Agama

September 14, 2008

Siklus

Lebaran agaknya memang momen pertautan alam (nature) dan budaya (culture) yang paling masif di Indonesia. Entah siapa yang pernah bilang bahwa lebaran, tepatnya ritus mudik yang menakjubkan itu, mirip betul dengan aktifitas tahunan ikan salmon Amerika, belut laut Jepang atau angsa liar Kanada, yang setelah mengembara menjelajahi hampir separuh belahan bumi, akhirnya kembali lagi ke tempat asal untuk meletakkan telur: tempat yang sama di mana mereka sendiri dan segenap leluhur mereka ditetaskan. Dalam siklus tahunan yang berat itu, terhampar kehidupan yang terus-menerus memperbaharui dirinya, bioorganisme yang menyambung keberlanjutan spesiesnya dalam sebuah rantai regenerasi yang tak pernah putus sejak jutaan tahun yang silam.

Di hampir setiap kesempatan, para ulama dan cendekiawan muslim, terus-menerus menegaskan betapa puasa adalah perintah agama yang telah melintasi banyak sejarah. Puasa adalah ibadah yang telah dikerjakan oleh anak cucu Ibrahim, bahkan sebelum Islam lahir di Jazirah Arab. Dengan berbagai versinya, puasa memang bisa ditemui di berbagai agama dan kebudayaan, dan berkait erat dengan gagasan penyucian diri, dengan kelahiran kembali dan peningkatan derajat diri.

Yang menarik pada puasa di Indonesia adalah bahwa ibadah menahan diri ini tampak jadi seperti peristiwa pelepasan: pengumbaran. Mungkin karena sifat massalnya, Ramadan seakan menjadi festival nasional yang untuk sementara waktu mengubah sejumlah denyut kehidupan. Nada-nada dan citraan-citraan berkonotasi religius yang selama ini tersimpan agak di sudut, tiba-tiba muncul merajalela. Media cetak dipenuhi banyak tulisan tentang Ramadan dan pedoman pelaksanaannya. Musik-musik nasyid dan album lama Bimbo mengalun di mana-mana. Acara TV dan iklan-iklan juga disesuaikan dengan suasana Ramadan. Karena perubahan atmosfir itu, ditambah dengan peningkatan pemakaian busana muslim dan penggunaan salam dalam Bahasa Arab, bisa dikatakan bahwa terjadi semacam Islamisasi tahunan di Indonesia pada bulan istimewa itu.

Uraian tentang Islamisasi tahunan ini bisa ditemui di buku André Möller, peneliti Swedia, Ramadan di Jawa: Pandangan dari Luar (Jakarta: Penerbit Nalar, 2005). Dalam buku yang berasal dari disertasi itu, Möller yang tidak cuma ikut menunaikan shalat Tarawih itu, mencatat banyak hal yang menyanggah sejumlah stereotype tentang Islam dan Jawa. Möller juga menandaskan betapa ibadah menahan lapar, haus dan syahwat yang bagi orang luar mungkin tampak tak tertahankan, ternyata adalah kegiatan yang manis dan menyenangkan. Ikatan-ikatan komunal yang selama ini merenggang akibat hempasan kehidupan dunia, kembali dipererat dan dipertautkan lagi. Yang masuk dalam pertautan itu, bukan hanya mereka yang masih hidup, tapi juga mereka yang sudah meninggal. Semua anggota masyarakat dari berbagai lapis usia, laki dan perempuan, terlibat antusias sesuai dengan posisi dan kerja yang diperuntukkan baginya.

Bagi Möller, Ramadan di Jawa seolah-olah telah menjadi saksi atas pernikahan antara Agama Islam dan Kebudayaan Jawa. Puasa pun membuat banyak orang kembali ke kehidupan yang lebih Islami pada bulan yang penuh berkah ini. Momentum inilah yang hendak digunakan oleh sejumlah aktivis Islam untuk membuat permanen Ramadan sepanjang tahun, untuk — meminjam judul buku yang disunting Ramli Bihar Anwar — Meramadankan Semua Bulan. (Jakarta: Penerbit IIMan dan Penerbit Hikmah, 2002).

Kalau saja ada penelitian yang bisa menunjukkan, bahwa selain meningkatkan ketaqwaan dan memperbaiki metabolisme tubuh, Ramadan juga meningkatkan produktivitas nasional, membuat ummat lebih sanggup memikul tugasnya sebagai khalifah di Bumi, maka gagasan meramadankan semua bulan akan menjadi gagasan yang layak disambut. Sebagai sebuah sistem epistemik besar yang peduli pada kemaslahatan manusia, agama wajib terlibat memikirkan peningkatan kemampuan ummat menyelesaikan persoalan-persoalan besar berskala luas. Sementara itu, sebagai khalifah di Bumi, manusia tentu wajib memahami aktifitas Bumi agar tak mati konyol tergilas aktifitas planet itu, lalu sibuk  mewek tersedu-sedu mempertanyakan iradat Tuhan di balik semua kejadian itu.

Ada memang yang meremukkan hati saat melihat tsunami menelan separuh Aceh dan gempa melantak separuh Islamabad. Tentu banyak yang berterima kasih pada upaya sejumlah ulama dan intelektual memberi penjelasan religius yang kemudian memistifikasi kejadian-kejadian besar yang menelan banyak korban jiwa itu dan akhirnya meminta ummat untuk bersabar dan meningkatkan taqwa. Yang luput dari penjelasan religius itu adalah bahwa sesaran tektonik di dasar laut yang melontarkan tsunami, erupsi vulkanik yang melontarkan lahar, adalah aktifitas geofisika Bumi yang alami. Aktifitas ini bahkan berfungsi besar dalam membangun kehidupan di Bumi. Gas-gas yang terperangkap dalam perut bumi tapi kemudian lepas masuk atmosfir akibat sesaran tektonik yang ikut mengakibatkan tsunami itu, telah membuat atmosfir menjadi lingkungan yang mampu memangku kehidupan. Tanpa aktifitas-aktifitas alam yang berskala besar itu, kehidupan di Bumi mustahil muncul.

Sebagaimana ummat meremajakan keimanannya dalam sebuah siklus tahunan, Bumi pun meremajakan dirinya dalam sebuah siklus, meski bukan siklus tahunan.

Karena itu, menyebut gempa bumi, letusan gunung berapi dan berbagai gejala fisik planet itu sebagai  murka Ilahi, sama saja dengan menyebut terbitnya fajar atau meruahnya wangi kemuning tiga malam seusai hujan besar sebagai amarah Tuhan: penyebutan yang jelas-jelas lebih menunjukkan tabiat manusia ketimbang hakikat Ilahi. Selain bisa terlihat sebagai kebelum-mampuan untuk bersyukur, penyebutan berbagai gejala alam berskala besar sebagai murka atau ujian Ilahi, akan juga tampak sebagai sebentuk fitnah massal tak berkesudahan terhadap Tuhan.

Yang tak kalah buruk adalah: pengertian tentang bencana alam dan murka Ilahi — setelah memfitnah Tuhan — akan  benar-benar membuat konyol kematian puluhan bahkan ratusan ribu nyawa. Pengertian itu dapat membekukan imajinasi dan daya tindak untuk mencegah berulangnya kematian-kematian serentak, mencegah benturan kepentingan manusia dengan aktifitas bumi dan bagian-bagiannya yang sedang menuntaskan siklusnya. Penjelasan problematis tentang intervensi Ilahi, tidak akan mendorong habis ummat menyusun agenda sistematis buat memantau dan mengaji aktifitas bumi, dan bisa membuyarkan kesempatan untuk mensyukuri dan memanfaatkan gempa 10 skala richter.

Padahal, bukan hanya gerak inti bumi penyebab gempa itu bisa dimanfaatkan. Bahkan rontoknya bintang-bintang dan lepasnya tiang pancang gunung-gunung yang dalam narasi religius klasik sering ditampilkan sebagai hari kiamat, itu tak lain hanyalah aktifitas alam berskala lebih gede; dan karena itu, juga dapat dimanfaatkan sebagaimana para leluhur manusia memanfaatkan sekaligus mensyukuri datangnya musim hujan, atau berubahnya arah angin di siang dan malam hari, menurut siklusnya masing-masing.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di Majalah Azzikra, edisi November 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: