan Iman”

  1. Kopeng Sumarjan Says:

    <>

    Mzm 103:1 Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!
    Mzm 103:2 Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!
    Mzm 103:3 Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,
    Mzm 103:4 Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,
    Mzm 103:5 Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: