Film

September 11, 2008

Burung

Film-film paling “religius” yang menarik ditonton dalam beberapa tahun terakhir adalah film yang bintangnya bukan manusia. Film-film ini tak menguarkan sebaris ayat pun, dan yang terindah di antaranya adalah  yang tampak berusaha menekan kehadiran kata, sambil bertumpu sangat kuat pada keampuhan gambar. Para pembuat film yang berasal dari Perancis, punya peran yang agak istimewa dalam khazanah gambar bergerak puitis yang sangat kukuh mengusung semangat ilmu ini.

Sepuluh tahun silam, Jaques Perrin, Claude Nuridsany dan serombongan kru menghasilkan Microcosmos (1996). Film ini memotret dari jarak intim kehidupan serangga dan satwa mungil lain yang dunianya sering diabaikan oleh mata manusia. Narasi yang biasanya mendominasi film-film dokumenter, hanya muncul sekilas di depan, lalu digeser oleh hembusan angin bergelombang menyisir padang, rintik hujan berdendang di permukaan sendang, atau dengung kumbang menghampiri rongga kembang. Musik garapan Bruno Coulais dan suara mentah yang dipungut di Perancis Selatan, bekerjasama dengan mikrofotografi revolusioner; dan sambil sesekali menggunakan teknik gerak lambat dan waktu lesat (lapse time), film ini menghamparkan drama, dan kadang firdaus, yang diciptakan ulang dengan bunyi dan warna.

Jaques Perrin dan kawan-kawan masih menghasilkan sejumlah film sejenis, tapi yang paling mencengangkan agaknya adalah Winged Migration (2000). Kamera yang ditempelkan pada berbagai jenis teknologi aviasi mini, mengikuti kepak sayap berbagai jenis burung yang leluhurnya dulu menguasai daratan dalam wujud Dinosaurus. Dibuat selama 4 tahun di 7 benua, film ini membuat penonton ikut menjadi satwa yang terbang melayah bakau, lalu membubung melintasi separuh belahan planet. Hamparan dunia yang terlihat dari langit, satwa bersayap yang menempuh maut untuk memastikan kelangsungan hidup generasi penerus — beberapa bagian film ini mungkin mempertajam apresiasi pada naskah pencarian spiritual paling terkenal dari Fariduddin Attar, Manteq al-Tayr.

March of the Penguins (2005) karya Luc Jacquet berupaya juga mengikuti ziarah burung, tapi bukan jenis yang terbang. Film dengan narator Morgan Freeman untuk versi Bahasa Inggeris ini berkisah tentang janji untuk kembali, dalam perjuangan mengawal kelangsungan hidup species. Kisah March bermula puluhan juta tahun yang silam ketika keping benua yang sekarang disebut Antartika itu masih menjadi bagian hangat zona tropis, yang kemudian hanyut ke selatan menjadi wilayah paling dingin, paling kering dan paling gelap di Bumi. Dalam proses Antartika terseret menjadi zona jahanam beku itu, segala species hewan telah pergi menyelamatkan diri, kecuali satu: penguin.

Di awal musim dingin yang berlangsung selama 9 bulan, seluruh populasi dewasa Penguin Maharaja (Aptenodytes forsteri) melompat keluar dari laut, naik ke daratan yang semata putih. Dengan kaki yang pendek dan tubuh setinggi 130 cm, mereka berbaris selama hampir sebulan melakukan sa’i menempuh jarak sejauh lebih 100 km. Mereka bergerak menuju tatar suci perbiakan. Tatar itu dipilih karena cukup tebal sehingga tak akan pecah oleh goncangan, dan juga berada jauh dari tepi laut tempat para pemangsa mengintai. Di tatar itu, para penguin mencari pasangan; dan sambil terus berpuasa, mereka berdampingan berbagi hangat menanti sang betina bertelur.

Setelah melahirkan telur satu-satunya, sang betina yang telah kehilangan sepertiga berat badannya, berjuang balik ke laut untuk berbuka dan menumpuk bekal buat si jantan dan si piyik yang mungkin tetas. Jika betina-betina ini gagal mencapai permukaan laut yang jaraknya menjauh akibat pembekuan, atau menjadi santapan pemangsa yang juga sedang kelaparan, maka kematian itu juga berarti kehancuran sang piyik. Sembari menahan lapar hingga 4 bulan, sang jantan mengerami telur, melindunginya dari suhu Antartika yang saat itu menggilas 60 derajat di bawah nol, dan kadang mengiris dengan kecepatan hampir 150 km/jam. Suhu dan angin Antartika membuat para penguin berkumpul menempelkan tubuh, dan bagaikan melakukan tawaf, mereka bergerak pelan berputar membentengi kelangsungan hidup para piyik yang bersarang di kaki bapaknya.

Ada banyak hal yang disuguhkan film-film ini yang menegaskan kemampuan makhluk hidup menyongsong tekanan yang paling berat, mengorbankan diri memastikan kelanjutan hidup species. Jika diterkam oleh pilihan antara kematian sejumlah individu sebagai bayaran atas kelangsungan hidup kelompok, atau kenikmatan hidup sejumlah individu tapi dengan pengorbanan kelanjutan hidup species, semua hewan pasti akan memilih yang pertama. Evolusi di tengah lingkungan yang mirip neraka, membuat pengorbanan diri menjadi siasah yang niscaya.

Seorang kawan, doktor filsafat di Universitas Parahyangan Bandung, pernah bergumam heran: mengapa sejumlah filosof yang setelah memergoki sejumlah bolong besar dalam kitab-kitab suci, tetap saja tak bisa meninggalkan agama? Dan memang, sambil berupaya mendamaikan kontradiksi religius yang ada, mereka yang rasional ini, tetap juga menjalankan kewajiban etis membantu sesama, berkorban untuk kelanjutan hidup ummat yang dibela.

Keheranan tadi agaknya muncul dari anggapan bahwa agamalah yang melahirkan dorongan solidaritas manusia. Kaum beragama umumnya meyakini bahwa sebelum datangnya agama, manusia hanyalah makhluk nista yang akan menghancurkan dirinya dan dunia. Agama dikira datang justeru untuk mengakhiri kurun hewani itu, menyelamatkan manusia dari dorongan destruktif yang dikeram dalam dirinya. Karena itu, jika banyak unsur dalam agama ternyata keliru, maka selain agama mestinya mulai dicampakkan, manusia pun harusnya tak mungkin lagi punya solidaritas dan pengorbanan diri.

Dorongan purba untuk berkorban demi kelanjutan hidup species itulah yang justeru melahirkan agama-agama, bukan sebaliknya. Agama lahir untuk mengolah dan melembagakan solidaritas primordial dan dorongan berkorban buah evolusi itu. Caranya adalah dengan dengan memperluas rasa diri manusia menyeberang batas-batas primitif-tradisional. Diri terpaut bukan hanya kepada keluarga inti atau keluarga besar, tetapi ke puak, bahkan ke ummat, yang anggota-anggotanya mungkin tak pernah saling bertemu sepanjang hayat. Sambil memperluas rasa kedirian, agama sekaligus perlahan-lahan membenihkan ruang buat individu.

Jika ada yang bolong dalam ajaran agama, itu tak dengan sendirinya membuat agama ditinggalkan. Terutama jika orang masih melihat bahwa di antara bolong-bolong itu, tetap ada unsur yang bisa berguna buat mengukuhkan kelanjutan hidup ummat. Namun, jika ajaran agama bertabrakan dengan aspirasi hidup sesama makhluk, dan kita dipaksa untuk memilih antara tafsir sempit agama atau hidup sesama manusia, maka mungkin kita akan bisa lebih bijak menjatuhkan pilihan. Setidaknya kita bisa belajar dari ziarah dan musyawarah para burung, yang dengan terang menunjukkan bahwa hidup itu, dan kelanjutan generasi penerus, lebih berharga dari segalanya.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di Majalah Azzikra, edisi Juli 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: