Film

September 20, 2008

Pemersatu Tiongkok Dalam Film

Hanya ada segelintir kaisar dan penakluk yang kisah hidupnya begitu sering jadi ilham para pembuat film. Di antara yang sedikit itu, yang paling menonjol tampaknya adalah Qin Shi Huang (259-210 SM), kaisar pertama dan pemersatu Daratan Cina. Dalam empat dekade terakhir, paling tidak ada tujuh film layar lebar dengan skala kolosal yang mengangkat riwayat hidup kaisar yang memerintahkan pembangunan Tembok Cina, bangunan terpanjang di bumi ini.

Hero (2002), film mutakhir Zhang Yimou, sutradara Cina Daratan yang paling menonjol, adalah film terbaru yang diilhami oleh Qin Shi Huang. Tetapi, seperti semua film Zhang, Hero pada akhirnya tak hanya bercerita tentang tokoh-tokohnya, tapi juga tentang Cina. Cina yang hadir di film ini adalah Cina yang berusia 2300 tahun dan tetap hidup hingga hari ini. Cina yang purba sekaligus modern itu dijalin dengan kisah tentang penaklukan militer, tentang tafsir yang berbenturan, dan tentang sebuah pengertian di mana puncak seni kaligrafi, puncak ilmu pedang dan puncak ketata-negaraan akhirnya akan berpadu.

Riwayat hidup Qin Shi Huang sampai ke kita lewat catatan Sima Qian yang terhimpun dalam Shiji. Burton Watson menerjemahkannya menjadi Records of the Grand Historian (Columbia Univ., 1960). Ditulis di era puncak kekuasaan Dinasti Han, hampir satu setengah abad sejak kematian Qin Shi Huang, Shiji tentu saja menyimpan sekian soal. Catatan ini merangkum banyak peristiwa sejak kemunculan dinasti Qin sebagai penguasa Negeri Tengah sampai pada kejayaan dinasti Han yang antara lain membuka Jalan Sutra. Di antara cerita itu, dibentangkanlah kehidupan Qin Shi Huang yang naik menjadi kaisar di usia 13, menjadi panglima perang yang mengilhami para tentaranya, hingga menjadi penguasa paranoid yang mengirimkan aparatnya ke seluruh penjuru untuk mencari obat hidup kekal.

Sumber lain tentang kehidupan Qin Shi Huang adalah Tales of Emperor Qin Shi Huang. Buku karya Yuan Yang dan Xiao Ding ini diterbitkan oleh Foreign Language Press pada 1999. Sejumlah cerita dalam buku ini bersumber dari catatan sejarah. Sebagian lagi berasal dari legenda rakyat, yang antara lain menyebutkan Qin Shi Huang sebagai penemu sistem kalender Cina pada 2637 SM. (Catatan: Legenda ini mencampurkan tokoh historis dan tokoh mitologis).

Film pertama sekaligus yang relatif paling lengkap mencakup rentang hidup sang kaisar adalah The Great Wall (1963). Film epik ini diproduksi oleh Jepang. Dibintangi oleh Shintaro Katsu, Raizo Ichikawa, Kojiro Hongo dan Fujiko Yamamoto, film yang aslinya berjudul Shin No Shikoutei ini lahir di bawah arahan Shigeo Tanaka. Di film ini antara lain dihamparkan adegan penaklukan tentara Qin atas kerjajaan Yan tampil sangat spektakuler. Pertempuran tentara berkuda dengan berbagai keretanya itu melampaui adegan Ben-Hur (1959) William Wyler. Selain dari Shiji, film ini juga mengambil bahan cerita dari Dinasti Tang, yakni legenda Meng Jiangnu yang meratap di Tembok Besar sedemikian rupa sehingga airmatanya membentuk sungai yang menjebol tembok raksasa itu.

26 tahun setelah The Great Wall, kisah hidup Qin Shi Huang diangkat kembali dalam sebuah film dokudrama untuk teater imax. Film berjudul The First Emperor of China ini diproduksi oleh the National Film Board of Canada and China Xi’an Film Studio. Film yang ditulis oleh oleh Robert A. Duncan ini, lebih merupakan film pendidikan sejarah. Ia ditujukan bagi mereka yang ingin tahu sepak terjang kaisar yang menyatukan sistem bahasa, alat tukar, ukuran dan transportasi di seluruh Cina, dan yang mengganti sistem pemerintahan feodal menjadi sistem provinsional. Untuk kepentingan pendidkan sejarah itu pula, pada 1984 dimulai sebuah proyek riset yang menghasilkan CD ROM The First Emperor of China. Produser CD yang diformat untuk Macintosh/Windows ini adalah Dr. Ching-chih Chen yang juga adalah investigator utama proyek riset yang dibantu Amerika.

Pada 1996, keluar film The Emperor’s Shadow yang lahir dari arahan Zhou Xiaowen. Tiga tahun kemudian, The Emperor And The Assassin lahir dari tangan Chen Kaige.

The Emperor’s Shadow dibuka ketika Qin Shi Huang masih bernama Ying Zheng. Sebagai bocah kecil yang hidup sebagai tawanan kerajaan Yan, ia bersahabat dengan Gao Jianli (Ge You), tokoh yang kelak tumbuh menjadi komposer paling hebat di seluruh Cina. Dialah yang diharap oleh Qin Shi Huang akan memberi roh pada tubuh besar Cina yang berhasil ia persatukan. Kendati mampu membuat sepotong lagu yang bisa mengikat sukma bangsa-bangsa yang bersatu di bawah Kerajaan Qin, Gao menolak permintaan kaisar sekaligus kawan masa kecilnya itu. Sutradara Zhou Xiaowen dengan bagus berhasil menampilkan perseteruan antara seorang kaisar besar yang terobsesi oleh (dan siap membunuh untuk) persatuan dan kejayaan negeri yang akan berusia ribuan tahun, dengan seorang seniman yang hanya bisa takluk oleh (dan bersedia mati untuk) keindahan dan momen-momen yang tak akan berulang.

Dalam The Emperor And The Assassin, Chen Kaige menampilkan Qin Shi Huang seperti sesosok Napoleon: pendek, jago perang, ahli strategi yang jadi kaisar dengan kemampuan memerintah yang menakutkan. Bersama dengan bertambahnya umur, kekuasaan dan wilayah taklukannya, ternyata ada yang tak berubah pada Qin Shi Huang. Pada dasarnya, ia tetap seorang kanak-kanak yang ditindas oleh masa silamnya, yang dihantui oleh ancaman kehilangan atas orang-orang dan milik yang dicintainya.

Untuk mencegah pembalasan Kerajaan Zhou yang ia taklukkan, Qin Shi Huang mengubur hidup-hidup seluruh rakyat yang lolos perang, termasuk anak-anaknya. Tindakan telengas ini, akhirnya menghidupkan latu dalam diri Jing Ke, seorang pembunuh yang sudah remuk setelah salah mencabut nyawa seorang gadis kecil buta. Upaya Jing Ke yang berakhir dengan kematiannya itu, diceritakan cukup panjang dalam Shiji yang menghadirkannya sebagai pahlawan. Adapun pahlawan utama dalam film Chen Kaige yang tampak dikuasai oleh orang-orang dewasa ini, adalah anak-anak dan dunianya, yang memang punya punya peran besar dalam mempengaruhi sejarah.

Pada 1994, Clara Law dan Stephen Sin menghasilkan The Great Conqueror’s Concubine. Dibintangi oleh Ray Liu, Gong Li, Rosamund Kwan dan Zhang Fengyi, film ini dibuka dengan matinya Qin Shi Huang. Dari sana cerita bergerak masuk ke kemunduran sekaligus keruntuhan Dinasti Qin, dan berakhir dengan tegaknya Dinasti Han dengan Liu Pang sebagai kaisar. Film ini adalah wiracarita yang luar biasa yang terentang begitu panjang sehingga harus dirilis dalam dua bagian.

Lima tahun sebelumnya, Gong Li sudah berperan dalam satu film lain yang juga diilhami oleh kehidupan Qin Shi Huang. Film berjudul A Terracotta Warrior ini meletakkan Qin Shi Huang sebagai latar yang agak jauh di belakang, dengan mausoleumnya yang menjadi keajaiban dunia yang ke-8. Selain Gong Li dan Yu Rongguan, bintang utama film ini adalah Zhang Yimuo. Ia berperan sebagai Meng Tian, jenderal utama Qin yang menghalau para penyerbu dari Utara dan yang mengawasi pembangunan Tembok Cina. Sutradaranya adalah Ching Siu-Tung, penata laga dalam Hero.

Yang menarik dari Hero adalah bahwa film ini pada dasarnya adalah film silat di mana pedang dan pertarungan menduduki posisi sangat penting. Jika film-film tentang Pemersatu Tiongkok sebelumnya hadir sebagai sebentuk prosa naratif, Hero dibentangkan sebagai puisi epik di mana unsur-unsurnya tidak sekedar berguna untuk menghadirkan cerita. Tetes air, hamparan gurun, gerak daun, kibaran kain, dengan segenap warna dan cahayanya, hingga ke sabetan pedang dan tetes darah di gigirnya, digarap menjadi jajaran metafor yang mengantar kita ke sebuah dunia dongeng. Dalam sejumlah scene, metafor-metafor itu tak lagi hadir mewakili satu dunia pengertian: mereka adalah dunia pengertian itu sendiri.

Di bagian akhir, puisi yang dibangun dengan indah dan berlapis-lapis itu, terburai menjadi potongan sebuah prosa yang kehilangan kesegaran. Prosa itu takluk pada pengertian purba yang dicintai oleh para despot di timur dan barat, bahwa niat baik belaka untuk menegakkan stabilitas dan persatuan, sudah cukup untuk membenarkan tindakan brutal berupa penumpasan dan pemberangusan kebebasan. Ketika langit menjadi hitam oleh ribuan anak panah yang dilontarkan ke tubuh si Tanpa Nama, saya teringat pada langit yang bercahaya oleh ribuan peluru yang dimuntahkan tentara republik ke barisan pemuda dan intelektual yang meneriakkan demokrasi di Lapangan Tiananmen.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di KOMPAS, Minggu 2 Februari 2003

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: