Teater

September 10, 2008

I La Galigo dan Waktu Batu

Genesis di atas Pentas

Sejarah dan kebudayaan manusia mungkin bisa dilihat sebagai teater raksasa, yang menggelar pertumbuhan dan perbenturan pengertian manusia tentang identitas, tentang asal-usul. Meski agak terasa abstrak, pengertian seperti ini punya fungsi vital: ia memberi pijakan pada manusia untuk mengkoordinatkan dunia dan bertahan hidup di dalamnya.

Identitas, kita tahulah, dibentuk dan dikoreksi oleh persamaan dan perbedaan kita dengan orang-orang yang ditemui. Juga oleh kenyataan yang dialami. Konon orang mulai membentuk identitasnya berdasarkan jenis kelamin dan urutan kelahirannya. Pembentukan itu jadi kian kompleks bersama kian intensnya pertemuan dengan orang-orang lain yang mungkin yang berbeda warna kulit, bahasa dan impian. Dari sana pengertian tentang keluarga, kaum dan bangsa, tumbuh dan berkembang, dan mungkin juga saling bentrok.

Selain oleh pertemuan dengan manusia lain, identitas juga dibentuk oleh hal paling jauh yang mungkin diimajinasikan manusia, yakni asal mula waktu, penciptaan dan penghancuran alam semesta. Kebudayaan-kebudayaan manusia bahkan bisa dikatakan sebagai eksegesis panjang atas pengertian manusia tentang hubungannya dengan asal mula waktu, dengan penciptaan. Terombang-ambing di samudera luas kosmos, manusia menenun tambang imajiner yang bisa ia tautkan ke awalmula sekaligus ke akhir waktu. Tambang identitas dan genesis ini tak jarang dirajut dengan berbagai perca mitologis yang ada, dengan pohon silsilah yang disusun dari ingatan dan harapan, dengan fakta dan fiksi.

***

Yang menarik dari proyek Waktu Batu (WB) garapan Teater Garasi adalah bahwa seri pementasan ini, dengan berbagai keterbatasannya, telah menghadirkan kerinduan sekaligus desakan manusia untuk mengkoordinatkan semesta dan dirinya. Di pementasan yang diatur dalam festival Art Summit Indonesia 2004, 27-28 September kemarin di TIM, WB 3 digelar, dan sejenis genesis mendesis di atas pentas.

Setengah tahun sebelumnya, tepatnya pada 12 Maret 2004, berlangsung world premiere sebuah kerja teater yang mirip, tapi dengan publikasi yang lebih menggelegar dan organisasi yang lebih hebat. Di gedung besar Esplanade — teatre di bibir teluk Singapura itu, penonton disuguhi pentas visual, tari, dan puisi yang memanfaatkan mitologi Bugis berusia lebih dari 700 tahun. Teater itu tentu saja adalah I La Galigo yang digarap surtadara legendaris Bob Wilson, ditopang oleh Change Performing Arts (Italia), dan Bali Purnati Center for the Arts.

Dengan mengandalkan naskah panjang dari Sulawesi Selatan itu, teater I La Galigo Bob Wilson (ILBW) tertolong oleh sebuah alur yang relatif kokoh dan utuh. Yang Bob kerjakan adalah kurang lebih menceritakan ulang dan memvisualkan mitologi itu di atas pentas. Dengan memikat Bob pun menghadirkan kisah generasi pertama manusia di dunia, dan penegasan bahwa menjadi manusia lebih baik daripada menjadi dewa-dewa, bahwa dunia lebih penting dari langit. Adegan asal-mula manusia dan dunia itu, dengan tubuh-tubuh gelap yang melangkah pelan dan miring mengingatkan antara lain pada  sosok para dewa dan manusia  di dinding piramida Mesir Kuno, adalah adegan yang paling indah di pentas itu. Pentas ILBW yang tampak magis dan arkaik tapi yang diisi dengan sebuah elan eksistensial yang sangat modern itu menghadirkan sebuah tegangan potensial yang punya energi.

Yang lucu dari pentas ILBW adalah bahwa paruh kedua pentas ini menghianati paruh pertama. Tegangan  besar antara yang arkaik dan yang modern menghilang di ujung, dan cerita jadi kempes. Keutamaan manusia di atas dewa-dewa, akhirnya dibalik 180 derajat. Pentas pun merosot turun dari langit-langit estetik yang impresif dan jadi sarana pengukuhan sebuah pandangan sangat kuno yang hendak dibongkar oleh I La Galigo: yakni bahwa dewa-dewa lebih utama dari manusia dan langit selalu berada di atas dunia .

Konon setelah pementasan di Singapura, teater ILBW ini terus mengalami koreksi dan penyempurnaan. Proses ini tentu layak puji, karena ia memberi sesuatu yang memang hak dari naskah raksasa yang menyimpan tenaga revolusi di balik bahasanya yang halus itu. Begitu revolusionernya kosmologi ini sehingga dijaga begitu rupa agar beredar hanya di kalangan istana. Selama berabad-abad, kosmologi atau genesis pembalik bumi dan langit, yang menelanjangi kebobrokan para dewa dan keturunannya di dunia, ini memang tak pernah menyebar utuh di masyarakat luas, yang selalu harus dijinakkan agar mudah diperintah.

***

Tentang bahan pementasan, Teater Garasi tidak seberuntung Bob. Anak-anak muda yang tak selalu tampak berseri ini, tak dibantu oleh sebuah alur yang kokoh, yang dengan utuh menyambungkan kisah penciptaan kehidupan di dunia, dengan penjabaran nilai yang semestinya mengatur hidup manusia. Tertatih-tatih mereka menjalin tambang genesis itu, yang mereka rajut dari tiga perca mitologi, satu sejarah kolonialisme, seperangkat psikologi dan sosiologi kontemporer, dan seleret astrofisika dan mekanika kuantum.

Watugunung, Murwa Kala dan Sudamala, diaduk dengan sejarah keruntuhan Majapahit dan cerita tentang sesuatu yang datang dari balik cakrawala barat, yang mendarat bersama penyakit dan kapal pencari rempah. Adukan ini dibikin menggelegak dengan skizofrenia dan alienasi manusia kontemporer, dan permakluman bahwa “Aku ada tidak sengaja. Aku adalah Dentuman Besar di Lubang Kosmos, dan setelahnya”. Dengan adukan seperti di atas, Teater Garasi pun beringsut dari “laboratorium penciptaan teater” ke “laboratorium perajutan kosmologi”.

Ketiadaan kosmologi memang tak tertanggungkan oleh kebudayaan, sama seperti ketiadaan bahasa. Peradaban tanpa kosmologi sama seperti paru-paru tanpa oksigen. Tetapi, mengaduk mitologi dan sejarah, mengoplos dongeng rakyat dengan astrofisika dalam laboratorium bernama teater, bukanlah eksperimen yang selalu otomatis berhasil.

Yang berharga dari WB adalah bahwa selain menggelar upaya perajutan tambang genesis, proyek ini juga menggelar – dan ini yang lebih menonjol – derita dan kebingungan dari penjalinan tambang tersebut. Hasilnya, seperti bisa ditebak, adalah pentas yang tak jarang dibikin gaduh oleh kata-kata yang bersahut-sahutan, yang kesulitan menahan diri untuk tetap bertahan cantik dalam naskah. Puisi pun jadi gerah berlompatan dan menggelontor bising, timpa menimpa. Pentas seperti ini mungkin terlihat sebagai persekongkolan dalam permainan narsistik yang tampak tak peduli pada daya cerna penonton.

Penonton yang mengharapkan sebuah teks yang jadi dan utuh memang tak akan memperolehnya dari pentas tersebut. Mereka ditantang untuk menyusun sendiri teks itu. Dengan kata lain, WB memang lebih mirip khaos sebelum jadi kosmos. Atau lebih tepat: sebuah transisi dari khaos ke kosmos.

Hal ini paling terasa pada WB 2: Ritus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah. Kalimat-kalimat berat dan kata-kata besar berlentingan bising di pentas, berlomba keluar dari tenggorokan dan tubuh pemain yang memang terolah itu. Pada WB 3: Deus ex Machina dan Perasaan-Perasaanku Padamu, unsur-unsur di atas pentas terasa lebih terkendali, tak terlalu merajalela lagi merintangi pengorganisasi resepsi dan kognisi penonton. Transisi dari khaos ke kosmos diperlicin oleh humor halus yang diteteskan di sejumlah adegan.

Musik Melancholic Bitch, juga cukup membantu melunakkan transisi itu. Musik mereka kadang memompakan sedikit darah dan adrenalin. Di lain waktu, musik ini mengalir pelan, mengendorkan waktu dan melapangkan ruang untuk menata perca-perca imaji dan narasi yang berhamburan kacau balau. Ketika khaos hendak ditangkap, tubuh dan kesadaran memang lebih perlu musik yang mengalun, malah mungkin yang diam, musik hening dari benih yang sedang tumbuh.

Barangkali memang keheningan benih yang tumbuh itulah yang diperlukan kala kosmologi baru meledak tumbuh, dan kosmologi lama goncang, bahkan mungkin roboh kehilangan suara. ”Halo, Siwa? Halo! Kau di mana? Halo? Sial. Tak ada sinyal.” Kepanikan mudah menimpa mereka yang sudah begitu akrab dengan tatanan kosmos lama yang tenggelam, sementara tatanan kosmos baru masih terasa asing dan jauh tapi dengan kekuatan yang terasa hadir menjajah di mana-mana. Kedahsyatan kosmos baru mengambyarkan kosmos lama, justeru bisa membuatnya terasa semakin mengancam. Orang pun terseok-seok menyusun peta penyelamatan.

Memang, kosmologi modern yang ditawarkan oleh pengetahuan ilmiah dan kian hari kian dominan (karena belum ketemu pengganti yang lebih baik) bukanlah kosmologi yang bisa dengan enteng diterima oleh pikiran dan ego manusia. Kosmos Dentuman Besar adalah sebuah ruang kosong tak terbatas di mana bintang-bintang dan galaksi terserak acak. Tatanan semesta seperti ini tak bisa dengan mudah menggeser tatanan semesta tradisional antara lain karena dalam semesta ini sangat sedikit yang manusia tahu, dan masih sangat banyak yang berada di luar jangkauan pikirannya. Di sana tak ada tempat istimewa yang diharapkan manusia, bahkan tak ada tempat bagi Tuhan Pencipta seperti disebut Stephen Hawking. Kalaupun ada penjelasan terhadap gejala-gejala semesta, bisa dipastikan bahwa penjelasan tersebut tak punya kaitan empirik dengan harapan dan kecemasan manusia.

Tatanan kosmos mutakhir, dengan segala hal yang datang susul-menyusul bersamanya, memang bukan sepetak rumah warisan yang kita kenal tiap sudutnya, yang tiap jengkal perabotnya menyimpan cerita dan kenangan. Kosmos seperti ini lebih mirip tanah kosong tanpa batas, dan manusia hanyalah pendatang culun tak berarti (genesis manusia bahkan bisa terlihat agak nista: mereka hanyalah keturunan dari leluhur yang juga menurunkan bekantan). Tetapi, sebagaimana dikisahkan legenda, di atas tanah kosong pun, manusia (yang tadinya adalah pecundang dan pelarian) bisa juga membangun pondok baru, mencicip maja, degan atau apel, dan dari sana membentuk peradaban. Syaratnya tentu saja bahwa manusia, meski cacat dan ringsek, tetap bertahan mengenali dan mengatasi makhluk buas, dan berbagai kekuatan tak dikenal yang tadinya melumpuhkan nalar.

Dalam hal keberanian merajut teks yang menghadirkan hubungan manusia dengan ruang waktu kosmos, WB melangkah lebih jauh dari ILBW. Pementasan WB jelas tak sekolosal ILBW, tapi WB terasa lebih membekas.  Setidaknya, penutup WB terasa lebih baik dari penutup ILBW.  Bagi mereka yang perlu sejenis glorifikasi untuk menambal inferioritas kompleksnya, WB agaknya tak  akan terlalu memikat. Tetapi, seperti halnya semua teater yang baik, WB bisa jadi sebuah refleksi kultural yang menarik bukan cuma buat “Bangsa” (dan) “Jawa.”***

Versi awal tulisan ini dimuat di KOMPAS, 3 Oktober 2004

the elephants dali 1948

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: