Film

September 13, 2008

Kura-kura

Semesta kanak-kanak dan semesta agama-agama agaknya memang punya hubungan yang istimewa, dan itu terjalin bukan karena kaum beragama bisa bertindak kekanak-kanakan, dengan daya rusak yang berada sangat jauh di atas jangkauan anak-anak. Hubungan itu terbentuk karena semesta kanak-kanak mencitrakan semesta yang jujur dan penuh prasangka baik, semesta yang murni dan tampak belum dirusak oleh keterlanjuran sejarah dan keruntuhan dunia manusia — semesta ideal yang tentu saja dimuliakan oleh semua agama.

Di dunia Islam kontemporer, hubungan ini terlihat cukup jelas pada sejumlah film yang dibuat dengan latar belakang Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara, dua kawasan yang memang banyak menghasilkan film bermutu yang dihargai di kancah antarbangsa. Majid Majidi, sutradara Iran, adalah bagian dari kaum pencipta gambar bergerak yang paling menonjol mengangkat dunia kanak-kanak yang mencengangkan itu, yang tampak misalnya pada film Colour of Paradise (1999). Hubungan yang disinggung di awal tulisan ini disajikan Majidi paling jelas pada film dia yang lebih dahulu, Children of Heaven (1997), yang kemudian mengilhami orang di Singapura untuk membuat film Homerun (2003).

Bahman Ghobadi, sutradara Kurdi, juga menghadirkan dunia kanak-kanak dalam filmnya, namun dengan semangat yang berbeda, bahkan tampak berlawanan. Perbedaan itu sudah terasa sejak film panjang dia yang pertama, A Time for Drunken Horses (2000), dan kian menonjol pada film panjangnya yang ketiga, Turtles Can Fly (2003). Film yang juga dibintangi oleh anak-anak awam yang tak terdidik sebagai aktor, ini dengan sangat bagus menjadi alegori tentang umat Islam dan sejarah kontemporer. Tiga tokoh utamanya melambangkan tiga unsur paling penting dalam kecamuk problem kontemporer masyarakat muslim, yakni problem tanah air, sejarah masa silam, dan eksistensi hari depan. Dua problem terakhir itu berpaut dengan soal kepemimpinan ummat: tradisional atau modern.

Tokoh “Satelit” yang diperankan oleh Soran Ebrahim, remaja tanggung yang menjadi kakak pemimpin dari separuh anak-anak di wilayah yang penuh sejarah pahit itu mewakili type pemimpin modern, impian masa depan. Berkacamata sangat lebar, ia tak jarang berbohong membesar-besarkan perannya, tentu saja untuk membuat orang lain makin terkesan. Dengan bakat alamiah memanipulasi citra sendiri lewat bentuk primitif rekayasa imagologi, ia menjadi satu-satunya orang yang bisa memasang parabola penangkap siaran yang dipancarkan lewat satelit (dari sinilah lahir nama gaulnya). Satelit juga berlagak — setidaknya berupaya agar — fasih berbahasa Inggeris, dan memuji segala hal yang dibikin Amerika.

Tapi pembual tampan berselera bagus inilah yang memberi para anak yatim dan bocah pengungsi  itu kerja untuk melanjutkan hidup. Dia pula yang mengatur pembagian tugas pembersihan ranjau serta penjualan senjata pembunuh itu, dan memimpin pembangunan kubu pertahanan menjelang datangnya perang baru. Dan, ketika keadaan menuntut, Satelit bersedia melakukan apa saja, termasuk mengorbankan nyawa, untuk orang yang dibelanya. Sebagai pemimpin massa di kancah revolusi kecil-kecilan, Satelit dibantu oleh dua orang panglima mungil yang sangat loyal, yakni si pincang Pasheo (Saddam Hossein Feysal) dan si cengeng Shirko (Ajil Zibari). Penampilan fisik panglima-panglima ini memang sekilas tak menimbulkan rasa hormat, bahkan mungkin membangkitkan rasa kasihan. Tapi, di tengah krisis, mereka memperlihatkan kebesaran yang jarang dipunyai oleh orang-orang dewasa berbadan normal dan punya kehidupan sosial ekonomi yang lebih beruntung.

Para pemimpin tadisional yang memegang sejarah masa silam dan masih sangat berpengaruh di sebagian besar masyarakat Islam, khususnya masyarakat rural dan agraris, diwakili sosoknya oleh Hangao (Hiresh Feysal Rahman), seorang anak yang kehilangan kedua lengannya, namun yang sanggup melakukan pekerjaan ajaib yang mustahil bagi akal sehat. Anak pendiam yang mampu menjinakkan ranjau dengan giginya, ini memiliki kemampuan profetik memberi nubuat yang tak pernah keliru. Di tengah situasi yang tak menentu, kemampuan profetik Hangao, seperti juga kemampuan teknis Satelit, menjadi suatu yang amat berharga, sehingga seorang dokter tua (lambang hasrat penyembuhan penyakit sejarah) bolak-balik menembus perbatasan Irak—Iran hanya untuk menemukan Hangao. Yang menyesakkan nafas adalah bahwa kemampuan Hangao untuk melihat masa depan tak membuatnya sanggup memberbaiki masa kini apalagi untuk mengubah masa depan itu. Bahkan, kemampauan profetik itu seperti sebuah ranjau yang setiap saat bisa meledak: setiap kali ia membuka rahasia masa depan, setiap kali itu pula Hangao dan keluarganya ditimpa nasib buruk.

Agrin (Avaz Latif), adik kandung Hangao yang menyedot pikiran Satelit, adalah wakil dari ibu pertiwi, tanah air yang tertindas. Gadis kecil yang diperkosa oleh gerombolan tentara pendudukan ini, terpaksa melahirkan seorang bayi yang tak pernah berhasil ia cintai sepenuhnya. Agrin bagaikan sebuah negeri yang dipaksa untuk menampung sebuah sejarah yang berlumur aib dan hendak dikubur dalam-dalam. Bayi yang lahir dari rahim Agrin, yakni Rega (Abdol Rahman Karim), tumbuh menjadi seorang anak yang buta, yang selalu memanggil ayah kandung yang tak jelas itu, dan senantiasa berupaya — dengan cara yang tak tercerna logika — mencegah ibu kandungnya bunuh diri.

Anak-anak dengan daya hidup yang menakjubkan ini bertemu di perbatasan Irak Turki, menjelang kejatuhan Saddam Hussein. Wilayah yang dihuni oleh kaum Kurdi itu adalah wilayah yang sejak dulu tercabik oleh perang dan kemelut. Pencabikan itu tak sekedar memisahkan anak-anak dari orang tua mereka yang ditembaki dengan peluru dan bom kimia; dan anak-anak hidup sebagai yatim yang melanjutkan nafas dengan menjadi pemulung ranjau dan berbagai sampah perang yang setiap saat sanggup mencabut nyawa mereka, setidaknya memisahkan mereka dari tangan dan kaki mereka. Pengoyakan itu juga tak cuma memisahkan para suami dan isteri hanya karena daerah asal mereka yang terpisah beberapa ratus langkah itu tiba-tiba dilewati oleh garis perbatasan negara. Pencabikan itu juga memisahkan sebuah masyarakat dari siaran yang dipancarkan dari angkasa, memutuskan mereka dari berita-berita penting dunia luar.

Upaya untuk menautkan diri dengan angkasa, dengan dunia luar, menjadi motif yang membuka film ini. Tapi dunia luar datang dengan “problemnya” sendiri. Mula-mula berupa kanal siaran haram yang dianggap harus disensor, yakni siaran dari negeri-negeri yang menyajikan musik dengan tubuh yang meliuk setengah terbuka. Lalu datanglah angkatan perang dengan seragam belang putih, yang menyiarkan pernyataan : “Kami akan mengubah negeri ini menjadi surga. Kami datang untuk memecahkan masalah kalian. Kamilah yang terbaik dan terkuat di dunia; yang tak bersama kami adalah musuh.

Film ini ditutup dengan adegan tercerai berainya anak-anak tangguh yang setiap saat menyabung nyawa di padang ranjau untuk sekedar menyambung nyawa hingga besok pagi itu. Ada yang pergi mencari masa depan yang lebih baik seperti Si Cengeng Shirko yang bergabung dengan pamannya di kota setelah meninggalkan pecahan patung Saddam Hussein dan sekantong ikan merah buat Satelit. Ada juga yang pergi karena tak sanggup menghadapi masa depan, seperti si gadis kecil Agrin. Tertindih oleh beban pemerkosaan yang menimpanya, Agrin membuang dirinya ke dalam jurang yang sangat dalam. Sebelumnya, ia menenggelamkan sendiri anaknya yang tuna netra dengan mengikatnya pada batu besar menggunakan tali pemberian Satelit. Rega diceburkan ke dalam danau kecil yang tadinya penuh dengan ikan-ikan merah yang dicari oleh Satelit. Hangao, sang peramal sakti, berjalan tak menentu dengan hati remuk mengetahui peristiwa yang terjadi pada adik perempuannya, juga kemenakannya. Satelit pun, akhirnya pergi dengan kaki yang pincang, berjalan entah ke mana, membawa sepotong ramalan Hangao. Dengan menyeret langkah, ia menghilang menentang arah kedatangan para pasukan koalisi PBB pimpinan Amerika yang dulu ia puja sepenuh hati tapi yang kini tak terlalu menarik perhatiannya lagi (pasukan yang terpaksa hanya  bisa sibuk dengan urusannya sendiri dan tampak tak mempedulikan sama sekali kenyerian hati Satelit dan rakyatnya).

Kura-kura yang punya harapan untuk terbang, memang bisa mewujudkan harapan mustahil itu hanya dalam dongeng kanak-kanak. Meski dipersembahkan buat semua anak-anak di dunia yang menjadi korban kebijakan politik para fasis dan diktator, Ghobadi menolak membuat filmnya menjadi dongeng optimis kanak-kanak. Mirip dengan film panjang pertamanya, Turtles Can Fly adalah film dengan realisme yang menikam, bahkan mungkin sarkastis. Bagi Ghobadi, harapan mungkin penting, tapi lebih penting lagi adalah kejujuran; keberanian untuk memblejeti kekurangan diri sendiri dan kegigihan menempuh rasa sakit keluar dari cangkang religio-kultural. Harapan yang palsu dan membius memang berbahaya, dan ummat sebaiknya diajak untuk melihat kenyataan beserta segala kebuasannya dengan mata yang tak berkedip.

Turtles Can Fly tamat dengan menyajikan teks subversif yang dapat menjadi pelajaran bagi ummat yang bertarung menghadapi cengkeraman sejarah dan pusaran masa depan. Sebuah ummat, sebuah bangsa, termasuk yang juga telah melahirkan seorang Salahuddin Al Ayyubi, mungkin memang bisa selamat jika berhasil menautkan kebijakan dan kewaskitaan tradisional dengan kemajuan dan kecerdasan avonturistik modernitas. Namun, kesanggupan menggabungkan dua corak kepemimpinan itu sendiri, meski penting, ternyata bukan satu-satunya syarat penyelamat di tengah dunia yang telah berkembang begitu dahsyat dan rumit.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di Majalah Azzikra, edisi Juni 2006

One Response to “Film”

  1. Rino 009 Says:

    the movie is great..
    dan membuatku tersentuh hati…
    jazakalloh/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: