Epistemologi

September 22, 2008

Imajinasi Ilahi

Imajinasi jauh lebih penting dari Agama. Imagination is much more important than Religion. Saya bayangkan bertahun-tahun kelak, kalimat ini terpampang sebagai semboyan di pintu gerbang kampus-kampus berbasis agama, di rumah-rumah ibadah, atau di kamar-kamar belajar para cendekia yang berkerja memautkan ilmu pengetahuan dan aspirasi religius.

Mereka yang mengenal sejarah perkembangan ilmu pengetahuan modern, akan tahu bahwa semboyan itu diilhami oleh salah satu dari tiga pernyataan Albert Einstein yang paling banyak dikutip dunia. Yaitu bahwa imajinasi jauh lebih penting dari ilmu pengetahuan. Dua pernyataan yang lain adalah: “ilmu tanpa agama akan buta, agama tanpa ilmu akan lumpuh”; dan “yang paling tak terpahamkan tentang alam semesta ini adalah bahwa ia ternyata bisa dipahami”.

Dengan semangat bahwa imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan itulah antara lain, Einstein memberikan pada manusia Teori Relativitas yang tahun ini diperingati seabad kelahirannya. Einstein juga ikut membidani lahirnya Teori Kuantum,  teori dengan kemampuan prediksi yang sejauh ini paling tajam dalam sejarah. Jika Teori Relativitas menjelaskan gejala alam di tingkat makro, Teori Kuantum menjelaskan alam di tingkat mikro. Kendati kedua teori ini belum bisa dipadukan dengan utuh, keduanya telah menjadi tonggak prestasi intelektual manusia yang paling menjulang di abad 20. Sambil merombak seluruh ilmu pengetahuan alam klasik, keduanya merevolusi kehidupan dan pengetahuan manusia atas alam semesta dan seluruh isinya.

Imajinasi memang lebih penting dari ilmu pengetahuan, tetapi tidak semua imajinasi adalah imajinasi yang berharga. Ilmu pengetahuan beruntung karena ia punya metode untuk menguji mana imajinasi intan dan mana imajinasi sampah. Ilmu pengetahuan pun tak segan-segan secara total merombak dirinya mengikuti imajinasi yang berharga itu.

Metode pengujian imajinasi, yang oleh siswa sekolah menengah yang cukup cerdas dikenal sebagai “metode ilmiah” itu, dalam tradisi Barat tampaknya mula-mula dirumuskan oleh Francis Bacon dari Inggeris, lalu diberi bentuk oleh banyak ilmuwan penting Renaissance, antara lain Galileo Galilei dari Italia itu. Metode ini bisa dilacak akar-akarnya pada penalaran spekulatif yang telah dikembangkan oleh kaum cerdik cendekia di Yunani, dan pada pembuktian empiris yang dikembangkan oleh sejumlah pemikir di semenanjung Arab dan kawasan muslim lainnya. Di abad ke-20, metode itu mendapat penyempurnaan dari prinsip falsifikasi yang dirumuskan oleh Karl Popper, filsuf Inggeris yang hijrah ke Selandia Baru.

Dengan metode ini, ilmu pengetahuan bukan saja sangat siap menghadapi segala imajinasi manusia, segila apapun. Ilmu pengetahuan bahkan mendorong para pelakunya untuk berimajinasi gila-gilaan yang melampaui akal sehat dan intuisi manusia. Untuk menguji dan menapis imajinasi gila itu, ilmu membangun berbagai istrumen canggih pengasah indra, baik berupa mikroskop elektron maupun teleskop optik dan radio yang bisa mengintip jauh keluar Galaksi Bimasakti. Ilmu pengetahuan juga membangun berbagai mesin pemecah partikel dengan kekuatan semakin dahsyat, agar bisa menguji imajinasi manusia tentang kelahiran alam semesta. Satu-satunya hambatan ilmu pengetahuan adalah bahwa ternyata tak semua manusia bersedia, atau belum melihat pentingnya, bekerjasama membayar dengan cara apapun untuk menguji imajinasi manusia yang paling jauh.

***

Agama-agama tampak tak seberuntung ilmu pengetahuan dalam kaitannya dengan imajinasi liar ummat manusia. Keterkaitan yang begitu intim dan esensial dengan imajinasi yang diperlihatkan oleh dunia ilmu pengetahuan, atau dunia seni, tak kita temui dalam dunia agama. Agama-agama justru tak jarang tampak kikuk, seringkali bahkan over-reaktif, terhadap keliaran imajinasi manusia. Baruch Spinoza dalam sejarah Yahudi, Galileo Galilei atau Giordano Bruno dalam sejarah Kristen, atau para sufi dan pemikir bebas yang ditakfirkan dalam sejarah Islam; semua ini adalah cerita lama yang menggarisbawahi hubungan yang belum bisa dikelola dengan indah antara imajinasi dan Agama. Sampai hari inipun tak jarang kita dengar ketegangan yang meletup karena sejumlah pemimpin agama, atau bahkan ummat beragama, tersinggung karena sejumlah imajinasi.

Penyebab tunggal semua ini adalah tiadanya metode, yang tangguh dan teruji, dalam menghadapi imajinasi, dalam menapis sekaligus memaksimalkan keliaran imajinasi manusia. Agama-agama belum punya, lebih tepatnya: belum mengembangkan, sejenis “metode religius” yang setara dengan “metode ilmiah” pengetahuan modern.

Agama-agama tentu saja punya metode dalam menghadapi imajinasi manusia, tetapi metode tersebut, yang sampai batas tertentu telah ikut meyemaikan pertumbuhan ilmu pengetahuan, adalah metode yang sejak lama tak lagi memadai. Metode tersebut, yang bekerja menakar dan menghadapi keliaran imajinasi berdasarkan ajaran-ajaran yang sudah baku, teks-teks yang tak berubah, hanya ampuh dalam menjinakkan imajinasi manusia. Tak jarang metode itu bahkan melumpuhkan imajinasi. Manusia boleh berimajinasi seliar-liarnya, selama itu sesuai dengan ajaran-ajaran baku Agama. Lebih baik lagi jika ummat manusia tak usah berimajinasi yang aneh-aneh; cukup dengan saleh dan taqwa sajalah. Namun, jika Albert Einstein tak berimajinasi, atau berimajinasi liar tetapi tetap dalam koridor ruang-waktu klasik Newtonian, maka dunia tak akan memperoleh Teori Relativitas, dan benih Teori Kuantum.

Mungkinkah Agama mengembangkan metode religius yang siapa tahu tak kalah tangguh dari metode ilmiah? Jika metode ilmiah berupaya menguji dan menyelaraskan imajinasi — yang disistematiskan menjadi teori itu — dengan kenyataan alam yang teramati, maka metode religius  mungkin berusaha menguji dan mengharmoniskan imajinasi manusia dengan hakekat semua agama: pembebasan manusia dan pemekaran segenap potensi intrinsiknya.

Semua sistem religi etis yang besar, seperti diulas Ernst Cassirer, menugasi diri untuk meringankan beban sistem-sistem kepercayan purba yang penuh tabu; tabu yang memang telah memisahkan Homo sapiens dari masayarakat hewani tetapi yang bisa melumpuhkan daya tindak dan daya ciptanya. Bersamaan dengan itu, Agama memberi makna kewajiban religius yang lebih mendalam, yang bukan berupa paksaan atau larangan, melainkan berupa hal yang baru, yakni ekspresi cita-cita positif kebebasan manusia.

Dengan metode religius seperti ini, agama bukan saja bisa menari dan berdendang bersama imajinasi liar manusia. Agama mungkin akan membantu manusia memahami imajinasi Ilahi, memberi jalan untuk mewujudkan aspirasi tertinggi Albert Einstein. Aspirasi itu dinyatakan Einstein dalam sebaris kalimat yang agak jarang dikutip: “I want to know how God created this world. I am not interested in this or that phenomenon, in the spectrum of this or that element. I want to know His thoughts; the rest are details.”***

Nirwan Ahmad Arsuka

Versi awal dimuat di Majalah Azzikra, edisi Juni 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: