Fotografi

September 25, 2008

Susan Sontag, dll.:

Citra─Waktu

Jika seni rupa adalah adalah sastra, dan lukisan adalah puisi, maka fotografi adalah bahasa. Antara lain karena kemampuannya yang tanpa preseden dalam mengabadikan dan menggandakan semua citra, bukan hanya yang bisa langsung dicerap, fotografi memang tak lagi menjadi sekedar sebuah bentuk seni; ia lebih luas dari seni. “Fotografi adalah medium yang dengannya seni diciptakan.” Susan Sontag menggaritkan kalimat ini di buku On Photography (1977).[1] Pendapat yang menandaskan bahwa fotografi—dan tentu saja sinema—adalah bahasa, sudah muncul, misalnya, pada Andre Bazin.[2] Dengan memumpunkan perhatian pada fotografi dan menangguhkan pertautannya dengan sinema, pendirian itu diperkokoh dan digarap Sontag lebih lanjut. Di OP, kitab tipis yang menjadi salah satu “karya terpenting tentang fotografi”,[3] Sontag bahkan menyebut fotografi sebagai sebuah meta-seni: sebuah medium sekaligus cita-cita tertinggi seni. Di abad ke-19, Walter Pater menyebut bahwa semua seni bercita-cita menjadi seperti musik yang mampu melebur habis bentuk dan isi. Sontag, di abad ke-20, mengoreksi pendapat Pater dan menandaskan betapa semua seni justeru bercita-cita untuk menjadi seperti fotografi. Selain sanggup hidup seperti musik yang mengolah mediumnya sebagai isi itu sendiri, fotografi juga berwatak demokratis karena bisa dikerjakan oleh siapapun—serempak mengeram kekuatan revolusioner mendobrak diskriminasi antara seni buruk dan seni indah.

Read the rest of this entry »