Seni Rupa

April 27, 2009

Anemon Baja

Tahun lalu, seusai pembukaan pameran tunggalnya bertajuk NEO Painting di Galeri Koong, Teguh Ostenrik (TO) memberi saya selembar poster berisi foto patung mutakhirnya. Karya yang disusun dari rongsokan logam itu diberinya judul “Give Me a Big Hug” (88 x 153 x 145 cm3). Dengan 11 tentakel baja yang menjulur-julur ke angkasa, patung logam itu, buat saya, cukup kuat menyarankan harapan yang menggapai. Terpacak di tanah dengan landasan yang pejal, dengan bongkahan logam besar yang hatinya bolong seakan meleleh jadi juluran tentakel, karya ini memang bisa terasa seperti kerinduan bumi pada langit. Itu juga bisa berarti kerinduan tanah pada air, kerinduan manusia pada sesama manusia dan juga pada yang bukan manusia.

teguh_02

Pada karya ini saya merasa bahwa TO berhasil menghidupkan logam itu, menghembuskan jiwa ke lempengan sampah, dan yang kita peroleh adalah rongsokan berkarat dengan jantung yang berdetak.

Menghidupkan benda mati, menghadirkan the humanity of things adalah rumusan umum yang bisa dipakai untuk menjelaskan seluruh kekuatan karya artistik-kreatif, termasuk kreasi TO. Tapi rumusan itu rasanya tak cukup spesifik untuk menjelaskan kekuatan khusus karya patung logam TO.

Saya mencoba mencari rumusan yang agak lebih tajam, selama beberapa minggu menjelang pameran tunggal deFACEment TO. Rumusan itu saya peroleh di malam acara pembukaan pameran (25 April 2009) setelah melihat seluruh karya yang terpajang di ruang dan halaman Gedung Arsip Nasional. Rumusan itu sebenarnya juga agak umum, tapi cukup membantu saya memahami keistimewaan karya patung TO: “penyatuan dua cakrawala”.

Pada karya patung TO, paling tidak hadir dua cakrawal yang dalam pengalaman intuitif spontan kita sehari-hari mustahil bisa bertaut secara alami.

Cakrawala pertama diisi oleh sampah, rongsokan, benda-benda kasat mata yang hanya menyodorkan beban dan penyakit, bongkahan pejal dan berat yang tak gampang dibentuk, alat pembunuh yang begitu mudah melukai dan mencabut nyawa; struktur padat-keras yang kelak mejadi begitu rapuh setelah dikerkah oleh waktu.

Cakrawala kedua adalah benda tak kasat mata, perasan-perasaan yang halus tapi bisa begitu gampang berubah, seperti cinta dan gairah; tapi juga solidaritas dan berbagai hal abstrak yang telah menimbulkan begitu banyak hal yang baik dan agung dalam sejarah peradaban. Hal-hal yang mulanya mungkin tampak getas dan cepat berlalu ini, memang bisa membuahkan sejumlah hal yang kemudian bertahan selama ribuan tahun, dan jadi kian istimewa bersama berlalunya waktu.

Patung-patung TO menautkan beberapa hal dari kedua cakrawala itu. “Give me A Big Hug” adalah salah satu di antara sejumlah karya yang dengan bagus menghadirkan pertautan itu. Karya-karya ini, dengan bobot dan kepejalannya, seperti menggumpalkan sekian perasaan dan aspirasi manusia yang terbentang di sebuah spektrum yang cukup lebar.

Sayang bahwa TO dan kuratornya, walau mungkin cukup menyadari kehadiran dua cakrawala itu, tak selalu berupaya mengoptimalkan tegangan dramatik yang mungkin muncul dari perpaduan dua kutub cakrawala itu. Judul pameran deFACEment tentu cocok untuk karya lukis TO, tapi tidak cukup kena buat karya-karya logam. Banyak di antara patung itu yang justeru menyarankan humanisasi, bahkan individuasi, dan bukannya penghapusan wajah dan penggerusan kemanusiaan pada skala peradaban.

Tidak optimalnya tegangan dramatik tadi saya rasakan ketika membaca beberapa judul karya logam itu. Karena watak bahan dan hasil olahannya, semua patung logam yang dipamerkan TO ini menurut saya menuntut judul dengan muatan kognitif, dengan gumpalan emosi, yang setara. Sebagian karya beruntung mendapatkan judul yang cukup kuat menyarankan narasi sekaligus puisi, sebagian lagi belum. Pemberian nama atau judul itu memang bertaut rapat dengan kerja mental pembentukan metafora dan pencerapan dunia dalam arti yang seluasnya.

Tapi, saya kemudian sadar bahwa mungkin saja saya mulai membangun harapan yang agak berlebihan di sini: menjadi serakah dan menuntut terlalu banyak dari sang seniman. Toh, seperti kata TO di katalognya, “Setiap karya dalam seri ini diciptakan sebagai pencetus impuls visual bagi masing-masing pengamat yang bebas bereaksi atas karya tersebut.”

Kekurangan yang mengganggu itu tentu harus saya atasi sendiri. Sambil berjalan sendirian di halaman berumput dan di kamar-kamar bangunan peninggalan abad 18 tempat deretan karya itu dipamerkan, saya coba memotret, dan dengan bermain-main saya ajukan judul lain, mengganti — untuk sementara — judul beberapa karya.

teguh_03

Belon Disasak” (157 x 77 x 63 cm3) adalah karya menarik yang potretnya menghias sampul depan katalog. Patung bagus ini dengan seratusan kawat baja yang mekar bagai benang sari, coba saya beri judul palsu: The Dancing Sea Anemone — dan saya bayangkan karya yang lahir di daratan itu kini hadir di tengah hamparan terumbu karang di Taka Bone Rate, atau di terumbu mana pun di planet ini, menari bersama arus, dan mungkin terbanting bersama gempa atau terburai bersama bom ikan, namun yang pasti berbagi hidup dengan segala yang bernafas dan bergerak di bawah permukaan laut. Judul lain yang coba saya bubuhkan adalah Anemone, Dreaming the Last Rainbow.

teguh_05

Di bagian tengah depan halaman berumput Gedung Arsip Nasional, tegak karya TO yang tak kalah menarik. Tersusun dari puluhan lempeng besi yang dipatri seakan membetuk zirah, karya ini diberi judul “Seribu Wajah” (197 x 97 x 172 cm3). Tertarik oleh kata “Seribu” pada judul asli, dan oleh “jahitan” lempeng-lepeng besi di sekujur karya itu, saya coba memberinya judul lain, Serendipity and the Eternal Longing of Prime Number. Saya bayangkan, tiap lempeng besi mewakili sebuah bilangan prima. Penumpukan dan perapatan lempeng itu menghasilkan struktur mirip tameng raksasa yang adalah dinding sandi cryptography, sementara deretnya yang menumpuk ke atas mewakili impian mustahil para matematikawan untuk mendapatkan bilangan prima terbesar yang bukan bilangan tak terhingga.

teguh_06

Di sisi kanan “Seribu Wajah” tegak sebuah patung lain berjudul “Selalu Kupantau” (225 x 85 x 106 cm3). Dari patung ini memang menjorok keluar selonjor besi seukuran jempol kaki yang mengingatkan saya pada antena satelit, tapi yang bisa juga tampak seperti paruh burung. Citraan burung itu mula-mula menyeret saya membayangkan karya itu sebagai versi besar dari Burung Hitam Wallace Stevens yang mematung diam di antara 20 gunung salju, dan Gagak Edgar Allan Poe yang datang dari gigir malam Plutonian dan bertengger di patung Dewi Athena. Sejurus kemudian, setelah mengamati kaki-kaki patung yang besar itu, saya tergoda memberinya judul palsu Confession of a Disappointed Kiwi. Saya bayangkan si burung sial yang ditinggal merana oleh pasangannya itu, meratap sepanjang tahun hingga semua bulunya berubah warna sebelum luruh satu persatu, dan ia kini merinding ketakutan ketika ia sadar bahwa rindunya yang menggumpal berkarat telah mengubah tubuhnya menjadi setengah dinosaurus.

Karya lain, seperti “Wajah Bulan” (216 x 78 x 196 cm) yang terpampang di ruang depan gedung, untuk sementara saya tukar judulnya dengan Capricious Universe. “The Way I approach” (84 x 114 x 199 cm) ditukar oleh The Anxiety of the Second Flame, dan “Mulutnya Penuh Kentang” (115 x 53 x 111 cm) menjadi The Weeping Continent, dst.

The Way I Approach

Sambil asyik bermain dengan pertukaran judul itu, saya sadar juga bahwa judul-judul gadungan yang saya ajukan itu agak asal-asalan. Tak cukup reflektif, tak cukup imajinatif. Dan juga bahwa sangat mungkin saya terbawa hanyut oleh lamunan sendiri, menjauh dari karya patung yang jadi dasar permainan. Keterhanyutan itu dicegah, dan kewarasan serta kewajaran itu direngkuh lagi, dengan kembali mengingat bahwa The Weeping Continent itu tak lain adalah “Mulutnya Penuh Kentang”, bahwa Dreaming the Last Rainbow adalah “Belon Disasak.”

Gerakan bolak balik antara judul asli yang dibubuhkan dan judul gadungan yang iseng saya imbuhkan, membuat struktur baja yang terpacak di antara kedua judul itu seakan menari seperti polip karang di laut pemaknaan. Gerakan bolak-balik itu menciptakan lapis permainan baru, melengkapi permainan awal yang tumbuh dari pertautan dua cakrawala yang tersimpul di patung-patung TO. Permainan ini membuat malam pembukaan pameran itu jadi kian menyenangkan. Karya rupa yang dipamerkan TO itu, buat saya memang menyediakan sekian gerbang buat berbagai permainan dan percakapan; dan percakapan dengan rongsokan sampah yang kukuh, pejal, lembam dan penuh karat itu rupanya bisa juga jadi lebih asyik ketimbang pencakapan dengan manusia sungguhan yang bermimpi di hanya satu cakrawala.

Percakapan dengan struktur logam yang meniti berbagai cakrawala dalam pertemuan fisik yang barangkali tak berlangsung lama itu, sungguh berharga dan layak dikenang. Tapi yang lebih penting dicatat adalah pencetus impuls visual yang mendasari percakapan itu: deretan karya patung TO yang pelan-pelan dikunyah karat.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Advertisements

3 Responses to “Seni Rupa”


  1. Saya sangat suka dengan judul ‘gadungan’ anda. Begitu puitis dan penuh arti. Tapi semuanya dalam bahasa Inggris. Judul apakah yang akan anda berikan apabila anda diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia? Bukannya ingin menguji, tapi saya sangat menggemari tulisan anda.

    • guratcipta Says:

      terima kasih. ketimbang ujian, pertanyaan anda saya terima sebagai ajakan bermain. judul gadungan “the dancing sea anemone” mungkin saya “indonesiakan” menjadi “penari terakhir di parut khatulistiwa”…
      “parut” tahu kan ya? bekas luka…

  2. Anto Says:

    tabe Daeng,
    bisakah luangkan barang sekolom dlm weblog ini semacam “berbagi Tips menulis’ artikel non fiksi dengan gaya bercerita yg kuat seperti gaya menulis ta’ ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: