Sastra

September 23, 2008

La Galigo, Odisei, Trah Buendia

Sawerigading dalam epik Bugis ‘karya’ I  La Galigo dan Odiseus dalam epik Yunani ‘karya’ Homerus — kedua tokoh ini tidak sekedar meniti ombak menyusur dunia. Mereka berdua membangun semesta, yang ditata pada skala pemahaman manusia.

Naskah La Galigo. Foto: Nurhayati Rahman

Tersusun dari sekitar 300.000 larik sajak dalam bahasa tinggi arkaik dengan berbagai cerita berangkai, Sureq (serat) Galigo adalah salah satu karya sastra terbesar dunia. Dan yang pasti, bersama  epik besar Kyrgizstan yang berusia seribu tahun, Manas; dan novel terbesar Cina berjumlah 120 jilid, Impian Kamar Merah (Hung Lou Meng) ‘karya’ Cao Xueqin dan Gao E yang ditulis di Era Dinasti Manchu di pertengahan abad 18, Sureq Galigo termasuk naskah klasik terpanjang yang dihasilkan manusia.

Dari segi jumlah larik sajak saja, Sureq Galigo sudah melampaui epos terbesar Anak Benua India yang kerap dianggap terpanjang di dunia: Mahabharata. Tapi panjang larik sajak, kecuali mungkin memamerkan stamina penyusunnya, tak dengan sendirinya mencerminkan kekuatan sebuah karya.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Literatur

September 14, 2008

Ein kurzer Überblick über

die Literatur Indonesiens

Die Republik Indonesien stellt das größte Archipel der Welt dar und erstreckt sich nördlich und südlich des Äquators zwischen Asien und Australien und zwischen dem Pazifischen und dem Indischen Ozean. Aufgrund seiner Lage zwischen zwei Kontinenten und zwei Ozeanen wird die Republik, die 13 677 Inseln umfasst — etwa 6000 Inseln sind bewohnt — auch als Nusantara (Inselreich in der Mitte) bezeichnet. Ausgedehnt über drei Zeitzonen innerhalb der Koordinaten 97” – 141” Östlicher Länge und 6” Nördlicher Breite und 11” Südlicher Breite, ist das Gebiet Indonesiens fünf mal größer als das der Bundesrepublik Deutschland. Wie in anderen Kulturen der Welt hat sich die Literatur in diesem Land bereits seit schriftloser Zeit entwickelt.

pembaca-lontar

Read the rest of this entry »

Teater

September 10, 2008

I La Galigo dan Waktu Batu

Genesis di atas Pentas

Sejarah dan kebudayaan manusia mungkin bisa dilihat sebagai teater raksasa, yang menggelar pertumbuhan dan perbenturan pengertian manusia tentang identitas, tentang asal-usul. Meski agak terasa abstrak, pengertian seperti ini punya fungsi vital: ia memberi pijakan pada manusia untuk mengkoordinatkan dunia dan bertahan hidup di dalamnya.

Identitas, kita tahulah, dibentuk dan dikoreksi oleh persamaan dan perbedaan kita dengan orang-orang yang ditemui. Juga oleh kenyataan yang dialami. Konon orang mulai membentuk identitasnya berdasarkan jenis kelamin dan urutan kelahirannya. Pembentukan itu jadi kian kompleks bersama kian intensnya pertemuan dengan orang-orang lain yang mungkin yang berbeda warna kulit, bahasa dan impian. Dari sana pengertian tentang keluarga, kaum dan bangsa, tumbuh dan berkembang, dan mungkin juga saling bentrok.

Read the rest of this entry »