Ekonomi

September 16, 2008

Sen, Ilmu Yang Muram, Manusia

Ekonomi jadi ilmu yang muram antara lain karena: barang-barang yang langka dan sumber-sumber yang kian terbatas, berhadapan dengan begitu banyak kebutuhan manusia yang saling bertentangan dan terus berbiak dengan laju yang bikin giris. Dan seperti ditunjuk Paradoks Arrow, tak ada satu cara yang adil dan rasional untuk mengharmoniskan pilihan individual yang serba berbeda, menjadi pilihan kolektif yang memuaskan semua orang. Amartya Kumar Sen menegakkan reputasinya dalam barisan ekonom dunia, antara lain lewat terobosannya mengatasi Paradoks Arrow. Dari sana ia membangun sebuah riwayat intelektual yang menjadikan dirinya salah satu “Penyambung Lidah Kaum Lapar Dunia”, dan terus mencari jalan membuat pembangunan identik dengan kebebasan. Dan ia mengutip penyair Inggris abad ke-18 William Cowper, pada baris:

Freedom has a thousand charms to show,

That slaves howe’er contented, never know.

Dalam khazanah pemikiran di Indonesia, pandangan yang mengaitkan pembangunan dan kebebasan, dan upaya mempersembahkan pemikiran ekonomi bagi kesejahteraan kelompok paling miskin di masyarakat, tentu bukan hal baru. Bung Hatta, yang oleh situasi jaman bisa disebut sebagai ekonom terbesar Indonesia sebelum perang, sudah melakukannya. Usaha Hatta yang dibimbing oleh ide kemerdekaan dan kedaulatan rakyat itu, sudah terlihat sejak karya awalnya tentang posisi Indonesia dalam “tata” ekonomi dunia, sampai ke karya-karyanya tentang ekonomi rakyat, tentang koperasi, nasib buruh, ordonansi sewa lahan, hingga ke hak tanah dan tempat kediaman rakyat.

Upaya mengaitkan pembangunan dan kebebasan tampak tegas pada Soedjatmoko, yang memilih perspektif kultural dan historis, dan cenderung menolak ekonomisme dalam pemikiran pembangunan. Bagi mantan rektor Universitas PBB ini, pembangunan terutama adalah pergerakan rakyat untuk menopang pertumbuhan manusia. Dari sana, dapatlah muncul orang-orang, yang karena merasa dirinya tak lebih kurang dari orang lain, menjadi efektif secara sosial, dan mampu memikul tanggung jawab kehidupan mereka sendiri, kehidupan keluarga mereka dan kehidupan komunitas. Renungan Soedjatmoko tentang kebebasan manusia yang ia benturkan dengan situasi dunia, membuatnya bicara tentang peradaban-peradaban modern alternatif yang bukan Barat, yang atas dasar perimbangan kasar, mengambil tempat seiring dan sederajat dengan peradaban Barat. Peradaban alternatif itu barangkali merupakan ragam peradaban Cina, Hindu, Islam atau yang lain.

Mengomentari pemikiran Soedjatmoko yang begitu luas, yang tersimpul dalam buku Development and Freedom, Arief Budiman menyebutnya bak lukisan impresionis Auguste Renoir: sebuah kanvas lukisan besar warna-warni tapi yang tak jelas benar elemen-elemennya. Yang menarik dari Sen adalah, meski pejelajajahannya hampir sama luasnya, ia tidak berhenti melayang di dunia ide-ide besar. Antara lain karena peluang aktual yang diperolehnya, Sen mengubah gagasan besar-abstrak kebebasan manusia menjadi menjadi konsep kongkrit kebebasan individual. Jika Soedjatmoko masih mengaitkan pembangunan dengan kebebasan, Sen bahkan sudah mengidentikkan keduanya — buku terbaru rektor Trinity College, Cambridge, ini bertajuk Development as Freedom.

Demokrasi dan Informasi

Demokrasi yang dikecam Socrates itu sepintas memang menyimpan problem besar dalam dirinya. Secara teknis, tak masuk akal, bahkan mustahil, melibatkan seluruh rakyat yang berdaulat itu dalam voting yang menentukan setiap keputusan. Sistem perwakilan adalah solusi atas kemustahilan teknis ini. Tetapi, struktur perwakilan yang berbeda, sangat mungkin menghasilkan keputusan-keputusan yang secara substansial berbeda pula. Teori pilihan sosial, yang bergulat di kancah yang menghubungkan nilai-nilai yang dijunjung individu dan pilihan kolektif, bermula dari dari dua problem kritis bagi pengambilan keputusan demokratis.

Problem kritis pertama yang dikenal sebagai Pradoks Arrow, sudah dijelajahi lebih dahulu oleh penulis Alice in Worderland, Lewis Carroll. Problem Kenneth Arrow adalah: apakah preferensi masyarakat secara keseluruhan dapat dengan konsisten diturunkan dari preferensi anggota-anggotanya. Voting mayoritas yang adalah cara paling umum untuk membuat keputusan kolektif, punya cacat serius. Cara ini memungkinkan mayoritas menindas minoritas. Selain menghasilkan keputusan yang menyesatkan, cara ini juga bisa berujung di kebuntuan. Sebuah kelompok mayoritas, misalnya, dapat memilih alternatif a daripada b, sementara mayoritas kedua memilih b daripada c, dan mayoritas ketiga memilih c daripada a. Dalam situasi yang disebut intransivitas ini, tak ada satu alternatif yang secara tegas merupakan yang terbaik bagi setiap mayoritas.

Di awal dekade 1950-an, problem ini memacu Arrow mempelajari aturan-aturan penyatuan preferensi-preferensi individu, di mana aturan mayoritas hanya salah satu alternatif. Arrow menyusun 5 aksioma yang harus dipenuhi agar suatu keputusan kolektif memenuhi asas adil dan cerdas. Kesimpulan Arrow yang meraih nobel Ekonomi 1972 itu cukup mengejutkan: tak ada aturan agregasi yang bisa memenuhi kelima aksioma itu. Jika hasilnya rasional, yakni memungkinkan adanya harmonisasi penuh atas preferensi-preferensi tiap orang, maka itu mungkin sekali bersifat diktatorial.

Untuk membuat persoalan tambah runyam, perlu pula dilihat problem kedua keputusan demokratis yang diajukan Anthony Downs dan Mancur Olson. Mereka menunjukkan, motivasi bertindak individual tak kompatibel dengan preferensi kolektif. Motivasi individu, yang apapun bentuknya sangat sah dalam demokrasi, memungkinkan orang untuk bahkan juga tak perlu punya keinginan cukup buat mengerti kehidupan publik hingga sanggup membuat keputusan yang cerdas. Kepentingan pribadi, memang memungkinkan dan melegitimasi hadirnya ketakpedulian publik.

Pembeberan Downs dan Olson, dan terutama kesimpulan Arrow yang juga disebut teorema kemustahilan (impossibility theorem), menjadi rintangan tak terpecahkan bagi cabang normatif dan preskriptif ilmu ekonomi selama waktu yang cukup panjang.

Setiap problem intelektual lahir dengan pesan bahwa kemajuan masih belum jera pada manusia. Kontribusi Sen sejak dekade 1960-an sangat penting bukan saja dalam menghalau awan gelap yang menggantung di atas teori pilihan sosial. Dengan memperkaya dasar-dasar teori cabang ekonomi makro itu, Sen sekaligus membuka ranah kajian ilmiah baru dan penting. Bersama Prasanta Pattanaik, murid brilian Sen di Delhi School yang kelak jadi profesor ekonomi di Universitas California, mereka mengurai kondisi-kondisi umum yang dapat mengikis intransivitas dalam aturan pengambilan keputusan mayoritas. Di sana diulas bagaimana preferensi individual diagregasikan, dan keadaan masyarakat yang serba berbeda, dinilai dalam satu cara yang secara teoretis memuaskan.

Lewat satu sudut pandang filosofis, Sen membabar betapa keputusan dan penilaian individu sangat tergantung pada informasi yang mereka punya. Ia juga menunjukkan bahwa kemustahilan untuk sampai pada sebuah keputusan kolektif yang rasional dan adil, adalah hasil dari sebuah jenis aneh informasi tapi yang berlaku jamak dalam teori ekonomi. Satu-satunya informasi yang diperbolehkan melulu hanyalah utilitas yang langsung terlihat. Segala bentuk informasi non-utilitas dianggap tak relevan. Konsekwensi praktis dari penyingkiran informasi yang lebih kaya memang bukan hanya sekedar kebuntuan dan kemuraman sebuah cabang ilmu.

Secara tradisional, teori pilihan sosial mengandaikan bahwa tiap orang dapat mengurut prioritas atas pilihan yang berbeda, tanpa mengasumsikan apapun tentang komparabilitas interpersonal. Seperti tertulis di dokumen Nobel e-Museum, Sen mengurai bagaimana asumsi-asumsi yang berbeda yang berkaitan dengan komparabilitas interpersonal, mempengaruhi kemungkinan untuk memperoleh sebuah aturan konsisten dan non-diktatorial, bagi pembuatan keputusan kolektif. Ia juga menunjukkan asumsi implisit penerapan prinsip-prinsip yang diajukan oleh filsafat moral untuk menilai pilihan-pilihan yang berbeda bagi masyarakat.

Prinsip utilitarian, misalnya, menyeru agregasi seluruh utilitas individual saat mengevaluasi suatu keadaan sosial; ini mengandaikan bahwa perbedaan-perbedaan utilitas pilihan alternatif dapat diperbandingkan di antara individu. Collective Choice and Social Welfare (1970), dan karya-karya Sen berikutnya, terutama telaah filosofis atas keadilan dan rasionalitas manusia, yang terbit di jurnal berwibawa Mind, menambahkan dimensi baru atas karya filosof Amerika, John Rawls. Asas Rawls — bahwa keadaan sosial masyarakat harus dinilai dari semata rujukan terhadap individu-individu yang berada dalam kondisi paling buruk — mengasumsikan tingkat utilitas yang diidamkan orang perorang tak dapat diperbandingkan.

Sen memperluas argumen Rawls, dan menandaskan antara lain, bahwa transaksi orang-perorang menjadi lebih baik asalkan mereka punya informasi yang lebih terang dan rinci tentang pihak masing-masing. Ini hanya mungkin dalam sistem demokrasi yang memungkinkan lancarnya arus informasi dan memberi setiap orang hak mengakses informasi yang diperlukannya. Penjelasan Sen itu menyapu pessimisme Arrow dan terbentanglah semacam kawasan baru dalam pilihan-pilihan individual dan kelompok. Sen bahkan mencoba merumuskan secara kuantitatif deviasi-deviasi rumit itu dengan terang.

Pergulatan intelektual Sen dengan teori pilihan sosial jelas telah ikut memberi sebuah jawaban segar terhadap persoalan demokrasi yang sudah merundung manusia sejak hampir 2500 tahun. Teorema Kemustahilan Arrow dan problem keputusan demokratis yang diajukan Anthony Downs dan Mancur Olson adalah parafrase ekonomis dari kecaman tua terhadap demokrasi dengan kepentingan pribadi yang akan meledakkan chaos di mana, meminjam ejekan Socrates, bahkan keledai dan kuda pun tak mau minggir bila berpapasan dengan manusia. Dalam situasi seperti ini, demokrasi memang bisa menjadi sistem sosial politik yang paling memalukan di dunia. Sen menerobosnya dengan mengajukan berbagai strategi dan kebijakan afirmatif untuk membantu para demos (rakyat) naik menjadi kaum yang tahu, kaum yang diidealkan oleh Socrates dan Plato. Ringkasnya, pergulatan Sen dengan teori pilihan sosial dengan bagus mengembalikan demokrasi ke pentas pemikiran ekonomi; dan itu memberi warna pada penyataannya sekali waktu di Jepang, bahwa kemajuan terbesar dunia di abad 20 adalah menangnya demokrasi di hampir semua belahan bumi.

Indeks kemiskinan

Ilmu yang bisa diandalkan adalah ilmu yang alat ukurnya meyakinkan. Indeks yang mengukur aneka perbedaan dalam hal kesejahteraan dan pendapatan, diperlukan antara lain untuk memperbandingkan distribusi kesejahteraan di berbagai negara yang berbeda. Penyusunan indeks seperti itu adalah aplikasi terpenting teori pilihan sosial. Serge Kolm, Anthony Atkinson dan Amartya Sen dianggap sebagai ilmuwan-ilmuwan pertama yang menghasilkan karya-karya penting di bidang ini. Sekitar 1970, mereka memperjelas hubungan antara satuan yang disebut Kurva Lorentz yang menerangkan distribusi pendapatan, dan Koefisien Gini yang mengukur tingkat ketimpangan pendapatan, dan cara masyarakat mengatur distribusi pendapatan yang berbeda.

Alat ukur kemiskinan dalam suatu masyarakat adalah jumlah kelompok populasi (H) dengan pendapatan di bawah garis kemiskinan yang sudah dipatok sebelumnya. Tapi dasar-dasar teoretis bentuk pengukuran ini, tidaklah jelas. Ia juga mengabaikan tingkat kemiskinan di antara kaum melarat. Kendati ada peningkatan pendapatan yang cukup berarti dari kelompok paling miskin, hal itu tidak akan mempengaruhi H, selama pendapatan itu tak melewatai garis H. Untuk menebus kekurangan itu, Sen mempostulatkan lima aksioma, dan dari sana merumuskan sebuah Indeks Kemiskinan P = H . {I+(1-I).G}. G adalah koefisien Gini dan I adalah sebuah ukuran (antara 1 dan 0) dari distribusi pendapatan, keduanya dihitung hanya untuk orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Berdasarkan analisisnya yang terdahulu tentang informasi kesejahteraan individu, Sen menetapkan dalam kondisi apa indeks-indeks tersebut dapat dan perlu digunakan. Dengan itu, evaluasi dan perbandingan dapat dibuat sekalipun data-data yang ada masih problematis; hal yang seringkali terjadi di negara-negara berkembang di mana indeks-indeks kemiskinan justeru sangat diperlukan bantuannya.

Salah satu masalah yang muncul ketika membandingkan kesejahteraan kelompok masyarakat yang berbeda adalah bahwa banyak indikator yang umum dipakai, seperti pendapatan perkapita, hanya dapat menangkap keadaan rata-rata saja. Sen membangun beberapa alternatif yang berusaha mencakup distribusi pendapatan sekaligus menangkap variasi perbedaan-perbedaan dalam distribusi itu. Sen juga menegaskan bahwa apa yang membentuk kesejahteraan bukanlah barang-barang dalam dirinya, tapi kegiatan untuk memperoleh barang-barang tersebut. Menurut pandangan ini, income jelas signifikan karena kemungkinan yang diberikannya. Tetapi, kemungkinan-kemungkinan yang aktual —  atau kapabilitas, menurut Sen —  juga tergantung pada sejumlah faktor lain, seperti kesehatan dan pendidikan; faktor-faktor ini juga harus dipertimbangkan ketika mengukur kesejahteraan.

Semua prinsip etik yang kokoh memang mensyaratkan kesederajatan di antara individu, sampai pada tingkat tertentu. Namun karena kemampuan mengolah peluang, berbeda dari orang ke orang, maka masalah distribusi tak dapat dipecahkan sepenuhnya. Kesetaraan dalam dimensi tertentu akan mengakibatkan ketimpangan pada dimensi lain. Dimensi di mana kesetaraan diperjuangkan, dan dimensi mana ketimpangan harus diterima, semuanya tergantung pada penilaian atas dimensi-dimensi kesejahteraan yang berbeda. Analog dengan pendekatan perangkat ukur kesejahteraan, Sen menetapkan kapabilitas individual sebagai alat bagi dimensi dasar yang harus diperjuangkan sekerasnya demi kesetaraan.

Pandangan Sen mengilhami indikator kesejahteraan yang tiap tahun diumumkan PBB: Indeks Pembangunan Manusia (HDI) yang disusun oleh ekonom Pakistan yang juga sahabat karib Sen, Mahbub-ul-Haq. Indeks ini mengurut kedudukan negara-negara lewat kombinasi tiga faktor: pendapatan rata-rata, pencapaian pendidikan dan harapan hidup. Banyak memang yang dapat dicapai HDI, tapi ia belum juga dapat menjadikan sosok negara begitu transparan hingga segalanya nampak demikian jelas. Kepercayaan, inisiatif dan spontanitas adalah hal-hal yang belum terjangkau indeks. Tapi setidaknya, HDI telah membawa pesan penting Sen: pertumbuhan pendapatan tahunan tidaklah cukup. Masyarakat harus juga memprioritaskan tujuan-tujuan sosial, mendahulukan penduduknya yang paling menderita, merawat kebudayaan-kebudayaan lokal di tengah pertumbuhan ekonomi, dan membongkar bias gender yang berakar dalam agar ada investasi yang adil untuk anak-anak perempuan.

Analisa Kelaparan

Tahun 1973, Ashani Sanket (Guntur yang Jauh) lahir dari tangan Satyajit Ray, empu film yang membuat Akira Kurosawa berkomentar: mereka yang tak pernah melihat film-film Ray, berarti hidup di dunia tanpa pernah melihat bulan dan matahari. Film itu mengangkat bencana kelaparan pada 1943 di tanah kelahirannya, Bengal (kini wilayah Bangladesh). Di sana bencana itu diperlihatkan sebagai malapetaka buatan manusia, akibat histeria perang dan naluri manusia untuk menimbun, bukan oleh kekurangan produksi pangan. Sekian tahun kemudian, pada 1981, terbit karya monumental kedua Sen, Poverty and Famines: An Essay on Entitlement and Deprivation.

Bagi Sen, yang juga lahir di Bengal dan, seperti Ray, menghabiskan masa kanak dalam mileu yang berpusar pada sosok sastrawan Rabindranath Tagore, bencana di tanah asalnya itu punya akar sangat dalam. Dan analisis tradisional bencana kelaparan yang berfokus pada persediaan pangan, secara teoretik cacat, secara empiris janggal dan sangat berbahaya dari sudut kebijakan. Kajian Sen juga meliput bencana kelaparan Ethiopia pada 1973 dan 1974, Bangladesh pada 1974 dan negeri-negeri Sahel Afrika pada dekade 70-an. Analisisnya tentang bagaimana faktor-faktor sosial ekonomi yang berbeda mempengaruhi berbagai kelompok masyarakat dan peluang aktual mereka, menghadirkan bencana kelaparan sebagai kegagalan entitlement dan malapetaka ekonomi.

Sen menunjukkan bahwa bencana kelaparan Bengal 1943, misalnya, berawal dari sebuah boom ekonomi urban yang mengerek naik harga pangan. Jutaan petani dan pekerja di desa yang sekian lama dicabut haknya dan dipersempit jangkauannya oleh struktur sosial yang ada, mati kelaparan karena pendapatan mereka tak cukup untuk mencapai harga-harga tersebut. Keadaan ini diperburuk oleh watak penguasa yang mengangkangi India. India kolonial jelas bukan sebuah pemerintahan demokratis. Penjajah Inggeris memang tak bisa diharap punya cukup interest untuk menjenguk dan meyimak kaum miskin sekalipun bencana kelaparan mengobrak-abrik mereka.

Observasi politis ini, seperti ditulis Jeffrey Sach, ekonom Harvard yang membela adanya “Keajaiban Asia”, mengangkat apa yang bisa disebut Hukum Sen: kekurangan suplai pangan takkan menyulut kelaparan yang luas dalam sebuah sistem demokratis karena para politisi yang mewakili para pemberi suara akan melaksanan berbagai upaya penanggulangan. Sementara, suplai pangan yang menurun sedikit saja dapat membangkitkan bencana kelaparan di dalam masyarakat yang tidak demokratis.

Perhatian Sen pada kelaparan yang disebutnya gejala ekstrim deprivasi dan kemiskinan, itu dilengkapi dengan perhatian besar pada masyarakat miskin yang tingkat kesehatan dan pendidikannya mencapai standar tinggi. Costa Rica, misalnya, yang rerata income perkapitanya hanya sekitar seperempat dibanding Amerika, mencapai tingkat harapan hidup sepanjang 76 tahun – hampir setara AS. Itu semua terjadi karena Costa Rica, dibawah pemerintahan Jose Maria (Don Pepe) Figueres Ferrer, telah membubarkan angkatan bersenjatanya sejak 1949 dan memusatkan anggaran belanja negaranya pada pendidikan dan kesehatan dasar. Kehadiran angkatan bersenjata memang bisa jadi masalah, dan pengelolaannya yang kurang bijak bukan saja akan ikut memperpendek tingkat harapan hidup di sebuah negeri, tapi juga membuat lebih banyak populasi berenang dalam lautan kemiskinan yang lebih ganas.

Meski sejumlah kritik telah meragukan validitas dan beberapa hasil riset dalam Poverty and Famine, buku tersebut tetaplah sebuah sumbangan penting untuk ekonomi pembangunan. Karya-karya selanjutnya yang dibukukan bersama ekonom Belgia Jean Dreze (Hunger and Public Action, 1989) membahas bagaimana mencegah bencana kelaparan dan membatasi efek bencana itu jika terlanjur terjadi. Buku lainnya bersama Dreze, India: Economic Development and Social Opportunity, adalah naskah yang juga kuat dengan semangat aktifis.

Kebebasan Individual

Development as Freedom, bisa dianggap sebagai simpul besar dari dasar filosofi, alur argumentasi dan tujuan yang dicita-citakan oleh Sen dalam pembangunan. Di sana Sen mengutip Upanishad, dan membahas keutamaan “Jalan Tengah” ajaran Budha untuk menjembatani dua kutub besar yang terbelah oleh ide pembangunan. Di satu kutub adalah kekuatan mapan pembangunan —  para pakar kebijakan Barat, pemikir ekonomi di Bank Dunia dan lembanga-lembaga utang lain. Buat mereka, pembangunan yang berarti pertumbuhan ekonomi yang cepat, “mustahil tanpa perubahan yang berat”.

Kalimat yang tertera di sebuah dokumen PBB pada 1951, itu menjadi spirit dari pembangunan dunia, yang oleh Majid Rahnema, pakar pembangunan Iran, disebut sebagai “jenis invasi virus AIDS” yang disebarkan ke kebudayaan dan masyarakat negeri-negeri berkembang. Sebutan Majid bisa dikategorikan ke kutub kedua; kutub yang dalam literatur mutakhir memproduksi wacana “penampikan seluruh paradigma pertumbuhan”, dan perlunya membawa dunia masuk era “pasca-pembangunan”.

Jalan tengah yang diajukan Sen disusun lewat uraian dan pembelaan pendekatan tertentu atas pembangunan sebagai proses pengembangan kebebasan substantif yang dimiliki manusia. Kebebasan bukan saja tujuan tertinggi pembangunan tapi juga cara paling efisien mewujudkan kesejahteraan umum. Perspektif kebebasan digunakan sebagai analisis evaluatif untuk memeriksa perubahan, dan analisis deskriptif-prediktif dalam melihat kebebasan sebagai faktor penentu dalam menggerakkan perubahan yang cepat. Ia juga membahas implikasi pendekatan ini bagi analisa kebijakan dan bagi pemahaman atas kaitan umum ekonomi, politik dan masyarakat.

Kebebasan memang punya aspek-aspek yang berbeda, berkaitan dengan berbagai institusi. Karena itu, mustahil secara epistemologi dan berbahaya secara sosial politik jika muncul satu pandangan pembangunan yang diterjemahkan menjadi rumus sederhana akumulasi kapital, atau pembukaan pasar, atau perencanaan ekonomi yang efisien (walau masing-masing hal tersebut tak bisa diabaikan). Prinsip yang menyatukan seluruh lembaga dan formula yang serba berbeda itu adalah kepedulian yang bersifat merangkum, dengan proses perluasan kebebasan individu dan komitmen sosial untuk mewujudkannya.

Pergumulan teoritik Sen yang mencakup alokasi sumber-sumber dalam sistem non-gaji, shadow pricing, kebijakan pekerjaan, ketimpangan gender, hingga kebudayaan lokal dan hak asasi manusia, semuanya diikat oleh benang merah bahwa kepedulian utama ilmu ekonomi adalah manusia; memaksimalkan “kapabilitas” manusia – kebebasan untuk meraih jenis kehidupan yang mereka hargai, dan punya alasan kokoh kenapa dihargai. Tokoh yang ikut memberi wajah manusiawi dari sebuah filsafat moral universal pada ekonomi itu, tampaknya memang punya konsern pada seluruh rentang pengalaman manusia. Dengan karakterisasinya sendiri, buku-buku Sen sungguh bisa disebut mewakili titik balik ke “pendekatan terpadu” dalam ilmu ekonomi seperti dirintis Adam Smith, dengan pendekatan rasional dan empiris yang justeru membuat manusia jadi unsur terpenting.

Masalah terbesar dari mereka yang bergulat dengan hal-hal besar dan kekal adalah jebakan untuk mengulang-ulang kebenaran yang sudah diketahui umum. Para pengritik Sen sering menuduhnya sekedar membahas hal yang sudah jelas. Begitu jelas hingga seorang penulis India konon mengolok-olok dengan menyatakan bahwa buku Sen, khususnya Poverty and Famine, membahas sesuatu yang setiap gepeng (gembel dan pengemis) dan mbok-mbok sudah pada tahu. (Sesaat setelah panitia Nobel megumumkan nama Sen, sebuah serangan muncul di Wall Street Journal, dan mengatakan: pada bagian di mana Sen akurat, di situ ia tidak luar biasa).

Inti buku-buku Sen yang ditulis dengan kalimat-kalimat lurus itu mungkin memang sederhana, tapi ia menopang penjelasan dan argumennya dengan model-model matematis dan data rinci makroekonomi. Dari uraian yang menampik “punya wawasan orisinal” itu, terhampar pemahaman sistematis bagaimana deprivasi daya beli meledakkan kelaparan, misalnya, dan terbuka pula program aksi untuk mengatasinya. Tak mudah memang mengubah pengetahuan intuitif jadi pengetahuan yang bukan hanya bisa menjelaskan keadaan tapi juga mengubahnya; yang bisa menunjukkan dengan jelas dan rinci bagaimana, kapan, seberapa jauh dan oleh siapa perubahan harus dilaksanakan.

Selain konsernnya yang kuat pada manusia, khususnya kaum paling melarat, Sen meyusun pengetahuan operasionalnya lewat bantuan matematika. Sen mewarisi bakat matematis dari ayahnya, dan membangunnya jadi keterampilan yang memberinya legitimasi di antara para ekonom arus utama, yang memungkinkannya sampai pada pandangan-pandangan yang tidak ortodoks, dan punya otoritas untuk menyebarkan pandangan itu. Bagi mantan presiden Masyarakat Eknometrika Dunia ini, matematika adalah salah satu pencapaian terbesar kecerdasan, dan jangkauannya tak terbatas hanya pada hal-hal yang dikerjakan para ilmuwan di kampus. Matematika jelas bisa juga untuk menggertak dan menipu, dan memang belum mampu menjelaskan segala hal. Tapi jika orang bilang bahwa sesuatu tak dapat dikuantifikasi terlalu persis, seperti kata Sen: mereka betul hanya meremehkan jangkauan matematika, yang terus meluas karena kemampuannya mengkritik diri.

Dalam spirit pembangunan sebagai kebebasan itu, menarik juga membayangkan munculnya sebuah ranting kecil dalam cabang ekonomi pembangunan di mana kesejahteraan tak cuma diukur pada apa yang dimakan, tapi pada apa yang diciptakan. Bukan hanya pada seberapa besar kebebasan yang dipunya untuk memilih hidup yang layak, tapi juga pada seberapa besar sumbangan kreatifnya pada lingkungan dan kehidupan. Ekonomi penciptaan seperti ini antara lain menyidik sistem alokasi sumber-sumber untuk mendorong dan mengokohkan tradisi kreatif, yang bukan sekedar aktivitas produksi, di masyarakat luas.

Yang pasti, Sen telah ikut mengoreksi kemuraman dan kebuntuan ekonomi, akibat asumsi keliru bahwa kodrat manusia egotis (dan mengejek kapasitas manusia untuk berbagi dan berubah); dan bahwa manusia senantiasa rasional (terutama rasional dalam egotismenya, dan menampik kapasitas mereka untuk bertindak “gila”). Bagi Sen, bahkan masyarakat-masyarakat yang dipermiskin, dapat dan sanggup memajukan kesejahteraan dari anggota-anggotanya yang paling tertinggal. Itu artinya, dunia kita yang penuh ketimpangan ini, sesungguhnya adalah dunia yang bisa memperbaiki diri; asalkan penghuninya dapat menerima kebebasan individual sebagai komitmen sosial, dan punya cukup kehangatan hingga sanggup berkata, meminjam baris Sutardji Calzoum Bachri yang kerap dikutip: yang tertusuk padamu berdarah padaku.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di Bentara-KOMPAS, 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: