Sastra

September 17, 2008

Taman Gagasan Umberto Eco

Di salah satu periode paling hiruk pikuk dalam sejarah intelektual dunia, ketika astronomi moderen yang dirintis Kopernikus dan ditopang Galileo menggusur habis posisi manusia dari pusat alam semesta dan segenap ciptaan, Roberto della Griva, dengan ganjil menjadi pusat kosmos satu-satunya yang ia tahu. Di sekitar garis imajiner meridian Bumi yang membagi masa silam dan masa kini, di tengah keluasan samudera Pasifik Selatan, ia terdampar sendirian dan mempertahankan kelangsungan hidup tubuhnya melulu dengan berpikir, dan dengan terus-menerus menulis surat cinta pada kekasih yang tak pernah ditemuinya, yang tak ia ketahui namanya, yang tak ia kenali wajahnya.

Photo ATTILA KISBENEDEK/AFP/Getty Images)

Photo Attila Kisbenedek/AFP/Getty Images

The Island of the Day Before dimulai di sebuah malam yang digantungi purnama di pertengahan abad 17, ketika Roberto terbangun dan memergoki dirinya terapung-apung di sisi sebuah kapal karam. Novel ketiga Umberto Eco ini kembali mengukuhkan reputasi pemikir kebudayaan berkebangsaan Italia itu sebagai salah satu penulis fiksi terbaik dunia. Kisah Roberto tak saja kembali memperlihatkan apa yang paling menyentuh dalam diri manusia: harapan yang abadi untuk membuat masuk akal segala hal muskil yang terjadi pada dirinya, dengan cara yang sepintas lalu kadang tidak masuk akal. Novel yang dikisahkan dengan kesadaran akan kemampuan narasi dan narator untuk mendistorsi kebenaran itu kembali menegaskan keluasan minat intelektual dan program ilmiah Eco yang terentang beraneka warna. Salah satu warna pokok tersebut, sejauh yang saya sanggup tangkap sekarang, adalah ini: seluruh karyanya, fiksi dan nonfiksi, dengan satu dan lain cara bergulat dengan bagaimana manusia mempersepsi dunia dan membentuk makna dengan bantuan kemampuan kognitif yang ditumbuhkan dari evolusi biologisnya, dan sumber-sumber linguistik yang ditumpuknya dari perjalanan sejarah dan kebudayaannya.

Ada banyak hal memang yang bisa dikatakan tentang novel-novel Eco, cendekiawan yang antara lain terkenal dengan teks akademik A Theory of Semiotics, The Role of the Reader dan The Open Work, untuk menyebut beberapa judul saja. The Name of the Rose — penggemarnya terentang dari kalangan penggila kisah-kisah misteri, profesor sastra klasik, ahli sejarah Kristen, pecinta sastra postmodern, peminat fiksi ilmiah dan fantasi, matematikawan dan ahli linguistik — sudah menunjukkan hal tersebut. Pertama kali terbit pada 1980 dengan judul Il nome della rosa, novel pertama Eco ini langsung mengukuhkannya dirinya sebagai salah satu cerita misteri terbaik yang ditulis dalam seratus tahun terakhir.

Pembaca Indonesia mungkin sebagian sudah mengenal novel ini, dari film berjudul sama yang dibintangi Sean Connery dan Christian Slater, dengan sutradara Jean-Jacques Annaud. Atau dari beberapa Catatan Pinggir Goenawan Mohamad, khususnya yang terbit dengan tanggal 6 April 1985. Mengambil set di sebuah biara di Italia Utara pada sebuah minggu di November 1327, The Name of the Rose disusun Eco menurut manuskrip yang memuat kesaksian Adso of Melk, sang “aku” dalam novel.

Bagian awal novel multifaset ini sudah menenggelamkan pembaca langsung ke Dunia Bizantium, dengan intrik-intrik religius dan politik Abad Tengah yang akibat-akibatnya kelak menjangkau sampai berabad-abad ke belakang. Dunia yang saling bertentangan sedang mencoba membebaskan diri dari cengkraman kekal langit, persis ketika langit sendiri sedang mengalami guncangan besar dari dalam dirinya. Pada 7 Agustus 1316, Jacques de Cahors dinobatkan sebagai Paus John XXII, dan ia mewarisi dewan kepausan yang rusak dengan perbendaharaan yang kosong melompong. Paus tua yang juga mahaguru hukum agama ini lalu menjalankan program peningkatan sentralisasi pemerintahan gereja sambil menaikkan pajak kepausan.

Lebih dua tahun sebelumnya, di Frankfurt, lima pangeran Jerman mengangkat Louis Hertog Bavaria sebagai kaisar. Pada hari yang sama, di tempat yang lain, Uskup Cologne dan Count Palatine yang menguasai Rhein menobatkan Frederick Austria sebagai penguasa tertinggi Jerman. Di Muhldorf, pada 1322, Louis berhasil mengalahkan Frederick. Menganggap bahwa seorang kaisar yang kuat lebih berbahaya dari dua kaisar yang saling berkelahi, John XXII mentakfirkan Louis yang memang tak dapat ditundukkannya. Louis membalas dengan mengajak Dewan Umum melawan Paus dan melantiknya sebagai Pembid’ah Agung. Bersama pasukannya, Louis bergerak ke Roma, mengurapi sendiri dirinya di sana dan mengangkat Romo Rainalducci, seorang Fransiskan, sebagai Paus Tandingan.

Sementara itu, Ordo Fransiskan sedang diguncang oleh sekelompok pembaharu di Italia dan Perancis Selatan. Mereka mengikuti revelasi mistik Rahib Joachim dan menyatakan bahwa Kristus dan para Rasul menentang hak milik. Ajaran yang mengutamakan kemiskinan Kristus itu kemudian menjadi pegangan utama kaum Fransiskan, terutama setelah Michael Cesena diangkat sebagai minister general, yang kemudian menjadikannya doktrin. Tindakan itu menggusarkan John XXII. Menganggap bahwa doktrin tersebut akan mencabut hak ratusan tahun Gereja untuk menumpuk pajak dan mengatur para kaisar, untuk mengontrol dunia dan seisinya, John XXII menghujat doktrin itu pada 1323. Louis Bavaria menyambut hujatan itu dan merangkul Kaum Fransiskan ke dalam front melawan Paus.

Michael Cesena sesungguhnya masih ingin mendialogkan doktrin yang menggucang dunia Kristen dalam kontroversi panjang dan mengharap Paus memberi restunya. Di tengah perdebatan sengit yang berkembang menjadi upacara bakar-membakar manusia dan terus mengobarkan kemelut religius dan politik itu, datanglah William Baskerville. Ia pengagum Aristoteles dan Roger Bacon (1220 – 1292). Sosoknya memang mirip Sherlock Holmes, detektif terbesar dunia fiksi. Tapi tampaknya, sosok itu lebih dekat ke rahib Fransiskan lain yang ia aku sebagai temannya: William Occam (1285 – 1347), pemikir nominalis Inggeris yang terkenal dengan Occam Razor dan ide pemisahan Negara dan Gereja.

Misi William adalah untuk menengahi pertemuan antara utusan Paus John XXII yang dipimpin oleh Kardinal Bernardo Guidino, dengan utusan Michael Serena. Tujuan pertemuan yang dilaksanakan di biara Benediktin itu, adalah untuk menjamin keselamatan perjalanan Michael ke istana kepausan di Avignon. Sesampai di biara yang dimaksud, William mendapat tugas tambahan: memecahkan misteri kematian sejumlah biarawan.

Ketika masih muda, Jorge Burgos kembali ke tanah asalnya di Spanyol menyelamatkan sejumlah buku untuk koleksi perpustakaan. Di antara buku-buku yang dibawanya pulang, terdapat satu salinan istimewa buku kedua Aristoteles, Poetics, yang mengulas kedudukan penting komedi dan menyatakan tawa adalah satu-satunya tempat pengungsian dari doktrin kebenaran universal. Menganggap bahwa tawa adalah bid’ah paling bejad, dan bahwa buku para filsuf akan menjungkir-balikkan pemahaman manusia akan semesta seiasinya dan yang akan terus membentangkan tafsir terbuka terhadap apa saja yang sanggup dijangkau akal, Jorge menyembunyikan jilid itu bagai aib yang paling busuk. Selama berpuluh-puluh tahun karya semi-mitis Aristoteles itu terkubur di tempat paling rahasia perpustakaan.

Berengar, biarawan asisten perpustakaan, kelak menemukan naskah rahasia itu. Kepada Aldemo, ia menawarkan untuk mengkajinya bersama, tapi dengan bayaran berupa kesenangan tubuh yang paling terlarang. Menyesal atas dosa jasmani itu, Aldemo bunuh diri. Berengar dan seorang biarawan lain, secara tak langsung juga bunuh diri: mereka mati akibat racun arsenik yang dilumurkan si Buta Jorge di sudut-sudut halaman Poetics.

Maut akibat racun masih terjadi dan memperkuat teror armageddon sebelum William berhasil membongkar rahasia kematian berantai itu. Upaya William memecahkan misteri dengan kekuatan nalarnya yang bagi lawan-lawannya sering dituduh congkak, dikisahkan dengan sangat menarik. Hasilnya adalah novel yang memang bisa dianggap sebagai sebuah sandiwara besar di mana diskusi-diskusi filsafat, perdebatan teologis dan diskursus ilmiah, semuanya berinteraksi saling menjalin pada pentas fiksi sejarah: sebuah drama di mana sebuah plot yang disamarkan sebagai cerita detektif menarik baik para aktor-aktor fiksional dan para pembaca ke dalam hubungan rumit dengan sejumlah karakter metafisis. Novel yang dihiasi banyak okultisme supernatural dan rujukan esoterik serta biarawan berwatak seram yang pikirannya terus menerus dihantui oleh bayangan kiamat, juga bisa dianggap sebagai pemblejetan kekeliruan pandangan dunia Abad Tengah: sebuah jawaban postmodern pada pertanyaan besar tentang Kebenaran universal.

Tapi kemenangan William hanya sesaat. Daripada membiarkan orang lain membaca Poetics, Jorge si Buta dari Perpustakaan Hantu yang heroik dan pembenci tawa, malah dengan ngakak memakan halaman-halaman berbisa itu. Perkelahian memperebutkan naskah penting, mengakibatkan jatuhnya api ke lantai. Perpustakaan terbesar di dunia Kristen itu akhirnya berubah menjadi unggun raksasa dan menghilang bahkan dari ingatan ummat manusia.

William yang dengan keperkasaan akalnya terus memperjuangkan pentingnya tawa, akhirnya menangis dikalahkan oleh kebenaran yang diyakini Jorge — seakan Eco ingin menunjukkan bahwa kebenaran yang sejati memang selalu bertukar tangkap dengan lepas, juga dari tangan rasio yang paling cemerlang sekalipun. Bersama dengan runtuhnya perpustakaan labirin itu, dengan hati tercabik William berbicara tentang kebenaran lain, kebenaran yang tak bisa dikomunikasikan dan beberapa hal yang mengingatkan pada pemikiran Ludwig Wittgenstein dan Nagarjuna, pemikir terbesar dalam Agama Budha setelah Sidharta Gautama sendiri.

Adapun tentang misi sejati yang memberi Gereja dan segenap pengikut Kristus raison d’etre-nya, William bicara begini: Barangkali misi dari mereka yang mencintai manusia adalah untuk membuat manusia tertawa pada kebenaran, untuk membuat kebenaran tertawa, karena satu-satunya kebenaran terletak dalam upaya belajar membebaskan diri kita dari gelora gila pada Kebenaran. Kebenaran universal yang bisa dengan enteng dirumuskan dan membungkam tawa manusia, tampaknya memang adalah kebenaran yang mengandung rasa maut, kebenaran yang sanggup menumpulkan rasa gentar manusia untuk menghancurkan dirinya dan seluruh dunia beserta segala hal yang indah yang dapat muncul darinya.

Pada tahun 1851, fisikawan Perancis Jean Bernard Leon Foucault (1819-68) menggunakan sebuah pendulum untuk mendemonstrasikan rotasi Bumi. Peristiwa itu adalah demonstrasi pertama yang memuaskan untuk memastikan secara langsung rotasi dunia dengan menggunakan perangkat laboratorium dan bukan dengan observasi astronomis. Lengan kawat dengan bola dan jarum itu berayun dengan gerak osilatoris inersial oleh momentum ketidakstabilan Bumi yang bergerak di bawahnya. Mekanika ini adalah semacam konfirmasi bagi permanensi di mana pendulum itu tidak terpaut oleh gerak lokal bumi, matahari, galaksi-galaksi. Jika tawa adalah tempat pengungsian dari teror kebenaran universal, maka Pendulum Foucault adalah titik perlindungan dari seluruh gerak dan perubahan di alam semesta. Ia adalah satu-satunya tempat stabil di jagat raya yang tak tersentuh kutuk Panta Rei Heraklitos.

Bersama Ulysses James Joyce dan Gravity’s Rainbow Thomas Pynchon, Foucault’s Pendulum Umberto Eco masuk ke kelompok novel paling kompleks yang ditulis di abad 20. Mengambil set Abad 20, ketika komputer telah menunjukkan diri sebagai mitra istimewa pikiran manusia, Pendulum adalah salah salah satu eksperimen literer paling memukau tentang penjelajahan manusia memasuki jantung wilayah-wilayah gaib-rahasia yang terlupakan.

Dengan menggunakan kerangka kerja yang tidak ketat berdasarkan Kabala — ajaran mistik Yahudi — Eco memanfaatkan sejumlah besar unsur untuk menjukstaposisi yang modern dengan yang kuno, yang supernatural dan yang ilmiah, dan membawa pembaca menuju ekstase lewat agoni berupa gelontoran data sejarah dan interpretasi yang disusun dalam sebuah kisah konspirasi berskala kolosal. Dengan dialog yang sedemikian rupa akan melibatkan pembaca dengan sejumlah level ketakjuban, novel ini mengalir berkelok-kelok di mana fakta dengan sangat halus bercampur aduk dengan fiksi, dan para pemuja dunia gaib mendesakkan pengaruh subversifnya atas realitas dengan cara-cara yang tampak jelas bagi mata orang kebanyakan. Sambil memaparkan kegiatan para legiun suci yang saling mempertukarkan rahasia dengan mereka yang mengaku mendapat wahyu, serentak dengan itu pembaca disodori dengan tema-tema yang digeluti Eco sekian lama: makna dan nilai simbol-simbol, rahasia-rahasia dan realitas kebenaran universal.

Novel yang merangkum lusinan tradisi hermetik berbagai kebudayaan yang merentang ribuan tahun, dan yang setiap halamannya bisa membuat orang tertawa geli, memulai kisahnya dari salah satu bilangan universal paling penting dalam seluruh hazanah pengetahuan matematika manusia: π (phi). Dari bilangan yang menjadi rasio antara keliling dan garis tengah sebuah lingkaran itu, cerita berpindah ke Milan. Seorang kolonel Italia membeberkan gagasannya tentang sebuah plot besar kesatria suci. Pendengarnya adalah dua orang editor, Jacopo Belbo dan Diotallevi, dan teman mereka Casaubon, seorang pakar sejarah kaum Templar: satuan perwira dari sebuah ordo religio-militer yang didirikan di awal abad 12 di Yerusalem untuk melindungi para peziarah Kristen dan bangunan Makam Suci yang konon menyimpan tubuh Kristus setelah disalib.

Mulanya, ketiga orang itu geli atas kedalaman dan kebesaran kisah yang dipaparkan si kolonel. Keadaan mulai mencekam ketika si kolonel pembual itu tiba-tiba menghilang begitu saja dari kamar hotelnya. Lenyapnya si kolonel diikuti dengan mendekatnya ketiga lelaki itu ke dunia klenik. Dan selama mereka menjalani hidup sekian tahun berikutnya, mereka mulai memergoki kian banyak hubungan antara berbagai sistem pengetahuan esoterik, pemikiran religius dan pseudo-sejarah. Dari para kesatria Templar ke kaum Rosae Crucis, dari kota-kota bawah tanah yang hilang hingga ke tradisi Makumba dan Candomblé Brazilia, dari mazhab Syi’ah di Persia hingga ke Kundalini India dan Geomancy Cina, segalanya tampak membentuk interkoneksi yang mengagetkan.

Pertemuan mereka yang kedua di Milan serta proyek penerbitan satu seri buku tentang pengetahuan-pengetahuan esoterik, tak cuma menenggelamkan mereka lebih jauh ke dunia makna-makna rahasia dan kebenaran-kebenaran parsial yang terpendam. Mereka bahkan berhasil merekonstruksi dalam satu Plot besar seluruh sejarah manusia beserta motivasi tertinggi yang menggerakkannya selama berjuta tahun. Segenap kebudayaan manusia, sejak superbenua Pangea terpecah dan memaksa leluhur manusia berserak di atas lempeng tektonik yang mengapung, hingga ke pembangunan stonehenge oleh para leluhur bangsa Keltik, sejak ditegakkannya piramida di Mesir hingga datangnya Manifesto Karl Marx dan Partai Nazi Adolf Hitler, semuanya digerakkan oleh sebuah impian maha raksasa. Impian tertinggi Homo Sapiens itu adalah menguasai energi alam yang jauh lebih dahsyat dari energi atom: Arus Telluric Bumi. Penguasaan atas arus yang keberadaannya sudah diketahui sejak munculnya manusia di Bumi, akan memberi kekuatan mengendalikan letusan gunung, banjir badang, arus samudera, badai pergerakan atmosfir dan perpindahan benua-benua, pendek kata mengendalikan seluruh kenyataan semesta: menjadi Tuhan.

Ketimbang berhenti sekedar merekonstruksi seluruh sejarah manusia, ketiga makhluk cerdas itu bergerak lebih jauh. Kemampuan merekonstruksi seluruh sejarah memberi mereka kemampuan untuk menulis ulang sejarah tersebut, dan karena itu juga kemampuan merancang sendiri sejarah alternatif semesta manusia. Mereka kelak memang memutuskan untuk mensintesiskan seluruh pengetahuan dan membuat Rancangan besar mereka sendiri: sebuah Rancangan agung yang mencerminkan arah-arah tersembunyi sejarah semesta. Mereka dibantu oleh seorang misterius yang mengaku dirinya keberadaan abadi, sebagaimana halnya komputer baru Belbo, Abulafia (Abu si Kontet) — diambil dari nama seorang kabbalis.

Tetapi sekali Rancangan itu jadi dan tumbuh, dengan segera Ia membentuk hidup-Nya sendiri, dan segalanya, termasuk hidup ketiga pencipta-Nya, mulai jatuh terangkum ke dalam gerak hidup Rancangan itu. Si Makhluk yang diciptakan ini, memang bertindak sebagaimana seharusnya: menjadi si Mahakuasa yang menetukan hidup para pencipta-Nya. Mula-mula, hidup Diotallevi yang ditelannya, lewat kanker yang diselundupkan dari imajinasi ke dalam tubuh. Sel-sel somatiknya, susunan abjad DNA-nya, berubah mengikuti permutasi kombinatorial yang juga dikembangkan oleh komunitas-komunitas rahasia memetakan perjalanan sejati evolusi peradaban.

Belbo sendiri – seorang editor senior yang sangat bangga pada komputer barunya, Belbo adalah sebentuk karakter otobiografis Eco. Ia punya apartemen di Milan dan rumah musim panas di Italia bagian utara, perokok berat dan penikmat whiskey. Kendati kehidupan masa dewasanya berbeda dari Eco, banyak dari kenangan masa kecil Belbo di Piedmont didasarkan pada kehidupan nyata Eco. Belbo menemukan akhir hidupnya di ayunan Pendulum Foucault. Dengan kematian seperti ini, Eco dengan cerdik memparodikan dirinya sendiri — sang pemikir yang bekerja menafsir makna-makna rahasia, mencipta makna-makna rahasia yang lebih rahasia — yang kemudian termakan sendiri oleh makna-makna rahasia ciptaannya itu, karena imajinasi manusia ternyata lebih kreatif dari manusia sendiri.

Yang paling menyentuh dari novel ini adalah bahwa ketiga tokoh utama itu, menemui ujung hidupnya dengan kemerdekaan seorang spiritualis yang menemukan pencerahan. Di halaman akhir novel, Casaubon tengah duduk memandangi keindahan bukit-bukit, menanti kematian yang sekian lama dihindarinya. Beberapa detik sebelumnya, ia berhasil memahami rahasia terbesar kenyataan yang begitu dipahami menjadi sesuatu yang sepele. Ia mengerti segala sesuatu ketika tak ada lagi yang tertinggal untuk dimengerti.

Seperti dua novel sebelumnya, The Island of the Day Before juga mestinya dilengkapi indeks.

Sebagai pemuda tanggung, Roberto ambil bagian dalam pengepungan Casale, yang kelak mengubah hidupnya dengan radikal. Ia cukup bagus dalam menyerap pelajaran tapi lumayan payah dalam praktek. Setelah ayahnya meninggal dalam operasi militer itu, Roberto meninggalkan tanah luas warisan ayahnya dan mulailah perjalanannya yang akan melemparkannya ke pulau yang menurut Dante takkan dapat dicapai oleh kapal manapun. Untuk sementara waktu ia berdiam dulu di Paris, hidup di antara figur-figur fiktif, dan historis — Kardinal Riechlieu, Kardinal Mazarin dan seorang pemuda berusia 17 yang tengah merancang mesin komputasional yang baru bisa diwujudkan tiga abad kemudian: Blaise Pascal.

Dari pergaulannya dengan sejumlah pemikir penting, Roberto belajar berfilsafat dengan anggun, mendengar argumen-argumen atheisme dan empirisisme, mencoba teknik-teknik tingkat tinggi menulis surat cinta dan puisi, dan kelak ditahan untuk sesuatu yang tak pernah ia lakukan. Kardinal Mazarin yang kontroversial, mengirimnya ikut sebuah petualangan samudera dengan kapal Amaryllis untuk memata-matai Dr. Byrd. Didesas-desuskan bahwa si Inggeris yang misterius ini telah menemukan apa yang berabad-abad diimpikan oleh seluruh pelaut purba: penentuan garis bujur samudera dengan komputasi waktu yang diukur dari satu Titik Tetap (punto fijo).

Ketika Amaryllis karam di Laut Pasifik Selatan, dekat Kepulan Solomon, Roberto — satu-satunya penumpang yang selamat — jatuh ke laut dan terdampar bukan di sebuah pulau, tapi di sebuah kapal yang lain: Daphne. Kapal itu dilengkapi dengan segala keperluan untuk hidup dan menjelajah laut, tapi tampaknya segaja ditinggalkan oleh awaknya begitu saja karena sebuah rahasia. Buat Roberto itu adalah sebuah dunia yang ada untuk dirinya sendiri, seperti Taman Eden yang dihamparkan untuk Adam.

Sebuah pulau yang luar biasa indah, terlihat dari Daphne. Tapi selain menderita fotofobia yang membuat Roberto makhluk yang dapat bergerak hanya di malam hari, ia juga sama sekali tak dapat berenang. Misal pun ia sanggup, ia sadar bahwa celah sempit yang mengantarai dirinya dengan pulau itu mustahil diseberangi. Pulau yang terlihat lamabaian nyiurnya itu terletak di waktu yang lain, di hari yang kemarin, dan ia si makhluk Bumi — mustahil bergerak mundur dalam waktu. Antara dirinya dan pulau itu, membujur sebuah garis tanggal internasional.

Terperangkap di antara kemahaluasan ruang dan ireversibilitas waktu, Roberto membangun tempat perlindungan ke dalam imajinasi dan impian masa silamnya. Ia memimpikan kembali dan dengan itu membawa kita, pembaca, mengetahui masa remajanya. Ia memimpikan saudaranya yang tak pernah lahir, kekasihnya yang tak pernah hadir: Sang Lain yang kekal, yang senantiasa menyertai keberadaannya; ia memimpikan dirinya memasuki alam semesta alternatif yang muskil.

Pada Rose dan Pendulum, ide-ide dan pengetahuan yang tersebar dalam sejarah tampak sebagai satuan-satuan solid yang dipungut dan digunakan oleh tokoh-tokoh novel, para manusia, untuk kepentingannya sendiri. Pada kisah Roberto, ide-ide dan pengetahuan itu tampak tumbuh, bersaing dan mengalami karakterisasi dengan pikiran manusia sebagai wadahnya: ide-ide itulah yang menggunakan manusia, dan pada saat mereka menggunakan dan menungganginya, mereka mengubah sang manusia. Hal ini bisa dilihat lewat pertarungan ide-ide yang akhirnya menggeser minat filosofis Roberto dari pertanyaan-pertanyaan kontemporer yang punya nilai praktis tinggi, ke pertanyaan-pertanyaan atemporal yang telah mengganggu manusia sejak fajar waktu. Pada akhirnya Roberto mencapai sebentuk pembebasan dalam sebuah visi agung yang menggenggam perubahan kekal alam semesta serta ketololan dan penderitaan yang inheren dalam upaya mencari Punto Fijo.

Umberto Eco lahir pada 5 Januari 1932 di Alessandria, sebuah kota kecil sebelah timur Turin, barat laut Piedmont. Kaum Piedmontese terbiasa dengan sikap independen, dan dalam banyak hal ditandai oleh watak phlygmatic dingin Perancis ketimbang oleh gelora hangat Italia selatan. Eco sering menyinggung latar belakang kulturalnya yang unik ini sebagai salah satu sumber tempramen khas pada tulisan-tulisannya: unsur-unsur tertentu bertahan sebagai dasar bagi pandangan dunianya: sebuah skeptisisme dan sebentuk keengganan pada retorika.

Kakek Umberto konon bayi buangan, dan nama Eco diperolehnya sebagai pemberian seorang pegawai sipil. Konon pula, nama itu adalah akronim dari ex caelis oblatus, “ditawarkan oleh langit”. Ayahnya, Guilio Eco, seorang akuntan dan veteran 3 perang, datang dari sebuah keluarga besar dengan 13 anak. Ketika Guilio menikahi Giovanna Bisio, keduanya sepakat menjauhkan diri dari politik demi mempertahankan kewarasan dan keriangan dalam keluarga. Di samping berasal dari pengalaman pahit atas politik Italia, keputusan itu tampaknya juga dipengaruhi oleh pandangan dari Ibu salah seorang di antara mereka. Umberto sangat suka mengenang neneknya itu, dan seperti Borges atau Garcia-Marquez, Umberto mengaku bahwa ia mengembangkan kesukaannya pada hal-hal yang tampak absurd dari rasa humor neneknya yang istimewa. Konon karena tidak punya banyak waktu untuk mengontrol anak-anak dan cucu-cucunya dengan pukulan, si Nenek terpaksa mengatur semuanya dengan humor.

Nenek Umberto tampaknya tidak pernah menduga bahwa cucunya kelak tumbuh dengan minat intelektual yang mencakup seluruh kebudayaan dan memandang segenap obyek dan peristiwa sebagai tanda yang menunggu tafsir. Upaya intelektual dan artistik Profesor Semiotik Universitas Bologna yang telah menulis 20-an buku itu, mengingatkan pada penggambaran diri Isaac Newton sebagai bocah kecil yang bermain di pantai mencari lokan, atau pada sajak Sitor Situmorang tentang seorang tua di tepi sungai Indus. Bocah Newton mencari lokan-lokan yang lebih indah, teori-teori yang lebih unggul untuk menjelaskan hukum-hukum semesta fisik; orang tua Sitor memunguti batu-batu halus yang menyimpan waktu dan keabadian. Adapun Eco, ia memasuki rimba bentara sejarah dan peradaban manusia, mengumpulkan segala bentuk gagasan-gagasan yang bisa dijangkaunya, dan membentuknya taman untuk melawan amnesia epistemik: pelupaan patologis atas watak fiktif seluruh pengetahuan manusia, sekaligus menghadirkan kembali pengetahuan-pengetahuan terlupakan yang terimbun oleh endapan-endapan sejarah.

Dengan humornya yang tak pernah hilang, Umberto mengajak dunia untuk bersikap rileks terhadap kedahsyatan pikiran dan impian-impian tertingginya. Kebenaran Universal, kepastian-kepastian yang dikejar dalam seluruh sejarah species manusia, rupanya seperti jalan kampung dan harapan dalam salah satu sajak Lu Xun: kian banyak manusia yang melewatinya, kian banyak jiwa yang mempercayainya, maka yang tadinya tak ada akan menjadi ada, dan akan terus memperkukuh keberadaannya dalam kenyataan. Alangkah menyedihkan memang bila kebenaran dan kepastian itu kemudian menjadi jurang yang tak terlintasi oleh harapan manusia dan keceriaan hidup.

Tiga novel Eco, yang ditulis dengan sejumlah kutipan dari berbagai bahasa Eropa, memang adalah novel Eropa: Benua yang selama ribuan tahun dibikin gila oleh hasrat maniak pada Kebenaran dan Kepastian. Kini hasrat itu menggunakan segala bentuk pengetahuan manusia untuk mencapai sesuatu setelah pengetahuan: kearifan. Di sisi lain, novel-novel Eco yang dipenuhi dengan tanda-tanda semiotik yang tersebar dalam arus waktu, mencoba bermain dengan sesuatu yang berada di luar waktu, menuju tingkat tertentu kearifan yang tampaknya belum menjadi milik bersama dunia.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di Bentara-KOMPAS, Jumat 4 Februari 2000

Catatan:

Demi masa (yang dulu sangat sempit),  nyaris separuh isi tulisan ini diambil, lebih lugasnya: nyolong, dari karya Allan B. Ruch dan tulisan lain yang ia kumpulkan di situs www.themodernword.com. Thanks a million Allan!

One Response to “Sastra”


  1. […] Novel The Name of the Rose juga memaparkan sang antagonis adalah si buta pendeta Jorge Burgos. Jorge Burgos memiliki basis alasan bahwa tawa adalah bid’ah paling bejat dan bahwa buku para filsuf (karya Aristoteles yakni Poetics yang mengulas kedudukan penting komedi dan menyatakan tawa adalah satu-satunya tempat pengungsian dari doktrin kebenaran universal). Buku tersebut dianggap akan menjungkir-balikkan pemahaman manusia akan semesta seisinya dan akan terus membentangkan tafsir terbuka terhadap apa saja yang sanggup dijangkau akal (https://arsuka.wordpress.com/2008/09/17/taman-umberto-eco/). […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: