Ekonomi

September 16, 2008

Sen, Ilmu Yang Muram, Manusia

Ekonomi jadi ilmu yang muram antara lain karena: barang-barang yang langka dan sumber-sumber yang kian terbatas, berhadapan dengan begitu banyak kebutuhan manusia yang saling bertentangan dan terus berbiak dengan laju yang bikin giris. Dan seperti ditunjuk Paradoks Arrow, tak ada satu cara yang adil dan rasional untuk mengharmoniskan pilihan individual yang serba berbeda, menjadi pilihan kolektif yang memuaskan semua orang. Amartya Kumar Sen menegakkan reputasinya dalam barisan ekonom dunia, antara lain lewat terobosannya mengatasi Paradoks Arrow. Dari sana ia membangun sebuah riwayat intelektual yang menjadikan dirinya salah satu “Penyambung Lidah Kaum Lapar Dunia”, dan terus mencari jalan membuat pembangunan identik dengan kebebasan. Dan ia mengutip penyair Inggris abad ke-18 William Cowper, pada baris:

Freedom has a thousand charms to show,

That slaves howe’er contented, never know.

Dalam khazanah pemikiran di Indonesia, pandangan yang mengaitkan pembangunan dan kebebasan, dan upaya mempersembahkan pemikiran ekonomi bagi kesejahteraan kelompok paling miskin di masyarakat, tentu bukan hal baru. Bung Hatta, yang oleh situasi jaman bisa disebut sebagai ekonom terbesar Indonesia sebelum perang, sudah melakukannya. Usaha Hatta yang dibimbing oleh ide kemerdekaan dan kedaulatan rakyat itu, sudah terlihat sejak karya awalnya tentang posisi Indonesia dalam “tata” ekonomi dunia, sampai ke karya-karyanya tentang ekonomi rakyat, tentang koperasi, nasib buruh, ordonansi sewa lahan, hingga ke hak tanah dan tempat kediaman rakyat.

Read the rest of this entry »