Kognisi

September 19, 2008

Kehidupan Kedua

Tentang Nalar dan Horizonnya


Few of them made it into thirty.

Old age was the previlege of rocks and trees.

One had to hurry, to get on with life

before the sun went down

before the first snow

Thirteen-year-olds bearing children,

four-year-olds stalking birds’ nests in the rushes,

leading the hunt at twenty—

they aren’t yet, then they are gone.

Infinity’s ends fused quickly.

Witches chewed charms

with all the teeth of youth intact.

A son grew to manhood beneath his father’s eye.

Beneath the grandfather’s blank sockets the grandson was born.

Life, however long, will always be short.

Too short for anything to be added.


— Wislawa Szymborska

Our Ancestor’s Short Lives

Donal B. Calne, pakar neurologi dari Kanada, menulis buku Within Reason (1999) yang oleh KPG diterbitkan jadi Batas Nalar (2004). Diterjemahkan dengan menarik oleh Parakitri T. Simbolon, pembaca bisa dibuat yakin betapa gramatika Bahasa Indonesia sungguh bisa menghadirkan uraian ilmiah yang terang dan intim, seakan bagian dari obrolan sehari-hari. Adapun kosakata bahasa nasional kita ini ternyata keadaannya memang lumayan dahsyat, sehingga alih-bahasa sejumlah terma ilmiah dengan kosa kata yang ada, atau yang baru, sanggup membuat pembaca kian sadar betapa Bahasa Indonesia memang sudah punya potensi yang sama dengan Bahasa Yunani: sama-sama bahasa asing, yang hasratnya untuk diintimi menuntut kerja keras nalar; nalar yang menurut Calne memiliki batas yang tak tertembus, sehingga nalar bukan saja tak bisa dimintai tanggung jawab, tapi juga mematok mentok perkembangan manusia. Di halaman 417, Calne antara lain menyatakan bahwa kemajuan manusia (human progress) adalah hasil optimisme yang bertegas-tegas namun tak realistis —  yaitu bahwa cara hidup kita yang mutakhir lebih tinggi mutunya dari semua cara hidup sebelumnya.

Benarkah kehidupan spesies manusia tak bergerak maju sejak evolusi menghasilkan nalar? Jika ukuran human progress diletakkan pada berubahnya bentuk hubungan antara spesies manusia —  yang harus melanjutkan hidup —  dengan alam yang tampak terus-berubah-serba-tak-terduga, bisa disimpulkan memang bahwa kehidupan manusia sama sekali tak bergerak maju. Sejak ratusan ribu tahun yang silam, hingga hari ini, spesies manusia masih tetap melanjutkan hidup diri dan spesiesnya dengan terus-menerus beradaptasi dengan alam yang dikira tak dapat sepenuhnya dipahami itu.

Kita jelas belum berhasil membalik pola hubungan itu menjadikan alam sepenuhnya beradaptasi dengan manusia. Kita bahkan belum bergerak maju dalam membuat agar manusia “apa-adanya” dengan segenap kecenderungan gelapnya, beradaptasi mendidik dan menyelaraskan diri dengan manusia seharusnya yang mengandung banyak kemungkinan menakjubkan itu. Homo Sapiens, kerabat dekat kera dan monyet ini, memang masih kelewat manusiawi, masih tetap hidup dan berbiak dengan mementingkan diri dan spesiesnya. Mereka belum sepenuhnya beranjak naik membentuk kehidupan yang mampu melampaui kepentingan diri dan spesies, mengaktualkan segala potensi nalarnya yang luarbiasa itu.

Namun demikian, jika ukuran kemajuan manusia diubah dan diletakkan pada bertambahnya harapan hidup dan meluasnya persebaran populasi manusia di Bumi, orang tentu bisa menyimpulkan bahwa dengan segala keruwetannya, kehidupan manusia telah relatif bergerak maju. Kajian arkeologis dan antropologis masyarakat prasejarah tentu banyak membantu menerangi soal ini. Puisi Wizlawa Szymborska, pemenang Hadiah Nobel Sastra 1996, yang diterjemahkan dari Bahasa Polandia oleh Stanislaw Baranczak dan Clare Cavanagh, dengan kuat menyajikan kelamnya hidup leluhur manusia; hidup yang demikian singkat, begitu singkat sehingga sepanjang apapun ia terentang, tetap tak sanggup menampung sekaligus memekarkan hal-hal baru.

Singkatnya, kehidupan leluhur manusia terentang begitu panjang dan keras memenuhi sebagian besar sejarah manusia di Bumi. Para penghuni rahim batu itu, yang hidupnya hanya sedikit lebih panjang dari hidup kera dan monyet, bisa menanggung hidup yang agak lebih panjang karena mereka terus menerus mengembangkan nalar. Juga karena, antara lain, kawanan Tyrannosaurus tak berkembang otaknya dan keburu punah jutaan tahun sebelumnya. Usia 50 tahun lebih, bukan lagi hak itimewa bongkahan padas dan bukit karang. Di banding dengan apa yang sudah dicapai manusia di simpang alaf ini, kehidupan leluhur manusia di jaman batu adalah kehidupan yang luar biasa menarik hanya bagi kaum romantik, dan bagi industrialis film kartun kanak-kanak.

***

Abad 20 yang baru saja lewat memang bisa dikenang sebagai abad yang mengungguli semua abad sebelumnya dalam hebatnya kekejian —  pembantaian etnis di Jerman dan Armenia, perang saudara di Rusia dan Cina, penumpasan orang-orang yang dituduh komunis di Indonesia. Pernah ada sebuah masa di abad ke-20 di mana orang ragu mungkinkah abad ini bisa merampungkan dirinya sebagai sebuah abad yang utuh akibat kegilaannya menumpuk kekuatan destruktif yang bisa menghancurkan dirinya berkali-kali. Abad 20 akhirnya memang berlalu, tetapi di simpang alaf ke-3 ini, kekejaman manusia terhadap sesamanya tidak dengan sendirinya ikut silam. Di Indonesia, kita bahkan menyambut persimpangan alaf ini dengan perang etnik di Kalimantan, penumpasan antar umat beragama di Maluku dan Poso; dan Indonesiapun seakan menjadi sebuah tanah air yang menghitung bulan, menunggu purnama terakhirnya sebagai sebuah bangsa. Tetapi, mengidentikkan tingginya kekejian manusia dengan meningkatnya perkembangan nalarnya, adalah langkah yang berbahaya.

Orang memang gampang tergoda pada pengidentikan itu dengan, misalnya, menunjuk fakta betapa rakyat dan cendekiawan Jerman, bangsa yang terkenal dengan prestasi filsafat dan kebudayaan itu, berduyun-duyun mendukung seorang pelukis gagal dengan kumis yang buruk yang tegak dengan gagasan biadab membersihkan Eropa dari turunan Musa. Bukan hanya Martin Heidegger, filsuf besar itu, yang ikut mendukung Hitler, tetapi juga Werner Heisenberg, salah seorang tokoh terpenting Mekanika Kuatum, yang bahkan menjadi kepala proyek senjata nuklir Jerman. Orang bisa berdebat bahwa keterlibatan Heisenberg dalam proyek maut dengan gaya kerjanya yang tampak kacau dan serba-tak-pasti, justeru telah menyabot proyek penghancur dunia itu, tetapi ini tak menghapus fakta bahwa cendekiawan paling cemerlang pun bisa terlibat proyek berdarah.

Namun, kekejaman Nazi Hitler yang demikian mencekam dan mengguncang, membuat orang lebih mudah terseret memusatkan perhatian pada kamp-kamp konsentrasi, dan gampang abai pada fakta bahwa meningkatnya dukungan cendekiawan dan rakyat Jerman pada Hitler tidaklah datang serta merta. Dukungan itu membesar setelah Hitler berhasil menyelesaikan sejumlah soal ekonomi politik yang Republik Weimar gagal membereskannya, bukan terutama karena Hitler mengusung gagasan besar membuat menjulang keunggulan ras Arya yang mesti ditegakkan dengan cara apapun, termasuk jika harus membakar tuntas kaum Semit hingga ke tulang belulang yang terakhir.

Yang juga sering dilupakan adalah bahwa jumlah ilmuwan Jerman yang tak mendukung Hitler masih lebih banyak dari jumlah yang mendukungnya. Ada juga cendekiawan yang tadinya mendukung Hitler, termasuk Heidegger, pelan-pelan mencabut dukungan tersebut setelah kekejaman Hitler tercium kian tajam. Sementara itu, di antara mereka yang tak mendukung Hitler, banyak yang kemudian menggabungkan diri dengan para cendekiawan dan seniman Yahudi Jerman dan Eropa, dan kabur meninggalkan Benua itu. Sebagian dari pelarian ini, berhasil sampai ke Amerika, yang kemudian ikut membuat negeri itu mencapai prestasi kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang luarbiasa. Jika Walter Benjamin masih hidup, ia mungkin akan bilang bahwa ibukota abad ke-19 memang tegak di Paris, tetapi ibukota abad ke-20 menjulang di New York. Para pelarian itu juga ikut membuat pencapaian ilmu dan teknologi di paruh kedua abad ke-20 yang baru lewat, jadi jauh lebih besar dibanding dengan seluruh perkembangan ilmu dan teknologi sejak jaman prasejarah hingga Revolusi Industri, bahkan dibanding dengan segenap perkembangan hingga pada Akhir Perang Dunia II.

***

Seluruh persoalan ummat manusia di awal millenium ke-tiga ini, bahkan seluruh persoalan besar dan kecil seluruh manusia sejak mereka muncul di bumi, adalah variasi dari sebuah tema yang sudah mekar sejak 4 atau 5 juta tahun yang silam. Akar besar persoalan itu muncul ketika, dengan mekanisme yang rinciannya belum sepenuhnya bisa diurai, sejumlah molekul memperoleh dorongan untuk mereproduksi dan mengekalkan diri. Gejala yang sama sekali baru di alam semesta yang kita kenal ini, gejala yang dikenal sebagai Kehidupan, dengan K, adalah gejala yang harus dipertahankan, apapun caranya, apapun korbannya. Ada yang melihat bahwa dorongan Hidup yang tak terbendung ini, adalah bentuk lanjut dari dorongan intrinsik untuk naik mencapai tingkat tertentu kompleksitas, secara fungsional dan struktural: suatu pencanggihan kombinasi diferensiasi dan integrasi pada dimensi skala, spasial, dan temporal. Ringkasnya: sebuah dorongan yang dekat dengan konstitusi ontologis semesta raya seisinya yang berevolusi dari suatu kehampaan.

Reproduksi dan pengekalan diri hanya mungkin jika ada sumber-sumber pemasok materi, energi dan informasi, yang ketersediaannya relatif mantap. Masalahnya adalah: sumber-sumber material penyambung hidup tidak selalu tersedia cukup di sekitar, sementara lingkungan alam yang menopang bisa setiap saat berubah dengan besaran perubahan yang sanggup memunahkan proses reproduksi dan pengekalan diri itu. Kemungkinan terhentinya proses reproduksi dan pengekalan diri ini, yakni Kematian, dengan K, selalu menghantui sejak Kehidupan pertama kali muncul. Segala upaya ditempuh oleh molekul-molekul hidup yang pertama untuk mempertahankan kehidupannya, termasuk jika harus memangsa molekul-molekus hidup yang lain.

Ancaman dari pemangsa, kelangkaan sumber-sumber, dan ketak-pastian lingkungan yang semuanya bisa mendatangkan kematian itu, membuat rasa takut menjadi rasa yang paling tua dalam kehidupan, lebih tua dari kemanusiaan. Rasa takut adalah pasangan kehidupan, induk dari seluruh perasaan manusia, yang akan menyosok kian kuat ketika sumber-sumber penyambung reproduksi dan pengekalan diri terancam. Rasa takut purba itu menemani molekul-molekul hidup yang pertama, yang terus menerus berjuang mempertahankan hidup menembus waktu jutaan tahun. Dalam proses trial and error itu, sebagian besar molekul primordial gagal melanjutkan hidup. Yang berhasil, semua juga tahu, adalah mereka yang paling mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang serba menekan itu.

Dari keaadaan yang serba sulit itulah, nalar berkembang di mana rasa takut mulai surut ketika pengalaman menunjukkan bahwa alam, betapapun tampak kacaunya ternyata lama-lama menunjukkan sejumlah keteraturan yang datang dengan sejumlah tanda. Alam mungkin keras, tapi ia tidak pernah berdusta. Harapan adalah ketakutan yang diberi ragi pengalaman dan pengetahuan akan keteraturan dunia. Dari pengalaman yang kian menumpuk akan keteraturan dunia, nalar kelak membangun bahasa, agama dan moral; sekumpulan perangkat yang membantu manusia menyiasati kelangkaan sumber-sumber dan kepungan ancaman.

Karena dibangun untuk merespon situasi tertentu, produk-produk nalar tentu punya jangka hidupnya sendiri. Selama masih bisa membantu manusia berbiak dan mengekalkan diri, produk-produk itu tentu saja tetap bertahan. Begitu produk-produk tersebut mempersulit, apalagi menghambat reproduksi dan pengekalan diri manusia, maka produk-produk tersebut, betapun bergunanya mereka tadinya, betapapun luhur dan kekalnya mereka mendaku, akan dengan sendirinya ditinggalkan. Jangankan produk-produk nalar, bahkan nalar itu sendiri, setinggi apapun tingkat perkembangan evolusionernya, akan ditanggalkan jika ia – karena sebuah keadaan yang sangat luar biasa —  tak lagi mampu menjamin reproduksi dan pengekalan diri manusia.

***

Nalar, seperti halnya tangan, memang tak punya air mata untuk tetes (Hands have no teras to flow —  dari sebaris Dylan Thomas: The Hand That Signed the Paper). Nalar dan tangan manusia dalam banyak kasus telah ikut bekerja dalam bembuat lembar-lembar sejarah berlumur darah. Namun demikian, perlahan-lahan kita makin tahu bahwa nalar dan tangan yang terlibat dalam kejahatan yang memalukan itu, yang meneken kontrak untuk melantak kota, membiakkan wabah, menumbuhkan kelaparan dan merampas kesempatan pendidikan bebas sekian generasi, bukanlah nalar dan tangan yang sepenuhnya merdeka. Keduanya bertindak di bawah penindasan kecemasan dan ketakutan yang memang mahir menggunakan banyak kedok. Ringkasnya, nalar dan tangan yang menumpahkan darah adalah nalar dan tangan yang sama-sama terjepit dalam batas-batasnya. Bedanya mungkin adalah bahwa jika tangan tak bisa menyadari keterjepitan dan datas-batas itu, nalar jelas bisa.

Nalar memang punya batas-batasnya. Dan nalar yang tahu batas-batasnya, adalah juga yang tahu bahwa batas-batas itu bukanlah batas yang tak bisa dilampaui. Sumbangan terpenting buku terbitan KPG ini adalah bertambahnya literatur berbahasa Indonesia yang memaparkan batas nalar bentuk pertama, yakni batas-batas yang berasal dari asal-usul evolusionernya. Namun demikian, pandangan esensialistik yang membayang agak kuat di buku Calne, yakni pandangan bahwa karena asal-usul evolusionernya yang mengabdi pada kepentingan diri dan spesies, maka nalar manusia akan terus menerus terbatas dalam wilayah yang melahirkannya, terus menerus kebingungan mengahadapi bilangan-bilangan raksasa dan rumit, adalah pandangan yang layak ditinjau ulang. Kajian para pakar seperti Steven Pinker atau Marvin Minsky, adalah kajian yang mencoba menembus sebagian dari batas-batas formal tradisional itu. Kitapun bisa berkata bahwa nalar, seperti halnya manusia, tidaklah ditentukan dan dinilai oleh asal-usulnya, tetapi oleh kemungkinan-kemungkinan yang setengah mati dicapainya.

Ketimbang batas nalar jenis pertama, yang lebih menindas dan lebih perlu mendapat prioritas kajian adalah batas jenis kedua, yakni batas-batas yang disungkupkan oleh kecemasan manusia sendiri. Jika batas nalar yang pertama diwariskan lewat gen, batas nalar yang kedua diwariskan lewat meme. Batas-batas itu, sungkup itu, kita tahu, bisa datang dalam bentuk rasialisme dan berbagai sentimen religius dan politik; produk-produk nalar yang tadinya mungkin berguna untuk menjamin pengekalan diri sekelompok tertentu manusia, tetapi yang tak sesuai lagi dengan kenyataan yang tumbuh; sungkup-sungkup yang menyebabkan abad ke-20 menjadi abad paling kelam dalam sejarah. Sungkup itu juga bisa datang dalam bentuk bahasa yang carut marut bertingkat-tingkat dan menolak untuk tampil menyatakan diri dengan terang benderang. Bahkan teori ilmiah yang mapan pun bisa bekerja dan merosot menjadi sebentuk sungkup, terutama ketika ia kehilangan kepekaan atas batas-batasnya.

Kemelut besar yang kini melanda Indonesia jelas lebih disebabkan oleh batas-batas nalar yang kedua. Volume otak para pemimpin Malaysia atau Korea Selatan mustahil lebih besar dari volume otak para pemimpin Indonesia. Berasal dari leluhur yang sama yang menyebar keluar dari Afrika, otak orang-orang Indonesia jelas serupa belaka dengan otak orang Amerika atau orang manapun di bumi ini. Bahwa dengan otak yang persis sama itu, hasilnya adalah buah yang berbeda, menunjukkan bahwa tentu ada yang keliru dengan cara kita menggunakan dan memperlakukan otak. Tampaknya kita memang tak cukup membantu otak kita, agar bisa tumbuh dan berkembang sesubur-suburnya. Kita tak menopangnya dengan pasokan informasi yang memadai, dengan pengikisan produk kognitif yang kadaluwarsa: pengertian tentang Diri, indentitas dan dunia yang sungguh sempit dan dangkal.

Salah satu peran terpenting seni, khususnya seni modern, adalah bahwa ia ikut mendobrak horison-horison nalar itu, mengoyak sungkup-sungkup sosial politik dan menelanjangi kecemasan-kecemasan manusia. Dengan tetap meneruskan semangat seni purba yang menghiasi dinding-dinding rahim batu di jaman palaeolitikum, yakni semangat proleptik yang hendak mewujudkan di masa sekarang hal-hal yang masih akan terjadi nanti, seni modern telah ikut memperluas pengertian kita akan kemungkinan-kemungkinan nalar, menyeret kita keluar dari prasangka palsu kita, mempertajam kepekaan kita akan luka dan kerentanan orang lain, sesama makhluk. Seni memang tidak akan sanggup menyelamatkan dunia atau menebus manusia, tetapi mereka yang nalar dan tubuhnya pernah mencerna habis karya-karya yang kuat, akan mengalami dunia dan memandang manusia dengan cara yang baru.

***

Jika tangan punya keringat untuk menguap karena kerja, benak punya gumpalan untuk melatu menyebarkan ilham, untuk menyadari motif-motif manusia. Calne menegaskan, menentukan peringkat motif-motif berada dalam batas-batas wilayah nalar, tetapi memilih di antara peringkat itu berada di luar batas-batas tersebut. Nalar instrumental barangkali memang tak sanggup memilih. Ia memang hanya alat. Tetapi ketak-sanggupan nalar instrumental memilih di antara peringkat itu, lebih sering terjadi karena terbatasnya informasi dan waktu untuk memprosesnya, sementara tindakan harus segera diambil untuk memastikan kelanjutan hidup. Tak jarang, keterjepitan untuk meneruskan hidup di hari ini, mengorbankan peningkatan mutu hidup di masa depan yang bisa terasa masih sangat jauh. Jika diberi waktu yang cukup, dan dipasok dengan bahan-bahan yang memadai, nalar instrumental bisa mengembangkan diri menjadi nalar kritis, nalar yang jika diasah terus bisa menuntun manusia memutuskan — kembali mengutip Szymborska, pada puisi Possibilities: I prefer the absurdity of writing poems to the absurdity of not wirting poems.

Wislawa Szymborska © Foto PAP

Nalar instrumental yang perkasa dan nalar kritis yang yang bisa menggugat dirinya, seperti halnya belahan otak kiri dan kanan, keduanya tentu diperlukan untuk mengubah dunia ini agar manusia dan segenap bentuk kehidupan tak lagi harus ditindas dan disihir oleh pigmen imajinasinya akibat kelangkaan sumber-sumber penyambung hidup. Pemahaman yang lebih baik tentang nalar memang bisa membantu kita membentuk suatu kerangka kerja di mana kita dapat menempatkan hukum-hukum alam yang mungkin diketahui dan mengakui serba tanggungjawab kita sebagai spesies paling kuasa di bumi (hal.415). Pemahaman seperti itu sanggup membantu manusia agar bisa hidup berdampingan di atas bumi dengan ruang dan sumber-sumbernya yang —  untuk sementara relatif tetap dibiarkan —  terbatas.

Selain belum bisa membuat bumi menjadi planet dengan sumber-sumber yang tak terbatas, kita pun belum bisa mengkoloni Tatasurya atau Bimasakti, sehingga pengertian tentang energi tak-terbarukan menjadi pengertian yang sudah bisa hilang dari ingatan. Tetapi kita sudah punya setumpuk pengetahuan yang bisa membantu kita mengikis sebagian besar rasa takut primordial akan kelangkaan dan ancaman itu. Yang jelas, kita kini bisa berkata tegas bahwa semua manusia adalah wadah kehidupan yang asal usulnya bisa dilacak sampai pada kelahiran kosmos. Lingkunganlah yang membangun kecenderungannya memandang orang lain sebagai calon pemangsa yang tak bisa dipercaya, jika ia merasa dirinya lebih lemah. Dan jika ia merasa dirinya lebih kuat: kecenderungan mengabaikan dan meremehkan orang lain, bahkan memandangnya sebagai calon mangsa pengekalan diri, terutama ketika ketersediaan sumber-sumber terancam.

Tak ada memang yang benar-benar jahat pada manusia, dan kita tak lagi bisa menilai sejarah secara hitam putih. Satu-satunya kejahatan manusia adalah karena mereka takluk pada dorongan kehidupan untuk mengekalkan diri, sementara sejumlah keterlanjuran sejarah bertebaran menghambat dorongan itu. Keterlanjuran itu adalah juga buah dari dorongan reproduksi dan pengekalan diri manusia lain. Mereka semua tunduk pada dorongan kehidupan bentuk pertama, yakni reproduksi dan pengekalan diri secara genetis, dan tak bisa sepenuhnya merengkuh Kehidupan Kedua: kehidupan dengan reproduksi dan pengekalan diri secara memetis. Sebagian besar tokoh agung yang dihormati sejarah adalah mereka yang berjuang naik memilih kehidupan kedua. Beberapa di antara mereka Sidharta Gautama dan Al-Ghazali, misalnya —  bahkan meninggalkan anak dan keluarganya, bagian dari diri genetisnya.

Sambil mengupayakan sistem pengaturan dunia yang mencegah tumbuhnya keterlanjuran baru, dan memberi ruang yang relatif sama bagi semua manusia untuk mengekalkan diri, layak juga kita renungkan perkembangan mutakhir nalar. Pencapaian nalar dalam bentuk Teori Relativitas dan Mekanika Kuantum, misalnya. Satu-satunya nilai praktis relativitas dan kuatum serta turunannya bagi kelanjutan arus genetik manusia adalah bahwa mungkin kelak teori-teori ini bisa membantu manusia berpindah dari alam semesta kita sekarang jika alam semesta ini tak lagi mampu menampung kehidupan. Tetapi, keruntuhan alam semesta diramalkan akan tiba milyaran tahun lagi. Bahkan membesarnya matahari yang bisa membakar habis kehidupan di bumi tampaknya tidak akan terjadi dalam jangka sejuta tahun yang akan datang.

Sementara itu, ilmu dan teknologi telah melaju begitu pesat, sehingga orang bisa tergoda membuat ekstrapolasi bahwa nalar sudah mampu membawa manusia berpindah ke alam semesta yang lain, hanya dalam jangka yang kurang dari 1000 tahun dari sekarang. Kemungkinan perkembangan yang tak berkait langsung dengan kelangsungan hidup genetis ini, mungkin memang buah dari apa yang oleh seorang pelamun disebut sebagai tetasnya nalar dari cangkang kosmisnya. Sebuah langkah awal menuju pencapaian puncak Kehidupan Kedua, yang ternyata lebih tua dari Kehidupan Pertama: semesta yang mereproduksi diri secara fisik, kali ini lewat nalar manusia.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di Bentara-KOMPAS, Rabu 2 Maret 2005

Esei ini berasal dari makalah yang disampaikan pada diskusi “Batas Nalar” Dalam Kemelut Indonesia, Rabu 23 Februari 2005.

Dilaksanakan di Auditorium BPPT oleh Kementerian Riset dan Teknologi RI, Dharma Mahardika Institute dan Kelompok Kompas Gramedia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: