Transhumanisme

September 19, 2008

Semesta Manusia

Setiap perjumpaan sejati dengan ilmu dan teknologi, selalu saja berarti perjumpaan dengan revolusi. Dalam sejarah sastra Indonesia, sangat sedikit penulis yang cukup bagus membabar dramatik perjumpaan itu, dan akibat-akibatnya bagi kelahiran sebuah kesadaran baru, sebuah era yang tak terbayangkan sebelumnya. Di antara yang segelintir itu, adalah Pramoedya Ananta Toer. Di lembar awal tetralogi Roman Pulau Buru, sastrawan-setengah-padas itu menghadirkan pengakuan Minke betapa, “Dalam hidupku, baru seumur jagung, sudah dapat kurasai: ilmu pengetahuan telah memberikan padaku suatu restu yang tiada terhingga indahnya ” (Bumi Manusia, hal.2)


Detail terbalik "Penciptaan Adam" Michelangelo

Adam Mencipta. Detail terbalik "Penciptaan Adam" © 1511 Michelangelo

Dengan ilmu yang didapat dari sekolah dan ia saksikan sendiri pernyataannya dalam hidup, Minke mengalami persentuhan yang membikin pribadinya jadi lain dari kaum sebangsanya. Dari pencapaian-pencapaian besar nalar yang datang dari Eropa itu, Minke menyerap satu kata ajaib; satu kata yang menggelumbang dan membiak diri seperti bakteria; satu kata yang tak saja mengubah cakrawala dan jalan hidup Minke, tapi juga mengubah benua dan apa saja yang dilewatinya: Modern!

bumi-pram-id

Pengendalian waktu dan ruang adalah buah langsung dari internalisasi kata ajaib itu. Minke sadar, ilmu-pengetahuanlah yang membuatnya suka mencatat-catat. Seperti setiap bentuk dokumentasi, catatan adalah wujud tindak strategis manusia memanusiawikan Waktu yang tak terbendung. Dengan catatan, terbangun waktu antropologis yang berbeda tapi tetap berkait dengan waktu kosmis, seperti pulau yang terpisah dari benuanya, atau planet yang bercerai dari surya induknya. Dalam waktu alternatif itu, berbagai jenis waktu subyektif bisa dihadirkan, bahkan dikekalkan, dan tumbuh membentuk hidup dan evolusinya sendiri. Strategi itu tak saja membantu manusia menyelamatkan masa lalu dari gerusan kesilaman; ia juga membekali manusia dengan gudang ingatan dan pengetahuan untuk membentuk sejarah.

Penaklukan waktu selalu bergandeng dengan penaklukan ruang. Dunia rasanya tiada berjarak lagi – telah dihilangkan oleh kawat, diciutkan oleh jaringan rel kereta api yang membelah-belah seluruh daratan dunia. Alfred Weber pernah menyebut, menyebarnya pemakaian kuda sebagai hewan pacu dan penarik kereta adalah penyebab terjadinya die Achsenzeit (sumbu sejarah). Di sekitar abad ke-5 SM itu, bangkitlah para pemikir, filosof dan pembentuk agama-agama besar dunia. Di daratan Tiongkok muncul Khong Hu Cu, Mo Tsu dan Lao Tse. Di anak benua India naik Sidharta Gautama, Mahavira dan para pemikir Upanishad. Di Timur Tengah para Nabi Yahudi datang menyeru di gerbang kota, yang kelak melahirkan Kristen dan Islam. Ajaran Zarathustra yang disusun dalam kitab Avesta, meluas di Persia. Dan di Yunani, filsuf-filsuf seperti Socrates dan Plato menyebar ajaran.

Kuda yang tak cuma mengangkut tubuh, tapi juga pikiran dan imajinasi itu, sekaligus memberi rasa percaya diri yang lebih besar dan perasaan tentang ruang dan waktu yang lebih dinamis. Lompatan dari jalan kaki ke penunggangan kuda memungkinkan lahirnya sebuah kurun yang mengubah perkembangan kehidupan pikiran dan rohani manusia. Setelah 2500 tahun, pemikiran tokoh-tokoh besar yang dimekarkan oleh pertukaran dan perbenturan ide-ide itu masih meninggalkan jejak yang tak terhapuskan. Jika dengan kuda saja lahir die Achsenzeit, dapat dibayangkan apa yang mungkin rekah dari pesawat ulang-alik. Yang pasti, persentuhan Minke dengan kereta api dan semua produk ilmu dan teknologi di zamannya, telah membuatnya menjadi anak muda yang memelihara impian yang mustahil diimpikan “rakyat jajahan”. Ia, misalnya, membayangkan dirinya memadu kasih dengan Sri Ratu Wilhelmina, penguasa tertinggi di Nusantara dan salah satu makhluk paling berkuasa di Bumi.

Modernitas dengan ilmu dan teknologinya memang ikut andil atas meluasnya kolonialisme. Tetapi mereka jugalah yang kelak, karena tekanannya agar kolonialisme mengalami rasionalisasi, ikut membidani kelahiran nasionalisme. Karena akal dan ilmu-lah, yang padanya ada kepastian-kepastian yang bisa dipegang, Minke merintis sebuah era di mana para inlander bergerak mengubah bumi menjadi Bumi Manusia, bukan bumi yang dikuasai para dewa, juga bukan bumi yang diperintah semata oleh kaum putih. Seorang subyek kolonial telah jadi pemula dari kurun yang belum pernah ada: Indonesia Merdeka, tanah air yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Revolusi yang mengubah Minke dimungkinkan oleh pencapaian ilmu di simpang abad ke-19 dan ke-20; pencapaian yang jika dibanding dengan prestasi dan kemungkinan ilmu di simpang alaf ke-2 dan ke-3 tampak agak primitif sebenarnya.

Mikrokosmos Manusia

Pada tanggal 26 Juni 2000, rampungnya tahapan pertama proyek pemetaan gen manusia secara serentak diumumkan di enam titik di planet Bumi: Washington DC, London, Berlin, Paris, Tokyo dan Beijing. Peta tersebut tampaknya bukanlah sekedar “peta paling menakjubkan yang pernah diciptakan manusia”, seperti kata presiden AS Bill Clinton; juga bukan sekedar “kemenangan pertama teknologi pada abad ke-21”, sebagaimana disebut PM Inggris Tony Blair. Disusun dari DNA yang terdiri dari 3 milyar abjad kimiawi itu, peta gen itu adalah pertanda awal kemenangan sejati manusia untuk mengambil alih dari tangan Alam kendali atas evolusi di jagat raya yang dihidupi.

Peta gen itu secara jelas menerangi kesinambungan segenap makhluk hidup: persaudaraan antara spesies-spesies manusia dengan segenap makhluk di Bumi. Secara genomik, manusia punya persamaan dengan ragi sebesar 51 persen, dan dengan simpanse 98%. Adapun warna kulit, rambut, mata dan perbedaan-perbedaan fisik yang dianggap esensial di antara ummat manusia, disebabkan oleh variasi perbedaan genomik yang besarnya hanya 0,2 persen. Terlau banyak memang persamaan alamiah ummat manusia ketimbang perbedaan-perbedaanya. Alam menyumbang hanya setetes ke dalam lautan perbedaan manusia yang dalam sejarah telah jadi dalih dari banyak penghancuran etnik dan perang suci.

Selain membuka lebar kehidupan post-Darwinian yang membuat seleksi alam tak lagi jadi faktor dominan evolusi, proyek genom mengubah peta pertarungan purba antara dua hal yang tak tergabungkan dalam pengalaman ummat manusia: kenyataan yang menyesakkan akan pembusukan daging tubuh, dan perjalanan panjang manusia dari tubuh organik ke tubuh yang tak terinfeksi waktu dan peluruhan biologis. Dengan berhasilnya dipetakan seluruh gen, segenap protein dan peptida manusia (yang kelak disusul oleh seluruh gen, protein dan peptida semesta makhluk hidup); manusia niscaya mendapat kekuatan baru untuk memenangkan pertarungan panjang tersebut, dengan akibat-akibat yang bisa jadi bakal mengubah peradaban lebih hebat dari penemuan roda, mesiu dan mesin cetak Gutenberg. Proyek genom antara lain memungkinkan manusia melampaui maut yang dalam sejarah dianggap sebagai batas eksistensi. Manusia dapat saja secara sadar memilih mati hanya karena ia sudah merasa benar-benar cukup dengan dunia, atau agar dapat merasakan kebahagiaan dan kebenaran yang syahdan tak mungkin dapat ditampung dalam hidup. Ia bisa minta dihidupkan lagi, untuk jaga-jaga jika kabar itu ternyata dusta.

Bersama terobosan-terobosan besar di bidang ilmu lain, proyek genom memetakan revolusi besar yang akan disambut hangat penganut transhumanisme. Memang ada yang terasa agak naif juga dari kelompok tertentu kaum transhumanis — setidaknya jika dilihat cita-cita antropologis mereka seperti yang diumumkan di internet — yang tampak demikian memutlakkan ledakan ilmu dan teknologi. Tujuan mereka mencapai transformasi diri bisa diraih tanpa segala macam hiruk-pikuk revolusi ilmiah dan teknologis. Nietzsche yang wafat 100 tahun silam dengan bagus sudah bilang bahwa tubuh alami sanggup mengecap rasa bahagia yang selama ini tak dikenal manusia: rasa bahagia seorang tuhan. Übermensch bukanlah “transendensi baru”, namun berdasarkan potensi yang dipunya tiap manusia dan dapat diwujudkan tiap saat; ia pun bukan suatu tingkat perkembangan yang berada jauh di depan yang hanya ditentukan secara rasional. Übermensch, demikian sabda Zarathustra, adalah makna dari dunia ini.

Namun, jika dengan sekadar tubuh manusia biasa (tubuh paska-kera), sesosok makhluk bisa menjadi makna dari dunia, apa gerangan yang ditawarkan oleh tubuh paska-manusia? Tubuh yang tumbuh dengan peledakan kemampuan peyimpanan dan kecepatan pemrosesan informasi, dengan pemaduan cakrawala pengetahuan dan pengalaman manusia yang ditumpuk dalam sejarah, dengan rejuvenasi sel yang bahkan dapat menampik proses penuaan, jelas akan akan mebentangkan kemungkinan yang jauh lebih mencekam dari yang dibayangkan oleh Julian Huxley, penganjur pertama tranhumanisme.

Sejumlah masalah memang masih terhampar menuntut kerja keras para kartograf genetik. Upaya paling berat proyek genom bukalah pada tahapan sekuesingnya, tapi pada tahapan assembling dan anotasinya. Tahapan ini jauh lebih sulit dan memakan waktu yang lebih panjang. Tapi ilmu pengetahuan memang hidup seperti itu. Ia adalah biorganisme raksasa yang makanan satu-satunya adalah problem. Dalam pergerakannya meneruskan hidup, ilmu mengangkat manusia naik membentuk sejarah. Adapun upaya ilmiah menyusun rinci peta gen yang adalah peta mikrokosmos manusia, akan membuat manusia kian fasih menggunakan, meminjam Clinton, bahasa yang dengannya Tuhan menciptakan kehidupan. Penguasaan bahasa Tuhan adalah jalan nyata untuk jadi Tuhan.

Bimbingan ilmu pada akal untuk jadi Tuhan mungkin menegas paling kuat pada kosmologi. Seluruh teori-teori kosmik di awal alaf ke-3 ini pada akhirnya menuntut kecerdasan untuk menciptakan sendiri alam semesta, sebagai sarana uji kekuatan teori-teori itu. Mereka juga mengajukan versi yang bertentangan dengan narasi penciptaan yang diwariskan agama-agama besar, khususnya “agama samawi”. Usulan nir-batas Hawking, model kosmos organik Lee Smolin, atau kosmos fraktal Andrei Linde, misalnya, adalah koreksi serius atas teori Big Bang yang dulu dianggap menandaskan adanya Momen Penciptaan. Usulan Hawking, kita tahu, adalah sebuah model jagat raya yang ruangnya tak bertepi, yang waktunya tak berawal dan tak berakhir, dan yang Penciptanya tak perlu berbuat sesuatu apapun lagi. Bahkan, menurut Hawking, dalam jagat raya seperti itu, tak dibutuhkan adanya Pencipta.

Jika dalam kisah-kisah penciptaan bumi dan langit yang hidup dalam agama-agama monotheistik, Adam Sang Manusia terusir keluar dari sorga setelah mencicipi buah terlarang; dalam model kosmos mutakhir, Tuhan Sang Pencipta-lah yang tampak terusir keluar dari semesta raya. (Tuhan sebenarnya tak pernah terusir keluar, karena Ia tak pernah ada di dalam, tidak di mana pun.) Di kedua narasi penciptaan ini, pengetahuan memang aktor utama yang tak tampak dengan peran yang luar biasa penting. Salah satu prinsip utama ilmu adalah bahwa jika sebuah peristiwa bisa diterangkan tanpa intervensi Tuhan, maka memfatwakan adanya intervensi ilahi di situ adalah tindakan haram dari segi epistemologi. Bersama beberapa prinsip lain yang memungkinkan ilmu tumbuh dan bertahan hidup, prinsip ini kelak akan mendera kecerdasan menciptakan alam semesta.

Fiksi Penciptaan

Dalam sejarah, imajinasi tertinggi manusia mentok pada kanopi narasi (lebih tepatnya: fiksi) penciptaan gaib semesta dan seisinya. Karena itu hasratnya yang paling agung hanyalah hasrat sebutir debu untuk bersatu meyisipkan diri dalam keakbaran Pencipta kosmos. Atau hasrat sampah evolusi dan koinsidensi yang memberontak secara eksistensial dengan menganggap irelevan setiap fiksi penciptaan semesta. Membongkar kanopi sakral fiksi penciptaan semesta niscaya akan membangunkan nalar dan sejarah dari keterlelapan ribuan tahun.

Gagasan penciptaan semesta raya oleh manusia sepintas lalu mungkin tampak mengerikan. Atau malah tampak berlebihan bagi pandangan bijak agama dan seni, yang sejak dulu selalu mencipta semesta kognitif yang ajaib dan menakjubkan. Tapi alam sendiri senantiasa menghasilkan manusia yang selain tak puas dengan sekedar konstruksi imajinasi, juga cenderung meretas dan menghapus lenyap seluruh langit yang menghidupi dan membatasi leluhurnya. Di tengah lingkungan alam yang terus berubah, kehidupan bisa lestari jika reproduksi bioorganisme menghasilkan keturunan yang tidak secara persis sama dengan pendahulunya. Generasi penerus harus siap menghadapi lingkungan yang tak sesuai bagi pendahulunya. Bahkan di level kromosom pun, reproduksi senantiasa menghasilkan kelainan: mutasi dan berbagai otherness di tataran genetik.

Hukum inilah yang memungkinkan kehidupan dan peradaban bisa terus tumbuh lewat keniscayaan munculnya orang-orang yang berbakat menelurkan penemuan-penemuan besar, yang menghadirkan pemikiran segar, suatu pendekatan nekat dan bergairah yang tampak dicampur dengan sejumlah kenaifan. Merekalah makhluk berakal yang bertekad merogoh jantung kenyataan dan penciptaan; makhluk ganjil yang tidak cuma ingin menjajal batas terjauh imajinasi dan pengetahuan ilmiah. Sambil mendekati lebih intim hakekat terdalam kenyataan kosmos, mereka mendorong lebih jauh batas cakrawala di mana pikiran dan bahasa konon kehilangan daya. Mereka yang menderita dengan sekedar kemungkinan teoretik ini tahu bahwa dalam pengetahuan ada hal-hal yang tak bisa diajarkan: ia harus dialami sendiri.

Yang pasti, upaya manusia menciptakan sendiri semesta raya seisinya berkait langsung dengan evolusi dan kelangsungan hidupnya sebagai species. Entah malapetaka kosmik apa gerangan yang sedang disiapkan alam — yang mungkin bekerja lewat tangan manusia juga; bencana semesta yang sedemikian dahsyatnya sehingga manusia terpaksa menciptakan jagat raya dan seisinya sebagai tempat baru untuk meneruskan kehidupannya, untuk mengekalkan dirinya. Jikapun malapetaka kosmik tak sempat tiba, manusia mungkin akan berhasil membangun tingkat kesadaran tertentu yang memadai untuk menjadi ekologi rohani bagi pengetahuan yang mampu mencipta semesta raya. Penciptaan semesta raya memang adalah bagian dari upaya menjawab secara lebih baik, problem-problem ontologis yang sudah sedemikian lama merundung leluhur ummat manusia

Walau benih penciptaan kosmos sudah muncul kini, tidak dengan sendirinya ekologi penopangnya bisa terbentuk. Konservatisme adalah gejala arkaik yang tak mudah hilang di dunia, dan perlawanannya akan membuat ide penciptaan kosmos bisa mati secara prematur. Atau, ide itu mendeaktivasi diri sambil menunggu momentum untuk marak. Kemungkinan ini terjadi jika zaman dikuasai oleh gerakan besar manusia membebaskan dirinya dari dirinya sendiri, dari imajinasi dan rasa ingin tahunya. Ummat manusia berhenti berpikir, atau berpikir sekadarnya saja.

Manusia mungkin lalu hidup dengan narasi besar tentang semesta raya sebagai maha monster narsistik yang agar bisa mengekspresikan dan membiakkan diri, dengan licik mengembangkan makhluk hidup kompleks yang kelak mampu mereplikasi semesta. Kebetulan saja perlombaan evolusi kecerdasan di bumi dimenangkan oleh salah satu jenis species mamalia, bukan reptil atau serangga, misalnya. Bila diberi waktu dan kondisi yang memadai, makhluk melata dan berbuku-buku juga bisa mengembangkan intelegensi tingkat tinggi. Bisa jadi di tempat lain di ruang kosmos raya ini, sedang dikembangkan mangsa lain, kecerdasan lain, yang berbasis silikon misalnya, untuk jadi medium bagi pembiakan diri kosmos. Agar manusia tak jadi mangsa, mereka harus menolak takdirnya sebagai replikator kosmos.

Otak ummat seperti ini adalah sarang yang bagus bagi meme primitif yang isinya, misalnya, menegaskan bahwa jika manusia mencabik selubung dunia di mana ia sudah semestinya terperangkap, ia akan mendapati dirinya berhadapan dengan luasnya pengetahuan yang sangat menjenuhi pikirannya. Meski bermanfaat luas, pengetahuan seperti itu sungguh mengancam menghancurkan manusia. Revolusi ilmu dan kedahsyatan rasio, di sana tampil sebagai versi kolosal dari kekosongan dan absurditas Mahabharata. Manusia memang tak lebih dari sekedar Tuhan yang menolak untuk menjadi demikian, dan harus tetap menolak untuk bertahan sebagai manusia.

Apakah yang lebih meremukkan ketimbang mengalami bahwa manusia, setelah berhasil mencipta jagat raya misalnya, kemudian memergoki: dirinya tak lebih dari obyek mainan dari sebentuk Tuhan yang ternyata juga adalah obyek dari Tuhan lain yang lebih besar, yang juga hanyalah obyek dari Pencipta lain yang lebih besar lagi, dst, dst? Bagaiman jika akhirnya ketahuan bahwa Pencipta alam semesta ini — yang selama ribuan tahun menjadi sumber bagi segala pemujaan yang paling dalam dan pengabdian manusia yang paling luhur — ternyata adalah sesosok Hacker Kosmik, seperti yang pernah dibayangkan Andrei Linde. Atau sesosok dewa kelas rendah (yang pecemburu, rseh dan megalomaniak) dalam kontaknya dengan iblis, seperti dalam salah satu fiksi Jorge Louis Borges, penulis besar Amerika Latin itu?

Menciptakan Tuhan

Kemungkinan-kemungkinan seperti tadi memang akan menghancurkan semesta makna manusia, dan itu bagus sekali. Para pengritik rasio dan ilmu benar, ketika mereka bilang bahwa revolusi ilmiah yang merambah ke wilayah-wilayah “sakral” yang jadi hak prerogatif Tuhan, akan membawa dampak raksasa. Ia akan menggoncang iman agama banyak orang, merobohkan keyakinan sebagian lainnya dan melantak sistem moral dari banyak kebudayaan sampai ke dasar-dasarnya. Hidup sungguh absurd, “tata tertib universal” yang ribuan tahun membimbing ummat akan bangkrut, dan manusia akan terburai ketakutan.

Tapi justeru dari sanalah, dari ketiadaan dan kehancuran makna, kebudayaan berasal. Kosmos memang lahir hanya dari Chaos. Kebudayaan dan peradaban mekar dan berkembang karena manusia, dengan berbagai cara yang kerap mempertaruhkan hidup mati dirinya dan meruntuhkan logika umum, memberi makna pada apa yang tak punya makna. Di titik ini, ilmu dan khususnya teknologi, dalam pengertiannya yang paling luas, memang jadi “takdir ummat manusia”, penawar konstitusi metafisik semesta yang dipersyaratkan sebagai inti fundamental bagi semua kemungkinan tindakan manusia dan potensialitas pembentukan kosmos.

Kecerdasan dan pengetahuan sungguh tak punya alasan untuk membekukan diri, dan akan terus tumbuh menciptakan semesta dan memberi makna pada semesta ciptaannya itu. Mungkin perlu waktu lebih lama agar manusia dapat membuat kosmos yang lebih mulia dari kosmos yang dihuni sekarang. Tapi sebelum itu, manusia (yang pikiran, pengorbanan dan jeritan sukmanya sanggup menciptakan keajaiban) sudah akan mengubah kosmos menjadi Semesta Manusia, bukan semesta yang tak terjangkau dan tak diperuntukkan bagi manusia.

Tetapi jika memang demikian kemungkinan masa depan pengetahuan manusia, di sana kembali terbentang bayang-bayang sebuah “skenario penyelenggaraan Ilahi”, tetapi dengan keagungan yang jauh lebih kolosal. Sejenis intelegensi dengan kedahsyatan tak terkira, bekerja dengan sebuah rencana yang terlalu bagus untuk manusia, tak layak bagi sepupu kera jika dilihat dari seluruh sejarah dan latar belakangnya. Setelah berevolusi jutaan tahun, Homo Sapiens ternyata tetap saja makhluk berotak besar yang jika menyangkut gagasan, seperti kata filosof Amerika C.S. Pierce, umumnya tetap lebih suka yang murah, enteng dan mesum. Dan gemar mengkonsumsinya kalau perlu sampai mati, dan mematikan species lainnya. Imaji tentang intelegensi yang dengan sangat kompleks menyiapkan tuntunan-naik-jadi-Tuhan pada species paling merusak diri sendiri dalam sejarah itu, membuat keagungan ilahi yang diserukan agama-agama, tampak seperti keagungan yang “kekanak-kanakan”. Dan kita kian sadar bahwa agama-agama memang adalah ekspresi kebesaran sekaligus keterbatasan manusia dalam sejarah.

Agama yang otentik, tulis Huston Smith dalam The Religions of Man, adalah pintu gerbang yang melalui itu kekuatan kosmos yang tak berhingga tercurah ke dalam eksistensi manusia. Sebagai buah dari pergulatan mencari sesuatu yang dapat memberi pertolongan dan makna bagi ummat, tak ada memang yang dapat menyaingi kekuatan agama menyentuh dan mengilhami pusat-pusat kreatif yang terdalam dari kehidupan manusia. Beralih dari pusat-pusat itu ke dalam ritus dan mitos, lewat proses selektif lupa dan ingat, ia memberikan lambang-lambang yang menggerakkan sejarah, sampai pada akhirnya kekuatannya menghilang dalam arus balik dunia; dan kehidupan menantikan suatu pembentukan kosmos makna yang baru kembali.

Gagasan tentang Tuhan yang “terusir dan mengosongkan diri” dari alam semesta, beserta manusia yang tertuntun belajar bahasa ilahi untuk menciptakan kehidupan dan kosmos raya, adalah gagasan integratif yang merangkum filsafat dan ilmu pengetahuan mutakhir. Yang terhampar di sana adalah sebuah kosmologi di mana manusia yang berada di pinggiran, diberi kesempatan untuk bermain ke tengah: manusia yang ditakdirkan memang untuk bebas dengan segenap pahit-getirnya, dalam semesta raya yang tak pernah diintervensi Tuhan, yang ditinggalkan sepenuhnya untuk kehidupan dan kecerdasan yang berkembang di dalamnya.

Fajar alaf ke-3 rekah dengan keharusan yang kian terang bahwa segala sesuatu memang harus dicipta kembali. Dan di antara kesemuanya, yang paling perlu reinvensi adalah: Manusia, Semesta, dan Tuhan. Manusia jauh lebih besar dari yang mampu dibayangkannya, dan keterpautannya dengan kosmos seisinya bukanlah sekedar spekulasi filosofis. Dalam takdirnya menanggung konsekuensi kebebasannya, makhluk yang sanggup mengeram cakrawala dari segenap alaf sebelum dan sesudah dirinya, merangkum semesta sejarah yang nir-batas dan kemanusiaan yang tanpa tepi, mereka bergerak menggemakan bahwa Yang Tak Terangkum Kata memang mengeram cinta yang “kelewatan”, yang tidak manusiawi; cinta yang bahkan para rasul dan orang suci sekalipun mungkin tak pernah sanggup membayangkannya.

Kesadaran planeter bahwa seluruh agama dan pemikiran filosofis dunia adalah karya agung manusia, dalam pergulatan historis memberi makna pada kehidupan, dan karena itu adalah juga sumber ilham seperti karya-karya fiksi dan seni lainnya, akan membuka zaman di mana jika manusia bicara tentang Tuhan, tentang keagungan dan keakbaran-Nya, mereka merujuk pada suatu makna yang belum pernah ada di alam semesta yang diketahui.***

Nirwan Ahmad Arsuka

* Cuplikan pendek dari sebuah tulisan untuk proyek kerjasama LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan The Ford Foundation. Dimuat di Bentara-KOMPAS, 6 Oktober 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: