Seni Rupa

December 10, 2008

Ugo di Mata Omi

Omi Intan Naomi jelas penulis yang berbakat: ia tahu di mana koma diletakkan, kapan titik dibubuhkan. Ketukan yang tepat dan irama yang mengalir, terasa kuat dalam tulisan-tulisannya. Bakat menonjol ini terekam di buku The Sound of Silence and Colors of the Wind Between the Tip of a Cigarette and Fire of the Lighter [17 Years of Ugo Untoro’s Fine Arts, 1989-2006].

warna_angin

Omi adalah pembaca yang daya telannya cukup besar. Obyek pembacaan yang menarik perhatiannya terentang lumayan lebar, dari karya-karya sastra, seni rupa, film hingga ke musik. Kitab yang dicernanya jelas bukan cuma yang berisi dongeng kanak-kanak, ilmu komunikasi atau hiburan pop, tapi juga filsafat Barat hingga sejarah dan kebudayaan Jepang. Tentang Jepang ini, Omi sendiri mengakui ia merasa punya ikatan khusus. Yang mengerutkan dahi adalah bahwa meski ia bisa menyimpulkan apa itu haiku, dan karena itu pasti tahu nilai ruang kosong dan penghematan kata, Omi tak mampu menerapkan pengetahuan itu di buku yang dikarangnya ini.

Tentu saja keliru menuntut lahirnya haiku ringkas dari upaya yang hendak menelaah perkembangan karya seorang senirupawan yang terentang sepanjang 17 tahun. (Sebagai tanggapan kreatif seorang seniman terhadap karya seniman lain, tuntutan lahirnya haiku ini bisa menarik, bahkan menantang, mengingat Omi yang pernah menulis sajak itu sudah menangkap sendiri bahwa karya-karya Ugo itu adalah haiku, dengan rupa). Yang jelas, karangan Omi adalah ruang yang tak tertata dengan seimbang, dan disesaki oleh berbagai informasi yang bersitumpuk. Omi mungkin pengumpul informasi yang tekun, tapi ia peramu informasi yang kurang berdisiplin, yang dengan enteng menyetarakan nilai intan dan nilai kerikil. Akibatnya, buku yang dalam beberapa segi sangat menarik ini, bisa diberi antonomasia: Everything You Need (and You Don’t Really Need) to Know About Ugo Untoro’s Fine Arts, 1989-2006.

Yang saya maksud dengan informasi kerikil itu adalah keterangan, kadang juga komentar, yang tak punya kaitan langsung dengan seni rupa Ugo Untoro (walau mungkin punya kaitan khusus dengan Omi sendiri). Contohnya antara lain adalah tentang pacar Omi yang dulu pemain Taekwondo, tentang galeri yang disubsidi yayasan-yayasan dermawan dari Holland, tentang karya tulis pertamanya yang dimuat di Majalah Kuncung ketika ia berusia tujuh tahun, dsb, dsb. Keterangan seperti ini dihadirkan Omi memang sebagai ilustrasi dari pandangan dan pendiriannya, namun keterangan ini membuat kita lebih banyak tahu tentang Omi atau tentang hal yang lain, ketimbang tentang karya rupa Ugo.

Selain penilaian bahwa karya rupa Ugo itu seperti haiku, dan karya itu lebih berupa upaya mengabadikan momen yang berkelebat ketimbang kristalisasi sederet renungan intelektual, ada sekian pernyataan Omi (tentang karya Ugo) yang lain yang menarik. Juga tentang hal-hal yang tak berhubungan langsung dengan karya Ugo, tapi yang tak bisa diabaikan begitu saja. Misalnya adalah pernyataan bahwa Mba’ Yayuk sangat vital dalam riwayat karier Ugo, dan Mba’ Yayuk sesungguhnya jauh lebih dekat dengan Ugo ketimbang yang Ugo sadari. Banyak pernyataan bernas Omi itu tak diurai lebih jauh, bagaikan intan yang belum benar-benar digosok, dan kemilaunya makin tertutup oleh informasi kerikil yang menimbuninya. Jika saja informasi-informasi kerikil itu dipisahkan, dan Omi bersedia menggarap lebih tekun temuan-temuannya, hasilnya tentu akan jauh lebih asyik. Yang dikomentari Omi memang bukan cuma karya rupa Ugo. Dari komentar-komentar yang tampak bergerak dengan digresi itu, terbayang dinamik sebuah dunia yang bisa disebut sebagai dunia seni rupa Yogya, bahkan seni rupa kontemporer Indonesia.

Menurut keterangan penerbit, Omi menulis naskah buku ini hanya dalam 10 hari, kendati menurut pengakuan Omi sendiri ia sudah “mengikuti” secara kebetulan saja karya-karya Ugo selama sekitar 10 tahun. Mungkin karena waktu yang tak cukup itu, Omi tak sempat mendalami dan mengurai lebih jauh temuan-temuannya. Saya duga, jika waktunya memadai dan Omi dibantu dengan metode yang tepat, yang lebih ketat dan berdisiplin, maka yang akan kita peroleh jelas bukan hanya penyataan-pernyataan yang muncul seperti sambil lalu dan melayang dengan enteng, bukan juga jejalan berbagai neologisme yang terasa dipaksakan (seperti parasiah, dari kata paras) dan yang berlebihan (seperti pribadional, dari kata pribadi dan personal).

Selain terhanyut oleh godaan memproduksi neologisme sebanyak mungkin (mengugo, terugokan, perugoan, dsb), Omi juga tampak mudah terseret dengan prasangkanya sendiri. Bias penilaian Omi itu tampak paling jelas pada Ugo dan kuda-kudanya. Buat Omi, kuda-kuda Ugo itu kurang lebih gejala snobisme saja, bahkan mungkin penyimpangan psikologis: jenis penyakit yang menghinggapi banyak seniman yang punya sekian piaraan yang kemudian hanya ditelantarkan saja. Dan Omi menggaris bawahi (sambil menyoraki dan mensyukuri) Koboi Menayu yang terlempar dari punggung hewan piaraannya itu. Omi agaknya belum bisa melihat bahwa Ugo dan kuda-kudanya adalah lembaran baru dalam satu aspek tertentu khazanah seni rupa dunia, dan karena itu buku penting Tamsin Pickeral (The Horse: 30,000 Years of the Horse in Art. Merrell, 2006) harus dikoreksi ulang sebab tak akan lengkap tanpa kuda-kuda Ugo.

Buat mereka yang ingin langsung menyelam ke inti kekuatan karya seni Ugo, yang ingin dengan rinci mengenali bukan hanya pergeseran dan pelampauan yang ada, misalnya, buku ini terasa sebagai timbunan informasi yang harus diayak dan didulang dulu. Lembaran-lembaran Omi akan terasa terlalu sesak dengan hal-hal yang dengan mudah membuat jenuh, dengan lanturan yang bisa terasa berlarat-larat. Buku ini memang sulit dirampungkan dengan sekali duduk. Pembacaan yang berlangsung akan lebih banyak berupa penyicilan saja. Meski letak titik komanya benar, buku ini, dengan ilustrasinya yang agak kekecilan, lebih melelahkan ketimbang teks Roland Barthes, Camera Lucida misalnya, yang juga mengurai meditasi tentang kilasan. (Bagi Omi, setiap naskah yang mencantumkan secuplik Barthes akan membuat naskah itu langsung jadi ruwet.)

Buat mereka yang sangat sabar dan ingin punya (tanpa harus sesegera mungkin mengerti betul) segala hal yang penting dan tak penting tentang Ugo dan lingkungannya, juga tentang Omi sendiri, buku ini tampaknya akan sulit menemukan tandingan. Ia “buku babon” bagi ummat Ugo, dan kitab pelengkap bagi pengagum Omi. Omi memang punya sejumlah kualitas yang jika berkembang penuh, ditopang oleh erudisi yang tidak biasa itu, akan dengan mudah menarik banyak pengagum. Sayang betul usia Omi singkat.

Semua kesimpulan di atas muncul sebelum saya membaca bagian akhir buku ini, “Masa Depan Perugoan”. Setelah merampungkan bagian akhir, saya sadar buku ini adalah persembahan sekaligus pembelaan dari seorang sahabat Ugo yang tidak ingin mengakui dirinya sahabat sekaligus pembela Ugo. Di bagian depan, Omi pagi-pagi sudah menampik “tuduhan” Hendro Wiyanto bahwa ia secara intelektual dekat dengan Ugo. Dengan penampikan itu, Omi menegaskan jarak antara dirinya dengan Ugo: jarak yang bisa membuatnya obyektif dan lepas dari interes pribadi. Sambil mencibir (menggoda) kecengengan Ugo (yang ingin di terima Yogya), Omi jelas membela Ugo dan karyanya dari salah tafsir dan salah nilai semua orang (bukan hanya salah nilai para kurator dan kolektor, tapi juga salah nilai dari diri Ugo sendiri). Seperti kawan sejak masa kecil yang penuh pengertian, kalau bukannya malah seperti kakak sulung “menasihati” adiknya tersayang, di bagian akhir buku ini Omi menandaskan bahwa yang dibutuhkan Ugo hanya sedikit kerendahan hati untuk tidak menganggap diri lebih mumpuni, dan mungkin juga perlu cuti. Istirahat dikitlah. Jaga diri. Ugo (dan perugoan di masa depan) akan baik-baik saja. Omi diam-diam memang lebih dekat ke Ugo ketimbang yang ia akui dan yang mampu ia jelaskan sendiri.

Catatan tambahan:

Semangat pembelaan Omi itu yang agaknya , sadar atau tidak, sangat mempengaruhi struktur buku ini. Selain menandaskan jarak antara dirinya dengan Ugo, Omi juga menegaskan latar dan sosok dirinya, dengan akibat banyak unsur biografis dirinya terangkut ke dalam buku. Unsur-unsur biografis Omi itu adalah penegasan atas “kualifikasi” Omi sebagai pembela. Setelah menegaskan netralitas dan kualifikasi dirinya, Omi pun membeberkan  kelemahan tuduhan (penilaian keliru) yang dijatuhkan pada Ugo. Penilan meleset para kurator, kolektor dan pemilik galeri, juga penilaian diri Ugo sendiri, coba dia robohkan satu persatu dengan cara antara lain mencopot dasar-dasar tuduhan itu dan memblejeti rujukannya.

Pertanyaanya kemudian, apakah tidak lebih efektif dan lebih menarik jika pembelaan Omi dilakukan pertama-tama dengan membiarkan sendiri karya-karya Ugo membela dirinya? Mengukuhnya segenap kekuatan karya rupa Ugo akan dengan otomatis merontokkan tuduhan yang datang, dan membuat soal netralitas dan kualifikasi Omi tak lagi perlu diajukan. Dengan demikian, bagian-bagian naskah yang tak berhubungan langsung dengan karya Ugo, jadi punya kesempatan untuk tumbuh sendiri.

Jika pendekatan karya yang diutamakan, dan dikerjakan dengan disiplin yang cukup, naskah tebal Omi ini akan lebih mudah mewujudkan potensi besarnya yaitu menjadi paling tidak tiga gugus naskah yang memikat: naskah tentang karya rupa Ugo ― perkembangan dan pencapaiannya dalam kurun 17 tahun, naskah tentang dinamik kehidupan seni rupa Yogya dengan segenap kegilaannya di mana Ugo menjadi salah satu tokohnya, dan naskah biografis Omi sendiri yang mungkin saja tumbuh jadi novel dengan latar dunia seni yang kuat.

Memang sayang Omi terlalu cepat pergi.***

Nirwan Ahmad Arsuka

* Catatan ringkas ini adalah pengembangan dari pengatar Diskusi dan Peluncuran Buku Omi Intan Naomi, The Sound of Silence and Colors of the Wind Between the Tip of a Cigarette and Fire of the Lighter [17 Years of Ugo Untoro’s Fine Arts, 1989-2006]. Bentara Budaya Jakarta, 9 Desember 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: