Epistemologi

September 16, 2008

Perang Ilmu, Nostalgia Kosmis

Di edisi populer karya monumentalnya Philosophy of Symbolic Forms, Ernst Cassirer dengan menarik menulis begini: “Ilmu pengetahuan adalah langkah terakhir dalam perkembangan mental manusia dan boleh dianggap sebagai pencapaian tertinggi dan paling karakteristik dalam kebudayaan manusia … Dalam dunia modern tak ada kekuatan lain yang bisa disejajarkan dengan pemikiran ilmiah. Ilmu diyakini sebagai puncak dan penyempurnaan semua aktivitas manusiawi, bab terakhir dalam sejarah ummat manusia dan pokok terpenting filsafat manusia.”

Manusia Vitruvian © c.1485 Leonardo da Vinci

Meski prestasi ilmu (science) begitu menyolok, banyak pihak yang masih salah paham padanya. Beberapa bahkan bisa langsung naik pitam mendengar pendapat Cassirer. Sejarah pengetahuan ilmiah tak dibentuk melulu oleh catatan pencapaian-pencapaian revolusioner. Sejarah itu juga disesaki gelombang kecaman dan permusuhan yang menderu dari berbagai penjuru. Dari sayap kanan, kelompok religius, atas nama penyelamatan manusia, menghantamkan alasan teologis kepadanya. Dari sayap kiri, khususnya mereka yang mengambil inspirasi dari Marx, atas nama pembebasan dunia menghujamkan alasan ideologis. Kelak, kedua sayap yang sering baku musuh itu, bergabung menghantamkan alasan-alasan epistemologis yang membuat mereka yakin bahwa pengetahuan ilmiah sudah mati; jika belum secara klinis setidaknya secara filosofis.

Dengan menggabungkan penalaran matematis dan pembuktian empiris, Galileo Galilei dapat dianggap sebagai pelopor pembangunan pengetahuan ilmiah modern di Barat. Tetapi Galileo tak cuma dikenang sebagai fisikawan yang mewariskan hukum gerak dan perontok astronomi mata telanjang yang dimapankan ribuan tahun dalam kosmologi Aristoteles dan Ptolomeus. Galileo juga dikenang sebagai korban Inkuisisi. Selain menopang kosmologi Kopernikan yang menggeser manusia dari pusat semesta, ia memegang pandangan teori atomistik materi yang tak sesuai dengan doktrin transubstansiasi dan karena itu menentang sakramen Ekaristi.

Bahkan jauh sebelum Galileo, cengkeraman sayap kanan untuk mengontrol ilmu sudah sangat kuat. Terdapat periode paling hitam dalam sejarah manusia karena kerasnya tekanan Gereja Abad Tengah atas kebebasan berpikir. Ilmu tak jarang dikecam sebagai kegiatan laknat dan sumber kejahatan di dunia karena mengobarkan pencarian tak bertuhan yang merusak moralitas yang diwahyukan langit. Salah satu kajian menarik tentang topik ini, ditulis oleh Andrew Dickson White: sebuah buku yang terbit pada 1896 berjudul A History of the Warfare of Science with Theology.

Di dunia muslim, perang yang sama juga bisa ditemui. Peradaban yang awalnya penuh energi pencarian ilmu itu, kelak tampak mengingkari genealoginya sendiri dan melancarkan perang rasionalitas dengan akibat yang begitu buruk. Jika antara abad ke 9 sampai 13, dunia muslim menjadi kawasan dengan tingkat pengetahuan relatif paling tinggi di Bumi, maka sejak beberapa abad terakhir, dari seluruh peradaban di planet ini, pengetahuan ilmiah menempati posisi paling lemah di dunia Islam. Tetapi, sebagian besar kaum religius radikal tak punya rasa sesal atas fakta itu. Banyak di antaranya yang malah bersyukur: menurut mereka, menjauhkan diri dari sains membantu mereka menjaga Islam dari pengaruh destruktif dan sekular.

Kaum muslim yang agak lebih moderat berpendapat bahwa makhluk dunia kafir bernama sains itu tidak perlu ditakfirkan dengan fatwa mengerikan. Cukup “ditobatkan” saja di mana beberapa asumsi dasarnya harus disunat. 2 – 3 dekade yang silam, wacana intelektual Indonesia diramaikan oleh literatur-literatur Islamisasi Sains. Nama-nama seperti Seyyed Hossein Nasr, Maurice Bucaille, Ziauddin Sardar dan Naquib Al-Atas jadi cukup menonjol. Setelah sekian dasawarsa, hasil Islamisasi Ilmu ini terbentang mulai dari pencocok-cocokan bahwa segala penemuan ilmiah mutakhir sudah diantisipasi Qur’an sejak 14 abad yang silam, sampai ke upaya penentuan susunan kimiawi Jin dan ekstraksi energi dari Iblis agar persoalan energi di Dunia Muslim dapat diatasi.

Lawan tangguh Isalamisasi Sains ini adalah Abdus Salam, satu-satunya muslim pemenang Nobel Fisika; dan Pervez Hoodbhoy, doktor fisika Nuklir dari MIT. Di bukunya, Islam and Science, Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality, Hoodbhoy menyebut upaya pengislaman pengetahuan ilmiah tak saja telah melanggar rasio dan logika, tapi juga penafsiran tercerahkan atas ajaran Islam.

Sains Marxis?

Di belahan Bumi lain, sejak dekade 1930-an, ilham Marx menggerakkan banyak ilmuwan membangun sains dunia fisik yang epistemologinya berdasarkan materialisme dialektis. Ditopang oleh karya Engels dalam Dialectic of Nature dan tesis Lenin dalam Materialism and Empirico-Criticism, dengan heroik mereka mencoba membangun Sains Marxis yang jelas berbeda dan diharapkan lebih unggul dari Sains Borjuis masyarakat kapitalis. Dicarilah tesis, antitesis dan sintesis dan kemudian dilakukan filterisasi kesesuaian ideologis pada seluruh bidang sains fisik: mekanika kuantum, relativitas, genetika.

Teladan paling menonjol dari Sains Marxis adalah Trofim Denisovich Lysenko (1898-1976). Ia seorang pembiak tanaman yang berasal dari Ukraina, seorang tokoh yang dilambungkan oleh koran Pravda sebagai ilmuwan cemerlang yang dekat dengan akarnya: kelas petani. Mantan muzhik yang menjabat direktur Institut Genetika Akademi Ilmu Pengetahuan Sovyet dan presiden Akademi Lenin untuk Ilmu-ilmu Pertanian inilah yang menunjukkan apa itu Biologi Marxis. Lysenko antara lain bilang bahwa tetumbuhan dari spesies yang sama menunjukkan ‘solidaritas sosialis’ dan tak akan saling bersaing demi kelestarian jenis masing-masing. Dia bahkan menegaskan bahwa pohon-pohon dari spesies yang sama yang ditanam berdekatan akan secara kolektif baku tolong untuk bertahan hidup.

Akibat ajaran Lysenko yang gemilang dalam bahasa dialektika dan perjuangan kelas itu, kehutanan dan pertanian Sovyet menderita kerugian besar. Ilmu biologinya mundur 20 tahun. Kemunduran itu buah ajaran Lysenko yang ditetapkan sebagai doktrin ilmiah resmi di bawah Rezim Stalin. Stainlah yang memberi Lysenko dan pedukung-pendukungnya akses kepada alat-alat teror negara, dan setelah itu mulailah pemecatan bahkan pengadilan yang berujung dengan vonis hukuman mati terhadap seluruh ilmuwan yang tak mendukung Lysenkoisme.

Kegagalan Lysenko tak menyurutkan kaum Kiri memerangi sains. Sejak dekade 1960-an, kaum Kiri Baru melancarkan gelombang kritik baru, kali ini terutama dengan berbekal sejata filsafat bahasa. Para ilmuwan, khusunya fisikawan, bukannya diam menghadapi serangan gencar yang berakibat luas itu.

Parodi Sokal

Serangan Sayap Kiri ditangkis misalnya oleh Alan Sokal, profesor fisika Universitas New York. Pada 1994, Alan Sokal menulis sebuah naskah yang ia sebut sebagai “eksperimen seorang fisikawan dengan Cultural Studies”. Naskah itu berjudul Transgressing the Boundaries: Toward a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity. Sokal kemudian meyerahkan naskah itu ke Jurnal analisa politik dan kebudayaan yang didirikan sejak 1978, Social Text, yang editornya antara lain adalah Fredric Jameson. Pada musim semi 1996, naskah itu terbit dalam edisi khusus Science Wars.

Media Lingua Franca edisi Mei-Juni 1996 memuat pengakuan Sokal bahwa naskahnya yang diterbitkan oleh jurnal Social Text adalah olok-olok untuk memperdayai lingkaran akademisi Kiri tertentu yang umum disebut Kaum Postmodernis. Naskah itu sendiri memang sarat dengan konsep-konsep konyol yang tak punya nilai secara ilmiah, tapi terkesan provokatif dari segi retorika. Ada sekian alasan mengapa ‘omong-kosong Sokal’ bisa dimuat oleh Jurnal berwibawa seperti Social Text. Selain provokatif dan menyanjung prakonsepsi ideologis para editor Social Text, artikel Sokal itu tidak harus mematuhi standar, pembuktian dan logika apapun. Social Text yang “posmo” tak punya segugus kaidah epistemologis yang secara tegas ditegakkan. Satu-satunya jenis kerja keras yang dilakukan oleh Sokal adalah menulis dan menulis ulang artikel itu untuk mencapai tingkat ketak-jelasan yang diharapkan. Upaya ini cukup sulit, kecuali bagi mereka yang terbiasa menata kalimat-kalimat ajaib yang sejernih lumpur.

Eksperimen Sokal bersambut. Kecerdikannya meramu sejumlah kutipan dan penyalah-gunaan konsep-konsep ilmiah oleh para pemikir non-saintis, khususnya kaum postmodernis, memantik polemik yang melintasi benua. Halaman depan media internasional seperti New York Times, International Herald Tribune, London Observer dan Le Monde, secara bergantian menuliskan “Sokal Affair”. Sejumlah debat seru berlangsung di kampus-kampus besar di Amerika Utara dan Selatan. Reaksi hangat tentu saja muncul di Perancis. Yang dibidik Sokal memang umumnya adalah intelektual Perancis yang sekian dekade terakhir mengharu-biru wacana ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan di Eropa dan Amerika. Bruno Latour di Le Monde bahkan menuduh Alan Sokal memimpin sebuah jihad suci Amerika melawan Perancis. Di situ Perancis adalah “Columbia yang lain”, sebuah negeri yang disesaki oleh pembuat, bandar dan pengecer narkoba keras — Derridium, Lacanium, dll — yang dicandu habis oleh siswa-siswi doktoral Amerika.

Mereka yang selama ini merasakan sebentuk kepungan anti-intelektualisme yang disodorkan oleh pandangan yang secara absolut merelatifkan segala hal dan menegakkan subyektivitas sebagai penentu kebenaran; mereka itu seakan menemukan pembebasan lewat akal bulus Sokal. Di mata mereka, Sokal dengan cerdik telah memblejeti para pemikir besar jaman ini. Lacan, Derrida, Kristeva, Paul Virilio, Gilles Deluze, Felix Guattari, Baudrillard dan sejumlah nama penting lain, tampil sebagai barisan idiot yang karena begitu bersemangat memberi efek dalam argumen-argumennya, telah dengan penuh percaya diri mengutil dan menghianati secara tak kreatif ide-ide khazanah pengetahuan ilmiah.

Saya pernah anggap berlebihan tendensi Sokal mengkandangkan seluruh rumpun pemikiran postmodernisme sebagai Fashionable Nonsense[1] dan para pemikirnya adalah intelektual penipu yang berlindung di balik kekaburan bahasa. Sampai batas tertentu, postmodernisme telah memberi sumbangan penting berupa demistifikasi dan penyingkapan topeng-topeng filsafat dan rasio, dan karenanya telah menunjukkan pula ilusi-ilusi dan keterbatasannya. Seluruh species pemikiran postmodernisme adalah kritik terhadap semua pengetahuan yang melupakan watak fiktifnya, sekaligus penegasan akan watak fantastik kenyataan. Tapi justeru itulah soalnya: justeru karena pengetahuan itu fiktif dan kenyataan itu fantastik, rasio tak boleh mundur dan harus dipaksa untuk terus membuntuti kenyataan. Sokal benar bahwa ada semacam kemalasan intelektual di komunitas akademi tertentu, yang terlalu gampang takluk pada imajinasi dan kecurigaannya sendiri, dan tak secara metodologis membenturkannya pada kenyataan.

Mereka yang dibidik Sokal tampaknya terbius sangat kuat oleh gelora emansipasi, dan mungkin karena itu merasa berhak untuk langsung melompat ke kesimpulan yang mengabaikan korespondensi, verifikasi dan falsifikasi. “Para Pemalas” itu bukan cuma pemikir posmo yang doyan menjelajahi bidang-bidang “avant-garde” seperti Mekanika Kuantum atau teori Chaos dan Kompleksitas dan memulung ide dari sana untuk mempercantik argumen-argumen mereka tentang watak acak dan fragmentaris kenyataan. Mereka juga adalah para feminis[2] dan kritikus kebudayaan yang oleh politik identitas menempelkan noda sexism, rasisme, kolonialisme dan kapitalisme tak cuma pada praktek-praktek riset ilmiah tapi juga pada kesimpulan-kesimpulannya. Dan juga para sosiolog, sejarawan dan filsuf yang memandang bukan saja formulasi hukum-hukum alam tapi bahkan kenyataan alam itu sendiri adalah konstruksi sosial dan linguistik.

“Dua Realitas”

Ihwal tentang kenyataan adalah ihwal terpenting filsafat pengetahuan. Di simpang alaf ini, tampaknya segenap kenyataan di alam ini masih dapat dibagi dua. Pertama, kenyataan alam yang sudah ada jauh sebelum hadirnya manusia, dan (sepertinya) tetap akan ada sekalipun kehidupan dan kecerdasan tak lagi menghuni Tatasurya. Kedua, kenyataan manusiawi yakni kenyataan yang terbentuk sejak munculnya manusia dan terus hadir bersama manusia. Karena terbaginya kenyataan seperti itu maka segenap pengetahuan di bumi juga bisa dibagi dalam dua sistem besar: pengetahuan yang bertumpu pada alam semesta dan pengetahuan yang bertumpu pada manusia.

Para saintis, seperti Alan Sokal, secara intuitif percaya bahwa ada sesuatu yang disebut sebagai kenyataan obyektif-eksternal yang kehadirannya tak tergantung pada manusia. Kenyataan seperti inilah yang membuat sains dan penemuan-penemuan agung menjadi mungkin, dan kenyataan subyektif-internal membuat seni dan penciptaan-penciptaan monumental jadi bisa. Realitas obyektif sungguh jadi dasar sekaligus panggilan hidup ilmu, dan itulah memang yang membedakannya dari seni. Kendati harus menghormati kenyataan, seni mestinya membedakan diri — melebihi dan melampaui — kenyataan, kehidupan. Jika ilmu diukur prestasinya dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan korespondensinya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan. Setidaknya begitulah pendapat saya, dan tampaknya begitu pula pendapat Fernando Pessoa. Penyair terbesar Portugis dalam 500 tahun terakhir itu pernah berkata bahwa kalaupun puisi (baca: seni) tidak melebihi kehidupan, maka setidaknya ia berbeda dari kehidupan. Jika para penyair hanya menyajikan ke pembaca apa yang mereka sanggup rasakan dalam kehidupan sehari-hari, maka penyair hanya memberi terlalu sedikit. Pemberian seperti itu tak layak disebut pemberian.

Meski kenyataan itu dan hukum-hukumnya bersifat kekal, namun pengetahuan manusia yang disusun untuk memahami dan merumuskan kenyataan itu, sama sekali bersifat subyektif. Untuk membuat pengetahuan subyektif itu berkorespondensi sedekat mungkin dengan kenyataan obyektif, pengetahuan manusia harus terus-menerus dibenturkan dengan kenyataan. Imajinasi manusia, pikiran-pikirannya, adalah sejenis mahluk luar biasa. Ia akan selalu mencari jalan untuk mengkonsolidasi dirinya, menjadikan dirinya tampak koheren dan konsisten, setidaknya menurut kriteria subyektifnya sendiri. Upaya konsolidasi diri itu bisa dilakukan imajinasi dengan mengabaikan kenyataan atau setidaknya memiuh kenyataan yang dipersepsi. Pikiran dan imajinasi manusia tak jarang menghianati manusia dengan menghianati kenyataan.

Predikamen Ilmu

Dalam kenyataan manusiawi, berlaku diktum Kant — bahwa pengetahuan, atau akal, tidak menurunkan hukum-hukumnya dari, melainkan memaksakannya pada alam (yakni alam manusiawi). Di dunia fisis, diktum Kant bukan saja tak berlaku, tapi malah sering menjadi bahan olok-olok. Lysenkoisme adalah contoh yang gamblang. Contoh lain adalah tetapan kosmologis Albert Einstein yang ia paksakan pada teori Relativitasnya. Einstein berpikir bahwa dengan tetapan itu ia akan “menghasilkan” alam semesta yang tidak memuai. Tetapan tersebut adalah penyesalan terbesar Einstein dalam hidupnya.

Penyesalan Einstein dan kekeliruan para penghojat sains yang tak mengakuinya sebagai ekspresi kecerdasan ummat manusia yang universal, adalah contoh yang baik untuk menunjukkan watak istimewa pengetahuan ilmiah. Kedahsyatan terbesar sains sungguh tidak terletak pada kemampuannya menyibak rahasia semesta, mengontrol dan mengubah dunia. Kekuatan terbesar sains, yang membedakannya dengan segenap sistem pengetahuan yang lebih dulu muncul dalam peradaban, adalah kesanggupannya meregulasi dan memetabolisir diri, berevolusi dan merevolusi diri. Seperti sebuah organisme, sains mengembangkan dan membersihkan dirinya secara periodik, menolak masukan yang tak berdasar dan mencari masukan bermutu yang akan membuatnya tumbuh, merombak dan membongkar seluruh dirinya.

Metabolisme seperti ini bisa terjadi karena kode genetik sains memuliakan dua hal. Pertama adalah metode ilmiah yang meski tak berpretensi tahu apa yang benar dan karena itu cuma bisa mengusulkannya, tapi secara jelas paham apa yang salah dan mampu membuktikannya. Yang kedua adalah instansi lain yang tak kalah penting dari metode ilmiah, yakni imajinasi yang selalu berusaha mengatasi dirinya sendiri. Tetapi memang, genetika seperti ini tidak akan survive andaikan saja homo sapiens tidak hidup di tengah kenyataan, atau ceruk (niche) kenyataan, yang sejauh ini bisa kompatibel dengan imajinasi dan refleksi-kritis.

Genetika seperti itulah yang memungkinkan sains menjadi puncak penyempurnaan aktivitas manusiawi yang sangat berhasil untuk menyingkap sebagian rahasia semesta; sedemikian berhasilnya hingga ia justeru mengancam status ilmu itu sendiri. Perkembangan-perkembangan mutakhir dalam Fisika dan seluruh cabang-cabangnya, misalnya, telah menghadirkan sejumlah spekulasi teoritis yang sepintas lalu terasa lebih ajaib ketimbang fiksi ilmiah. Teori-teori itu menjangkau tlatah kenyataan imajiner yang belum mungkin ada di Bumi.

Jika rahasia kosmos yang menghimbau dari luar ibarat musik, seperti yang dibayangkan, kalau tak salah, oleh Einstein, maka sains merupakan tarian yang adalah penghayatan atas musik tersebut. Jika tarian yang baik adalah tarian yang bisa ditubuhkan, maka pengetahuan yang valid adalah yang bisa diuji. Di masa sains masih primitif dan aksesnya pada relitas masih terbatas pada jangkauan inderawi, musik kosmos masih terdengar harmonis dan tertib. Tapi begitu kemampuan ilmu meningkat, para saintis memergoki betapa musik kosmos itu meledak-ledak liar, chaotik dan menjadi mustahil ditarikan dengan tubuh yang dimiliki sekarang, setinggi apapun kekuatan tubuh itu dilatih. Inilah predikamen yang terjadi misalnya pada para ilmuwan penyusun Teori Superstring – teori yang sejauh ini menjadi kandidat terkuat TOE (Theory of Everything). Mereka hanya bisa menari secara imajiner, dan dengan amat terpaksa harus puas dengan koherensi struktur matematis elegan tingkat tinggi yang korespondensinya dengan realitas alam belum bisa diuji dengan tingkat peradaban planet bumi saat ini.

Re-Kreasi Kosmos

Superstring adalah teori mutakhir yang mencoba menuntaskan impian fisika: menggabungkan semua gaya-gaya fundamental alam dan mentaksanomikan setiap jenis materi di alam semesta. Masalahnya adalah, satu-satunya perkiraan atas teori ini berlaku pada skala energi yang sangat besar, yang tampaknya hanya ada pada saat penciptaan alam semesta. Sementara itu, Superstring, seperti dihamparkan oleh Edward Witten, profesor Institute for Advanced Study, Princeton, pemikir yang paling banyak dikutip dalam kepustakaan fisika mutakhir, dibangun di atas prinsip-prinsip teoritis yang telah berhasil secara mengagumkan di masa lalu. Teori ini pun konsisten dengan setiap fenomena kosmis yang sudah diketahui. Tapi, kendati Superstring menawarkan harapan yang masuk akal akan penyatuan seluruh pengetahuan ilmiah yang ada sekarang, Superstring tetap belum bisa disebut sains, belum bisa disebut ilmiah, sebelum membuktikan prediksinya. Para ilmuwan tentu saja tahu soal ini, dan pemahaman itu beserta kegamangan akan status teori mereka bukanlah sesuatu yang enteng ditanggungkan.

Karena itu, dapat dibilang bahwa untuk menjadi ilmiah, sains mutakhir dan segenap keturunannya yang ingin memahami semesta seisinya harus menjadi sebuah cabang seni: pencipta kenyataan-kenyataan yang belum pernah ditemui dalam sejarah, untuk menguji teori-teori besar itu. Dan untuk pembuktian itu, artinya mungkin memang menciptakan alam semesta, agar Superstring, atau teori apapun yang ingin merangkum semesta raya, bisa diuji. Alan Guth dan Andrei Linde, perintis Teori Kosmos Inflasioner yang menjadi sokoguru teori Big Bang, berpendapat bahwa secara teoretis penciptaan kosmos ini bisa dilakukan di laboratorium.

Dengan melihat bahwa penciptaan alam semesta adalah kemungkinan logis – untuk tidak mengatakannya sebagai nasib yang tak terhindarkan – bagi masa depan pengetahuan ilmiah, terbentang bayangan menakjubkan akan kesinambungan kosmos dan manusia. Alam semesta yang berkembang dari “ketiadaan” itu, dengan sangat berliku telah mengembangkan kehidupan yang unsur-unsur ragawinya dulu disusun di perut bintang-bintang. Kini dari kehidupan itu, setelah berkembang jutaan tahun, tumbuh kecerdasan yang dalam upayanya menjenguk jantung materi, hidup dan kosmos, tampak dituntun untuk pada suatu saat menciptakan semesta raya seisinya.

Timothy Ferris, profesor astronomi Universitas California, Berkeley, pernah menulis bahwa mungkin sekali impian akan Theory of Everything adalah sebentuk nostalgia kosmologis, dan ilmu-ilmu yang dikembangkan manusia adalah medium yang dengannya alam semesta merenungkan masa silamnya.[3] Kini tampaknya, ilmu-ilmu manusia bukanlah sekedar medium nostalgia semesta: ilmu adalah jalan bagi semesta raya untuk melahirkan dirinya sendiri. Dengan demikian, ilmu bukan saja pokok terpenting filsafat manusia, ia juga adalah pokok terpenting filsafat kosmos, jika filsafat seperti itu memang ada. Yang pasti, pemahaman baru akan kesinambungan kosmos dan manusia, akan memancarkan sebentuk rasa terpaut ke Semesta, sebentuk rasa takjub dan syukur — ah, kata ini jadi terlalu miskin rasanya — yang belum pernah ada di Bumi.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Didiskusikan di Teater Utan Kayu (TUK) pada 20 Maret 2000, dimuat di Bentara-KOMPAS, Jumat 5 Mei 2000.


[1] Bersama Jean Bricmont, pakar fisika teoretis Université de Louvaine, Belgia, Alan Sokal meneruskan upaya pemblejetan pemikiran para tokoh utama lingkaran Akdemisi Kiri yang bertumpang tindih dengan Postmodernisme dan Cultural Studies itu. Upaya itu dibukukan dan terbit di Perancis di bawah tajuk Impostures Intellectuelles (Paris: Édition Odile Jacob, 1997). Setahun kemudian Picador menerbitkannya di Amerika dengan judul Fashionable Nonsense: Postmodern Intellectuals’ Abuse of Science (USA: Picador, 1998).

[2] Sandra Harding misalnya, pernah menilai bahwa sains modern, khususnya fisika, tak cuma sexist, tapi juga rasis, classist, dan secara kultural koersif. Luce Iregaray pernah mempersoalkan khazanah matematika dunia dengan menganggap bahwa matematika telah dikonstruksikan sebagai the other (baca: perempuan) yang selalu meminta untuk disingkap dan dipenetrasi. Iregaray juga telah bicara tentang “gender encoding” dalam Mekanika Fluida.

[3] Timothy Ferris (ed.), The World Treasury of Physics, Astronomy, and Mathematics (USA: Little Brown, 1991) hlm. 127.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: