Matematika

August 13, 2014

Catatan Kecil tentang Burung

The essence of Mathematics resides in its freedom
— George Cantor

Hubungan antara matematika dan puisi agaknya memang lebih erat dibanding hubungan antara manusia dengan benak di tengkoraknya. Para penyair ternama yang sudah wafat seperti John Keats ketika menulis Lamia, atau Edgar Allan Poe saat menggarap Sonnet—To Science, atau Walt Withman ketika mengarang When I heard the learn’d astronomer, tampaknya belum mampu melihat hubungan erat itu. Begitu juga mereka yang masih hidup dan mengira matematika dan puisi sebagai dua hal yang tumbuh di kutub yang bertentangan, dan karena itu saling meniadakan. Pandangan yang sedikit lebih baik, meski tetap dangkal juga, akan mengatakan bahwa matematika dan puisi, atau sastra, memang tak bermusuhan, tapi dua hal itu betapa pun tak setara, dan sastra sungguh lebih unggul, lebih menakjubkan, dari matematika. Pandangan kedua ini terasa juga dalam karya tebal novelis Jepang yang paling menonjol di dunia saat ini, Haruki Murakami.

1Q84 Murakami

Di paruh pertama novel IQ84 yang peluncurannya disambut gegap gempita di Eropa dan Amerika itu, Murakami menulis begini tentang matematika dan sastra:

Where mathematics was a magnificent imaginary building, the world of story as represented by Dickens was like a deep, magical forest for Tengo. When mathematics stretched infinitely upward toward the heavens, the forest spread out beneath his gaze in silence, its dark, sturdy roots stretching deep into the earth. In the forest there were no maps, no numbered doorways…. Tengo began deliberately to put some distance between himself and the world of mathematics, and instead the forest of story began to exert a stronger pull on his heart… Someday he might be able to decipher the spell. That possibility would gently warm his heart from within.

Di paragraf sebelumnya di bagian yang sama, Tengo, si tokoh utama pria, memang sudah menegaskan:

Math is like water. It has a lot of difficult theories, of course, but its basic logic is very simple. Just as water flows from high to low over the shortest possible distance, figures can only flow in one direction. You just have to keep your eye on them for the route to reveal itself. That’s all it takes. You don’t have to do a thing. Just concentrate your attention and keep your eyes open, and the figures make everything clear to you. In this whole, wide world, the only thing that treats me so kindly is math.

Mereka yang cukup kenal dunia matematika, mungkin akan sedikit mengerutkan dahi membaca pengakuan Tengo itu. Kendati pernyataan Tengo tentang matematika yang mirip air itu ada benarnya, namun matematika jauh lebih membuai, lebih beraneka sekaligus menggoncang dari yang dipahami Tengo.

Jika ikhwal yang dibicarakan adalah khazanah berhitung klasik, kita memang bisa setuju dengan kalimat lugu Tengo di atas. Atau kalimat yang ini: What do I like about math? When I’ve got figures in front of me, it relaxes me. Kind of like, everything fits where it belongs. Di wilayah yang menampung khazanah matematika yang tumbuh sejak dari zaman Mesir dan Mesopotamia Kuno hingga Arab abad ke 14 itu, matematika memang mungkin agak mirip telaga bening di senja hari ketika musim tanam sudah usai dan bilah-bilah daun padi dan gandum mulai tumbuh menjurai. Persamaan matematika mungkin mirip air dalam bejana berhubungan di kelas atau jaringan pancuran kecil di kuil di mana gerakan benda yang sejuk tembus pandang itu bisa dengan mudah diikuti dengan tenang, dan tak lagi menyisakan sejumlah soal gelap yang tak terpecahkan.

Tapi bermain dengan matematika, dalam pengalaman, bukanlah sekedar seperti bermain di air tenang, yang menentramkan dan membilas rasa bosan. Efek bermain dengan bilangan dan simbol matematis jauh lebih memabukkan dari itu. Bermain dalam matematika lebih mirip dengan menari hingga kesurupan, dalam dunia yang transparan, atau lebih tepat lagi, dalam semesta di mana matra ruang dan waktu menguap. Sebuah soal matematika yang diketahui dan dirumuskan jelas, akan membuat kita juga mengetahui penyelesaiannya bahkan sebelum penyelesaian itu dimunculkan dalam waktu. Dan penyelesaian itu hanya satu, tidak bisa yang lain. Sebaliknya, jika kita tahu sebuah penyelesaian, kita bisa menerka secara tepat, asal-usulnya, bahkan ketika asal-usulnya sudah dihilangkan dalam waktu. Matematika yang mengatasi ruang dan waktu itu, membebaskan diri juga dari latarbelakang kecerdasan yang menggarapnya.

Universalitas matematika yang bisa membuat kita bisa secara kognitif bolak balik dalam arus waktu, bebas melitas ke mana pun dalam ruang, dan merasa cukup pegangan untuk bercakap dengan berbagai bentuk kecerdasan yang kurang lebih setara, tentu saja punya pengaruh hebat. Kita menjadi pusat yang memainkan dan mengendalikan segala persamaan sesuka hati kita, dan itu memberi sensasi yang luar biasa. Di puncak ekstase matematis yang bisa berlangsung berbulan-bulan itu, Bumi memang bisa terasa menyusut, gravitasi menipis, dan kita melangkah dengan kaki yang enteng seperti di permukaan Bulan. Dengan senyum tipis di bibir dan pendar cerah di mata, kita melangkah ringan di sebuah semesta di mana ruang menyublim dan segenap masa silam dan masa depannya seakan berada dalam genggaman. Tak aneh bila matematikawan sekaligus ilmuwan terbesar Yunani Klasik, Archimedes Syracuse, sampai bisa berkata: beri aku tempat bertumpu, dan akan aku pindahkan dunia ini.

Di sini matematika memang mirip puisi yang membubung seperti burung halilintar: mereka terbang meledakkan cahaya sembari meremehkan batas-batas. Jika puisi meretas ─ dan dengan itu memperluas ─ cakrawala bahasa, matematika mengatasi matra ruang dan waktu, dan dengan itu merangkum semesta raya. Semesta fisik selalu mengandaikan ruang dan waktu, sementara semesta matematis tidak selalu. Dalam permainan yang meremehkan batas-batas itu, para genius matematika memang bisa tampak gila. Jika mereka yang cerdas dan berbakat, meminjam Arthur Schopenhauer, hanya sanggup mengejar buruan yang orang lain tak sanggup tangkap, para genius akan mengejar buruan yang orang lain sama sekali belum pernah lihat. Dan sering kali, para genius ini memburu sasaran yang bahkan mereka sendiri belum pernah lihat sebelumnya, yang merongrong mereka untuk tersesat semakin jauh ke masa depan. Dan ketika mereka mendarat kembali ke kehidupan jamannya, mereka seperti pulang membawa pengalaman dan pandangan dunia yang lahir 100 tahun lebih awal. Dan itu bisa berarti mereka sekalihus menyisipkan ke dunia sebuah bencana yang datang 100 tahun lebih awal.

Itulah yang mulai terjadi di sekitar rekahnya fajar abad ke-19, ketika sejumlah matematikawan mulai membangun ulang matematika di atas dasar yang jauh lebih kokoh dari sekedar akal sehat – di atas landasan logika yang benar-benar ketat dan tangguh. Tanpa sejilid manifesto yang menggetarkan, mereka melancarkan gerakan yang membebaskan matematika dari kalkulasi untuk melayani langsung kebutuhan sains dan teknologi, terutama kebutuhan perang dan konstruksi, dan bekerja membangun matematika yang menghanyutkan diri dalam kebebasan penciptaan struktur-struktur baru, bahasa baru, pandangan semesta baru. Matematika yang tak peduli pada dunia dan tak berharap punya rujukan di kenyataan fisik itu hanya tertarik untuk menjawab tantangan dan kebutuhan formal yang muncul dari diri matematika itu sendiri.

Sebelum masuknya abad ke 19, para matematikawan boleh dikata mengandalkan akal sehat dan intuisi mereka yang terlatih, dan memvisualkan pemikiran mereka dalam perangkat mekanik dan geometri yang realistis. Geometri yang selama ribuan tahun berkembang hanya di bidang datar, mulai diterapkan di bidang lengkung, dengan dimensi yang lebih banyak dari sekedar 4 dimensi yang kita kenal. Aljabar juga melambung tumbuh. Aljabar klasik menjadi hanya satu kelompok di antara berbagai aljabar tingkat tinggi , di mana satu paragraf komposisi simbol aljabar tradisional diganti denga satu karakter yang kemudian dimainkan mengikuti hukum aljabar yang ganjil dan non komutatif, di mana a X b tidak dengan sendirinya sama dengan b X a

Matematika yang suntuk memburu kemungkinan-kemungkinan yang menantang itu memang menjadi kian abstrak dan menjauh dari pengalaman sehari-hari, serta tak jelas gunanya apa. Bukannya cemas dengan gejala ini, sejumlah matematikawan, seperti G. E. Hardy misalnya, malah memujanya sebagai sebuah keutamaan. Mereka ini berpendapat bahwa semulia-mulianya matematika adalah yang paling tidak bermanfaat langsung buat ummat manusia. Makin tak berguna sebuah matematika, makin luhur pula nilainya. Matematika yang cantik dan tak berguna, jauh lebih bernilai dari matematika yang sudah berguna buruk rupa pula. Tapi, selama keketatan logis dan keindahan formal dihormati, maka betapapun tingginya matematika terbang melampui batas-batas, hanya soal waktu saja burung halilintar itu akan beralih rupa menjadi bangau yang merendah menyambut gravitasi dan akhirnya hinggap di bentangan sawah kebergunaan. Di sisi lain, ketaksukaan pada kebergunaan praktis itu bisa membuat matematikawan makin bersemangat untuk menghasilkan matematika yang sedapat mungkin tak berguna, tak peduli jika matematika liar seperti itu belum dapat ditakar nilai ilmiahnya; bahkan untuk di anggap salah pun tidak (not even wrong).

Tak semua matematikawan di paruh kedua abad 19 dan paruh pertama abad 20, dapat segera menerima pengetatan dan penjelajahan matematika itu. Ada yang bahkan beranggapan bahwa gerakan itu berbahaya, dan korban terbesarnya adalah khazanah matematika itu sendiri yang sudah dibangun manusia selama 4000 tahun. Segala hal yang tadinya sudah tampak duduk anteng di tempatnya masing-masing, mendadak terbongkar berhamburan. Langit kepatsian (certainties) yang selama berabad-abad membimbing para pemikir cemerlang, telah rontok dari tempatnya. Samudera ketidakpastian (uncertainties) yang selama itu telah dijinakkan, dibendung dan didesak mundur dari benua kebenaran matematis, justeru tampak terbang naik dan menyapu seluruh cakrawala. Semakin jauh dan semakin bebas para penjelajah matematika itu bertualang, semakin terasa bahwa tembok ruang dan waktu yang tadinya sudah tembus pandang, kini kembali jadi tembok yang kian lama kian kelam, dan matematika pun seperti terkepung oleh kegelapan. Yang tampak terlihat jelas hanyalah taburan berbagai problem matematika yang menolak untuk dipecahkan dan terus merongrong ketenteraman para matematikawan.

Dalam situasi penjelajahan di tepi cakrawala di mana sebagian matematikawan pun hanya bisa meraba dalam gelap inilah muncul sejumlah orang yang bisa melihat sekian hal yang sebagian besar ummat manusia tak sanggup cerap ― orang-orang yang kerjanya dianggap sebagai kekhusukan pengundang bencana. Di garis terdepan matematika, suasana memang tidaklah sedamai telaga yang dipayungi senja yang turun, dan segala hal duduk nyaman di tempatnya masing-masing, seperti dihayati Tengo. Di garis terdepan, sebagaimana di medan perang, badai berkecamuk, meski mungkin tanpa pertumpahan darah. Di ranah yang gerbangnya disibak oleh George Cantor, David Hilbert, Bernhard Riemann, Kurt Gödel, Alan Turing, dan sejumlah matematikawan raksasa di berbagai penjuru dunia itu, berkobar topan yang telah memakan sejumlah korban.

Georg Cantor

George Cantor, si penggagas teori himpunan adalah salah satu korban itu sendiri. Upayanya menggarap dan menundukkan ketakterhinggaan yang kemudian melahirkan bilangan transfinite (lewat hingga) itu membangkitkan kemarahan dan permusuhan dari sejumlah matematikawan. Henri Poincare, matematikawan Perancis terbesar di era itu yang dijuluki sebagai Sang Universalis Terakhir karena penguasaannya atas semua cabang matematika yang dikenal jaman itu, sempat menyebut upaya Cantor sebagai wabah mengerikan yang merusak disiplin matematika. Sementara Leopold Kronecker, matematikawan Jerman yang mengabdikan hidupnya untuk aljabar dan teori bilangan, selama beberapa waktu menyebut Cantor sebagai dukun palsu yang merusak kaum muda.

Matematika, memang tak sebersahaja yang dituliskan Murakami, atau dihayati Tengo. Tentang matematika, Tengo hanya sepertiga benar. Tapi memang, Tengo disebut sebagai guru matematika untuk siswa sekolah menengah saja. Dan citra matematika itu sendiri dipinjam oleh Murakami menjadi perangkat literer untuk menciptakan realitas bayangan: sebuah gelanggang bagi mengalirnya cerita yang dianggap bisa menampung dua bulan di langit Tokyo. Ringkasnya, Murakami memanfaatkan semangat matematika, yang selalu bergerak untuk membuat mungkin hal-hal yang mustahil, to make sense the impossible.

Puisi tentu saja juga sanggup menerangi dan menghadirkan yang mustahil, dan itu ia lakukan antara lain dengan melepas bebaskan penggunaan bahasa agar bahasa bisa menyadari sekaligus melampaui batas-batasnya. Matematika menerangi dan menghadirkan yang mustahil dengan cara yang sekilas tampak sebaliknya: mengetatkan penggunaan bahasa dan membuatnya murni representasi operasi logis, dan bukan representasi dunia fisik. Meskipun perlakuan mereka pada bahasa tampak berbeda bahkan bertolak belakang, namun matematika dan puisi modern sama-sama tumbuh dengan menegakkan otonomi “teks”. Penghormatan terhadap teks itu membuat upaya menakar nilai sebuah struktur matematika dengan memeriksa korespondensinya dengan kenyataan, menjadi upaya yang salah tempat. Meskipun upaya ini bisa dimaklumi untuk kepentingan sains, namun jelas tak relevan bagi kebutuhan matematika. Betapapun, matematika modern memang tak bermaksud membangun korespondensi dengan kenyataan: matematika cuma bergulat untuk menjawab kebutuhan naratifnya sendiri.

Seratus tahun lebih telah berlalu sejak dimulainya penjelajahan besar dan pengetatan matematika yang dikenal sebagai formalisasi matematika itu. Hasilnya yang terlihat selama sekian dekade terakhir adalah matematika modern yang, seoerti ditulis oleh David Bergamini, berkembang ke dua arah. Arah yang pertama adalah bersifat ke luar, dihiasi dengan beraneka keberhasilan dan penaklukan – kemampuan untuk menjelaskan dan memecahkan masalah. Arah yang lain bersifat ke dalam berupa perenungan dan pencarian sukma – hakekat dan tujuan dari abstraksi matematis yang paling puncak.

Di antara kegemilangan penaklukannya, matematika modern dapat menyebut dua ranah yang paling hebat yakni teori permainan dan topologi. Jika teori permainan menggarap analisa strategi, baik itu strategi perang maupun strategi bisnis, topologi menggarap sifat dan gejala berbagai bentuk geometris yang tak berubah ketika bentuk-bentuk itu dipiuh, direntang atau dibalik dari luar ke dalam. Dari semua kebergunaan praktis matematika, yang paling hebat tentu saja adalah Relativitas yang mengubah fisika partikel, astronomi dan kosmologi di Abad ke-20. Teori yang dibuat oleh Albert Einstein itu berutang sangat banyak pada geometri bidang lengkung yang dibangun oleh Carl Friedrich Gauss dan Bernhard Riemann, yang di awal pengembangannya sama sekali tak menjanjikan manfaat praktis. Geometri ini hanya menjelajahi secara logis dan koheren sebuah kemungkinan yang sangat menantang tapi yang selama ribuan tahun tak terpikirkan karena sama sekali tidak dibutuhkan.

Evariste Galois

Di sisi kontemplatif, dua pengembangan matematika yang paling istimewa adalah teori himpunan dan logika simbolik. Jika teori himpunan menghasilkan antara lain aritmetika jenis baru untuk menggarap ketakterhinggaan, logika simbolik adalah upaya untuk menyuling segenap bentuk penalaran manusia menjadi notasi matematis. Keduanya dipertautkan oleh teori grup yang memainkan peran pemersatu yang menyingkap banyak kemiripan yang tak terduga di antara berbagai ranah matematika. Dirintis oleh Evariste Galois dan dikembangkan oleh sejumlah matematikawan seperti Robert Langlands dan Edward Frenkel, teori ini memperlihatkan kemungkinan untuk tumbuh menjadi teori besar pemersatu seluruh cabang matematika, bahkan pemersatu matematika dan fisika.

Keterpaduan agung matematika dan fisika ini disimpulkan juga oleh Max Tegmark. Matematikawan dan kosmologis ini bahkan sudah menegaskan dalam Mathematical Universe Hypothesis (MUH) bahwa semesta raya seisinya ini pada dasarnya adalah struktur matematika, dan bahwa apa pun yang bisa dikonstruksikan secara matematis pasti bisa dikonstruksikan secara fisik. Hipotesis semesta matematis itu tentu saja membentangkan sejumlah tantangan yang mungkin tidak ringan namun menarik untuk mengerjakan kritik naratologi terhadapnya dan membuktikan kekuatannya. Kritik semacam ini tentu saja mengandaikan, sekaligus menegaskan, bahwa khazanah matematika pada dasarnya adalah lumbung kata dan tata bahasa sekaligus. Khazanah ini tumbuh menghasilkan konstruksi logis yang paling abstrak yang belum pernah ada dalam kenyataan, sekaligus konstruksi paling praktis yang langsung bisa digunakan oleh dunia. Pembuktian-pembuktian matematis, dengan segala keketatan logisnya, memang adalah sejenis kalimat yang dapat berkembang menjadi sepenggal ceritera, dengan segala jalinan plot dan subplotnya, dengan berbagai tikungan tajam dan kemungkinan penyelesaiannya.

Kalimat dan ceritera inilah yang digunakan oleh para ilmuwan alam untuk berdialog dengan kenyataan alam. Khazanah Ilmu-ilmu alam kita, khususnya fisika, pada dasarnya adalah buku besar autobiografi dari jagat raya seisinya. Ia adalah riwayat hidup semesta kenyataan fisik yang disusun sedekat mungkin dengan fakta yang dihamparkan oleh kenyataan itu sendiri. Para ilmuwan meyalin ceritera semesta itu dalam sebuah proses yang agak mirip dengan apa yang terlihat di film “The Diving Bell and The Butterfly” (2007) yang diangkat dari memoir Jean-Dominique Bauby. Di film itu, Jean-Do yang terkena lock-in syndrome, menyampaikan langsung kisahnya ke para transcribernya hanya lewat kedipan kelopak mata kirinya untuk memberi isyarat “salah” dan “benar” terhadap setiap konjektur yang diajukan. Ada pun semesta raya kita membiarkan kisahnya tersusun lewat jawaban tidak langsung berupa fakta-fakta emipris yang isinya adalah isyarat tanggapan yang berarti “mungkin” dan “salah” terhadap semua konjektur manusia.

Perbedaan antara Jean-Do dan semesta raya adalah bahwa yang terakhir ini memang bukanlah sumber cerita yang bersemangat dan murah hati menggelar kisahnya. Jagatraya yang mahamegah ini, bahkan mungkin lebih buruk perangainya dari seorang yang dihantam stroke dan menderita locked-in syndrome. Dalam kasus Jean-Do, sekalipun ia menderita kelumpuhan total dari ujung kepala hingga ujung kaki, ia masih punya semangat untuk berkomunikasi, bahkan semangat untuk diketahui. Meski tak pernah berdusta, tapi semesta raya yang maha luas ini tak punya gairah untuk berbicara secara khusus dan penuh semangat pada manusia. Jika Jean Do sangat peduli dan karena itu ia berusaha cukup kerasa agar para transcribernya bisa memahami apa yang ingin ia sampaikan, jagat raya sama sekali tidak peduli dan tentu saja tak berusaha meringankan kesulitan manusia. Manusialah yang harus sangat gigih bekerja memahami fakta-fakta yang dihamparkan semesta, mencari tahu serpihan dan menyusun cerita semesta. (Di antara ilmuwan yang sangat bersemangat menduga hakekat semesta yang ketakpeduliannya lebih keras dari penderita locked-in syndrome itu, itu adalah Stephen Hawking yang juga lumpuh menderita digilias oleh amyotropic lateral sclerosis.)

Dalam upayanya mengorek informasi dan menyalin cerita semesta, para ilmuwan membangun dugaan yang makin bermutu dalam bentuk konstruksi matematika yang kian jauh melampaui intuisi manusia, dan instrumen penguji yang makin lama makin peka jauh melampaui kepekaan indra manusia. Para ilmuwan yang aktif mengejar cerita semesta itu memang sangat terbantu menyusun dan mengajukan dugaan dengan meminjam kalimat dan cerita yang bermekaran dalam musyawarah burung halilintar. Dan seperti pecinta yang gila, para ilmuwan itu terus berupaya membangun instrument penguji yang makin hebat. Pemecah atom yang luasnya melintasi tiga negara itu sudah lama dianggap tak memadai untuk kebutuhan pengujian teori mutakhir. Melihat kecenderungan, tak mustahil bahwa manusia mungkin akan mebangun perangkat yang besarnya seperti Tatasurya, bahkan mungkin sebesar Bimasakti. Obyek-obyek ini mungkin sangat besar buat manusia bumi saat ini, tapi sungguh tak ada artinya dibanding kebesaran jagat raya ini.

Yang menarik adalah bahwa dari kesibukan lintas benua mentranskrip isyarat dan menyusun pecahan cerita dari semesta itu, manusia melihat dirinya berubah dari sekedar transcriber akhirnya perlahan-lahan berkerja sebagai penulis-mitra (co-author). Mula-mula mereka memang takjub melihat kedahsyatan dan misteri jagat raya seisinya, tapi dengan semakin banyaknya pecahan cerita yang bisa mereka padukan, mereka kemudian kian memahami watak naratif jagat raya itu. Cerita raksasa alam semesta itu sendiri sudah merangsang dan mencengangkan, dan terus-menerus menghapus kehadiran sosok pengarang mahahebat yang sanggup merencanakan segala hal sampai ke rincian yang paling halus. Kisah besar ini tampaknya mungkin tumbuh dari ketiadaan, lalu membentuk diri melalui waktu yang terbentang begitu lama, lewat peristiwa acak dan penggandaan yang jumlahnya takterhingga. Lewat peristiwa benama peluang, replikasi, dan seleksi ini, jadilah cerita yang bukan main kaya yang memungkinkan munculnya sesosok karakter yang sadar diri.

Jagatraya seisinya ini termasuk kehidupan yang berkembang di dalamnya memang sebuah kekayaan dan keajaiban mahabesar. Sebagai sebuah mukjizat, ia bukan main sensitif dan rapuh, dan karena itu menjadi luar biasa berharga. Jika saja cerita mahasemesta ini dimulai dari awal lagi, sangat besar kemungkinan bahwa si karakter yang bernama makhluk berakal itu tak akan muncul. Puncak seluruh mukjizat itu, hal yang paling menakjubkan yang ditemukan dari seluruh pembacaan dan penulisan kisah jagat raya, adalah bahwa karakter yang terbentuk dalam kisah itu bukan saja bisa memahami cerita yang melahirkannya. Si karakter bahkan pelan-pelan bisa melihat betapa cerita itu, termasuk si karakter sendiri, menyimpan sejumlah kelemahan, sejumlah cacat, yang mungkin bisa, bahkan menantang untuk, diperbaiki.

Dulu Albert Einstein pernah berkata bahwa yang paling tak terpahamkan tentang alam semesta ini adalah bahwa semesta ternyata bisa dipahami. Kini kita bisa bilang bahwa manusia bisa memahami alam semesta karena keduanya sebenarnya satu; keduanya digerakkan oleh semangat yang juga menghidupkan puisi yakni dorongan menggapai yang tak terbatas dengan bahan-bahan yang terbatas, dan dengan menghormati larangan yang telah melahirkannya dan meremehkan larangan yang bukan bagian dari dirinya. Ini juga yang menjelaskan gejala yang disebut oleh Eugene P. Wagner The unreasonable effectiveness of Mathematics in Natural Sciences. Dorongan menggapai yang tak terbatas dengan bahan-bahan yang terbatas itu, menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk, dan mereka bisa saling menerangi satu sama lain.

Pemahaman tentang watak puitis (poesis) dari matematika dan semesta raya itulah yang ikut membuat si karakter bergerak dari fascinatum et tremendum ke existential pleasure of engineering. Di ujung kenikmatan yang tak terkira itu, ia kembali terpukau mendapatkan berkah yang tak ternilai besarnya yang sebenarnya tak pantas ia terima, yakni kesempatan untuk meneruskan naratif besar semesta raya seisinya, agar berkembang lebih baik, lebih sempurna, dari yang sebelumnya. Karena itu, memang agaknya tak terhindarkan bahwa manusia akan menghadapi semesta raya sama seperti Tengo melihat rimba raya ceritra pada umumnya, dan naskah Air Chrysalis pada khususnya, yang baginya tampak begitu menjanjikan tapi ditulis dengan lumayan buruk. Membaca dan memahami naskah besar jagat raya ini, manusia juga akan merasakan sensasi baru yang membesarkan hati sekaligus dorongan yang tak terbendung yang tak menghiraukan segala resiko dan bencana untuk menyunting dan meneruskan naskah besar yang memang masih jauh dari selesai itu.

Kerja penyuntingan itu tentu dimulai dengan menyunting dan menulis ulang konstitusi biologis si karakter sendiri agar sesuai dengan kebutuhan naratif yang berskala semesta. Immortalitas yang dikejar dan gagal diraih oleh Gilgamesh ribuan tahun yang lalu itu, namun yang kini mungkin dicapai lewat penyuntingan konstitusi biologis itu, adalah salah satu tanggapan wajar atas kebutuhan naratif berskala semesta. Immortalitas itu sendiri adalah unsur yang sangat penting dalam permainan semesta yang luar biasa menakjubkan, yang gelanggangnya terbangun di atas dasar bahwa semesta matematika yang penuh kemungkinan itu, memang jauh lebih luas, lebih kaya dan lebih liar dari semesta fisik; bahwa semesta raya fisik kita yang tampak begitu megah dan angkuh namun sebenarnya terhingga itu, sungguh dirundung oleh hasrat yang berkobar dahsyat untuk meniru semesta matematika yang sungguh tak berhingga namun bisa digapai oleh imajinasi makhluk cerdas yang terus menerus berkembang. Pendek kata, sebagaimana kehidupan berupaya meniru seni, alam semesta juga berupaya meniru matematika, dan interplay antara matematika dan semesta fisik itu adalah undangan bagi kecerdasan untuk memainkan perannya yang bukan main berharga: berkah terbesar di alam semesta.

Pustaka:

• David Bergamini, Mathematics. Life Science Library (Canada: Time Inc, 1972)
• Haruki Murakami, 1Q84 (New York: Vintage International, 2011)
• Edward Frenkel, Love and Math: The Heart of Hidden Reality (New York: Basic Books, 2013)
• Max Tegmark, Our Mathematical Universe: My Quest for the Ultimate Nature of Reality (New York: Alfred A. Knof, 2014).

Jakarta, Juni 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: