Agama

September 10, 2008

Kelas

Semua agama yang dikenal manusia, memandang dunia sebagai ujian, gelanggang tempat manusia ditempa menjadi makhluk yang lebih mulia. Dunia adalah sejenis kelas di mana manusia dididik untuk mengembangkan kapasitas-kapasitasnya.

Dalam sejarah, setidaknya ada dua kutub besar pandangan tentang dunia sebagai gelanggang. Kutub pertama adalah mereka yang melihat dunia sebagai kelas taman kanak-kanak. Mereka ini memang menganggap bahwa manusia pada dasarnya adalah bocah culun yang mungkin saja semurni malaikat tetapi sangat mudah menjadi mangsa setan. Manusia bahkan dianggap sangat gampang menjadi setan itu sendiri.

water-drop-nachfoto1

Dalam sepetak kelas taman kanak-kanak, kehadiran sebuah otoritas kasat mata, sangatlah diperlukan. Sebuah kelas kanak-kanak tanpa kehadiran seorang guru yang disegani, akan segera berubah menjadi kancah kacau-balau, yang pada akhirnya hanya akan merugikan kanak-kanak manis dan murni itu sendiri. Sekejap saja sang guru hilang dari pandangan anak-anak mungil itu, maka sejumlah anak mulai naik berdiri di atas bangku dan menyanyi bersahut-sahutan sekencang-kencangnya dengan nada yang mungkin sumbang. Sebagian lagi mulai main kejar-kejaran, saling sambit kue lalu saling jambak rambut yang kemudian disertai dengan acara tangis-tangisan — acara yang sebelumnya sudah dimulai oleh gadis-gadis mungil centil yang sembari bangkit membetulkan rambut dan kancing bajunya mengeak tersinggung dianggap tak cukup jago main dokter-dokteran. Anak-anak yang lebih pendiam mungkin akan mulai menggambari dinding kelas dengan sosok ajaib yang wajahnya adalah paras sang guru namun tubuhnya mungkin serupa kodok atau kura-kura. Jika seorang anak menemukan korek api, tak mustahil kelas yang indah itu akan dibakar menjadi api unggun.

Para penganut agama yang berjuang keras untuk mewujudkan syariah yang dipeluknya di dunia ini, adalah kaum yang dekat dengan kutub yang memandang dunia sebagai kelas taman kanak-kanak ingusan. Kalangan yang penuh tenaga membara ini, kadang disebut oleh pihak-pihak tertentu sebagai barisan fanatik, gerombolan bigot. Namun demikian, mereka juga bisa dilihat sebagai kelompok yang sangat peduli pada keselamatan ummat dan dunianya yang dilihat sebagai kanak-kanak dengan kelasnya yang gampang rusak. Atas nama keselamatan ummat, mereka bersedia melakukan apa saja, dan mengorbankan apa pun, termasuk milik mereka yang paling berharga: nyawa mereka sendiri. Bagi mereka, untuk meyelamatkan ummat dari kebangkrutan, maka otoritas yang kukuh harus dihadirkan di dunia, sebagaimana dihadirkannya sang guru di tengah kelas taman kanak-kanak. Guru yang hadir sebagai pusat kelas, selain menciptakan tatanan, juga bisa membantu langsung murid-murid yang mengalami kesulitan.

Dorongan besar untuk menyelamatkan sesama ummat, adalah hal universal dalam diri manusia. Bahkan bisa dikatakan bahwa evolusi terbesar yang dicapai spesies manusia adalah berkembangnya dorongan untuk mengorbankan diri sendiri demi keselamatan kelompok yang lebih besar. Sebagai sesuatu yang universal, dorongan ini tentu tidak hanya tumbuh dalam satu agama atau mazhab tertentu saja. Karena potensial tumbuh di mana pun, sementara ajaran-ajaran agama dan mazhab bisa tampak tak senantiasa seiring, maka tak jarang dorongan universal ini saling tabrak, saling tumpas. Agama-agama atau mazhab-mazhab yang bertarung untuk menyelamatkan ummat ini, sangat sering terseret ke kancah yang oleh  Karen Armstrong  disebut sebagai “Berperang Demi Tuhan”. Barangkali sebutan yang lebih tepat untuk gejala besar ini adalah “Berperang Menghadirkan Tuhan, Demi Menyelamatkan Ummat”. Dalam rentetan peperangan yang usianya hampir setua usia peradaban manusia itu, banyak hal yang memang kemudian tergilas.

Yang paling gampang tergilas, atau setidaknya yang paling sering jadi sasaran dalam perang tua itu, adalah kutub pandangan dunia yang lain, yang juga memandang dunia ini sebagai kelas, namun bukan sebagai ruang taman kanak-kanak melainkan ruang para mahasiswa dan mahasarjana. Dunia buat mereka adalah kelas yang memang sedang menjalankan ujian kenaikan tingkat di mana mereka boleh membawa buku sebanyak-banyaknya. Dalam ujian itu, yang terpenting adalah mengerti soal ujian dan berupaya memecahkannya, bukan ada tidaknya sang mahaguru di tengah kelas. Sosok fisik sang mahaguru bahkan sebaiknya tak ada lagi di tengah ruang, mondar-mandir bersiul dan berdeklamasi dengan pengeras suara menganggu konsentrasi. Perjuangan untuk menghadirkan sang mahaguru di kelas, peperangan untuk menghadirkan jeratan-jeratan kognitif manusia atas Tuhan di dunia, adalah kesibukan yang buat mereka benar-benar tak masuk akal sehat. Mustahil mahaguru yang baik akan hadir di tengah kelas, lalu membantu khusus satu dua mahasiswa yang berlumur do’a dan airmata untuk mengisi kertas-kertas ujian mereka, sambil tak lupa meng-order para malaikat agar menjerumuskan seluruh mahasiswa yang asik berpikir dan tak sempat berdo’a saking takjubnya. Kalau pun ada mahaguru yang seperti ini, ia tentulah bukan mahaguru yang layak disapa.

Karena ketidak-pedulian mereka pada sosok fisik sang mahaguru, kelompok kutub kelas mahasiswa ini sering disebut agnostik, sekuler, bahkan atheist. Apapun sebutan yang dikenakan pada mereka, namun mereka yang sibuk mengerjakan soal-soalnya dan rakus membaca semua buku yang tersedia, adalah kaum yang selalu mendapat angka yang baik. Bahwa mereka inilah yang perlahan-lahan mengubah dan memperbaiki dunia, semua itu hanya menunjukkan betapa sang mahaguru yang memberi nilai adalah memang mahaguru yang sungguh mahaadil.

Sejarah peradaban manusia sekian ratus tahun terakhir agaknya cenderung memenangkan mereka yang melihat dunia ini sebagai kelas mahasiswa. Tuhan tampaknya memang memaksudkan dunia ini sebagai kelas ujian untuk manusia yang setingkat mahasiswa dan mahasarjana. Sir Mohammad Iqbal, penyair dan pemikir yang menjadi bapak spiritual Pakistan itu, bahkan menandaskan betapa manusia adalah mitra kreatif Tuhan. Namun, jumlah manusia yang melihat dunia ini sebagai kelas taman bocah, bahkan padang penggembalaan ternak, dengan penghuni yang harus selalu dilindungi karena dikepung pemangsa dan tak bisa mendidik diri sendiri itu, agaknya tak juga susut, bahkan semakin berkembang biak. Kesibukan yang penuh darah dan kekerasan untuk menghadirkan secara nyata Tuhan di dunia, tak juga surut dari waktu ke waktu. Agaknya, keadaan inilah yang membuat seorang penyair yang lain mengeluh: Tuhan memperlakukan manusia sebagai mahasarjana, tetapi manusia cenderung memperlakukan diri dan memandang sesamanya sebagai kanak-kanak ingusan belaka. Kalau ada kesalahan Tuhan, kata sang penyair pada bagian lain sajaknya, maka itu adalah bahwa Ia menaruh harapan terlalu tinggi dan memandang terlalu mulia ciptaan-Nya sendiri.

Keluhan dan penilaian seperti itu, memang lebih mudah datang dari seorang penyair yang sentimentil, dan agak sulit terbit dari seorang rasionalis tulen yang menyadari keterbatasan bahasa dan pikiran manusia, dan mengakui ketakmampuannya untuk berbicara tentang hal-hal yang menyangkut ketuhanan yang tak berbatas. Pengakuan seperti ini pula yang membuat para rasionalis-agnostik lebih suka diam, meskipun juga tetap sanggup mengapresiasi sang penyair dan semua yang masih  juga “rindu rasa rindu rupa”  — dan memilih mengarahkan diri sepenuhnya pada manusia dan dunia ini, seperti para mahasiswa memumpunkan perhatiannya pada soal-soal ujian di depan mata.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di Majalah Azzikra, edisi September 2005

Advertisements

One Response to “Agama”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: