Film

September 20, 2008

Pedang dan Dunia

“HERO” Episode 2

ADA film yang, seperti adikarya seni lain, selalu saja membuat kita bisa lupa pada dunia ini, untuk kemudian menemukannya kembali dengan cahaya yang baru. Tiap kali kita mengajinya lagi, film-film ini bergerak menghamparkan diri dengan sejumlah kilau manikam baru, yang dulu masih sembunyi dalam lipatan-lipatannya. Hero (2002) Zhang Yimou adalah film jenis ini, dan kita menghela napas—dan mengambang—hampir di tiap scene yang hadir bagai untaian batu mulia seni rupa yang memukau. Film ini membentangkan tumpukan lapis panorama yang spektakuler, dan shot-shot lanskap bersudut lebar, di mana penonton tak diajak untuk melenyapkan diri menyatu dengan alam, tetapi justru menyesap alam menyatu dalam diri.

Hero adalah kaligrafi di mana “profundity depends on perception.” Ia juga danau yang menampung langit, yang bisa ditepuk dengan beragam tangan dan pedang, dan menggemakan beragam bunyi dan pesan. Ketika pertama kali menyimaknya, saya pikir bahwa film dengan struktur dan puisi yang berlapis-lapis ini, yang membongkar mitos, sejarah, dan legenda, tak tuntas menggali pengertian arketipe tentang pahlawan dalam psike Timur. Film ini mentok jadi propaganda bagi kediktatoran dan aneksasi, bagi faham legalisme yang mempromosikan kuatnya negara di depan masyarakat, yang dengan sistematis dilemahkan.

Pada tontonan ketiga, Hero mempertegas cara dia menebas legalisme dengan elegan. Film ini adalah pedang tanpa wujud yang dengan subtil dihujamkan ke jantung pemikiran legalisme, ke penguasa puncak yang menutup tubuhnya dengan zirah imperial dan ekspasionis; dengan semacam peringatan bahwa negara tak mungkin tegak abadi tanpa pengorbanan sukarela para warganya yang tak bernama.

Hero adalah eulogium bagi mereka yang memilih mengorbankan jiwa untuk sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri, bahkan lebih besar dari negara dan tanah air mereka.

***

Menjelang tontonan ketiga, saya masih berpendapat bahwa Hero adalah jenis film yang dijalin begitu kuat, indah, dan kompak, tetapi dengan simpul yang begitu lemah dan menyesakkan. Karena itu, Hero sangat mungkin meninggalkan kecamuk pertarungan yang berlangsung lama di kepala penontonnya.

Kecamuk itu bisa lebih panjang dan seru ketimbang pertarungan dalam benak antara Tanpa Nama dan Angkasa, yang bertempur di Wisma Catur (Go), di bawah iringan hujan dan denting musik, dan dengan latar warna kelabu hemisfer otak.

Kelemahan film ini terletak pada apa yang bisa disebut sebagai “penyelewengan sejarah” dan “penyimpangan metafisis”. Yang saya maksud dengan “penyelewengan sejarah” di sini adalah dihadirkannya Qin Shi Huang tidak secara komplet menurut sejarah tradisional seperti yang tercatat dalam Shiji karya Sima Qian (145-85 SM), dan yang ditopang oleh sejumlah peninggalan historis.

Qin Shi Huang yang tegak di sana adalah Qin Shi Huang ketika ia masih menjadi raja muda bernama Ying Zheng, sebelum ia menitahkan pembakaran seluruh pustaka dan mengubur hidup-hidup ratusan cendekiawan, sebelum ia memerintahkan armadanya untuk bahkan menyerbu Jepang demi memperoleh obat hidup kekal.

Sementara penyimpangan metafisisnya berkait dengan nasib dari sejumlah harapan dan gagasan filosofis besar yang saling topang, di mana para pendekar besar bersedia mengorbankan nyawa untuknya. Seperti Pedang Patah yang dengan sedih membiarkan Salju Terbang membunuhnya, untuk meyakinkan bahwa selain “perdamaian dunia sekolong langit (Tian Xia)”, hanya Salju Terbang yang selalu jadi pikirannya. Atau, seperti Tanpa Nama yang membiarkan tubuhnya ditembus anak-anak panah untuk membantu kaisar muda Ying Zheng naik menjadi Qin Shi Huang yang hendak menegakkan hukum di seluruh Cina yang harus dilebur satu.

Penyimpangan Hero terasa begitu menonjol dan mengganggu hingga menantang orang untuk “meluruskannya”. Sialnya adalah bahwa bentuk dan struktur film ini seakan memang ditata untuk menyeret orang bergulat membayangkan “episode II” yang bisa menggenapi episode I.

Dan, inilah ringkasan Hero II itu — salah satu versinya.

***

SEKIAN tahun kemudian, setelah berhasil menekuk enam kerajaan, Qin Shi Huang berdiri di puncak Gunung Li. Di lerengnya tengah dirampungkan pembangunan Kota Kedamaian Barat, sebuah mausoleum agung, yang 21 abad kelak ditemukan kembali sebagai Keajaiban Dunia yang ke-8.

Layar dibuka dengan langit malam yang dihias jutaan bintik bintang. Kamera bergerak mendekati satu titik terang yang ternyata adalah Bumi, dan terus mendekati sejalur bangunan yang konon bisa terlihat dari Bulan: Tembok Raksasa Cina.

Dari lantai dan tekstur tembok raksasa itu, yang seakan menjadi barisan sisik naga, kamera bergerak ke selatan, menelusuri padang-padang luas, hamparan ibu kota kekaisaran Qin, api unggun pembakaran tumpukan segala macam pustaka dan catatan sejarah, hingga ke kuburan raksasa yang dijaga berlaksa perwira terracotta.

Kitab Shiji mencatat bahwa dalam mausoleum itu, sistem mekanik dan cairan merkuri dipakai untuk meniru aliran dan gerak ratusan sungai dan samudera. Bangunan bagian bawah ditata mewakili keadaan Bumi, bangunan atas mewakili keadaan Langit.

Dari detail aliran sungai dan laut, kamera bergerak naik ke langit-langit kuburan itu, menyorot taburan mutiara yang bercahaya: sebuah imaji yang mengingatkan orang pada langit penuh bintang yang terbentang di awal film.

Scene lalu pindah ke pucuk gunung yang dikelilingi halimun dan lazuardi. Di sana, terlihat Sang Kaisar Pertama, dalam busana serba hitam, warna kerajaan Dinasti Qin, berdiri memandang ke keluasan ufuk.

Hari itu, ia tengah menunggu kedatangan orang yang lebih ditakuti ketimbang seluruh armada tentara enam kerajaan. Pendekar yang mampu membunuh dari jarak seratus langkah, dengan pedang yang ada di hatinya, adalah juga satu-satunya orang di Cina yang bisa memahami isi hati Sang Kaisar.

Semua pembunuh dalam Hero I adalah pendekar istimewa yang jika terus mendaki puncak ilmu pedang, akhirnya akan mengerti isi hati Sang Kaisar. Pedang Patah sudah membuka pemahamannya tentang pentingnya melupakan dendam antar kerajaan dan menyatukan Tian Xia (Dunia Aekolong Langit), sebelum ia menyongsong tuduhan dan ujung pedang Salju Terbang. Pasangan merpati ini akhirnya mati bersatu-tubuh menuju “rumah yang tak lagi punya pedang”. Angkasa, yang dikisahkan masih hidup setelah merelakan diri tampak terbunuh, adalah pendekar pencinta catur dan musik, yang jika terus menempuh pendakian di Jalan Pedang akan sampai juga pada pengertian puncak itu. Seni musik dan ilmu pedang sama-sama bertarung untuk mencapai tingkat tertinggi persatuan tubuh dan pikiran, yakni “Kekosongan”, bukan? Tetapi, sebuah sequel memang lebih mudah diterima penonton, jika tokoh utamanya tak berubah.

Karena itu, di awal film, ketika Sang Kaisar menunggu, ia mengenang cara pendekar yang dinantinya itu luput dari maut. Air matanya menetes saat mahkamah istana menuntutnya membunuh Tanpa Nama, demi tegaknya hukum Qin. Tapi ia ingat, dalam Kurun Merah, gerak pedang Tanpa Nama sanggup merontokkan gelombang awan hitam anak panah, sekaligus “mengilhami” Pedang Patah mengerjakan kaligrafinya, yang harus ditulis dengan cara yang belum pernah ada di Tiongkok, cara ke-20.

Ia juga ingat cerita tentang begawan tua Kepala Sekolah Kaligrafi Zhou, yang dengan khusyuk dan penuh martabat, menuliskan aksaranya dan menunjukkan esensi kebudayaan Zhou, di bawah siraman anak panah yang tak satu pun bisa menyentuh ujung bajunya.

Layar diisi dengan adegan slo-mo Tanpa Nama yang berdiri tegak merontokkan kabut hitam yang mengincar bagian-bagian mematikan tubuhnya. Seperti Pedang Patah yang dulu tiba-tiba membatalkan niatnya membunuh Kaisar, Tanpa Nama pun tiba-tiba memperoleh kembali kewarasannya dan membatalkan bisikan kalbunya untuk jadi martir dadakan.

Betapapun, ia membiarkan sekian mata panah menembus bahu, pinggang, dan pahanya. Sang Kaisar sendiri yang kelak mengatur agar tubuh penuh luka itu disemayamkan dulu, peristiwa yang memungkinkan Rembulan Golok Sabit, murid setia Pedang Patah, menyusup ke istana dan menggondol tubuh itu.

Rembulan pula yang merawat Tanpa Nama, dan terjalinlah hubungan cinta yang ganjil antara keduanya. Antara Rembulan yang tetap mengenang gurunya, lelaki yang memang paling menarik dalam Hero I; dan Tanpa Nama yang mulai belajar mencintai manusia, bukan sebilah besi bercelah.

Rembulan melihat sosok pengganti gurunya bukan pada Tanpa Nama yang hanya tampak dahsyat gerak silatnya, tetapi tak tampak meyakinkan kecerdasannya. Ia menemukan bayangan gurunya, meski hanya sebagian, pada temperamen artistik Angkasa dan kebesaran visi Sang Kaisar. Rembulan ingat, seperti diceritakan pada Kurun Putih, betapa ia harus menyembah dan memohon Tanpa Nama untuk menggunakan ketajaman otak dan kebeningan nuraninya, mempertimbangkan kaligrafi yang ditulis Pedang Patah di hamparan pasir: aksara Tian Xia (Dunia Sekolong Langit) yang menjadi pendirian Pedang Patah, sekaligus ucapan pengiring bagi Tanpa Nama yang tetap ingin terus maju menunaikan tugas hidupnya membunuh Sang Kaisar. Akasara itu tentu juga adalah uluk salam Pedang Patah pada Sang Kaisar, pelengkap dari goresan pedang yang Pedang Patah tinggalkan di leher Kaisar.

Kurun Putih bahkan dibuka dengan raut muka Pedang Patah yang dengan intens menggambarkan kejengkelan, kegusaran, rasa geli, dan terutama sekali kesedihan yang nyaris mencapai tingkat putus asa. Ia sedih melihat dendam yang menyelubungi Salju Terbang dan Tanpa Nama, ia mungkin juga sedih mengenang korban-korban visi besar Sang Kaisar. Ia sedih, sekaligus geli campur haru, melihat tekad dan keluguan penuh semangat Si Tanpa Nama di ruang perpustakaan itu. Pedang Patah telah mencoba memberi teguran sekaligus pelajaran berharga pada Tanpa Nama lewat kaligrafi bertulis Jian (Pedang), tetapi kecerdasan Tanpa Nama ternyata tak cukup tajam untuk membelah pelajaran berselubung aksara indah itu.

Tanpa Nama bahkan secara heroik dan dengan penuh gaya memamerkan ilmu pedangnya yang ia kira hebat, yang hanya bisa dengan tepat membelah dan merusak batang bambu pit putih, alat tulis yang biasa dipakai bekerja oleh orang-orang berpengetahuan seperti Pedang Patah. Betapapun hebatnya ilmu pedang Tanpa Nama, tingkatnya tetap belum mencapai tataran mampu membunuh dengan bilah rumput dan lembar rambut dari jarak seratus langkah, tataran yang bahkan adalah tingkat terendah pencapaian ilmu pedang seperti yang dinyatakan dalam kaligrafi Tanpa Nama.

Sang Kaisar lalu memandang empat buah senjata: tombak perak Angkasa, pedang patah, pedang kumala Salju Terbang, dan pedang hitam bercelah milik Tanpa Nama. Dengan sekali remas, senjata-senjata sakti itu ia tekuk. Setelah tersenyum, tipis, ia kembali luruskan senjata-senjata sakti itu dan ia letakkan lagi dalam kotaknya. Kaisar ini adalah pesilat yang tak sampai sepeminuman teh bisa menyingkap rahasia kaligrafi bertuliskan Jian (Pedang) yang dikerjakan Pedang Patah, yang tak sanggup dikuak Tanpa Nama sekalipun telah menghabiskan waktu bermalam-malam.

Sang Kaisar pun membayangkan apa yang terjadi jika Angkasa dan Tanpa Nama bertarung tanpa senjata. Di layar mula-mula dibentangkan pertarungan Tanpa Nama melawan keroyokan para pengikut Angkasa. Setelah merontokkan seluruh pengeroyok itu, berlangsunglah duel tangan kosong antara Tanpa Nama dan Angkasa.

Adegan yang disorot dari berbagai sudut ini, seperti seluruh pertarungan dalam Hero II, menghadirkan kemungkinan terjauh pertarungan jarak dekat yang masih bisa dibayangkan oleh penata laga terkemuka Ching Siu Tung, dan Yuen Woo Ping yang ikut terlibat dalam Hero II.

Di punggung gunung tiba-tiba meledak keributan. Ribuan tentara diobrak-abrik oleh satu sosok yang bergerak bagai rajawali. Kemudian muncullah Tanpa Nama. Seakan datang dari balik kabut yang mengambang, tubuhnya bergerak mirip balok, dengan kelenturan yang minimal.

Setelah berputar lembut pada porosnya, tubuh itu turun bagai segumpal kapas di depan Sang Kaisar. Jika pada Hero I gerak para pesilat bisa menampik hukum gravitasi, maka pada Hero II gerak itu bisa sekaligus menampik gravitasi dan asas gerak alami tubuh manusia.

Pertanyaan pertama yang diajukan Kaisar adalah mengapa dulu Tanpa Nama tak mengajak Angkasa menyerbu istana. Gabungan tenaga mereka tampaknya masih lebih kuat dari paduan Pedang Patah dan Salju Terbang, yang dulu berhasil menjangkau nadi leher Sang Kaisar. Setelah serbuan Pedang Patah dan Salju Terbang, tak banyak yang bisa dilakukan Sang Kaisar dan barisan pengawalnya untuk melindungi nyawa penguasa tertinggi Kerajaan Qin itu. Yang dilakukan hanyalah membungkus tubuh kaisar dalam zirah; menghukum mati siapapun yang mencoba mendekati Sang Kaisar dalam jarak 100 langkah; dan mengosongkan ruang-ruang istana, termasuk dari untaian kain-kain hijau muda yang bisa dipakai para pembunuh menyembunyikan diri.

Zirah, ancaman hukuman mati dan ruang istana yang kosong, ditambah ribuan pasukan pengawal istana yang mudah saja diobrak-abrik itu, jelas tak akan berarti banyak bagi gabungan kekuatan pendekar sesakti Tanpa Nama dan Angkasa, jika mereka meyerbu istana untuk mencabut nyawa kaisar. Itu pula sebabnya Sang Kaisar menjanjikan hadiah yang sangat besar, termasuk percakapan langsung dengan Kaisar dalam jarak 10 langkah, bagi siapapun yang bisa menghalau para pembunuh yang membuat kaisar Putra Langit itu tak bisa tidur dengan sentosa.

Rupanya memang ada persaingan antara Angkasa dan Tanpa Nama untuk menjadi pembunuh tunggal Kaisar. Selain itu, Angkasa merelakan tombaknya terpotong karena ia sendiri sedang meyakinkan satu ilmu tangan kosong yang baru beranjak ke tahap kesempurnaan.

Lima tahun sejak peristiwa besar kedatangan Tanpa Nama di istana, perseteruan antara Angkasa dan Tanpa Nama kian mengeras. Angkasa yang sudah meyakinkan ilmunya dan tetap berniat membunuh kaisar, berhadapan dengan Tanpa Nama yang menganggap kaisar harus diberi waktu untuk mewujudkan perdamaian dan mempersatukan Tian Xia.

Di layar tampil salah satu duel mereka, di sebuah tebing pantai yang penuh ombak. Mereka bertarung bukan saja tak menggunakan senjata tajam, tetapi juga meminimalkan penggunaan tangan. Layar berderak dengan adegan laga yang keras dan memukau, yang meruapkan bau darah yang mendesir kencang, otot yang melenting bagai pegas, dan ruas tulang yang gemeretuk bertabrakan.

****

Pengakuan Tanpa Nama di atas, yang dihamparkan di layar dengan dominasi warna oker tanah, adalah satu-satunya hal yang dikatakan oleh Tanpa Nama. Setelah itu, Sang Kaisar-lah yang terus bercerita, membeberkan isi hati dan kepalanya, sebelum membiarkan Tanpa Nama menagih kesepakatan yang dibuat di ruang utama istana, yang juga berarti menagih nyawa yang dititipkan Pedang Patah dan Tanpa Nama di tubuh Sang Kaisar.

Dengan latar kelam, layar lalu diisi oleh kenangan masa kanak-kanak Kaisar yang ditawan bersama “ayahandanya” untuk mencegah kerajaan kakeknya menyerbu kerajaan lain. Ketika usianya beranjak 13, bala tentara ayahnya datang untuk melantiknya jadi raja, menggantikan sang ayah yang terbunuh.

Begitu diangkat, yang pertama ia lakukan adalah menitahkan untuk menggali dan membentuk Gunung Li: pembangunan sebuah makam. Ia begitu yakin bahwa ia juga akan segera mati dan terbunuh seperti ayahnya. Begitu yakinnya ia akan usianya yang singkat, dan begitu takutnya ia akan perang, ia berusaha melakukan apa pun untuk mengubur zaman penuh pertikaian itu.

Layar lalu diisi dengan pemandangan spektakuler pembangunan Tembok Cina yang hadir bergantian dengan pembakaran pustaka dan penguburan hidup-hidup ratusan kaum terpelajar. Suara Sang Kaisar terus muncul menyebut soal titahnya membangun tembok untuk memagar sebuah kemaharajaan, bukan sepetak kebun. Ia bicara tentang serbuan kaum biadab dari utara; hukuman bagi para pembangkang; juga upaya mencegah kematian dinasti yang seperti hewan liar, bisa menerobos masuk ke kerajaan, yang adalah tubuh kaisar itu sendiri.

Sang Kaisar juga bicara tentang upaya besar untuk memulai waktu, untuk mengawali sejarah, dengan terlebih dulu menghapus seluruh sejarah buruk Tian Xia yang sudah berjalan ribuan tahun. Ia mengeluh dengan tuduhan bahwa upayanya menghapus seluruh sejarah itu hanya dalih untuk menghapus satu sejarah, yakni sejarah aib ibunya yang selingkuh, dan sejarah dirinya sendiri yang berasal bukan dari benih paling agung dalam kerajaan.

Ia pun mengecam para pendekar dan seniman yang hanya sibuk memuaskan diri, menikmati catur, musik, dan kaligrafi, juga jurus pedang. Sementara para cendekiawan dan bangsawan taklukan sibuk mengutip para leluhur dan pencapaian para raja sebelumnya, untuk mengecam pemerintahan Qin Shi Huang.

“Dialog” antara Tanpa Nama dan Kaisar Pertama di puncak gunung itu, agak dekat dengan “dialog” Inkuisitor Agung dengan Kristus di sel penjara Kota Seville dalam novel besar Fyodor Dostoyevsky, Karamazov Bersaudara. Qin Shih Huang terus-menerus melontarkan jurus-jurus naratif yang membeberkan “filsafat” di balik kekejaman yang ia lakukan. Sementara Tanpa Nama menampungnya dengan jurus “tanpa jurus”, dengan kediaman yang panjang.

Ia terdiam dengan pikiran kosong, yang kadang pecah oleh renungan tipisnya jarak antara “penderitaan satu manusia, satu bangsa, tak ada artinya dibanding penderitaan seluruh dunia”, dengan “penderitaan seluruh dunia tak ada artinya dibanding penderitaan satu manusia”. Tapi, ia lebih banyak mengenang Rembulan yang sekian tahun tak juga membalas cintanya, yang selalu menganggapnya pendekar yang terang baik, dan karena itu tak cukup enigmatik.

Kamera menangkap bagaimana Ying Zheng mengalami transformasi, dari seorang pangeran peragu yang dirusak oleh dendam, dan dicekam oleh ketakberdayaan, menjadi seorang penguasa perang yang secara keras ingin membebaskan manusia dari cengkeraman sejarah dan leluhur. Transformasi itu diperkuat lewat dua hal yang bertentangan: kuburan dan obat hidup kekal.

Bagi Kaisar, leluhur dan dewa-dewa (juga para petinggi istana) kadang memang menolong, tetapi lebih sering tidak. Tak akan ada yang bisa membela kemaharajaan Qin sampai akhir waktu, kecuali Kaisar Putera Langit yang hidup kekal.

Akhirnya, Sang Kaisar bicara tentang mencari kawan yang bisa memahami mimpinya, yang sama sulitnya dengan mencari lawan supersakti yang bisa memaksa pengikut Jalan Pedang melampaui batas-batasnya. Ia menyebut kesunyian seorang pendekar yang jika tak lagi menemui manusia yang setanding, akan rela bertarung melawan amukan badai dan keganasan prahara.

Ia menyinggung Angkasa yang melenyapkan diri dari dunia persilatan, dan rasa sunyi yang ditinggalkannya di dasar sukma Tanpa Nama. Ia lalu menuduh bahwa kedatangan Tanpa Nama itu bukanlah untuk sekadar menagih janji kesejahteraan dunia, tetapi untuk sebuah pertarungan besar yang akan membantunya jadi manusia setengah dewa. Sang Kaisar rupanya juga menghendaki pertarungan untuk melengkapi upayanya jadi Kaisar Abadi. Sang Kaisar bahkan menghendaki pertarungan bertiga serentak.

Sang Kaisar pun membayangkan pertarungan ajaib, antara Tanpa Nama yang harus memenangi pertarungan, sekaligus mencegah Kaisar dan Angkasa saling bunuh; Angkasa yang ingin mengalahkan Tanpa Nama sekaligus membunuh Sang Kaisar; dan Sang Kaisar yang ingin mengalahkan—dan jika perlu membunuh—sekaligus Tanpa Nama dan Angkasa.

Sebagaimana Kristus meninggalkan Inkuisitor Agung tanpa mengutuknya, Tanpa Nama pun meninggalkan Sang Kaisar tanpa menagih jiwanya. Qin Shi Huang adalah pohon hitam dari tanah yang hitam. Sekadar mencabut pohon itu tak akan mencegah tumbuhnya pohon hitam yang lain.

Tanpa Nama juga mengaku bahwa ia ternyata memang tak ingin kehilangan seorang lawan yang sulit dicari. Dengan busana yang rusak, ia melenggang diiringi sebuah lagu yang konon sudah ditembangkan para petani Tiongkok 2000 tahun sebelum Qin Shi Huang naik takhta dan menyatukan Cina:

Bila terbit matahari aku bekerja

Bila tidur matahari aku berleha

Kusesap air dari sumur yang kugali

Kuserap pangan dari kebun yang kuolah

Apa artinya kuasa kaisar itu bagiku?

***

Pertemuan di puncak gunung itu membuat Tanpa Nama kian memahami, meski tak membenarkan, sekaligus juga tak sepenuhnya bisa menyalahkan, Qin Shi Huang. Yang pasti, rasa hormatnya pada Pedang Patah makin mendalam bersama dengan kian menajamnya pengertian atas beban dan konflik berat yang ditanggung oleh Pedang Patah: pendekar yang gampang disalah-pahami, yang begitu agung asiprasinya tentang perdamaian Tian Xia, tetapi yang tidak berada dalam posisi yang paling tepat untuk mewujudkan aspirasi itu secara nyata.

Tanpa Nama sekaligus juga memahami sepak terjang Angkasa yang memilih ke “Luar Dunia”, atau Rembulan yang pernah memuja sekaligus “membenci” gurunya, membenci cinta yang telah merebut gurunya dan membuatnya tak berdaya di depan tusukan pedang Salju Terbang. Bersama Rembulan, Tanpa Nama bergulat menghidupkan kembali kebudayaan yang ditumpas, menuliskan lagi isi bilah-bilah bambu yang dibakar, dan menyebarkan ilmu silat.

Bagi Rembulan, rakyat tak bisa diselamatkan. Mereka hanya bisa dibantu menyelamatkan diri dengan tembok, tombak, dan bilah bambunya sendiri. Dan, jika kehidupan di seberang maut adalah surga yang tak tepermanai, maka menjadi martir adalah tindakan heroik yang gampangan.

Ketika Sang Kaisar mangkat beberapa tahun kelak, konon karena terlalu tekun minum jamu Hidup Kekal, Tanpa Nama menyelinap masuk ke istana. Di sisi jenazah Kaisar, Tanpa Nama meletakkan sebilah besi dengan tiga aksara yang ia tulis dengan jari. Aksara pertama dan kedua tak lain adalah gabungan dua kata Tian Xia (Dunia Sekolong Langit). Kedua aksara ini ia gurat dengan cara ke-21. Adapun aksara ketiga adalah Ren (Manusia) yang ia gurat dengan cara yang ke-22.

Tanpa Nama yang berdiri di sisi jenazah Sang kaisar menjadi mirip Horatio yang memberi ucapan selamat jalan pada Hamlet di hari kematiannya. Dan, ia teringat pada tarung pamungkasnya melawan Sang Kaisar, sebuah duel yang sangat keras dan indah, di mana salju yang gugur berubah dari putih ke ungu.

Sang Kaisar ternyata adalah pesilat mahasakti, dengan keganasan menggiriskan, yang sanggup menyeret dahsyat ke dalam petaka dan bencana, dan memaksa Tanpa Nama melukai Putera Surga itu, setelah menembus batas tertinggi ilmu yang sudah hilang dari Rimba Hijau: Ilmu Silat Seusia Langit. Tanpa Nama meraih pengertian baru atas hidup dan manusia, dan sejumlah hal lain yang perlu satu novel untuk menghadirkannya.

***

“Inti” cerita Hero II memang sangat sederhana, seperti halnya Hero I. Adalah visi sinematografis Zhang Yimou dan kawan-kawan yang membuat kisah sederhana itu bukan saja menjadi film silat terbaik, dan termasuk film epik paling cerdas, yang pernah dihasilkan manusia. Dengan secara subtil mengaitkan tarung pedang dengan banyak hal besar di luar pedang, Hero I membedakan diri dari film-film silat yang ada.

Bahkan, Crouching Tiger, Hidden Dragon tidak bergerak sejauh itu. Ang Lee hanya mengaitkan pedang dengan keruwetan cinta, atau paling jauh dengan state of mind seorang pesilat dan kenyataan yang khayali, bukan dengan kelahiran dan keruntuhan satu bangsa, misalnya. Yang telah melakukan hal ini, meski tak sedahsyat Hero, tampaknya memang baru Tsui Hark. Dalam sejumlah seri Once Upon A Time In China, ilmu silat dengan kuat bergetar bersama keguncangan sebuah bangsa menghadapi masa silam besarnya yang melapuk dan pengaruh dunia luar yang datang dengan teknologi yang perkasa.

Tantangan untuk mengolah sekaligus beberapa gagasan besar, yang harus disajikan lewat media film wuxia (wiracerita silat) yang dikerangkeng oleh sejumlah tembok itu, menuntut penemuan satu cara berkisah yang baru, penyusunan satu vokabuler baru bahasa gambar, dengan gramatika dan semiotiknya sendiri. Untuk cara berkisah dan vokabuler itu, Zhang memang meminjam dari genre dan media seni lain.

Akan tetapi, Zhang mengolahnya sendiri dengan bagus, memberi banyak ruang pada penonton berpetualang dalam warna dan cahaya, sambil melihat tema, plot, dan motif terbuka mementaskan diri. Banyak scene di film ini yang terbentang tanpa dialog. Kata-kata diambil alih oleh desah napas, sorot mata, nyala lilin, aksara di dinding dan tiang saka, gema tangis di tengah gurun, rona yang berubah pada daun dan langit, atau bulir air pada paras dan gigir pedang; juga oleh perspektif dan angle kamera Chris Doyle yang memang menawan.

Hasilnya bukan lagi sekadar lanskap yang dimurnikan dengan warna tunggal, dan sejumlah scene yang saling menjelaskan, tetapi yang begitu elok hingga bisa berdiri sebagai sebuah karya seni yang berharga dalam dirinya sendiri. Musik yang ikut membentuk atmosfer puitis dan hampir sureal, ditambah editing yang lugas, membuat penalaran kita dibiarkan setengah lumpuh, dan seluruh kegiatan benak kita terhanyut ke dalam banyak bentuk benturan tindakan dan emosi manusia.

Meski terdiri dari imaji artistik yang ditakdirkan akan mengubah masa silam dan masa depan dunia film, pencapaian terbesar Hero I memang bukan pada keindahan gambar. Hero I bukan lagi sekadar film silat, tetapi adalah ilmu silat itu sendiri, yang dengan asas plain and simple jadi pukulan dimana “luka” berbanding lurus dengan “hawa murni” penontonnya.

Di film ini, sastra, dan seni pada umumnya, diangkat jadi varian lain ilmu silat. Narasi yang distilisasi dan saling dipertukarkan, “sastra” yang dihadirkan dengan warna abu-abu dan merah oleh Tanpa Nama, dan “sastra” biru yang disajikan oleh Sang Kaisar, adalah jurus yang dilontarkan untuk menyerang dan membalas serangan.

Tetapi, ilmu silat dalam Hero I tak melulu terdiri dari jurus untuk menaklukkan. Di sana juga ada jurus untuk membebaskan lawan sekaligus membebaskan diri sendiri. Jurus ini terlihat pada narasi putih yang dikisahkan Tanpa Nama, yang akhirnya membebaskan Tanpa Nama dari dendam sepanjang hidupnya, sekaligus membebaskan Pedang Patah Tanpa Rumah dari keruwetan cinta dan pendakian spiritualnya.

Ringkasnya, Hero adalah puisi epik yang nyaris sempurna, yang bisa menyeret penontonnya untuk tak cuma memikirkan struktur dan bentuknya, tetapi juga memikirkan jiwa Pedang (Jian) dan penataan Dunia (Tian Xia); dan sejenis cinta yang tak kalah bernilai dari segala hal di bawah langit.

***

Dibanding episode II yang cenderung “menyingkap”, Hero I memang lebih “membius”. Dengan sublim, Hero I memuliakan para pahlawan, yang adalah mereka yang terjebak oleh nasib sehingga ketika mereka mencoba mencari jalan bagi bangsa dan tanah airnya, mereka mengorbankan diri sendiri. Pahlawan sejati adalah mereka yang terpojok pedih mengambil langkah dramatis, dan menyambut maut sebagai harga bagi kelangsungan hidup mereka yang ditinggalkan.

Ketimbang menyentuh hati, Hero II malah condong menampar kerinduan orang pada drama, dengan pesan bahwa pahlawan adalah mereka yang berupaya agar sebuah tanah air, Dunia Sekolong Langit, tak lagi perlu tergantung pada para pahlawan. Selain menggoda “romantisme” oriental, dengan tetap mengangkat karakter sama penting dengan alur dan tema, Hero II mencoba membongkar kebutuhan akan pahlawan, sekaligus menyingkap perangkap yang menyertai pemujaannya.

Jika Hero I lebih mencuatkan meditasi atas dendam dan pengorbanan, Hero II lebih mencuatkan meditasi atas penerimaan dan detachment. Dan, jika Hero III terpaksa harus dibuat, maka itu mungkin “tentang” Tanpa Nama sebagai pemimpin laskar petani yang naik jadi kaisar pertama Dinasti Han. Pergulatan antara pencapaian spiritual ilmu pedang dengan intrik politik di sekitar takhta, di tengah struktur sosial politik yang ditinggalkan dinasti lama, membuat Hero III jadi meditasi tentang ilusi manusia: ilusi tentang pengorbanan diri dan ilusi tentang detachment.

Panggung utama dimana cerita bertemu dan bertempur dalam Hero I, adalah ruang utama istana kekaisaran, ruang yang sekaligus menjadi tempat bertemunya sang Maharaja penguasa tertinggi dengan rakyat yang didaulatnya. Panggung utama dimana cerita bertemu dan bertempur dalam Hero II, adalah puncak gunung, ruang yang sekaligus menjadi tempat bertemunya langit dan bumi. Hero I menjadi luar biasa menarik karena ia menjadikan ruang utama istana itu sebuah arena yang intens bagi dialog tentang pedang dan dunia, sementara Hero II menjadikan ruang tempat bertemunya langit dan bumi sebagai medan bergesernya aspirasi tertinggi manusia: dari cita-cita batin untuk hidup selaras dengan langit ke hasrat untuk hidup mengubah langit dan segala hal yang ada di bawahnya.

Hero I memang mencoba menyajikan pesan tentang aspirasi perdamaian Tian Xia yang muncul kuat pada tokoh-tokoh utamanya tetapi yang tak bisa diselaraskan dan disatukan oleh sejumlah keterperangkapan hidup. Hero II juga meneruskan aspirasi tentang perubahan dan perdamaian Tian Xia, tetapi dengan kesadaran bahwa upaya untuk mengubah langit dan menundukkan waktu hanya mungkin jika syarat-syaratnya terpenuhi. Betapapun murni dan agung cita-cita perubahan dunia, jika syarat-syaratnya tak terpenuhi, hanya akan menghasilkan kehancuran, dan kesedihan yang seperti kabut tipis ungu, terus mengambang dalam waktu dan danau kenangan manusia. Kadang-kadang langit sendiri memang sudah ingin berubah, tetapi sebagian besar manusia tidak siap bersatu-padu menyongsongnya.

Itu sebabnya Hero II ditutup dengan scene yang direkam dalam Shiji: banjir badang ratusan ribu laskar pemberontak yang datang mengepung ibu kota. Layar menghadirkan derap kaki yang menjalarkan getar, ekspresi wajah yang intens, dan luapan murka hampir setengah juta manusia yang bagai luapan bah membanjiri seluruh kompleks istana.

Bangunan mahamegah itu akhirnya dibakar jadi unggun raksasa, lebih marak dari unggun pembakaran bukit bilah bambu dan seluruh catatan sejarah Tiongkok. Serpihan bara istana agung yang konon mengandung ribuan kamar itu diterbangkan angin ke rahasia Langit, dan kembali ke tulus Bumi bagai serpihan emas yang gemilang dan reruntuhan unggas suci phoenix: bagai potongan jutaan bintang tanpa nama yang gugur dari angkasa.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Versi awal dimuat di Bentara KOMPAS, Jumat, 7 Maret 2003

4 Responses to “Film”

  1. aim Says:

    Mas, di antara tulisan-tulisanmu, tulisan ini adalah salah satu yang berkali-kali kubaca. Bukan hanya film yang bagus yang bisa membius dan terkesima, tapi juga tulisan yang bagus pun dmeikian– seperti tulisan ini.

    Aku suka sekali setting dan scene yang mas bayangkan. Tetapi, kalau mengandaikan film Hero (episode I) adalah kisah tentang orang-orang yang beroleh “pencerahan”, kelihatannya ada beberapa keganjilan dalam imaji Hero Episode II mas Nirwan.

    Misalnya, pertama, apa motif Rouyee memboyong Wuming? sepertinya mengingkari pencerahan yang diperoleh Ruyee. Dan adegan prempuan yang menolong “sang pahlawan” dan kemudian menjadi partner “berjuang” itu menurutku tidak luar biasa (Aku malah teringat adegan-adegan film Barri Prima yang selalu seperti itu jalan ceritanya. hehehe)

    Kedua, mengandaikan Wuming hidup lagi juga sangat sulit dimengerti karena mengkhianati hakikat “kepahlawanan” yang dibangun sebelumnya– tentang “pengorbanan orang-orang tak bernama”.

    atau bagaimana? thanks.

    • Daeng Says:

      Terima kasih, Im.

      Hero Episode II ini masih juga tentang “pencerahan,” namun pada tingkat yang lebih lanjut. Kedua episode ini menerima pengertian “kesatuan dunia, kesatuan manusia.” Episode I lebih menandaskan pentingnya upaya mendorong penyatuan dan perdamaian dunia yang tadinya selalu bertikai itu – itu sebabnya, tokoh yang bisa mewujudkan penyatuan itu, yakni si Kaisar, harus diselamatkan. Episode II juga mengakui pentingnya penyatuan dan perdamaian, tapi lebih menandaskan bahwa yang bisa mewujudkan itu bukan (hanya) seorang Kaisar tapi seluruh manusia, manusia-manusia yang tak punya nama.

      Rouyee memboyong Wuming dilatari oleh beberapa motif. Tentu ia juga melihat bahwa orang yang diberi pedang pusaka oleh gurunya itu adalah pendekar istimewa, orang yang kira-kira bisa ikut mewujudkan perdamaian dunia (pengertian Rouyee ini tentunya masih samara-samar awalnya, tapi makin menguat belakangan). Rouyee juga melihat bahwa Wuming adalah sosok yang agak mendekati gurunya. Hal yang lain adalah bahwa mungkin saja, selain mendapat perintah dari gurunya untuk menyerahkan pusaka pedang buntung itu ke Wuming, Rouyee juga mendapat perintah untuk membayangi dan membantu Wuming….

      Adegan perempuan yang menolong “sang pahlawan” dan kemudian menjadi partner “berjuang” adalah salah satu adegan “arketip” dalam khazanah cerita manusia. Adegan seperti ini sudah ada ribuan tahun yang lalu, jauh sebelum Barri Prima lahir :-). Adegan seperti ini menandaskan vulnerabilitas seorang pahlawan dan pentingnya “sang lain.” Ia juga mewakili harapan dan semangat rekonsiliasi untuk kerjasama dengan “sang lain” itu buat tujuan bersama, buat sesuatu yang lebih baik…

      Wuming “dihidupkan” itu bukannya menghianati hakikat kepahlawanan, tapi justeru mempertegas kepahlawanannya.

      Yang jelas, jika Wuming mati, ia memang mati sebagai pahlawan (seperti yang diamanatkan si kaisar yang memahlawankannya). Tapi ia akan lebih berguna jika ia aktif bekerja, dan ia hanya bisa bekerja jika ia hidup… Jika ia mati, ia mungkin menjadi penghiburan di ingatan orang yang memujanya; tapi jika ia bekerja, ia akan membuat orang-orang tersebut tak terlalu tergantung lagi baik pada kaisar maupun pada pujaan. Mereka semua bisa mandiri, dengan riang, tanpa perlu terbungkuk-bungkuk menyembah dan memuja lagi…

      Episode II ini memang hendak menganggu dan merumuskan ulang pengertian klasik tentang pahlawan. Upaya ini tentu tak baru sama sekali, tapi tetap saja penting…

  2. budtiong Says:

    tulisan yang bagus ini boleh dishare ulang di web kami ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: