Ontologi

September 17, 2008

Ontologi Baru, Algoritme dan Api

Seluruh sejarah pengetahuan manusia bisa diringkas dalam satu plot besar: mencari satu pengertian paling dasar yang bisa menjelaskan dan mengorganisasikan segala hal sehingga kesementaraan hidup dan dunia menjadi lebih bisa ditanggungkan.

Di masa silam yang cukup jauh, pengumuman bahwa sebuah pengertian dasar yang menjadi inti dari satu kompleks gagasan yang dikira mampu menjelaskan segala hal, muncul mungkin hanya sekali dalam 1000 tahun. Kompleks gagasan ini memang menjadi sukma sebuah peradaban, dan — ditopang oleh basis material yang kukuh — akan bertahan hidup melampaui usia imperium-imperium besar yang bertarung memerintah benua. Belakangan, interval antara pengumuman itu kian memendek. Di jaman kita yang dibentuk oleh pengetahuan ilmiah ini, pengumuman yang selalu disertai dengan sejenis guncangan itu, malah nyaris muncul seakan-akan sekali dalam lima tahun. Memendeknya interval itu terkait dengan kian dahsyatnya pencapaian pengetahuan ilmiah, juga dalam melihat batas-batasnya sendiri.

Kedahsyatan dan keterbatasan itulah yang menjadi latar dari terbitnya opus magnum Stephen Wolfram A New Kind of Science pertengahan Mei lalu. Dengan buku setebal 1200 halaman itu, Wolfram yakin telah menghasilkan salah satu karya terpenting dalam seluruh sejarah pengetahuan teoritis. Ia sebut buku itu dapat menjelaskan kompleksitas fenomena kosmos, kecerdasan dan kehidupan. Sejumlah media besar dunia, seperti New Scientist, Forbes, Newsweek dan The New York Times menurunkan tulisan khusus tentang pengusaha dan ilmuwan genius ini. Beberapa pihak menyebut gagasan Wolfram kelak akan mengatasi kebesaran Isaac Newton, Charles Darwin dan Albert Einstein.

Ilmu pengetahuan modern, kita tahu, bisa dilacak akar-akarnya antara lain sampai ke logika Yunani serta eksperimentasi dan aljabar Arab. Akar-akar yang menjelujur puluhan abad ke masa silam itu, mendapat rumusan filosofisnya dan menjadi batang tubuh ilmu modern lewat kepala Rene Descartes, hampir empat abad yang lalu. Kerja raksasa Descartes itu, konon, berawal dari sebuah mimpi, di malam 10 November 1619. Saat itu, di usianya yang ke 23, ia menjadi prajurit Duke of Bavaria dan terhanyut dalam kegilaan Perang 30 Tahun yang membakar seluruh Eropa. Ia mengalami sekaligus tiga mimpi yang membentangkan padanya dunia masa silam, masa kini dan masa depan.

Kamus dan Puisi

Pada mimpi pertama, yang membuatnya tenggelam dalam rasa sakit sebuah hukuman, Descartes melihat sebutir melon. Ia menafsirkannya sebagai tanda dari kesepian dan kesia-siaan upaya panjang manusia memahami kenyataan. Pada mimpi kedua, ia mendengar gelegar halilintar yang mengguncang dan menerangi penderitaannya mencari pengetahuan yang tak lagi perlu diperdebatkan, juga dalam perang antar agama yang sama-sama mengklaim pengetahuan mutlak. Bagi Descartes halilintar tersebut adalah Spirit Kebenaran. Mimpi ketiga hadir bagai sebuah revelasi, dan ia melihat sepotong meja dan dua jilid buku di atasnya: sebuah kamus dan satu kumpulan puisi. Juga muncul sesosok bayangan asing yang memperlihatkan sepenggal sajak dari Phytagoras: “Est et Non”.

Tak ada catatan yang menyebut bahwa Descartes mengklaim mimpi-mimpinya itu sebagai wahyu yang diturunkan Tuhan lewat roh kudus. Yang pasti, sejak malam yang dihiasi melon, halilintar, kamus dan puisi itu, ia seakan mulai membangun ulang pengetahuan manusia berdasarkan atas observasi fisis dan penalaran matematis. Seperti yang terbaca dalam Discourse on the Methode (1637) dan Meditation on First Philosophy (1641), ia percaya bahwa sebuah sistem pengetahuan terpadu yang bisa diandalkan, dapat diraih oleh akal budi manusia. Upayanya itu menjadi simpul filosofis yang mengikat sejumlah kegiatan intelektual, baik yang berlangsung sebelum maupun sesudahnya, dan menjadi dasar pertumbuhan pengetahuan modern selama ratusan tahun.

Bagi Descartes, setiap peristiwa terjadi karena ada penyebabnya yang tak perlu dicari di luar dunia material. Ia juga menganggap bahwa hukum-hukum alam dapat dibongkar dan diketahui dengan bantuan matematika dan logika. Dengan mengetahui persamaan matematisnya, manusia pasti akan mengerti perilaku dan masa depan alam semesta. Cartesianisme memang dapat dipahami sebagai pemikiran yang mengajukan dua jenis kausalitas. Dalam kalimat Laplace, jika kita tahu posisi dan kecepatan semua partikel pada satu waktu tertentu, juga hukum dan gaya-gaya yang bekerja pada partikel-partikel itu, maka kita akan tahu posisi dan kecepatan partikel-partikel itu di sembarang waktu di masa depan. Kausalitas temporal yang dikena juga sebagai Determinisme Laplace ini, kelak dikoreksi dan diperkaya oleh Mekanika Kuantum.

Kausalitas kedua (kausalitas ontologis), meyakini bahwa setiap hal memiliki penjelasan rasional dan bahwa penyebab kejadian-kejadian itu sangatlah sederhana. Descartes mengajukan kaualitas ini untuk melengkapi metode ilmiah yang dirumuskan Francis Bacon. Bagi Bacon yang mendapat ilham banyak dari khazanah pengetahuan Arab, yang terpenting hanyalah eksperimen dan observasi. Descartes datang menambahi dengan menyodorkan logika rasional dan deduksi.

Batas Ratu Pengetahuan

Warisan terpenting dari pemikiran Descartes yang sangat percaya pada persamaan matematis ini terlihat di semua masterpiece pengetahuan ilmiah. Ia muncul pada persamaan gravitasi Newton, persamaan gelombang elektromagnetik Maxwell dan persamaan relativitas Einstein. Puncaknya ada pada tiga persamaan matematis Mekanika Kuantum yang masing-masing diajukan oleh Heisenberg, Schrodinger dan Dirac.

Dengan persamaan-persamaan matematis itu, ilmu memperoleh senjata yang sangat ampuh dan menjadi kekuatan pengubah yang paling besar dalam sejarah. Matematikapun menjadi “Ratu Ilmu Pengetahuan” yang membimbing manusia melakukan kontak dengan komponen-komponen baru kode kosmik hukum semesta yang baka yang memprogramkan perkembangan evolusi manusia. Dari sana pengetahuan ilmiah menjadi kompleks gagasan dengan implikasi praktis yang belum ada padanannya dalam sejarah. Ilmu sendiri, tampak kian terjamin kekuatan dan jangkauannya untuk membentuk nasib sosial politik peradaban kita, lebih dari keadaannya di masa silam ketika Descartes mulai merumuskan pikirannya.

Dengan berbagai suksesnya yang mengesankan, matematika ternyata tak dapat menunjukkan kedaulatannya di semua bidang. Infrastruktur dasar pengetahuan ilmiah ini tampak kehilangan keampuhan di depan gejala-gejala kompleks yang muncul sejak dari formasi galaksi, sampai ke pembentukan otak manusia. Ringkasnya, di mana khaos dan kompleksitas muncul, di sana matematika dan pengetahuan ilmiah klasik mentok.

Dunia natural dan artificial memang disesaki oleh banyak sekali fenomena dengan kompleksitas tinggi. Riset-riset ilmiah di bidang fisika, biologi, meteorologi dan banyak bidang lain menunjukkan betapa unsur dasar sistem-sistem kompleks itu sungguh sederhana. Para pakar pun bergulat mengurai mekanisme matematis yang dengannya sejumlah besar unsur sederhana, jika bekerja bersama, dapat menghasilkan perubahan dengan tingkat kerumitan yang melumpuhkan. Bagi para saintis kompleksitas itu, ada sebuah mimpi yang menghantui: satu rumusan matematis dari sebuah hukum universal yang menjelaskan seluruh kompleksitas tersebut. Sejauh ini, mimpi tersebut belum terwujud dan kesadaran orang pada keterbatasan matematis semakin menguat.

Jauh sebelum para pakar ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam, khususnya biologi, meributkan batas-batas kedaulatan matematika, para matematikawan sendiri sudah menyadarinya. Kesadaran akan batas itu tampaknya dimulai oleh Kurt Godel. Kelak, matematikawan seperti Morris Kline menunjukkan bahwa desain matematis tampaknya memang tak bersifat inheren dalam alam. Atau, jika memang inheren, maka matematika yang dibangun manusia tampaknya tak berkaitan dengan desain alam. Inilah yang menjadi malapetaka pertama bagi “keruntuhan” matematika.

Yang menarik dari Wolfram bukan hanya bahwa ia sudah menunjukkan kegeniusan sejak masih sangat muda – ia menerbitkan tulisan ilmiahnya yang pertama pada usia 15, dan dianugrahi gelar doktor dalam fisika pada usia 20. Yang lebih menarik adalah bahwa buku yang ia tulis mencoba menunjukkan cara lain memahami kenyataan. Ia mencoba menyodorkan satu pendekatan atas kenyataan-kenyataan kompleks dengan cara yang mengatasi persamaan matematika. Bagi Wolfram, ada yang lebih mendasar sebagai model realitas kompleks, dan itu bukan matematika, tetapi adalah komputasi, lebih tepatnya: cellular automata.

CA Satu Dimensi

Dalam kasus yang paling sederhana, sebuah cellular automata (CA) adalah sebuah perintah program komputasi yang terdiri dari satu baris situs, di mana tiap situs membawa sebuah nilai 0 atau 1. Dengan demikian, konfigurasi sebuah sistem kompleks sesungguhnya merupakan sekuensi dari nilai nol atau satu. Sistem-sistem itu tumbuh dan berevolusi dalam satu seri langkah tertentu. Pada setiap langkah, nilai dari setiap situs diperbaharui menurut satu aturan.

Untuk setiap transformasi, nilai setiap situs tergantung hanya pada nilai situs yang mendahuluinya, dan nilai situs di kanan kirinya. Karena itu ada delapan keadaan input yang mungkin, yakni delapan kombinasi dari tiga posisi tetangga dengan hanya dua nilai. Setiap aturan algoritmik merepresentasikan semua kombinasi dari ke-8 keadaan input. Dengan demikian ada 2 exp 8 = 256 aturan yang mungkin muncul dari CA satu dimensi dan dua nilai saja. Beberapa di antara aturan ini bisa menghasilkan pola-pola yang sangat kompleks, dengan kondisi awal yang sangat sederhana.

Bagi Wolfram, penemuan ini mampu membuka wawasan ke dalam perilaku sisem-sistem kompleks. Tidak aneh kalau ia sempat berkata bahwa jauh lebih praktis mempelajari CA yang sederhana itu ketimbang aljabar dan kalkulus yang rumit dan terbukti mentok menghadapi banyak gejala-gejala kompleks. CA sendiri memang lebih sederhana ketimbang matematika modern, sehingga semestinya CA lebih dahulu ditemukan oleh manusia, dan lebih dahulu diajarkan. Ringkasnya, mengikuti penalaran seperti ini, orang bisa setuju bahwa upaya manusia selama ratusan tahun membangun pengetahuan ilmiah di atas infrastruktur matematika, merupakan upaya yang mubazir.

Yang jelas, pengetahuan teoretik dan sistematis tentang CA takkan mungkin diperoleh tanpa matematika. CA punya akar yang menghujam cukup dalam pada kazanah pengetahuan ilmiah, khususnya logika matematika. Di awal abad 20, Kurt Godel mengubah logika matematika ke teori komputasi dengan menunjukkan bahwa pengertian fundamental logika matematika secara esensial berwatak rekursif. Fungsi-fungsi rekursif adalah fungsi yang bisa dikerjakan oleh mesin Turing universal, yakni mesin yang dapat memecahkan problem-problem matematis dengan satu set aturan logis.

Gagasan Godel ini dikembangkan lebih jauh oleh John von Neumann untuk membangun teori logis automata. Karya Neumann itu meletakkan batu fondasi yang kuat bagi pengembangan Artificial Life. Tak kalah penting tentu saja adalah karya Alan Turing, sang peletak dasar Artificial Intelligent, yang membuka jalan bagi simulasi automata di komputer. Kelak John Conway menerapkan CA untuk membangun Game of Life, sebuah program komputer yang meniru perilaku organisme hidup. Wolfram sendiri menggarap varian satu dimensi CA yang dibuat oleh von Neumann. CA jenis inilah yang merupakan program sederhana yang terdiri dari satu baris perintah saja.

Problem teoritis terbesar Wolfram dan CA terletak pada tiadanya kemampuan prediktif, apalagi terhadap sistem besar dan kompleks seperti alam semesta. Mekanika Kuantum juga tak punya daya prediktif seperti yang diidealkan Descartes dan Laplace. Karena mustahilnya mengukur kecepatan dan momentum sebuah partikel denga akurat secara bersamaan, Mekanika Kuantum hanya bisa memberi prediksi yang sifatnya probabilistik. Namun dengan probabilitas statistik ini Mekanika Kwantum dan turunannya, khususnya Teori Standar Fisika Partikel, sejauh ini telah menjadi teori dengan daya prediktif dan tingkat akurasi yang belum ada tandingannya dalam sejarah.

Jika Wolfram atau ilmuwan manapun bisa menghasilkan Teori Komputasi yang punya kemampuan prediktif, yang sanggup meramalkan kejadian dan mencegat masa depan dengan berbagai kebolehjadiannya, maka itu baru layak disebut sebagai kejadian akbar dalam sejarah pengetahuan teoretis. Kerja besar Wolfram kali ini, lebih mirip dengan kerja para penemu yang menginventarisir dan mentaksanomikan hal-ihwal. Dari bahan-bahan temuan inilah biasanya pemikir besar menyusun teorinya yang mengubah padangan manusia dan sejarahnya. Ringkasnya, karya Wolfram, seperti kata Ray Kurzweil, baru merupakan satu sumbangan penting terhadap fisika, dan metafisika, khususnya ontologi. Ontologi, kita tahu adalah ilmu tentang Ada (Being), sejauh ada; atau refleksi tentang hakekat kenyataan yang paling dasar.

Ontologi ruang waktu

Setelah menikmati masa hidupnya selama sekitar seribu tahun, ontologi boleh dikata memang mengalami perkembangan baru setelah melewati satu periode penampikan. Periode itu yang disebabkan oleh oposisi yang luas terhadap metafisika, terkenal dengan pengumuman “kematian metafisika”. Kini kian bisa diterima bahwa ilmu-ilmu alam memiliki skema ontologis. Selain belum dapat sepenuhnya dijustifikasi menurut dasar-dasar empiris murni, skema ontologis itu juga dapat menimbulkan kebingungan teoritis, seperti yang terjadi pada bidang mekanika kuantum yang terus bertengkar soal dualitas gelombang-partikel.

Persoalan baru terus berlanjut seiring dengan kian majunya teori kuantum dan turunannya mengekplorasi hakekat terdalam realitas. Persoalan ontologis terbaru masih berkaitan dengan building-block terkecil yang menyusun seluruh alam semesta seisinya ini. Salah satu usulan mutakhir yang berkaitan dengan subyek ini datang dari teori “Superstring”. Inti pandangan Superstring adalah bahwa penyusun dasar semesta ini bukanlah partilce-like entity seperti yang diyakini orang sejak hampir 1500 tahun. Penyusun dasar kenyataan kosmos ini adalah semacam senar gitar yang dengan berbagai jenis getarnya memungkinkan munculnya berbagai jenis alam semesta. Dikiaskan secara sangat kasar, alam semesta ini bukanlah seperti sebuah rumah besar yang tertata dari ribuan bata, bukan seperti benda permanen yang disusun dari tak terhingga dzarrah, tapi lebih mirip seperti sejenis musik yang terdiri dari berbagai macam nada.

Seperti halnya teori Superstring, teori komputasi CA juga mengimplikasikan bahwa penyusun paling dasar dari kenyataan semesta bukanlah partilce-like entity. Dalam hal ini, Wolfram memberi sumbangan penting pada “gerakan intelektual” yang menyuarakan pandangan bahwa bentuk-bentuk informasi, dan bukannya materi atau energi, yang lebih merupakan batu penyusun dasar dari seluruh kenyataan. Gerakan intelektual ini mencoba memberi penjelasan baru tentang bagaimana bentuk-bentuk atau pola-pola informasi menciptakan dunia yang kita alami. Selain membangun visi yang lebih kokoh tentang peranan algoritme yang sangat penting di alam semesta ini, gerakan ini juga mencoba mengoreksi padangan klasik Newtonian tentang ruang waktu yang terpisah, kontinyu, infinit dan absolut.

Bahwa informasi adalah “satuan” yang paling dasar di alam semesta ini — pengertian ini jelas sudah cukup tua dalam sejarah pengetahuan manusia. Ini terlihat misalnya pada kalimat pembuka Injil Yohannes, “Pada mulanya adalah kata”; atau pada ayat pertama Qur’an, “Bacalah”. Namun demikian, pada kedua kanon besar itu, informasi sebagai inti kosmos lebih bersifat pengertian intuitif yang tak dapat dibuktikan salah. Apa yang dikerjakan Wolfram, John Wheeler dengan “It from Bit”; Edward Fredkin dengan “Digital Universe”; serta sejumlah pemikir lain, semuanya dibangun secara sistematis dengan teori-teori yang bisa difalsifikasi.

Algoritme tentu saja berasal dari nama Abu Ja’far Muhammad bin Al-Kwarizmi (780-850 M), penulis kitab Al-Jabr Wal Muqabala (Aturan-aturan tentang Restorasi dan Reduksi). Algoritme adalah metode atau prosedur yang terdefenisikan dengan baik untuk memecahkan sebuah masalah, biasanya sebuah problem matematika, atau yang berkaitan dengan manipulasi informasi. Secara khusus, sebuah algoritme didiskripsikan sebagai satu seri tindakan yang harus dilaksanakan, ditambah dengan petunjuk tentang kapan dan di mana seri tindakan itu harus diulang lagi. Ada pakar yang membatasi algoritme hanya pada prosedur-prosedur yang akhirnya selesai. Tapi ada juga pakar yang memasukkan prosedur-prosedur yang terus berjalan tanpa henti.

Algoritme memang sering berujud sebagai program-program komputer, tapi ia juga bisa berujud tindakan yang dilakukan oleh kehidupan yang tengah mencari perfeksi dan terus berupaya mengatasi dirinya sendiri.

Sastra Larangan

Kehadiran algoritme ditemukan memang bukan hanya pada gejala-gejala alam yang begitu komplek dan menghipnotis. Ia juga bisa ditemui pada karya seni. Kelompok yang secara sadar menggunakan algoritma bagi penciptaan adalah Oulipo (Ouvroir de Littérature Potentielle, atau Workshop of Potential Literature). Di salah satu situs Oulipo di internet, terpasang satu kutipan dari komposer besar Igor Stravinsky: Kian banyak larangan yang dihadapi, kian tertantang dan bebas seseorang dari rantai belenggu yang mencengkeram. Larangan dan hambatan berguna untuk meraih ketepatan ekesekusi.

Didirikan di Paris pada 24 November 1960, Oulipo terdiri dari sejumlah penulis dan matematikawan. Pendirinya adalah Raymond Quenau dan Francois Le Lionnais, dengan anggota antara lain Claude Berge, George Perec, Harry Matthews dan Italo Calvino. Mereka berkumpul membentuk laboratorium struktur literer untuk menghidupkan bentuk-bentuk sastra lama dan mencari bentuk-bentuk sastra baru yang yang tumbuh dari sejumlah algoritme. Bukannya sekedar menerima pasif kesalahan cetak pada puisi-puisi mereka yang kadang memang memberi kejutan literer, laboratorium ini bergerak jauh dengan secara aktif menetapkan sejumlah hambatan dan larangan dalam berkarya. Hambatan berupa algoritme itu, bisa cukup kompleks, bisa juga sangat sederhana yang berujud satu baris larangan saja.

Laboratorium Oulipo antara lain menghasilkan buku ganjil Queneau Cent Mille Milliards de Poèmes (Seratus Milyar Puisi). Buku ini menyodorkan sepuluh soneta yang masing masing ke-14 larikmya ditaruh secara terpisah. Kombinasi dari 14 baris atas 10 soneta ini memang memungkinkan hadirnya 10 exp 14 (seratus milyar) puisi yang berbeda dan mengejutkan. Karya Queneau yang lain adalah “Exercises de Style“, yang cerita sederhananya dikisahkan dalam 99 cara yang berbeda.

Kombinasi acak hanyalah satu di antara sekian algoritme yang diajukan kaum Oulipian. Salah satu algoritme (biasa juga disebut prosedur) paling sederhana yang digunakan kaum Oulipoan adalah S+7. Prosedur ini “memerintahkan” agar setiap kata benda dari sebuah teks sastra, secara sistematis diganti dengan kata benda lain urutan ke-7 dari kata benda awal dalam sebuah kamus yang dipilih. Hasil prosedur ini seringkali sangat tak terduga. Algoritme lain, yang lebih sulit, dijalankan misalnya oleh George Perec.

Perec adalah penulis dengan kecenderungan yang sedikit ganjil. Ia misalnya tertarik pada palindrome, yakni susunan kata atau kalimat yang jika dieja dari belakang tetap terbaca sama; Live Devil atau See, Slave, I demonstrate yet arts no medieval sees. Konon Perec telah menciptakan pelindrome terpanjang yang pernah ditulis orang, terdiri dari sekitar 5000 kata. Contoh karya Perec yang banyak disebut-sebut sebagai salah satu karya penting kaum Oulipian adalah sebuah novel lipogram. Lipogram adalah teks di mana satu atau lebih aksara tidak boleh dipakai. Novel Perec itu berjudul La Disparition, dan di dalamnya tak ada satupun aksara e. Novel ini kemudian diterjemahkan ke Bahasa Inggeris oleh Gilbert Adair menjadi A Void, yang di dalamnya juga tak mengandung satupun aksara e. Resensi novel ini juga tak menggunakan sebijipun aksara e.

Mungkin anggota Oulipo yang paling terkenal adalah Italo Calvino, novelis Italia yang ikut mengubah alam semesta menjadi sastra atau sastra menjadi alam semesta. Karya Calvino yang menautkan dirinya ke kaum Oulipian antara lain adalah If on a Winters Night a Traveler dan The Invisible Cities. Perbedaan menonjol antara Calvino dan anggota lain Oulipo adalah bahwa ia tahu kapan berhenti bermain-main dengan algoritme literer, dan kapan membuat algoritme itu menyanyi dengan sendirinya. Bagi Calvino, tantangan yang disungkupkan oleh algoritme dan aturan-aturan kombinatorial yang gila itu, bukannya mencekik imajinasinya tapi justeru merangsangnya. Karena itulah, Calvino, menurut cerita John Barth, menikmati tugas yang berat, seperti mengarang sebuah cerita — tanpa menggunakan kata-kata — tentang penemuan tari.

Pentingnya algoritme dan berbagai tantangannya dalam merangsang penciptaan itu, melahirkan berbagai “kembaran” Oulipo. Ada Oupeinpo yang menyatukan sejumlah pelukis, ada Ouphopo untuk bidang fotografi, dan Oucipo untuk sinematografi. Gagasan dasar yang sama menjalar ke bidang arsitektur, sejarah, tata boga, musik, filologi sampai ke tipografi. Ringkasnya, algoritme tampaknya memang merupakan unsur dasar dari segala jenis penciptaan, yang darinya segala sesuatu mengalir dan terbentuk.

Api Penciptaan

Tetapi, semesta raya, seperti halnya sebuah novel besar atau sepotong musik yang abadi, tidak hanya terdiri dari algoritme. Ia juga mengandung api. Jorge Luis Borges benar ketika ia bercerita tentang sebuah ensiklopedi yang menjelaskan rincian sebuah planet, lengkap dengan aljabar dan apinya (Tlon, Uqbar, Orbius Tertius). Aljabar, atau algoritme, mewakili kecerdasan menyusun bentuk-bentuk kompleks. Adapun api mewakili energi yang mampu mengubah sesuatu menjadi lain, yang menghangatkan dan membakar. Api, di dalam musik misalnya, adalah sesuatu yang menyebabkan waktu yang melintas menjadi “jalan di tempat”, sehingga ketika kita menyimak musik tersebut, (mencuri Octavio Paz) kita ikut naik ke semacam immortalitas.

Melihat pola-pola kompleks yang dihasilkan oleh CA dalam buku Wolfarm, juga pola-pola kompleks yang terbentang di alam, kita memang bisa terpukau, terseret tanpa daya. Dan kian lama kita menatap pola-pola itu, kian kita terbius untuk mencari apinya, sumber kekuatan yang menyebabkan “magis” itu muncul.

Tanpa wawasan sedikitpun tentang api di balik pola-pola kompleks itu, kita bisa terseret dalam sejenis siksaan yang muncul bersama pengetahuan bahwa diri kita berada di tengah samudera diskrit ruang waktu, dengan informasi dahsyat yang terus membombardir tubuh. Semakin cepat kita memproses serbuan informasi itu, semakin serbuan informasi itu menjadi seperti dentuman martil raksasa yang bertubi-tubi menghantam kita ke dalam tembok besar realitas. Dan bagai paku kecil, kita menjadi penyek dan mendekuk ke dalam tembok raksasa kefanaan itu, dengan sejenis rasa tak berdaya, bahkan rasa hina.

Saat rasa lunglai dan nista yang bisa terbawa bertahun-tahun itu memuncak, dan sebersit pengetahuan tentang api di balik bentuk-bentuk algoritme dan informasi semesta hadir di kepala, tubuh bisa mendadak terasa berubah jadi buih. Dan serbuan informasi dari luar adalah masukan yang ditampung dari luar. Tubuh menjadi seperti buih sabun mungil yang ditiupkan seorang anak kecil ke arah matahari, dan tiap serbuan informasi yang datang adalah sebuah supernova yang meledak berantai dalam buih itu. Buih itu tak lagi mengambang pelan naik ke immortalitas, tapi meledak tumbuh dengan kecepatan serupa cahaya, meluas mengeram seluruh ruang waktu semesta, menerobos ke semacam state of mind dan rasa “sakit” Sang Pencipta.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di Bentara-KOMPAS, Jumat 5 Juli 2002

3 Responses to “Ontologi”

  1. SEBIANJAYADI Says:

    TERIMA KASIH TELAH MEMPOSTING ARTIKEL INI.SAYA PERNAH BELI BUKU YANG MEMUAT ESAI INI HANYA SEKEDAR UTK MEMBACA TULISAN INI.SAYANG BKUNYA HILANG DAN SAYA TDK TAHU KEMANA LAGI CARI INFORMASI TTG ARTIKEL INI.BERULANG-ULANG SAYA MASUKKAN KE GOOGLE TAPI TAK SATUPUN DOKUMEN YANG MEMUAT SEMUA KATA PENCARIAN YANG SAYA MASUKKAN JUGA NAMA PENULISNYA.

  2. sebian again Says:

    sebenarnya saya lebih membutuhkan sedikit informasi ttg eksperimen stephen wolfram dg CA itu kalau tdk keberatan tolong dibahas ttg masalah ini di situs ini terima kasih sblmnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: