Movie

October 6, 2008

The Word: the Sword and the World

“HERO” Part 2

There are movies which, like other artistic masterworks, never fail to overwhelm us and make us temporarily forget this world in order to rediscover it again and again shining with new rainbow. Every time we spend minutes watching these movies, they spread their forms and contents open and wide, offering a new set of glittering diamonds previously hidden within their overlooked foldings. Zhang Yimou’s Hero (2002) belongs to such cinematic masterworks. Its power will leave us almost speechless and we could only take deep breath—and got suspended—while savoring the succession of scenes presented like a string of bewitching visual art gems. Hero offers a stack of spectacular panoramic layers and dreamlike landscapes taken with wide angel shots, irresistibly seducing the spectator not to dissolve into the nature but to absorb the nature fusing into oneself.

Hero is a work of calligraphy where “profundity depends on perception.” It is also a tranquil transparent lake containing blue heaven whose mirror-like surface could be tapped by different palms and swords and echoing different tunes and messages.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Film

September 20, 2008

Pedang dan Dunia

“HERO” Episode 2

ADA film yang, seperti adikarya seni lain, selalu saja membuat kita bisa lupa pada dunia ini, untuk kemudian menemukannya kembali dengan cahaya yang baru. Tiap kali kita mengajinya lagi, film-film ini bergerak menghamparkan diri dengan sejumlah kilau manikam baru, yang dulu masih sembunyi dalam lipatan-lipatannya. Hero (2002) Zhang Yimou adalah film jenis ini, dan kita menghela napas—dan mengambang—hampir di tiap scene yang hadir bagai untaian batu mulia seni rupa yang memukau. Film ini membentangkan tumpukan lapis panorama yang spektakuler, dan shot-shot lanskap bersudut lebar, di mana penonton tak diajak untuk melenyapkan diri menyatu dengan alam, tetapi justru menyesap alam menyatu dalam diri.

Hero adalah kaligrafi di mana “profundity depends on perception.” Ia juga danau yang menampung langit, yang bisa ditepuk dengan beragam tangan dan pedang, dan menggemakan beragam bunyi dan pesan. Ketika pertama kali menyimaknya, saya pikir bahwa film dengan struktur dan puisi yang berlapis-lapis ini, yang membongkar mitos, sejarah, dan legenda, tak tuntas menggali pengertian arketipe tentang pahlawan dalam psike Timur. Film ini mentok jadi propaganda bagi kediktatoran dan aneksasi, bagi faham legalisme yang mempromosikan kuatnya negara di depan masyarakat, yang dengan sistematis dilemahkan.

Read the rest of this entry »