Teater

September 11, 2008

Komposisi dan Bangsa

Pentas Je.ja.l.an Teater Garasi adalah pentas keberhasilan komposisi. Hampir seluruh unsur utama yang bermain dalam pementasan, dengan bagus dijalin menjadi bangunan pertunjukan yang kompak.

Komposisi Je.ja.l.an bergerak progresif dari sebuah keadaan dengan tingkat keacakan yang optimum, yang pada suatu babak meledak jadi sebuah khaos yang diisolir, untuk kemudian dengan bertahap mengendap jadi renungan tentang bangsa.

Pertunjukan, agaknya, dimulai dengan dibukanya pintu gedung Teater Luwes, IKJ. Kata “agaknya” ini perlu dipakai untuk menunjukkan bahwa tak ada awal yang tegas dalam pertunjukan ini, sebagaimana tak ada batas-batas ruang pertunjukan yang jelas. Dengan itu agaknya Garasi ingin mengikuti apa yang pernah dikerjakan Cornelius Escher dengan lithografi:  mengganggu bahkan menghapus batas antara “realitas” dan “pentas”, antara kehidupan sehari-hari dan karya seni.

Batas-batas memang luluh, dan suasana dalam gedung pertunjukan yang diisi oleh sekitar 200 manusia itu seperti mencangkok dan memindahkan kenyataan di luar gedung: seliweran orang dengan segala soal dan kesibukannya yang umum ditemui di pasar kaget atau pasar senggol; di hajatan rakyat yang tak jarang pestanya meluber hingga ke jalan. Di sana tampak juga kesibukan para pekerja membangun infrastruktur, keasyikan orang main kartu di gardu ronda, hingga kesuntukan para perempuan di gerai penuh kelip lampu yang ditawarkan buat mereka yang sedang tidak di rumah dan hormonnya tengah mendidih. Beberapa sosok berseragam polisi anti huruhara seakan menyarankan persiapan aksi jalanan yang biasanya dikerjakan para mahasiswa, kendati kali ini tanpa dukungan aktif deretan panser dan tembakan bom gas air mata.

Di tengah keasyikan berbaur bertegur sapa sambil mencicip suguhan minum yang disajikan oleh “pelayan” yang berseragam, tiba-tiba muncul barisan drum band  dengan mayoret Sri Qadariatin: kehadiran mereka membelah dua kerubungan itu dan menyiapkan ruang pada babakan berikutnya. Sebelum kembali saling taut seperti kiambang, celah yang terbentuk segera ditangkap oleh Jamaluddin Latif yang sebelumnya berperan sebagai anggota front pejuang surga, lengkap dengan atribut religius dan kotak amalnya. Jamal, kini mengenakan jaket almamater sebuah kampus, mencoba menyampaikan pengantar singkat. Setelah menyambut hadirin dan menyilakan mereka menduduki tempat, ia menjelaskan, misanya, mengapa ada penonton yang memperoleh meja dan yang lain tidak : representasi perbedaan kelas sosial yang hadir dalam kehidupan nyata. Jamal juga menyinggung situasi dunia kontemporer yang tampak terlalu sibuk tunggang langgang mengejar entah apa.

Drum band yang disukai para prajurit dan pengantar diskusi yang akrab dengan para intelektual adalah unsur penting dalam pertunjukan itu : drumb band mendesakkan tatanan dan Pengantar Jamal memberi perspektif. Keduanya adalah unsur yang menandakan perubahan dari “chaos” menuju “kosmos”, dari sekedar representasi kenyataan menuju “interogasi” atas kenyataan itu.

Interogasi yang dikerjakan Garasi dengan pintar itu, dilakukan dengan membeberkan banyak hal yang berjejal di jalan; dan segala hal yang seringkali kita temui di sepanjang jalan, kecuali mungkin banjir dan tabrak lari, dihadirkan kembali di pentas dengan tertata. Meski tak ada tabrak lari, namun pertunjukan menyuguhkan banjir benturan yang berlangsung di segala tingkat. Yang bersitubruk  bukan lagi sekedar hal-hal yang sangat konkret berupa upaya untuk bertahan hidup. Yang bentrok juga adalah hal-hal yang abstrak berupa pandangan dunia (dan akhirat), tentang bagaimana sebuah bangsa sebaiknya diatur.

Interogasi yang dilakukan Garasi memang bermula pada dunia kontemporer pada umumnya (telaah sosiologis a la Runaway World Anthony Giddens banyak dimanfaatkan di bagian awal pertunjukan), tapi kemudian mengerucut pada realitas Indonesia. Jalan yang dijadikan pentas itu diisi antara lain oleh tubuh-tubuh yang terseret sempoyongan, tertarik oleh kekuatan di luar dirinya;  pelacur sedih tanpa harapan yang bekerja membuka tungkai secara mekanis; lelaki necis yang juga melepaskan hajat seksual secara mekanis di atas gulungan kasur yang adalah bagian karya instalasi Mella Jaarsma berjudul Rubber Time. Di antara semua itu, sajak Chairil Anwar dan teks Hamlet Machine Heiner Müller dicuplik dengan enteng, naskah ‘Slamet’ dari Catatan Pinggir Goenawan Mohamad dibacakan dari ketinggian, dan pidato Bung Karno serta berita kegusaran Persiden SBY pada peserta yang tertidur saat ia menyampaikan pidatonya terdengar mengalun di langit-langit gedung.

Garasi begitu efektif menggarap semua benturan ini sehingga lirik ‘betapa bahagia rakyat Indonesia’ dari lagu bertajuk Oentoek PJM Presiden Soekarno yang dinyanyikan Lilis Suryani sayup-sayup terdengar jadi ‘betapa celaka rakyat Indonesia…’

Interogasi realitas indonesia itu dilakukan dengan sadar diri, tanpa heroisme yang menggelembung. Beberapa kali, interogasi itu seperti dilunakkan oleh sindiran yang dihadirkan, misalnya, oleh Bahrum dengan rap-nya. Garasi jelas berhasil mengendalikan diri agar tak terjerumus ke dalam sinisme, penyakit yang biasa menjangkiti para intelektual ketika mengevaluasi kondisi bangsa. Adegan akhir pertunjukan ini adalah Bahrum yang sedang sendiri bermain bulu tangkis, olah raga yang dulu begitu berjasa mengangkat nama Indonesia di gelanggang dunia. Bahrum yang bermain sendiri, tampak pensive dan hati-hati memainkan raket dan shuttlecock-nya. Shuttlecock yang melitas pelan di atas gulungan kasur instalasi Mella Jaarsma yang konon menjadi bagian dari objek dan imaji awal yang menjadi pijakan penciptaan Je.ja.l.an, seperti menghadirkan harapan yang tahu diri dan tak ingin lupa pada korban-korban yang telah bergelimpangan.

Garasi menyebut Je.ja.l.an sebagai pertunjukan teater tari dan teater imaji. Di permukaan, pertunjukan ini memang bisa disebut teater yang mengandalkan tari dan imaji, tapi yang tertinggal pada saya bukan melulu tari dan imaji itu. Saya tergoda menambahkan sebuatan lain yang di Indonesia mungkin terasa agak berlebihan: teater gagasan. Sebagai teater gagasan, kekuatan utama Je.ja.l.an memang bukan pada kemampuannya membangkitkan gagasan besar: pertunjukan ini belum berhasil menawarkan sebuah gagasan yang bisa membuat kita melihat kenyataan secara lain. Pencapaian terbesar Je.ja.l.an adalah pada penataan berbagai gagasan dan aspirasi yang bertabrakan itu, dan ia berhasil membuat kita menghayati kenyataan, khususnya kenyataan Tanahair, secara lebih intens.

Di saat Tanahair sedang memperingat 100 tahun Kebangkitan Nasional, 80 Tahun Soempah Pemoeda dan 10 Tahun Reformasi, pementasan Je.ja.l.an adalah persembahan yang bagus buat peringatan besar itu.***

Catatan teknis:

Je.ja.l.an dipentaskan di Jakarta pada 23-24 Mei, 2008 (sebelumnya di Yogyakarta pada 16-17 Mei).  Elemen-elemen teknis yang tergarap cukup bagus, berhasil menopang kekuatan terbesar pertunjukan ini yakni komposisi gagasannya. Tata cahaya di Teater Luwes, mungkin tak terlalu optimal, namun tata suara berhasil menghadirkan musik yang merapikan segenap jejalan imaji dan gerak, mengendalikan seluruh ketegangan dan benturan. Durasi ringkas sekitar 75 menit, itu ditangani sangat baik membuat Je.ja.l.an yang menggarap tema kota, berakhir jadi sebuah Kaleidoskop Bangsa.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: