Astronomi

September 10, 2008

Carl Sagan:

Sains dan Kehidupan Jagat Raya

Jika berita ilmu pengetahuan yang paling menggemparkan di 1997 ini adalah domba kloning Dolly, maka yang paling heboh pada 1996 sudah pasti adalah bongkahan batu Allan Hills 84001.

Bulan Agustus 1996 lalu, mungkin Anda belum lupa, sejumlah peneliti dari NASA dan tiga universitas terkemuka Amerika Utara mengumumkan sebuah penemuan yang segera menjadi laporan utama media massa terkemuka dunia. Sebongkah meteorit dari Planet Mars yang diberi nama Allan Hills 84001 ternyata mengandung molekul organik PAH (polycyclic Aromatic hydrocarbon). Molekul ini punya kaitan dengan proses-proses kehidupan. Di batuan itu juga dipergoki bentuk-bentuk yang “mirip dengan beberapa macam fosil bakteri filamen” meski berukuran lebih kecil ketimbang bakteri sejenis yang ditemukan di Bumi.

Di dunia ini, Carl Sagan jelas termasuk di antara mereka yang paling antusias dengan laporan itu. Sekali waktu ia pernah mengucap, ”Penemuan adanya makhluk lain yang hidup di alam semesta ini benar-benar akan sangat fenomenal. Itu pasti akan menjadi peristiwa besar yang menandai jaman baru sejarah manusia.”

Sudah teramat lama Carl Sagan dikenal sebagai Astronom yang punya obesesi pada pencarian kehidupan di luar Bumi. Ia berada di garis terdepan pembangunan Eksobiologi. Sejak masa kanak-kanak Sagan sudah terpukau dengan gagasan tentang kehidupan dan kecerdasan di luar bumi. Ia terlibat dengan dengan pengiriman pesawat angkasa ke planet-panet anggota tatasurya untuk mencari jejak-jejak kehidupan di sana. Di NASA Sagan bekerja memimpin proyek wahana antariksa Pioneer 10 dan 11, dan kurir antar bintang Voyager I dan II. Sagan juga terlibat dalam proyek eksplorasi planeter Mariner dan Viking. Sagan pun meninggalkan jejak yang nyata dalam proyek-proyek teleskop radio berkekuatan besar untuk melacak kecerdasan ekstra-terestial yang mungkin berkembang di keluasan kosmos.

Yang istimewa dari Sagan adalah bahwa keterpukauannya pada kecerdasan di luar bumi, selalu diikuti dengan skeptisime ilmiahnya yang kuat. Ia memang mendorong pencarian makhluk-makhluk angkasa luar, tapi tidak pernah percaya bahwa bumi sudah pernah dikunjungi oleh makhluk-makhluk itu. Bagi Sagan tidak ada bukti ilmiah yang mendukung pernyataan kedatangan makhluk antariksa itu.

Sejauh ini, buat Sagan, cerita tentang UFO lebih merupakan isapan jempol, atau pseudo-sains, yang sama sekali tidak punya nilai ilmiah. Penemuan molekul organik dan fosil bakteri di Mars itu itu memang sangat penting. Tapi bagi Sagan, molekul organik yang dilaporkan itu, belum cukup kuat untuk menjadi bukti adanya kehidupan. Klaim tentang adanya kehidupan di luar bumi adalah klaim yang sangat luar biasa. Karena itu, klaim ini butuh validasi yang juga luar. Dan, tambah Sagan, jika betul kehidupan terbukti muncul juga di Mars maka pasti kehidupan juga dapat bertebaran di seluruh keluasan jagat raya. Namun, jika belum terbukti bahwa kehidupan mungkin berkembang di luar bumi, maka bumi jelas harus dianggap sebagai satu-satunya wahana kehidupan di tengah kosmos. Itu akan membuat manusia lebih bijak menghargai kehidupan bumi—yang sejauh ini terlihat sebagai satu-satunya kemungkinan pemangku kehidupan di keluasan jagat raya.

Dalam salah satu bagian di Pale Blue Dot, Sagan menyatakan: “Bagi ummat manusia, tak ada tempat lain, setidaknya di masa depan yang dekat ini, yang dapat menjadi tujuan migrasi species manusia. Untuk sekedar dikunjungi, ya. Tapi untuk dimukimi sebagai tempat kehidupan dan peradaban, belum. Suka atau tidak, untuk sementara Bumi adalah satu-satunya tempat di mana manusia dapat memancangkan kaki dan sejarahnya.”

***

Carl Edward Sagan lahir di Brooklyn, New York City, 9 November 1934. Ayahnya seorang imigran Ukraina yang bekerja di sebuah pabrik tekstil. Ibu Sagan kabarnya cukup cantik, seorang perempuan berdarah Austro-Hungaria.

Sagan mulai tertarik pada astronomi ketika masih kanak-kanak. Sebagai seorang bocah, Sagan sering kali di tengah malam berjalan ke sebentang tanah lapang, membaringkan kepalanya di atas tangan atau potongan kayu yang diperolehnya, dan menerawangkan pandangannya ke hamparan langit. Ia akan membuat agar pandangannya hanya menangkap benda-benda langit, bukan dedaunan pohon atau pucuk-pucuk gedung. Dengan tubuh terlentang, pikirannya mengembara ke sudut-sudut antariksa. Sejak masih sangat muda, Sagan sudah mulai membentuk dirinya menjadi satu di antara sangat sedikit orang yang melihat taburan bintang bukan sekedar sebagai obyek-obyek diam yang terpacak di lengkung langit dan berpendar dengan lembut. Menurut The Washington Post, sejak belia, Sagan sudah dapat merasakan ketakterhinggaan jagat raya, kekuatan telanjang dan dahsyat dari reaksi fusi bintang, kehebatan ledakan supernova dan kegelapan tak terhingga dari Lubang-lubang Hitam. Kelak, terawangannya ke langit malam ini kian mempertajam bakat alam Sagan dalam mengkomunikasikan perasaan bahwa segenap planet, bintang-bintang dan galaksi di kosmos ini, sesungguhnya memiliki arti, dan bahwa ada sesuatu yang signifikan dalam cahaya purba yang selama ribuan tahun telah menempuh kegelapan dan kedinginan jagat raya untuk bisa dilihat oleh mata makhluk Bumi.

Imajinasi Sagan juga banyak dibentuk oleh kisah-kisah fiksi ilmiah. Saat masih ABK, anak bau kencur, Sagan yang sudah doyan kelayapan di perpustakaan kota New York, telah terpesona oleh novel-novel Mars karya Edgar Rice Burroughs. Ia membayangkan dirinya berkelana dengan John Carter, petualang simpatik dari Virginia yang secara tiba-tiba dan misterius, muncul di “Barsoom”, nama Mars bagi para penghuninya. Sagan mengikuti kelompok binatang pengangkut berkaki delapan, thoat, dan merebut hati Dejah Toris yang jelita, si Puteri Helium. Sagan bersahabat dengan prajurit setinggi empat meter yang bernama Tars Tarkas, menjelajahi kota-kota bermenara dan satsiun pompa berkubah di Barsoom, dan menyelusuri tepi sungai yang menghijau dari kanal Nilosyrtis dan Nepenthes.

Kebenaran ilmiah novel Burroughs ini memang sangat tipis. Tapi Sagan terlanjur terpikat pada Mars, dan mempersembahkan sebagian hidupnya untuk mengkaji planet merah itu dan tatangga-tetangga setata suryanya. Keterpikatan itu masih membekas ketika Sagan meraih gelar sarjananya di tahun 1955, dan masternya setahun kemudian, keduanya dalam bidang fisika. Empat tahun kemudian ia menggondol gelar doktornya dalam bidang astronomi dan Astrofisika. Semua gelar ini disabetnya di University of Chicago.

Ketika mulai jadi astronom, Sagan dengan sengaja memilih kajian planet-planet. Padahal, saat itu sains planeter dianggap sebagai bidang yang rendahan, dirusak oleh gambaran konyol astronom Percival Lowell yang pernah mengumumkan adanya kanal-kanal di Mars yang dibangun oleh tangan-tangan piawai para insinyurnya (Lowell ternyata salah besar). Para astronom serius mempelajari galaksi-galaksi yang jauh, quasar dan radiasi latar yang menyelubungi jagat raya. Saat itu, kenang Sagan, ada semacam pandangan bahwa keseriusan kajian astronomi berbanding lurus dengan jarak obyek kajian. Planet-planet memang terlalu dekat.

Dengan cepat, Sagan memperlihatkan kehebatannya sebagai seorang astronom. Dialah yang dengan gemilang membantu menunjukkan bahwa permukaan venus, yang dulu dibayangkan cukup sejuk buat kehidupan, ternyata membara bagai neraka. Terhadap teka-teki temperatur planet yang membakar ini, Sagan membongkar penyebabnya: efek rumah kaca yang masif. Sagan juga menjawab peyebab perubahan musim di Mars: badai agin debu. Terhadap penampakan Titan — bulannya planet Saturnus — yang terlihat kemerah-merahan, Sagan menyimpulkan penyebabnya: molekul-molekul organik kompleks. Kesimpulan Sagan ini dibenarkan secara tegas oleh Voyagers 1 dan 2 di dekade 1980-an.

Karya-karya ilmiah Sagan ini, dengan efektif ikut mempertajam pengetahuan makhluk bumi terhadap tetangga-tetangga terdekatnya di tata surya. Tetapi, kiprah Sagan memang tidak berhenti hanya di paper dan riset. Sosoknya sebagai konsultan NASA, sebagai organizer dan pemimpin proyek-proyek besar, sudah sangat terkenal. Dialah salah seorang perumus dari pesan pertama ummat manusia kepada para makhluk cerdas di luar bumi. Pesan itu berbentuk lempengan logam emas yang dianodakan dan dipasangkan di wahana antariksa Pioneer 10. Wahana ini diluncurkan di tahun 1972, dan sekarang sudah mengembara cukup jauh di luar tata surya. Di lempeng itu antara lain tertera gambar sebuah wahana antariksa yang muncul dari planet ke tiga dari kesembilan planet anggota sebuah bintang. Isteri Sagan saat itu, Linda Salzman Sagan, menambahkan gambar sepasang lelaki dan perempuan yang telanjang. Belakangan muncul sejumlah debat berkaitan dengan fakta bahwa di gambar itu, si lelaki punya alat genital sedang perempuannya tidak.

Kendati menimbulkan debat, semangat yang ingin disampaikan pesan itu sangat menyentuh hati. Di lempengan itu ada keinginan untuk menggamit, untuk memperkenalkan diri dan berkomunikasi dengan sesuatu yang belum dikenal betul jauh di luar sana.

***

Semangat Sagan untuk berkomunikasi, yang ditopang dengan keteguhan pada skeptisime ilmiah, pada cara-cara kerja ilmu pengetahuan rasional, memang telah menjadikannya lebih dari sekedar astronom yang berwibawa. Semangat itu juga telah menjadikannya pendidik sains terbaik dunia di abad ini. Harsat berkontak, keteguhan ilmiah dan kehebatan imajinasi Sagan telah membangkitkan ilham ratusan juta manusia dan menularkan semangat kaum muda dunia untuk memburu ilmu pengetahuan. Ketimbang sebagai astronom, Sagan memang lebih mendunia sebagai satu dari tiga tokoh paling hebat yang mempopulerkan ilmu pengetahuan lewat media literer dan audio-visual. Yang lain adalah Isaac Asimov dengan 500-an judul fiksi ilmiah antara lain trilogi Foundation, dan Gene Roddenberry si pencipta serial legendaris Star Trek. Mereka bertigalah — disusul oleh Stephen Hawking dan, dalam beberapa segi, para pencipta The X-Files —yang sangat berhasil menunjukkan bahwa media di luar sains, di luar matematika, adalah kekuatan besar bagi penyebaran semangat dan ide-ide sains.

Serial TV Sagan “Cosmos” yang sangat dipujikan itu, telah menggondol Emmy dan Peabody Award, Piala Oscar-nya jagat pertelevisian. Serial ini telah membuat Sagan menjadi seorang selebriti internasional. Serial yang terdiri dari 13 bagian ini, menggelar pemahaman ilmiah tentang evolusi kosmos yang berlangsung selama 15 milyar tahun, sejak dari Dentuman Besar (Big Bang) hingga ke kemunculan kehidupan dan kecerdasan manusia. Presentasi Sagan atas pokok bahasan ini sedemikian memukau dan meyakinkan, sehingga Cosmos berhasil menarik audiens lebih dari 500 juta manusia di 60 negara. Bisa jadi inilah acara TV yang paling banyak ditonton orang dalam sejarah. Buku Cosmos itu sendiri nongkrong di daftar best-seller New York Time selama 70 minggu, 15 minggu diantaranya berada di nomor puncak. Yayasan Obor Indonesia, baru-baru ini juga telah menerbitkan edisi Indonesianya.

Karier Sagan sebagai pendidik dan pendakwah sains bermula di awal 70-an. Ketika itu ia menerbitkan buku-buku sains yang ditujukan buat para pemirsa “Tonight Show” NBC. Di acara ini, Sagan mengudara sebanyak 25 kali. Bukunya yang berjudul “The Dragon of Eden: Speculation on the Evolution of Human Intelligence” memenangkan hadiah Pulitzer untuk kategori sastra, 1978.

Sampai saat meninggalnya, Sagan telah menerbitkan lebih dari 600 makalah dan artikel ilmiah populer. Ia menjadi author, co-author atau editor dari 20 buku lebih. Buku “Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space” muncul di daftar best-seller di seluruh dunia dan oleh New York Time terpilih sebagai salah satu “buku terpenting 1995”. Versi audio-kaset buku ini dinunggulkan untuk Grammy Award dan dinobatkan oleh Publisher Weekly satu dari dua buku audio terbaik di tahun yang sama.

Tahun 1996 kemarin, Sagan menerbitkan “The Demon-Haunted World: Science as a Candle in the Dark”. Begitu dilempar ke pasar, buku ini menjadi best-seller Sagan ke delapan versi New York Time. Bersama dengan isterinya, Ann Druyan, Sagan menjadi co-produser dari sebuah filem Warner-Brothers yang didasarkan pada novelnya (film itu sudah dirilis pada 1997 ini). Sagan memang dekat dengan best-seller. Dia pulalah yang memberi kata pengantar untuk best-seller Stephen Hawking: A Brief History of Time. Sagan sungguh diberkati dengan kemampuan menulis yang hebat. Penyakit yang menyerangnya selama dua tahun, Myelodisplasia, suatu bentuk anemia yang juga dikenal sebagai sindrom pra-leukimia, menjadi terkenal di dunia setelah ditulis Sagan.

***

Bakat dan minat istimewa Sagan tidak hanya muncul dalam sosoknya sebagai penulis dan bintang TV. Itu terlihat jelas pada sebuah acara memperingati ulang tahunnya yang ke 60, di Cornell University, 13-14 Oktober 1994. Sejumlah ilmuwan, diplomat, jurnalis dan artis berkumpul di kampus kota Ithaca, New York itu. Mereka hadir untuk sebuah simposium istimewa tentang astronomi dan ilmu antariksa. Para pembicara yang tampil, semuanya punya reputasi internasional di bidangnya. Uraian mereka menyentuh bidang-bidang eksplorasi planeter, kehidupan di tengah kosmos, edukasi sains, kebijakan publik dan regulasi pemerintah mengenai ilmu pengetahuan dan lingkungan. Semuanya adalah bidang di mana Sagan telah terlibat sangat banyak. Meski bidang-bidang itu sangat beraneka ragam, semuanya diikat oleh benang merah sains dan posisi manusia di tengah alam semesta.

Karier ilmiah Sagan sendiri memang tidak meragukan. Sejak 1971 sampai saat meninggalnya, Sagan adalah professor astronomi dan ilmu antriksa pada Cornell University. Dialah tokoh yang pernah mengatakan bahwa astronomi adalah suatu pengalaman, suatu laku, pembentuk watak dan kerendahan hati. Keterlibatannya di dunia antariksa telah memberinya antara lain dua buah Medali NASA, satu untuk “Pencapaian Ilmiah Luar Biasa”, satu lagi untuk “Pelayanan Publik Istimewa”. Sagan juga mendapat NASA Apollo Achievment Award. Disamping penghargaan dari NASA itu, Sagan juga bertaburan dengan penghargaan yang diberikan oleh lembaga-lembaga internasional lain. Ia menerima 22 gelar Doktor Honoris Causa dari banyak perguruan tinggi Amerika untuk kontribusinya dalam ilmu pengetahuan, sastra, pendidikan dan pelestarian lingkungan. Ia mengantongi sejumlah penghargaan untuk kajiannya mengenai akibat jangka panjang perang nuklir, dan untuk kerjanya dalam pencegahan pacuan senjata nuklir.

Sagan pernah terpilih sebagai ketua Devisi Ilmu-ilmu Planeter Masyarakat Astronomi Amerika, presiden seksi Planetologi Persatuan Geofisika Amerika, dan ketua bidang Astronomi Asosiasi Amerika untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan. Di samping semua jabatan itu, Sagan juga menjadi pendiri The Planetary Society, beranggotakan 100.000 orang. Inilah society yang merupakan kelompok peminat antariksa terbesar di Bumi. Sagan ikut pula mendukung Dewan Investigasi Ilmiah untuk Klaim-klaim Paranormal. Keterlibatan Sagan dalam dewan investigasi ini, merupakan pernyataan perang Sagan pada pseudo-sains, pada sikap anti-ilmiah dan kecenderungan irasional manusia.

Di The Demon-Haunted World, Sagan menulis: “Cukup mencemaskan bahwa pseudo-sains dan tahyul tampak lebih menggiurkan bagi banyak orang, teristimewa dengan kian dekatnya akhir millenium ini.” Sains palsu dan tahyul, jelas tidak akan banyak menolong kehidupan bumi. Hanya sainslah, dengan segala keterbatasannya, yang dapat menjadi lilin di tengah kegelapan, di tengah dunia yang dihantui demon. Ketika kita akhirnya mengenali sepenuhnya keindahan dan kekuatan sains, akan kita temukan, secara praktis dan secara spiritual, bahwa kita memiliki kekuatan untuk menang, untuk akhirnya mengerti makna kehidupan di tengah kosmos.

***

Keyakinan Sagan pada sains dan cara kerjanya adalah keyakinan seorang pameluk teguh. Yang menarik adalah bahwa komunitas sains itu sendiri, sesungguhnya punya demonnya sendiri, punya prasangka, kedengkiannya dan rasa tak berterima kasihnya sendiri. Dan Sagan adalah salah satu korban dari demon yang bergentayangan di kalangan komunitas ilmiah.

Pada 1983, Sagan menulis bersama sebuah makalah ilmiah yang menyebutkan bahwa perang nuklir dapat memuncak dalam suatu “musim dingin nuklir” di mana tempreatur global akan turun secara dramatis sehingga dapat memunahkan kehidupan ummat manusia. Makalah itu memicu perdebatan yang luar biasa sengit. Sejumlah analis menuduh Sagan berlebih-lebihan. Akhirnya, model-model komputer yang lebih canggih menunjukkan penurunan suhu bumi yang lebih kecil. Sagan dan mitranya harus merevisi kesimpulan mereka. Musim dingin nuklir berubah menjadi lebih mirip “musim rontok nuklir”. Sagan sesungguhnya sudah benar menyimpulkan esensi perang nuklir, tetapi kesalahan proporsi kesimpulan itu memperkuat kecurigaan sebagian orang bahwa mereka yang sangat mudah muncul dan cemerlang di layar TV, seperti Sagan misalnya, pastilah seorang yang kelasnya sesungguhnya tidak terlalu hebat.

Di tahun 1992, nama Sagan tercantum dalam 60 calon anggota National Academy of Sciences. Ke 59 calon yang lain dengan gampang diterima masuk. Sagan tidak. Rupanya ada anggota Akademi yang keberatan. Kasus Sagan ini kemudian diangkat dan dibela oleh Staley Miller, mantan dosen Sagan dan pelopor kajian asal mula kehidupan organik. Miller menyatakan bahwa karya-karya ilmiah Sagan, misalnya riset tentang atmosfer Venus itu, sering dianggap remeh, dinilai secara tidak adil. Faksi Anti-Sagan menjawab, jika saja segala sepak terjang Sagan diteliti dengan cermat, maka tak akan ditemukan karya-karya hard science. Seorang anggota Akademi belakangan menyatakan, “Andai Sagan tidak punya acara TV, ia pasti diterima masuk anggota Akademi.”

Kecemburuan terhadap kemasyhuran Sagan, terhadap kemampuan dan keberhasilannya mengkomunikasikan sains, memang cukup terasa di balik penolakan itu. Ada yang menggerutu, “Saya juga menulis buku ilmiah, tapi kenapa tak jadi bestseller?” Ada pula yang menyebutkan bahwa karena perhatian dan kiprah Sagan yang sangat luas, sekalipun dimotivasi oleh keinginan untuk mempromosikan sains, justeru telah mengakibatkan kurang mendalamnya pencapaian saintifiknya. Sagan menjawab, kekurang dalaman itu memang adalah harga dari pengerahan energi dan kemauan untuk merangkum sangat banyak soal demi mempromosikan ilmu pengetahuan, demi memperlunak kesan esoterik sains. Menurut sementara orang, penolakan akademi sains nasional ini sungguh bisa dianggap sebagai tindakan yang tak berterima kasih. Sagan, lebih dari siapa pun, telah berupaya mempromosikan ilmu pengetahuan, memotretnya segai kegiatan yang romantik dan memikat masyarakat untuk mencintainya. “Ada hal yang sangat menentukan dalam promosi itu,” kata Sagan. “Lebih dari yang sudah-sudah, sains kini sangat tergantung pada dana publik, dan karena itu kelanjutan usaha-usaha ilmiah sangat ditentukan oleh dukungan publik. Dan mana mungkin publik mendukung sains jika mereka tidak memahaminya?”

Kendati dua tahun kemudian Sagan diterima masuk Akademi, sebagai anggota kehormatan dan tanpa voting, namun penolakan pada 1992 beserta alasan-alasannya itu, sempat membuat semangatnya rontok. Praktis ia tidak bisa melakukan apa-apa. Orang yang sebagaian besar hidupnya berupaya mengadakan kontak dengan makhluk lain yang berada entah di mana di luar bumi ini, ternyata gagal berkomunikasi dengan sesamanya ilmuwan yang justeru secara fisik sangat dekat dan hampir setiap hari bercakap.

Depresi macam ini, dengan bentuk yang lain, pernah juga ia alami beberapa tahun sebelumnya. Pada 1975, proyek SETI (the Search for Extraterrestrial Intelligence) baru saja dijalankan. Sagan dan mitranya, Frank Drake, mengarahkan teleskop radio ke Andromeda, galaksi yang dikira mestinya juga sudah mampu mengembangkan peradaban tinggi. Selama sekian lama, mereka menyimak frekuensi radio dan berharap setengah mampus kiranya ada respon, betapapun halusnya. Yang terdengar melulu hanyalah derau statik. Hasil rekaman teleskop radio itu membuat Sagan dan Drake depresi selama sekian minggu.

Yang lebih menarik adalah hasil rekaman Proyek Meta, semacam SETI yang berskala lebih besar. Proyek ini dijalankan Sagan bersama astronom Paul Horowitz, di akhir dekade 80-an. Pada beberapa kesempatan, mereka mendeteksi sinyal-sinyal elektronik yang kuat dari … sesuatu. Setelah diusut, ternyata sebagian besar sinyal itu adalah akibat dari malfungsi instrumen, atau gangguan dari benda-benda bumi sendiri, kapal terbang misalnya. Tetapi memang lima sinyal yang terkuat datang dari arah pusat galaksi Bimasakti.

Kepada seorang wartawan, Sagan mengatakan bahwa kemungkinan sinyal-sinya itu bersifat aksidental hanyalah sekitar 0.5 %. Tapi kemudian ia menambahkan, “Itu belum pasti juga… Anda tahu, sinyal-sinyal tersebut akan membuat dingin tulang belakang, membikin tapak tangan berkeringat dan nafas memberat.” Tekanan yang menghimpit ini muncul dari kemungkinan untuk mendapatkan sesuatu yang akan mengubah seluruh sejarah kehidupan di satu sisi, dengan kenyataan akan kehampaan sia-sia semesta dan kekonyolan harapan ummat manusia untuk lepas dari kesebatang-karaan kosmis.

Sagan punya sejumlah penjelasan mengapa sinyal-sinyal makhluk asing itu sedemikian sulit ditangkap. Pertama adalah kemapuan teknologis: kita terlalu primitif untuk dapat menangkap sinyal mereka. Yang kedua, makhluk asing itu sendiri yang tak sudi berkontak dengan makhluk yang seprimitif dan sebuas manusia, dan karena itu secara sengaja mengabaikan sinyal-sinyal yang dikirim bumi. Yang ketiga, tak ada peradaban yang dapat bertahan cukup lama untuk mengembangkan kemampuan yang memadai bagi komunikasi tingkat antarbintang. Semua peradaban menghancurkan dirinya sendiri, sesaat setelah mencapai kemampuan teknologis yang menghasilkan radio astronomi.

Empat tahun yang silam, NASA menutup program SETI, membuat Era Antariksa semakin hilang ditutup oleh oleh Era Informasi. Tapi memang, Era Antariksa I sudah lama menjadi masa lampau. Era yang kejayaannya dilambungkan oleh proyek Apollo ini — proyek yang dipicu oleh ketakutan AS terhadap prestasi Yuri Gagarin dari Sovyet —sebenarnya sudah lewat begitu Perang Dingin berlalu. Negara-negara besar sudah kehilangan alasan ideologis untuk saling berlomba menguak dan menguasai jagat raya. Dalam kondisi inilah, ketika negara kian kehilangan legitimasi, dan kelanjutan sains tergantung pada dana dan pajak masyarakat, Akademi Sains Nasional yang dulu menolak keanggotaan Sagan, menyematkan anugerah Public Welfare Medal.

Dalam keadaan depresi, baik karena kegagalan proyek META maupun karena sepak terjang orang-orang yang cemburu dan tak tahu berterima kasih, teman sejati Sagan berbagi kedongkolan dan kekosongan adalah isteri keduanya, Ann Druyan.

Sagan mengenal Ann lebih jauh ketika ia menggarap proyek Voyager. Ketika itu Sagan tengah membuat pesan kedua setelah pioneer message kepada makhluk cerdas lain di luar bumi. Pesan baru ini, disebut “the voyager phonograph records” ditempatkan pada kedua wahana penjelajah antariksa itu. Saat itulah Sagan jatuh cinta kepada Ann. Ann adalah creative director proyek voyager itu, sedang Sagan producernya. Mereka secara resmi saling menyatakan cinta pada 1 juni 1977. “Pernyataan saling mencinta satu sama lain, mirip dengan penemuan sebuah kebenaran ilmiah, “ kata Ann. “Seperti Eureka, seperti teriakan Archimedes ketika menemukan hukum hidrolik.” Pendapat Sagan sendiri? Di bagian persembahan buku monumentalnya Cosmos, ia menulis, “Dalam Jagat raya yang maha luas dan waktu yang maha takterhingga, adalah rasa bahagia saya berbagi satu planet dan sepenggal jaman bersama Annie.” Untuk keindahan cintanya dengan isterinya, dan untuk risetnya terhadap asteroid, pada 1994, nama pasangan Sagan ini diabadikan untuk nama dua asteroid yang saling berbagi orbit: asteroid 2709 Sagan & 4970 Druyan.

Di akhir hayatnya, manusia yang menulis entry “Life” di Enscyclopaedia Britannica dan yang menghabiskan sebagaian besar karier intelektualnya untuk mencari kehidupan lain di luar Bumi ini, justeru harus berjuang dengan problem yang sangat planet bumi: bagaimana mengatasi myelodysplasia yang menggerus tubuhnya dan menjaga agar jantungnya terus berdenyut. Ada dua kali Sagan mengalami pencangkokan sumsum dan menenggak sekaligus 72 butir pil biohazard yang langsung merontokkan sistem kekebalan tubuh itu. Tapi akhirnya semua itu tidak banyak mencegah datangnya kematian yang oleh yang oleh majalah berwibawa Scientific American, dikatakan sebagai merampok dunia ilmiah salah satu periset dan juru bicaranya yang paling kreatif. Di Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson, pada 20 Desember 1996 lalu, Sagan menutup mata.

Lelaki tampan yang membangun departemen Biologi Ekstraterrestrial di Cornell ini, akhirnya berangkat juga menuju suatu bentuk tertentu “kehidupan di luar bumi”. Kini mungkin ia sudah memahami apa sesungguhnya makna kehidupan di tengah semesta. Ia memang pernah dituduh sebagai seorang non-theist, tapi menampik dengan menyatakan bahwa untuk menjadi non-theist, seseorang perlu sejumlah pengetahuan tertentu.

Kebetulan ia sendiri tidak punya pengetahuan itu. Kepergiannya yang mungkin terasa agak ‘kecepatan’ itu — meninggal di usia 62, bandingkan dengan Deng Cina —membuatnya tak sempat melihat peredaran filmnya di masyarakat luas. Film itu, tentu anda sudah tahu, berjudul “Contact” dibintangi antara lain oleh Jodie Foster. Dari judulnya saja terasa betapa film ini mengekspresikan kerinduan kekal Sagan dan ummat manusia untuk berkontak, untuk bertemu kembali, dengan sesuatu di luar dirinya. Sesuatu yang, menurut Sagan lewat Jodie, sedemikian dahsyat dan tak terperikan sehingga yang layak dikirim sebagai duta species manusia bukanlah seorang ilmuwan tapi seorang penyair. Contact sepertinya mencoba menjadi pelengkap bagi keseluruhan karya-karya besar Sagan. Karya-karya besar itu, termasuk buku terakhirnya yang segera dipasarkan, Billions and Billions: Thoughts on Life and Death at the Brink of the Millenium, memang dapat menjadi cahaya bagi makhluk-makhluk kecil yang selama jutaan tahun terperangkap dalam kesendirian kosmis di sebuah planet biru pucat, menjadi pegangan yang membesarkan hati dalam menghadapi kemahaluasan jagat raya.

Sampai akhir hidupnya, meski tetap seorang yang skeptik, Sagan tidak pernah melepaskan visinya tentang perjalanan antar bintang. Bukankah ia pernah menyatakan bahwa tubuh manusia disusun oleh unsur-unsur yang dulunya dibuat di perut-perut bintang. We are starstuff. Karena itu, perjalanan manusia menuju bintang-bintang sesungguhnya adalah perjalanan kembali menemui diri sendiri. Walau pasti bukan di masa depan yang dekat, kelak manusia mungkin akan merekayasa asteroid menjadi wahana antariksa, menambang bahan-bahannya sebagai sumber energi dalam menembus kehampaan kosmos. Mungkin juga adalah takdir ummat manusia, jika lepas dari dorongan instingtif menghancurkan diri, untuk berkembang, di antara bintang-bintang, menjadi sesuatu yang melampaui manusia, menjadi makhluk-makhluk yang tercerahkan, sebentuk kesadaran kosmis, the Mind of the Universe.***

Dimuat di Majalah Matra, edisi April 1998.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: