Seni Rupa

September 27, 2008

Bocah

Lembaran uang — firdaus dunia? — dan terutama sosok kanak-kanak — firdaus yang hilang? — mengisi banyak kanvas Yuswantoro Adi, pelukis yang mencuat dengan rentetan karya yang bergaya sangat figuratif.

Kesuntukan Yuswantoro pada sosok kanak-kanak itu agaknya mirip dengan kerja Charles Monroe Schulz yang tenar dengan komik strip Peanuts and Charlie Brown, Bahman Ghobadi yang menghasilkan film Turtles Can Fly dan A Time for Drunken Horses, atau Gunter Grass yang menelurkan novel penting The Tin Drum. Jika pandangan mata dan dunia kanak-kanak yang digarap Schulz mempertajam kepekaan kita pada hal-hal sepele yang membuat kita jadi manusia, Ghobadi dan Grass dengan kuat menyentak kita menerima hal-hal besar yang tak jarang hendak dilupakan dan dianggap sepele karena kehadirannya yang terang benderang akan terlalu mengguncang kemanusiaan kita. Kanak-kanak memang bisa menggelitik, bisa sungguh tak terduga memecah selubung kenyataan sekaligus menautkan hal-hal yang tampak cerai berai, dan dengan itu menyodorkan momen epistemik lewat cara yang subversif.

“Diilhami” oleh teks Bung Karno “Di Bawah Bendera Revolusi” hal 23, alinea 1-3, sosok kanak-kanak yang mengeram berbagai kemungkinan itu, hadir di kanvas Yuswantoro dengan kaca mata, peci dan busana yang agak kedodoran. Yang lucu menggemaskan, tapi juga yang ngilu mengiris, bisa hadir serempak bertumpang-tindih berselang-seling di kanvas itu; dan sejenis rongrongan akan muncul menghantui hal-hal yang sering dianggap serius, keramat dan mutlak: kemerdekaan dan kebangsaan. Rasa rawan — di antara berbagai efek kognitif — yang mungkin dibangkitkan oleh parodi di lukisan itu, akan kian menggores bersama ingatan tentang kebesaran dan kejatuhan Bung Karno, salah seorang pendiri Republik — yang paling masyhur di benak rakyat dan di mata dunia sampai hari ini.

Dengan “sekian” langkah lagi, sosok bocah yang hadir sebagai metafora di berbagai kanvas Yuswantoro itu bisa benar-benar menggemakan kritik visual terhadap dunia sosial politik kita. Dan lukisan Bung Karno mungil itu bisa dengan tajam menghadirkan kontras — sekaligus mungkin akar dari kontras — antara jembatan emas kemerdekaan, via dolorosa dan neraka (bukan firdaus) yang menjelma bukan hanya di akhir hidup Sang Proklamator, tapi juga di sepanjang hidup jutaan kaum yang masa depannya diperjuangkan oleh Bung Karno dan para Pendiri Republik.***

Jakarta, 26 September 2008

Nirwan Ahmad Arsuka

Naskah ringkas ini adalah bagian dari katalog pameran “Dari Penjara ke Pigura”,  di Galeri Komunitas Salihara, Jakarta, Oktober 2008.

“Sekian” itu bisa nol bisa tak terhingga, merangkum seluruh bilangan yang ada di antara keduanya.

One Response to “Seni Rupa”

  1. aim Says:

    (Kebanyakan) Tulisanmu sendiri juga sebuah lukisan, Mas: detail, gurat dan gradasi-komposisi warnanya bukan hanya gaya, tapi ruh dari gagasan itu sendiri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: