Sastra

February 18, 2009

Cala Ibi dan Neokolonialisme (?)

Note Katrin Bandel menyetujui pandangan saya bahwa “Pujangga Baru” dan “TUK” tidak sepenuhnya bisa dibandingkan. Perbedaan dasarnya, bagi Katrin, berkaitan dengan posisi dan konteks zaman masing-masing.

Buat saya, ada problem lain yang juga tak bisa diabaikan, yakni problem over-generalisasi. Generalisasi memang diperlukan tapi hanya sampai batas tertentu. Jika batas ini tak disadari lalu dilanggar terus, over-generalisasi yang terjadi bisa lebih buruk ketimbang sekedar memiskinkan. Over-generalisasi ini yang ikut membuat jutaan orang hidupnya sengsara sejak 1965.

cala-02

Sekali lagi, “Pujanggan Baru” itu terdiri dari sejumlah orang yang berbeda-beda. Pandangan artistik dan kultural orang-orang ini bahkan bisa bertolak belakang. Orang-orang “Pujangga Baru” mungkin punya beberapa persamaan, namun perbedaan di antara mereka juga sangat banyak. Generalisasi “Pujangga Baru” mungkin bisa membantu banyak di bidang sosiologi dan sejarah sastra, tapi tak bisa membantu banyak di ranah kritik sastra: kita bisa dengan tanpa sadar kehilangan gambaran bukan hanya tentang keunikan tokoh-tokohnya, tapi yang jauh lebih penting adalah keunikan, kekuatan dan kelemahan, masing-masing karya orang-orang itu.

Keaneka-ragaman seperti ini bisa muncul di kelompok mana pun.

Karena keberatan saya pada Saut Situmorang soal generalisasi “Pujangga Baru” ini, saya juga akan membatasi penggunaan generalisasi pada apa yang disebut “Kelompok TUK”. Sejak note ini, saya akan menghindari penggunaan kata “Kelompok TUK”, dan tak akan melibatkan diri dalam pembicaraan tentangnya, atau tentang orang-orangnya yang punya pikirannya sendiri-sendiri itu dengan kekuatan dan kelemahan karyanya masing-masing. Pembicaraan seperti ini ada di ruang yang lain.

Saya hanya akan terus melibatkan diri dalam diskusi tentang karya, dan itu tak terbatas hanya pada karya orang atau “kelompok” tertentu saja. Untuk diskusi sastra ini, ciptaan memang jauh lebih menarik ketimbang si pencipta.

Dalam notenya, Katrin “menyebut” Cala Ibi (Katrin menyebut nama pengarangnya, saya memilih menyebut judul karya) sebagai contoh sastra yang terkesan dibuat dengan prinsip “yang penting aneh dan tak bisa dipahami.” Karya semacam ini, karya yang “bereksperimen untuk eksperimen itu sendiril”, “canggih” dan “kontemporer”, adalah karya yang, ringkasnya, cenderung abai mempersoalkan konteks pascakolonial dan relasi kekuasaan neokolonial. Pendapat ini tentupunya kaitan dengan pendapat Walter Benjamin yang menyatakan bahwa “seni untuk seni” mencapai konsumasi dalam fasisme.

Mari kita lihat paragraf pertama Cala Ibi:

Bapakku anggrek bulan, putih dari hutan. Ibuku mawar merah di taman, dekat pagar pekarangan. Bertemu suatu pagi di pelabuhan. Melahirkanku. Bayi merah muda kemboja. Bunga kuburan.

Dengan 26 kata saja, paragraf ini serentak menghadirkan dan menghadap-hadapkan secara simetris sejumlah hal yang universal dan yang partikular. Hal-hal umum yang dikenal semua manusia dengan konsisten muncul berpasang-pasangan: laki (“bapakku anggrek”) dan perempuan (“ibuku mawar”); orang tua dan anak ; kelahiran dan kematian (“bunga kuburan”); siang (“suatu pagi”) dan malam (“bulan”); yang liar (“anggrek hutan”) dan yang dibudayakan (“mawar taman”).

Sementara itu, lingkungan alam yang sangat akrab bagi orang Indonesia hadir juga dengan cara yang sangat terukur, bergerak linier dari ketinggian yang mempertemukan angkasa dan daratan di gunung (“hutan”) merendah ke dataran pemukiman dan mungkin lembah (“taman” dan “pekarangan”) dan berakhir di pantai yang mempertautkan daratan dan perairan(“pelabuhan”). Tak cukup dengan citraan lingkungan alam itu, keindonesiaan yang lebih spesifik dihadirkan sejak di kalimat pertama, yakni warna bendera (“anggrek putih” dan “mawar merah“).

Secara lugas bisa dikatakan: paragraf ini, dengan bunyinya yang indah dan citraan yang dipungut dari lingkungan yang dekat, adalah paragraph tentang “anak dunia” sekaligus anak bangsa”. Sejenis humanisme yang halus berandengan dengan nasionalisme yang memberi ruang pada bangsa yang lain (“kamboja”) yang sekaligus bisa bersikap rileks pada bangsa sendiri (perhatikan pembalikan warna bendera yang dimulai dengan yang putih disusul dengan yang merah. Para nasionalis kaku tentu akan ngotot memulai dari yang merah lalu putih. Selain bersikap rileks yang dapat mencegah chauvinisme itu, pembalikan warna itu juga sekaligus bisa mengingatkan pada bangsa yang lain, di benua yang lain: Polandia).

Apakah paragraf yang bunyinya indah ini juga bermain-main dengan bentuk? Tentu saja! Apakah paragraph ini obskur? Jelas tidak! Apakah ia ruwet dan tak bisa dipahami? Buat sastrawan yang belum bisa membedakan “maharaja penguin” dari “penguin maharaja”, misalnya, paragraf ini bisa jadi memang amat sulit dipahami dan tampak ruwet tanpa tanding, gelap segelap-gelapnya.

Paragraf yang hanya mungkin dihasilkan oleh penulis yang punya kesadaran komposisi kuat, kepekaan lingkungan yang tajam, dan sikap rileks yang memadai, ini adalah salah satu paragraf awal terbaik dalam sastra Indonesia kontemporer. Kecerdasan komposisi yang ada dalam paragraf ini adalah unsur yang ikut membuat Cala Ibi, dalam sejumlah hal, lebih kuat dari Saman, Larung, Cantik itu Luka atau Lelaki Harimau, misalnya.

Paragraf dari novel yang dianggap “kontemporer”, bermain-main dengan bentuk benar-benar sekadar untuk “eksperimental” saja, ini secara cerdik menghadirkan citraan dan komposisi yang sekaligus menyentuh rasa kebangsaan dan kemanusiaan. Kepekaan terhadap lingkungan tanah air dan kesamaan manusia, tentu berhubungan dekat dengan kesadaran yang sanggup mempersoalkan konteks pascakolonial dan relasi kekuasaan neokolonial.

Itu baru faragraf pertamanya. Belum faragraf-faragraf lain. Maluku dan sejarahnya yang hadir sebagai latar, bukan cuma bisa menggiring pembaca mempersoalkan konteks pascakolonial dan relasi kekuasaan neokolonial. Seperti halnya novel yang bagus, Cala Ibi menampung lebih banyak dari sekedar kenyataan sosial politik yang berkait dengan situasi pascakolonial dan relasi kekuasaan neokolonial saja.

Unsur-unsur yang lebih kaya itu tak akan dibahas di note ini, karena note ini belum menjadi kritik yang agak menyeluruh atas sebuah karya. Nanti, jika diskusi sudah bergerak jelas ke telaah karya sastra ― ke perbincangan tentang kekuatan dan kelemahan sebuah karya, perbandingan yang agak ketat antar karya, dsb ― note semacam itu akan dikerjakan.

Yang jelas, adalah keliru besar jika Cala Ibi dimasukkan ke kelompok karya yang abai pada konteks pasca kolonial, apalagi takluk pada kekuatan neokolonial. Cala Ibi memang tak sejantan “Trilogi Afrika” (Things Fall Apart, No Longer at Ease, Arrow of God) yang bicara lantang tentang dominasi dan resistensi. Tapi bagi pembaca yang benar-benar peka, efek jangka panjang novel yang “feminin” ini bisa jadi sama. Pembaca cerdas Cala Ibi mustahil menjadi kebas pada tegangan kekuatan global dan dominasi neokolonialisme seperti yang dituduhkan.

Kritikus sastra feminis yang membaca dengan tajam dan jernih Cala Ibi, mungkin akan dengan cerdik “sengaja” bilang bahwa jika ada sekian kelemahan Cala Ibi, maka salah satunya agaknya adalah watak “feminin”nya itu: Cala Ibi terlalu halus, terlalu lembut, buat para pembaca novel “kritis” yang seleranya dibentuk oleh karya standar semacam, misalkan saja, “Trilogi Afrika”, Gadis Pantai, atau Noli Me Tangere, yakni deretan karya yang ditulis oleh para lelaki. Tapi, dengan kehalusannya itu bukankah Cala Ibi menegaskan keaneka ragaman sensibilitas manusia? Cala Ibi, dengan caranya sendiri, menampik penyempitan dan penyeragaman selera.

Selain membaca Edward Said, Homi Bhabha, Gayatri Spivak, dan berbagai ahli teori itu, memang sangat perlu membaca karya sastra dengan tajam. Hanya dengan pebacaan tajam seperti itu, bisa ditemukan kekuatan besar dan serius yang tak ingin menonjol-nonjolkan diri dalam karya yang sekilas terkesan jinak, main-main, apolitis.

Tak jarang Edward Said, Homi Bhabha, Gayatri Spivak, dan teman-temannya itu harus dilupakan dulu saat membaca karya sastra. Sering kali mereka ini menyusun teorinya yang kemudian tersebar ke mana-mana itu dari karya-karya yang sudah lama dikenal. Sementara itu, kadang-kadang nongol karya yang benar-benar membuka kawasan anyar, dan para penyusun teori itu ngos-ngosan menyusul dari belakang untuk mencatat dan menyusun apa yang sudah dijelajahi cukup jauh oleh sang karya.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Catatan: esei pendek ini adalah bagian dari pertukaran pendapat antara saya dan sejumlah kawan yang berlangsung di Facebook.

2 Responses to “Sastra”

  1. Amber Says:

    It was nice to see your blog. Just keep on Writing!

  2. aya Says:

    Sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas-tugas. Makasih kak….!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: