Sastra

September 25, 2008

Dari 100 Suara Pinggir

“Kata, Waktu”

Tampaknya hanya diperlukan kedua belah tangan, untuk menghitung jumlah cendekiawan kontemporer Indonesia yang hampir tanpa interupsi, menulis dengan mutu relatif terjaga selama puluhan tahun. Ada dua yang sangat menonjol, setidaknya dari segi publisitas, dari kelompok minoritas ini: Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad. Pram, sastrawan Indonesia yang paling terkenal di dunia itu, kini hanya menerbitkan ulang karya-karya lamanya dan tak lagi menyentuh mesin tiknya. Dengan tingkat kesuburan yang menakjubkan bukan hanya untuk ukuran Indonesia, Goenawan masih terus menata kata dan kalimat. Konon sajak Goenawan yang pertama, tentang rembulan, ditulisnya di sekitar tahun 1952—entah seperti apa persisnya sajak yang dilahirkan di usia sebelas tahun itu. Dalam 25 tahun terakhir, tulisan-tulisannya nyaris setiap minggu datang menyapa, dalam bentuk Catatan Pinggir. Kolom yang kehadirannya pernah hampir mati dikubur oleh Rezim Soeharto, dan sempat muncul di majalah Suara Independen, memang merupakan kolom dengan karakter paling istimewa dalam khazanah intelektual Indonesia. Sedemikian istimewa sehingga orang bisa dimaafkan jika mengumumkan bahwa di Indonesia ada dua macam esai—pertama adalah esai, pada umumnya; kedua adalah Catatan Pinggir.

Read the rest of this entry »

Literatur

September 15, 2008

Pramoedya Ananta Toer

“Der größte Schriftsteller Indonesiens im 20. Jahrhunderts”

Pramoedya Ananta Toer war wohl wie kaum ein anderer Schriftsteller mit seinen Idealen und seinem Schmerz mit der Nation Indonesien verbunden. Er gehörte zu jenen Literaten, die eine Ideal-Vorstellung von diesem Land mit größter Entschlossenheit vertraten, der jedoch auch am meisten unter der Kluft zwischen dem Indonesien seiner Vorstellung und dem Indonesien der Wirklichkeit litt.

Listening to "history"

Indonesien, so wie es sich Pram vorstellte, war eine Nation frei von jeder Form des Kolonialismus und der Ungerechtigkeit, eine Nation, die sämtliche Strukturen des Feudalismus begraben und gleichzeitig einen fruchtbaren Boden für die Moderne mit ihren wissenschaftlichen und technologischen Errungenschaften bereiten kann. Pram bleibt unübertroffen, wenn er mit großer Leidenschaft über die Bedeutung der Worte „modern“ und „Mensch sein“ auf Indonesisch schrieb, in jener Sprache, die er übernahm und sich aktiv an Bestrebungen beteiligte, sie zu einer modernen Sprache zu entwickeln.

Read the rest of this entry »