Seni Rupa

September 27, 2008

Cangkang

Tubuh dan “pembungkusnya” — terutama “pembungkusnya”— adalah pokok terpenting karya Mella Jaarsma.

Jika di satu kutub adalah kelomang payau yang nyaris segenap denyut jantungnya dihabiskan di bawah sungkup cangkangnya, dan di kutub lain adalah pertapa ugahari yang khusyuk merenungi segenap mineralisasi buah akal budi manusia, maka seluruh karya Jaarsma kurang lebih terletak di antara dua kutub itu. Kemungkinan penjelajahan yang terbentang di antara dua kutub ini, memang nyaris tak terhingga, dan artis kelahiran Belanda yang menetap di Yogya ini dengan setia menelusurinya.

“Kecangkangan” karya-karya Mella sangat terasa pada instalasi busana yang telah dipamerkan di berbagai kesempatan. Karya-karya itu ada yang dibikin dari kulit-kulit hewan, kepompong, tanduk, kain yang berukiran batik atau berjahitkan tumpukan lencana, hingga kasur tebal dan lembaran seng. Instalasi itu — terutama yang berukuran besar dan massif — menghadirkan semacam rangka luar (exoskeleton), yang mungkin tampak seperti zirah atau tenda pengungsi, mungkin juga penjara berpindah dan lahat darurat yang tak hendak dikenang.

Instalasi rangka-luar Mella bisa membersitkan kesan bahwa hidup sejumlah manusia yang berakal itu dapat lebih menyesakkan dibanding hidup kelomang dan makhluk bercangkang sejenisnya yang merangkak dan melata.

Bukannya terperangkap seumur hidup dalam satu kerabang yang mungkin kokoh dan tampak indah, kelomang dan keluarganya bisa mengubah, berebut dan berganti cangkang sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan diri mereka. Seperti halnya rangka yang memberi bentuk pada tubuh manusia dan membuatnya tegak; agama, ideologi, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan segala bentuk penghabluran buah akal budi manusia pun berfungsi sama; semuanya adalah rangka luar, meski mungkin tak sekasat cangkang.

Agaknya, bagi Mella — yang melihat “busana” dan berbagai kemungkinannya itu sebagai kiat fisis dan simbolis untuk menawar identitas pribadi dan kelompok — semua rangka luar ciptaan manusia seharusnya bisa dihadapi sama seperti kelomang dan sejenisnya memperlakukan kerabangnya. Dari sini memang tak jauh lagi jarak ke kristal renungan para bijak, seperti penyusun Wedathama, yang memandang segenap himpunan nilai dan ajaran mulia, tak lain hanyalah pakaian untuk sesuatu yang lebih inti, ageming aji.***

Jakarta, 26 September 2008

Nirwan Ahmad Arsuka

Naskah ringkas ini adalah bagian dari katalog pameran “Dari Penjara ke Pigura”,  di Galeri Komunitas Salihara, Jakarta, Oktober 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: